
#Happy Reading's🌻
Typo bertebaran, jadi mohon di maklumi ya🙏
.
.
.
Bayu mengantar Nara pulang sampai rumah kontrakannya. Nara dan Bayu pun, membuka helm mereka dan Bayu mengantar Nara sampai di depan pintu rumah.
"Makasih ya Bay..." Senyum Nara berterimakasih.
"Iya sama-sama." Jawab Bayu membalas seraya tersenyum juga.
"Gue pulang dulu ya..." Ujar Bayu lalu berbalik hendak pergi.
"Tunggu Bay." Cegah Nara menghentikan langkah Bayu.
"Iya?" Bayu menoleh pada Nara.
"Itu... Anu... Gu~gue..." Nara meremas-remas jemarinya.
"Ada apa?" Tanya Bayu bingung melihat Nara begitu resah.
"Gu~gue... Gue terima lo." Nara menunduk malu.
"Terima? Terima apa?" Tanya Bayu kembali karna tak mengerti maksud Nara.
"Ihh... Lo gak peka banget sih!" Cemberut Nara.
Bayu semakin bingung dengan perkataan Nara. Iya pun kembali bertanya.
"Maksud lo apa sih Ra? Bener dah gue gak ngerti." Ujar Bayu kebingungan.
"Gue terima cinta lo Bayu sableng!!!" Nara menghentakan kedua kakinya kesal, dan pergi kedalam rumah begitu saja meninggalkan Bayu yang masih berdiri terbengong-bengong.
"Gue terima cinta lo?" Bayu mengulagi perkataan Nara.
Krik... Krik... Krik...
"APA?! LO TERIMA CINTA GUE NARA?!" Otak Bayu baru mencerna ucapan Nara.
Bayu mengetuk-ngetuk pintu memanggil Nara. Nara sedari tadi belum pergi, ia menyenderkan punggung nya ke pintu seraya mengatur detak jantung nya yang berdegub kencang. Ia mengatur nafasnya, lalu membuka pintunya kembali. Ia menundukkan kepalanya.
"Nara, coba ulangin lagi ucapan lo tadi." Pinta Bayu memegang pundak Nara.
"Gue terima cinta lo Bayu..." Ucap Nara. Ia menatap bola mata Bayu dengan sungguh-sungguh.
Bayu langsung memeluk Nara. Ia terharu mendapati Nara menerima cintanya. Penantian nya selama ini akhirnya terjawab. Ia sangat bersyukur Nara membuka hatinya untuknya.
"Terimakasih Nara... Terimakasih lo udah terima gue. Dan terimakasih juga udah buka hati lo untuk gue." Lirih Bayu memeluk Nara.
"Gue juga terimakasih sama lo Bay, karna lo selalu ada buat gue selama ini." Nara membalas pelukan Bayu.
Bayu melonggarkan pelukannya. Ia menatap dalam-dalam bola matanya.
"Karna aku cinta sama kamu Ra..." Bayu tersenyum, mengubah kata gue-lo menjadi aku-kamu.
"Terimakasih..." Nara tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia begitu sangat senang saat ini.
"Berarti saat ini kita udah resmi berpacaran?" Ujar Bayu.
"Iya." Nara mengangguk mengiyakan.
Bayu kembali memeluk Nara dan mencium keningnya.
"Istirahatlah... Kamu pasti capek." Ucap Bayu menyuruh Nara beristirahat.
"Iya, kamu juga pulang istrahat." Nara tersenyum.
"Sampai jumpa besok..." Bayu pun pergi.
Ke esokan harinya, Nara pergi ke kantor di antar Bayu. Sepanjang jalan, Nara memeluk Bayu dari belakang saling mengobrol dan bercanda ria.
"Aku kedalam dulu ya..." Ucap Nara sesudah melepaskan helmnya.
"Iya, aku akan jemput kamu nanti sore." Ujar Bayu.
"Emmm... Mending gak usah deh. Aku ada lembur hari ini. Aku pulang pake taxi online aja." Pinta Nara.
"Ya, biar aku yang jemput kamu pulang... Takutnya kamu kenapa-napa lagi di jalan."
"Jangan Bay...Ini permintaan aku." Nara tak enak jika Bayu menjemputnya malam-malam. Walaupun Bayu sudah resmi menjadi pacarnya, tetap saja ia merasa tak enak hati.
"Baiklah... Tapi ada syaratnya. Kamu harus telpon aku kalo udah sampai rumah."
"Iya, aku janji aku akan hubungin kamu."
"Yaudah, aku pergi dulu ya." Sebelum Bayu pergi, ia mengelus pipi Nara.
Nara pun masuk ke dalam perusahaan. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Tari dan Diana.
"Ciee... Sama siapa tuh? Mesra banget." Goda Tari.
"Pacar ya?" Timpal Diana.
"Iya..." Nara mengakui nya jika Bayu adalah pacar nya.
"Widih... Traktiran dong!" Ujar Tari dan Diana.
"Tenang aja... Makan siang nanti aku traktir kalian." Ucap Nara.
"Yeayyy..." Tari dan Diana bersorak ria.
Nara masih berkutat dengan laptopnya karna hari ini ia akan lembur. Beberapa notifikasi dari Bayu selalu masuk, Nara tak sungkan-sungkan untuk membalas setiap notifikasi dari Bayu. Jam pun menunjukan pukul 7 malam. Nara masih tak bergeser dari pekerjaannya. Ia masih sibuk dengan pekerjaannya.
Sedangkan Ansel? Ia kini sedang di dalam mobilnya ia mengemudi seorang diri karna Roni sudah ia pulangkan terlebih dahulu. Ia menelpon pak Tian menanyai masalah kerja sama nya. Dan ia juga sempat menanyai Nara. Pak Tian pun memberitahu Ansel jika Nara hari ini ada jadwal lembur.
Pak Tian sempat menanyai Ansel mengenai hubungannya dengan Nara. Ansel menjawabnya asal dengan menyebutkan bahwa dirinya adalah pacar Nara. Pak Tian pun sempat kaget mendengar hal itu.
"Aku akan menemui Nara." Ansel memutar balikkan mobilnya, dan melaju menuju perusahaan Swift Corp.
...
Nara sedang membereskan berkas-berkas yang sudah tak terpakai. Ia ingin menyimpan nya di gudang dekat ruangannya. Nara membawa beberapa kardus kedalam gudang itu, dan menyimpan nya.
"Ahh... Akhirnya beres juga. Habis ini, aku akan langsung pulang." Nara menepuk kedua tangannya. Ia pun melangkah menuju pintu.
Klek... Klek...
"Kenapa pintunya gak bisa di buka?!" Nara berusaha membuka pintunya tetapi pintunya tetap tidak terbuka juga.
Tok... Tok...
"Apa ada orang di luar?!" Nara menggedor pintu gudang, tetapi di luar tak ada siapapun.
"Duh... Gimana ini?!" Nara mengigit kukunya bingung karna ia terkunci di dalam gudang saat ini. Nara kembali menggedor pintunya, tapi tetap saja tak ada respon dari luar.
Ansel saat sudah sampai di perusahaan Swift Corp. Ia melangkah masuk kedalam menuju lantai tiga menuju ruangan Nara.
"Ruangan Nara masih menyala, berarti dia belum pulang." Ucap Ansel melihat ruangan Nara dari kejauhan. Ia pun melanjutkan langkahnya. Ketika Ansel berpapasan dengan ruang gudang, ia mendengar suara gedoran pintu.
Dor... Dor...
"Apa ada orang?!" Teriak Nara. Ia sudah mulai ketakutan.
"Duh gimana ini?! gue takut banget..." Nara gemetaran ketakutan.
Dor... Dor...
"Tolong!!" Nara mulai melemas. Phasmophobia nya kambuh.
Ansel menghentikan langkahnya. "Bukanya itu suara Nara?" Lirih Ansel. Ia pun menuju ruangan gudang lalu mengetuknya dari luar.
"Nara? apa itu kamu?" Teriak Ansel.
"Itu... Itu suara Ansel?" Lemas Nara. Ia sampai terduduk di lantai karna badannya terasa sangat lemas.
Nara mengetuk lemas. "Ans~Ansel... Tolong..." Ketuk Nara lirih.
"Itu benar Nara..."
Ansel mencoba membuka knop pintu, dan itu berhasil. Ia melihat Nara sudah lemas terduduk di lantai.
"Nara?!" Ansel menghampiri Nara.
Brak
Pintunya tertutup kembali.
"Gawat! Pintunya tertutup! Pintunya rusak, dan hanya bisa di buka dari luar saja." Ansel menepuk kening nya karna teledor tidak menahan pintunya. Pintu gudang rusak, pintu itu hanya bisa di buka dari luar saja. Jika dari dalam pintu itu tidak bisa di buka.
"Nara?" Ansel memeluk Nara.
"Ans~Ansel... Aku takut." Lirih Nara.
Ansel membekap Nara ke pelukannya. "Kamu tenang aja ya, aku di sini jadi kamu gak perlu takut." Ujar Ansel. Ia melepas jasnya dan menyelimuti Nara dengan itu.
"Kamu tenang ya... Aku akan telpon pak Tian, agar ia membawa orang untuk ke sini." Ucap Ansel. Ia meletakkan Nara di pelukannya. Ia pun mengambil ponselnya.
"Shit damn it! Batrai nya habis lagi!" Umpat Ansel melihat ponselnya mati karna kehabisan batrai.
"Nara, apa kamu bawa ponsel?" Tanya Ansel.
"Ponsel ku ada di ruangan." Lirih Nara.
"Ya ampun! bagaimana ini?!" Ansel bingung saat ini.
Nara melepaskan pelukan Ansel. "Apa gak ada cara lain?" Tanya Nara bangkit dari duduknya.
"Ahh..." Baru saja Nara berjalan, tubuhnya terhuyung ke belakang karna Ansel menggendongnya tiba-tiba.
"Lo apa-apaan sih?! Turunin gue!" Ronta Nara lemas.
"Diamlah... Kamu ini lagi sakit, jangan bertingkah! Kita disini aja sampai pagi." Ucap Ansel seraya menggendong Nara dan ia mendudukannya di pojok gudang yang terasa lembab suhunya tidak terlalu dingin seperti di tempat tadi.
"What?! Sampai pagi?! Gue gak mau! gue mau keluar!!" Nara ingin kembali bangkit dari duduknya, tetapi lagi-lagi Ansel mencegahnya dan mendudukannya kembali.
"Jangan gegabah! Kondisi mu sedang tak sehat! apa kamu gak takut ke sana lagi? disana kan gelap." Ujar Ansel menatap Nara.
"Gue lebih takut berduaan disini sama lo!" Sergah Nara. Ia kembali ingin bangun. Dan Ansel menariknya sangat kencang sampai Nara terjeramban di pelukannya.
"Keras kepala!!" Ansel tak ingin kesempatan itu hilang, ia pun memeluknya sangat erat sampai-sampai Nara tak bisa bergerak oleh ulahnya.
"Ansel lepasin gue!!" Nara mencoba melepaskan pelukan Ansel, tapi itu tak berhasil. Ansel semakin mengeratkan pelukannya.
"Tidurlah..." Ansel menidurkan kepalanya di dada Nara.
"ANSEL!!" Teriak Nara. Ansel masih tak menggubrisnya. Dengan terpaksa Nara pun mengalah, dan mendiamkan Ansel berada di pelukannya.
.
.
.
TBC