Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 30


#Happy Reading's🌻


.


.


.


.


Nara memasuki kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya ke kasur. Ia sangat lelah hari ini, begitu pun dengan pikiran nya. Nara memejamkan matanya, tetapi tiba-tiba saja ia teringat ucapan Ansel di dalam mobil tadi. Ia bangun dan duduk di pinggir kasur.


"Gak! Gak! Jangan percaya sama pernyataan Ansel di mobil tadi. Dia kan playboy, dan breng*ek. Jadi gue jangan percaya sama dia! Dia itu penjahat kelamin." Nara menepuk-nepuk kedua pipinya. Lalu, ia menyegarkan pikiran nya dengan pergi ke kamar mandi membersihkan seluruh tubuhnya.


Sedangkan Viana, ia tengah duduk di sofa. Ia memikirkan tentang Ansel. Kenapa tatapan Ansel pada Nara berbeda dari hari-hari yang lain. Ia terus memikirkan nya, sampai-sampai ia di kejutkan oleh ketukan pintu.


"Apa itu pengantar makanan ya?" Tanya Viana pada dirinya. Ia menghampiri pintu dan membukanya. Dan benar saja, itu pengantar makanan.


Viana sempat membeli beberapa makanan lewat online, karna ia tak sempat masak atau membeli nya langsung ke depan. Ia mengetuk pintu kamar Nara memanggilnya untuk makan siang. Tak ada sahutan dari dalam, Viana langsung saja membukanya dan masuk kedalam. Ia mendengar gemerecik air di dalam kamar mandi.


Ia menduga jika Nara sedang mandi. Viana membalikan tubuhnya hendak kembali keluar, tapi ia mendengar ponsel Nara berdering. Dengan penasaran, ia melihat ke arah layar ponsel Nara. Tapi tak ada nama do nomor tersebut. Takut ada hal penting, jadi Viana menjawab nya.


"Halo?" Viana mengangkat telpon tersebut.


"....."


"Halo?" Tak ada jawaban dari si penelpon, Viana melihat ke layar ponsel takut si penelpon sudah mematikannya.


"Halo? Siapa ya?" Ucap Viana kembali, tetapi tetap saja tak ada sahutan apapun.


"Aneh ni orang. Pasti salah sambung." Viana langsung mematikan sambungan telponnya karna tak ada jawaban apapun.


Ceklek


Pintu kamar mandi Nara terbuka.


"Ada apa?" Tanya Nara yang melihat Viana berada dalam kamarnya sembari memegang ponsel nya. Nara mengerutkan kening nya heran.


"I~ini... Gue mau manggil lo buat makan siang, tapi tadi gue ketuk pintu kamar lo gak ada sahutan. Jadi, gue langsung masuk aja ke kemar lo." Jelas Viana.


"Terus, kenapa lo pegang ponsel gue?" Tanya Nara sambil mengerutkan kedua alisnya.


"Oh ini tadi ada yang nelpon lo, tapi gak ada namanya. Takut penting, jadi gue angkat deh. Tapi pas gue angkat gak ada suara apa-apa. Mungkin orang iseng. Nih ponsel lo..." Viana memberikan ponsel Nara.


"Lain kali jangan di jawab telpon nya." Ujar Nara lalu ia mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.


"Yakan gue cuman bantu lo doang ngangkat telponnya. Takut penting..."


"Lain kali gak usah." Datar Nara.


"Lo kenapa sih, akhir-akhir ini dingin banget ngomongnya sama gue!" Protes Viana.


Nara tak menyahut, ia masih kesal dengan Viana mengingat kejadian waktu semalam.


Viana mendekat dan menarik handuk yang di pegang Nara untuk mengeringkan rambutnya.


"Apa-apaan sih lo!" Kesal Nara.


"Kenapa? Lo masih marah sama gue soal yang kemaren malam hah?"


"Kalo iya, memang kenapa?"


"Tolong ngertiin gue Nara... Gue kayak gini, karna gue cinta sama Ansel. Gue selalu gak suka sama lo yang terus ngejelekin Ansel! Lo juga bakal ngerti kalo lo udah cinta sama seseorang." Tegas Viana.


"Nara tunggu! Kita selesaikan ini dulu!" Viana menyusul Nara.


"Apa yang kita selesaikan hah? Persahabatan kita? Iya? Gue capek Vi... Gue cape debat masalah Ansel. Dan gue juga udah nyerah dengan semua ini. Terserah lo mau cinta dengan Ansel atau pun nggak. Gue udah cukup peringatan lo, gue juga udah berusaha jaga hati lo agar tak sakit seperti yang gue alami. Gue selalu hargain persahabatan kita, dan gue juga selalu percaya sama lo. Tapi apa? Lo gak pernah percaya sama gue!" Jelas Nara panjang lebar.


"Gue butuh bukti!" Ucap Viana.


"Bukti? Oke, gue akan buktiin kalo ucapan gue itu benar. Gue juga akan buktiin kalo Ansel itu tak benar-benar cinta sama lo." Nara pergi kembali kedalam kamar dan menutup pintunya dengan kencang.


Viana memejamkan matanya erat. "Gue juga selalu ingin percaya sama lo Ra. Tapi, gue terlalu takut untuk mempercayai ucapan lo mengenai Ansel. Gue terlalu lemah untuk menerima kebenaran Ra. Gue gak sekuat lo." Ucap Viana dan itu terdengar oleh Nara dibalik pintu.


"Lo kuat Viana... Gue yakin, lo kuat jika mengetahui nya lebih awal. Gue akan berusaha buktiin kalo Ansel itu cowok breng*ek, dia gak pantes buat lo Vi." Nara meneteskan air matanya. Lalu membarinkan tubuhnya dan terlelap.


............


Bugh! Bugh! Bugh!


Ansel memukul samsak di depan nya. Ia kini berada di sebuah ruangan khusus melatih beladirinya. Ruangan itu di penuhi beberapa peralatan olahraga dan alat-alat pelatih baladiri. Ada beberapa pistol dan panah juga disana.


Hosh... Hosh...


"Kenapa yang mengangkat telpon Viana!"


Bugh... Bugh...


Ya, yang menelpon Nara itu tadi adalah Ansel. Ia menelponnya karna ingin mengajaknya untuk bertemu di sebuah tempat. Ia ingin membicarakan beberapa hal pada Nara. Tapi, yang mengangkatnya itu bukan Nara tapi kekasih nya Viana.


Nara sengaja tak menyimpan nomor ponsel Ansel.


"Ahh!! Ahh!!" Ansel melampiaskan kekesalnnya itu ke sebuah samsak. Ia juga teringat akan kejadian dimana Nara memberikan senyuman pada Bayu.


"Sialan! Gue gak akan lepasin lo Nara! Lo milik gue!! Ahhh...." Ansel terus memukul bhakan menendang samsak di depannya.


Setelah itu, Ansel mengelap keringatnya yang sudah bercucuran. Ia meminum air mineral dan menegaknya.


"Lo hrus jadi milik gue!"


Ansel tak merasa jika rasa cintanya pada Nara berubah menjadi obsesi. Ia bertekad untuk mendapatkan apa yang harus ia miliki. Biarlah Ansel egois kali ini. Baru kali ini juga Ansel merasakan sebuah perasaan yang selama ini ia tak rasakan. Sekali merasa, ia terjebak didalam nya. Membawa perasaan yang begitu dalam terhadap Nara. Ia tak akan tau, rasa cinta yang yelah bercampur obsesi itu akan menjadi boomerang untuknya kelak.


Drtttt.... Drrtt...


Ponsel Ansel berbunyi. Ia melihat ke layar ponsel nya, tertara bahwa Viana yang menelponnya. Ansel tak menjawab telpon itu, ia mendiamkannya dan melanjutkan menegak minumannya. Dering ponsel itu terus berdering, dengan kesal Ansel langsung membanting ponselnya


BRAK


"Hah! Aku harus segera memutuskan hubungan ku dengan Viana agar aku bisa memiliki Nara." Ansel bangkit dari duduknya dan pergi ke kamarnya.


.


.


.


.


TBC


Sebelumnya, Author mengucapkan terimakasih kepada pembaca setia SATU HATI DUA RASA. Author harap, kalian para pembaca sehat selalu dan jangan pernah bosan untuk mengikuti setiap jejak perjalanan Nara dan Viana. Sukses selalu untuk kalian para pembaca❤


Mohon maaf jika episode kali ini terlalu membosankan dan sedikit🙏