Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 52


#Happy Reading's🌻


#Typo bertebaran... Mohon di maklumi ya😉


.


.


.


Nara sampai di rumahnya.


"Sstt... Perut ku sakit sekali!" Nara memegang perutnya yang terasa sakit. Mungkin maag nya kambuh karna semalaman ia tak makan.


"Aduh!!" Rintih Nara yang tak tahan dengan sakit maag nya.


"Sebaiknya aku makan dulu." Untung nya saja ia sebelum pulang, membeli bubur terlebih dahulu.


Nara pun segera membuka bubur nya walau sekali-kali ia menahan rasa sakit di perutnya. Setalah makan yang tak sampai ia habiskan, Nara membuka ransel nya mengambil obat maag nya.


"Ah akhirnya, sakitnya lumayan berkurang." Lirih Nara. Ia pun membaringkan tubuhnya sejenak sebelum ke kamar mandi.


"Kenapa ibunya Bayu begitu membenci ku? Apa iya aku mengubah sikap Bayu?" Gumamnya memikirkan kembali perkataan ibunya Bayu.


Disaat Nara sedang bergemulat dengan pikirannya, ponselnya pun mengejutkannya.


Drrt... Drrtt...


Nara mengambil ponsel nya. "Halo?" Ucap Nara mengangkat telpon.


"Halo kak..." Ujar Mario adik Nara di balik telpon.


"Iya ada apa Rio?" Tanya Nara.


"Kak, kakak ada pekerjaan gak hari ini?" Tanya Mario.


"Emm, kakak ngambil cuti sih tiga hari sewaktu malam." Tutur Nara.


"Kalo gitu, kakak bisa gak pulang ke bandung?"


"Emangnya ada apa?" Tanya Nara kembali. Ia membangunkan badannya dengan posisi duduk di pinggir kasur.


"Ya ampun kakak lupa, kalo besok hari anniversary pernikahan mamah dan ayah?"


"Ah iya, kakak benar-benar lupa. Yasudah, kakak akan kesana hari ini."


"Iya kak."


Mereka pun memutuskan sambungan telponnya. Dan Nara masuk kedalam kamar mandi bersiap-siap ingin pergi ke kampung halaman nya. Nara sebenarnya sudah meminta cuti selama tiga hari sewaktu semalam karna ia ingin berniat mengurus Bayu. Tetapi keluarganya justru tak memperbolehkan nya. Ada rasa kecewa di hati Nara.


Di sisi lain, Ansel mengurus pekerjaannya di mansion. Ia sangat malas jika pergi ke kantor. Ia akan kembali sesuai permintaannya waktu itu kepada Nara dan pak Tian jika dirinya akan kembali satu minggu lagi.


"Ansel..." Panggil Riani masuk kedalam ruang kerja Ansel.


"Iya mom?" Ansel menghentikan pekerjaannya dan menoleh kearah mommy nya yang membawakan nya sebuah kopi.


Riani menaruh kopinya diatas meja Ansel. "Besok kamu libur saja ya... Satu hari saja." Pinta Riani setelah meletakkan kopi.


"Memangnya kenapa mom?" Tanya Ansel seraya menyeruput kopi yang di bawakan mommy nya.


"Besok antar mommy dan daddy ke bandung untuk ke rumahnya sahabat daddy." Tutur Riani.


"Kenapa gak mommy sama daddy aja? Ans, lagi banyak kerjaan." Ujar Ansel.


"Kamu harus ikut! Soalnya mommy dan daddy sudah berjanji ingin membawa mu bertemu dengan sahabat daddy mu."


"Baiklah-baiklah... Ansel akan ikut besok bersama mommy dan daddy." Ucap Ansel dengan nada malas nya.


"Terimakasih sayang... Semangat ya kerjanya!" Ujar Riani lalu pergi meninggalkan ruangan Ansel.


....


Jam menunjukan malam hari. Nara sudah berada di bandung. Ia sampai saat petang tadi. Kini dirinya sedang menyiapkan makan malam untuk keluarganya.


"Sayang... Besok akan ada sahabat ayah kesini bersama anaknya. Jadi besok kamu bantu mommy masak dan bikin kue ya." Ucap Ranty yang membantu Nara menyiapkan makanan.


"Oke mah..." Senyum Nara. Mereka pun makan malam dengan khidmat.


Di sisi lain, Viana sedang bersiap-siap karna keberangkatan nya di majukan subuh nanti. Ia berniat ingin kembali ke indonesia karna kondisi ayah nya yang sedang kritis.


"Ah akhirnya selesai juga." Ucap Viana merenggangkan tubuhnya yang pegal.


Ting.... Tong...


Bel apartemen nya berbunyi. Viana pun membukanya.


"Maxim?" Ucap Viana melihat siapa yang datang ke apartemen nya.


"Hai Viana... Boleh aku masuk?" Ujar Maxim yang tak luput dari senyuman manisnya.


"Gak! Nanti ngapa-ngapain lagi!" Tolak Viana seraya melipatkan kedua tangannya.


"Ngapa-ngapain gimana? Aku kesini hanya ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan mu." Ucap Maxim.


"Huft, Yasudah ayo masuk..." Malas Viana mempersilahkan Maxim masuk kedalam apartemen nya.


Maxim pun duduk di sofa. Di susul pula dengan Viana.


"Ada apa?" Tanya Viana to the point.


"Ya." Singkat Viana.


"Aku ikut." Ujar Maxim membuat Viana terkejut mendengarnya. Ia sangat malas jika Maxim terus saja menemui nya. Apalagi ia ikut ke indonesia? Bisa-bisa Viana stres menghadapi Maxim.


"Mau ngapain ikut? Mending jangan deh." Tolak Viana kembali.


"Kok gak boleh... Aku kan kesana mau nemuin sahabat aku. Itung-itungkan kamu juga ingin ke indonesia, jadi sekalian saja aku ikut dengan mu." Tutur Maxim.


"Sahabat? Memang kamu punya sahabat di indonesia?" Tanya Viana.


"Iya, dia dan keluarganya beberapa bulan yang lalu pindah ke indonesia." Jelas Maxim.


"Yaudah... Kamu pesan saja password pesawat nya untuk jam lima dini hari."


"Aku sudah memesannya." Maxim menunjukkan kartu password pada Viana.


Viana memutarkan bola matanya karna malas. "Kalo udah, mending pergi dari sini. Aku mau istirahat." Ucap Viana melenggang masuk kedalam kamar tanpa memperdulikan Maxim yang masih duduk di sofa nya.


Maxim terkekeh melihatnya. "Yang sabar Max... Kamu pasti bisa mendapatkan hati Viana." Lirih Maxim lalu pergi keluar.


Pagi harinya.


Nara dan Ranty tengah sibuk memasak dan membuat kue untuk perayaan anniversery nya dan sekaligus menyambut tamu. Ya walaupun tamu nya hanya sahabat Dani dan tetangga mereka saja.


Sedangkan Ansel? Ia pun sedang bersiap-siap untuk pergi ke perjamuan sahabat kedua orang tuanya. Ansel memakai pakaian casual yang terlihat lebih santai.


"Sayang... Kenapa pake baju santai?" Tanya Riani pada anaknya ini.


"Memangnya kenapa? Ada yang salah ya mom?" Ujar Ansel memperhatikan penampilan nya sendiri.


"Ya salah dong... Kita kan mau ngedatangin anniversary sahabat daddy. Jadi kamu harus ganti pakaian kamu jadi formal seperti daddy. Ayo ganti..." Ucap Abraham.


"Oke, Ansel ganti baju dulu."


"Eits... Nanti aja disana. Ini udah siang malah udah mau sore, nanti terlambat lagi!" Ucap Riani mencegah Ansel kembali kedalam.


Ansel pun mengiyakannya dan ketiganya pun pergi menuju bandung.


"Mah, ini udah sore... Aku beres-beres dalam rumah dulu ya. Mumpung ada waktu." Ujar Nara.


"Iya, mamah juga ini bentar lagi kue nya matang. Habis kamu beres-beres, kamu langsung bersiap-siap saja ya."


"Iya mah..." Nara pun memulai kegiatan mu dengan membereskan seluruh ruangan.


Malam hati pun tiba. Semua makanan sudah di sediakan diatas meja. Begitu pun tamu yang tak seberapa sudah lalu-lalang memasuki rumah Nara. Kedua orang tuanya pun sibuk mengobrol, begitu pun dengan Nara. Ia juga sedang mengobrol dengan para tamu.


"Sayang ayo turun..." Ucap Riani. Mereka sudah sampai di tempat tujuan.


"Tapi pakaian Ans gimana?" Tanya Ansel memperhatikan pakaiannya


"Kita ganti di dalam. Ayo cepet..."


Ketiganya pun turun. Sesampainya mereka di dalam, Ranty dan Dani menyambut nya.


"Hai..." Ranty dan Riani cepaka-cepiki.


"Halo bro..." Salam Dani dan Abraham.


"Apa ini putra mu?" Tanya Dani melihat kearah Anak yang tersenyum ramah.


"Iya ini putra tunggal ku." Tutur Abraham.


"Halo om, saya Ansel Abryan Wihama. Selamat ya om atas anniversary pernikahan om dan tante." Ansel menyalami Dani dan Ranty.


"Iya terimakasih nak..." Ujar Dany.


"Anak kalian tampan sekali..." Puji Ranty.


"Siapa dulu dong bapaknya..." Ujar Abraham menaik turunkan alisnya.


"Hahaha, Yasudah ayo kita kedalam dan menikmati makanan disana." Ucap Ranty mempersilahkan.


"Tunggu tante, om, saya ingin mengganti pakaian saya dulu. Tapi dimana ya?" Ujar Ansel.


"Oh tunggu sebentar, tante panggilkan putri tante dulu untuk mengantar kamu ke kamar mandi."


"Kok putri kamu sih? Mending putra mu saja untuk mengantar putra ku ke kamar mandi." Ucap Riani.


"Putra ku sedang mengantar beberapa makanan ke anak jalanan. Dia belum datang. Biarkan putri saya yang menunjukkan nya." Jelas Ranty.


"Baiklah..."


"Nara..." Panggil Ranty memanggil Nara yang tengah mengobrol.


"Nara?" Lirih Ansel dalam hati.


Nara pun menoleh kearah mamah nya. Ia pun menghampiri nya. Ansel melihat Nara berjalan kearah nya. Sungguh ia sangat terkejut dengan itu.


"Apa dia putri nya tante Ranty dan om Dani?" Pikir Ansel.


.


.


.


TBC