Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 86


#Happy Reading's🌻


.


.


.


"Ba~Baju itu..." Ia menutup mulutnya tak percaya.


"I~Ini... Ini gak mungkin!" Satu tetes air matanya jatuh menahan sesak dihatinya.


"Itu bukan Ansel... I~itu bukan Ansel!"


Nara terduduk diatas aspal menatap tak percaya pada korban kecelakaan tersebut. Baju yang dikenakan korban sangat mirip dengan yang dikenakan Ansel. Nara terisak membayangkan bahwa jika di depannya ini benar-benar adalah sosok Ansel. Disaat itu tiba-tiba saja pundaknya ada yang menyentuhnya. Nara tersentak lalu menengok kebelakang, seketika hatinya berangsur tenang.


"Kamu lagi ngapain disini?" Ucap Ansel menatap Nara seraya kedua tangannya memegang eskrim.


"Ansel?" Nara berdiri dan langsung memeluknya. Ia menangis menumpahkan kekhawatirannya. Ansel kebingungan melihat Nara tiba-tiba saja menangis.


"Hei ada apa?" Tanya Ansel.


"Hiks... A~aku... Aku kira korban kecelakaan itu adalah kamu hiks." Isak Nara yang melupakan imegnya dihadapan Ansel.


Ansel melihat kearah si korban dan ia melihat bahwa bajunya sama persis dengan yang ia pakai. "Pantas saja..." Lirihnya.


"Udah-udah ya, jangan menangis lagi. Ayo kita pergi dulu dari tempat ini." Pinta Ansel


Mereka pun duduk disalah satu kursi. "Ini makan dulu eskrimnya." Ucap Ansel menyerahkan satu eskrim. Nara menerimanya tanpa melihat Ansel. Ia merasa malu dengan tindakannya tadi. Beberapa kali ia mengutuk dirinya sendiri di dalam hati.


"Kenapa tadi kamu mengira itu aku?" Tanya Ansel membuka suara.


"Karna... Karna bajunya sama." Jawab Nara.


"Penglihatanmu jelek sekali! Kamu gak liat postur tubuhnya dan warna celananya sedikit berbeda denganku?"


"Emmm, itu... Aku..." Nara menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Sekhawatir itukah kamu?" Ansel menatap Nara.


"Ng~nggak! Sebaiknya kita pulang, aku sudah sangat lelah." Nara bangkit dari duduknya, tetapi Ansel malah menarik tangannya hingga terjeramban di pangkuannya.


"Ansel ini tempat umum! Apa yang kamu lakukan?" Ucap Nara berusaha bangun dari pangkuan Ansel.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, jawab dulu pertanyaanku. Apa kamu sekhawatir itu padaku?"


"Aku... Aku... Aku khawatir." Jujur Nara menunduk.


Ansel tersenyum. "Benarkah?" Ansel mendekatkan wajahnya ke wajah Nara sehingga membuat wajahnya memerah.


"I~iya..." Gugup Nara memalingkan wajahnya.


Ansel menarik dagunya agar ia menatapnya. "Jika kamu mengkhawatirkan ku, apa cinta itu sudah tumbuh?" Ucap serius Ansel.


Nara hanya diam saja. Jantungnya berpacu sangat cepat. "Emmm, aku..."


"Apa kamu melupakan perjanjian waktu itu? Aku sudah melakukan apa yang kamu minta, dan sekarang giliranmu."


"Jika aku masih belum mencintaimu bagaimana?" Ucap Nara menatap lekat kedua manik Ansel.


"Aku tidak akan menyerah dan terus menunggumu." Senyum Ansel yang berusaha menutupi rasa sakit dan kecewa dihatinya. Kedua mata Nara berkaca-kaca.


"Sudahlah, ayo kita hampiri Viana dan Tony." Ujar Ansel.


Ketika Ansel hendak menurunkan tubuh Nara, tiba-tiba saja Nara menciumnya. Ansel yang menerima itu secara mendadak sangat terkejut, matanya pun terbelalak sempurna.


Ansel dibuat tercengang oleh pengakuan Nara. Matanya memerah menahan air mata haru itu lolos.


"Apa kamu sedang mempermainkan aku?" Lirih Ansel.


Nara mencubit kedua pipi Ansel dengan gemas. "Aku serius Ansel..."


"Ucapkan sekali lagi." Pintanya.


"Aku mencintaimu Ansel... Aku sangat mencintaimu! Sangat-sangat... Mencintaimu."


Ansel tak kuasa menahan air matanya lagi, ia pun memeluk Nara. "Terimakasih... Terimakasih banyak sayang." Harunya seraya sesekali mencium kepalanya.


Ia memegang kedua pipi Nara dan menaruh jidatnya di jidat Nara. Hati dan perasaannya begitu bahagia. "Tetaplah mencintaiku tanpa ada batasan waktu." Ucap Ansel dan Nara mengangguk.


"Aku akan selalu mencintaimu sampai nafas ini sudah tidak berhembus lagi. Terimakasih telah bersabar menungguku..." Tutur Nara.


"Aku tetap menunggumu walaupun kamu tidak akan pernah mengungkapkannya. Aku akan selalu mencintaimu walau cintaku tak pernah terbalaskan. Yang terpenting, kamu selalu berada disisiku." Ujar Ansel.


"Bodoh! Sampai kapan kamu akan menahan itu semua? Cintamu terlalu kuat untukku." Nara memukul pelan bahu Ansel.


"Sampai kapanpun... Kamu yang membuat cintaku kuat! Hanya kamu... I love you sayang." Ansel mencium kening begitu lama dan dalam.


HUUAAA


"Hiks, itu terlalu romantis! Aku juga mau Tony..." Suara rengekan Viana mengejutkan Nara dan Ansel, mereka pun langsung berdiri.


"Iya-iya aku pasti memberikanmu ciuman yang lebih dari itu! Kamu tenang aja ya sayang..." Ujar Tony.


"Sejak kapan kalian disana?" Tanya Ansel penuh selidik.


"Sejak, 'Aku mencintaimu Ansel' Hahaha..." Jawab Tony seraya menirukan suara Nara. Mendengar itu Nara tersipu malu.


"Kalian itu kalo mau romantis-romantisan jangan ditempat umum kayak gini dong..." Protes Tony berkacak pinggang.


Viana mencubit pinggang Tony. "Kenapa kamu jadi memarahi mereka? Seharusnya kamu contoh Ansel! Dia aja bisa bersikap manis ditempat umum seperti itu, sedangkan kamu? Gak bakal bisa!" Omel Viana yang tiba-tiba saja begitu sensitif pada Tony.


"What? Kamu bilang aku gak bakal bisa? Aku bahkan bisa lebih dari Ansel!" Tegas Tong tak terima dengan ucapan Viana.


"Huaa hiks... Kenapa kamu ngomongnya kasar begitu sih?! Kamu jahat!" Rengek Viana membuat Tony menjadi serba salah.


"Aduh... Iya-iya aku gak bakal ngomong kasar lagi, kamu jangan nangis lagi dong..." Ucap Tony menenangkan Viana.


"Mau aku belikan permen kapas?" Tawar Tony.


"Mau..." Angguk Viana.


Tony pun membawa Viana ke penjual permen kapas. Sedangkan Ansel dan Nara sedari tadi hanya diam berdiri memperhatikan mereka saja.


"Sepertinya Tony harus melalui hal-hal yang sulit kedepannya lagi." Ucap Nara melihat kepergian Tony dan Viana.


"Jangan pikirkan urusannya. Yang boleh kamu pikirkan hanya urusan kita berdua... Mari kita bersenang-senang." Ajak Ansel lalu menggandeng tangan Nara, membawanya bermain dan bersenang-senang ditempat wahana tersebut.


Hanya ada kegembiraan, kesenangan dan rasa cinta yang mereka rasakan saat ini. Hari penantian yang selalu ditunggu Ansel akhirnya terjawab juga. Tidak ada kesenangan lagi selain melihat pujaan hatinya membalas perasaannya. Bagaikan mimpi untuknya merasakan rasa cinta yang begitu besar terhadap wanita yang saat ini menyandang status istrinya.


.


.


.


TBC