
#Happy Reading's🌻
.
.
.
Pagi harinya, Nara terlihat sudah rapih. Ia hendak pergi ke kantornya. Bayu pun menjemput Nara untuk mengantarnya ke kantor.
"Ayo Ra..." Ucap Bayu.
"Iya ayo..." Nara pun naik ke motornya Bayu dan pergi ke kantornya.
Di sepanjang jalan, Nara terus saja menyemangati Bayu agar dirinya tetap semangat mencari pekerjaan baru.
"Semangat ya cari kerjanya... Aku juga akan bantu kamu cari kerja di internet." Ujar Nara memeluk Bayu dari belakang.
Bayu memegang tangan Nara yang memeluk pinggang nya. "Iya sayang..." Bayu sangat bersyukur karna Nara tidak meninggalkan nya di situasi sulit seperti ini.
"Aku tidak salah memilih untuk mencintainya." Lirih Bayu dalam hati.
Setelah sampai di perusahaan, Nara turun dari motor Bayu.
"Aku kedalam dulu ya..." Senyum Nara.
"Iya... Maaf ya." Bayu tiba-tiba saja mengucapkan maaf pada Nara. Nara yang mendengarnya pun sedikit bingung.
"Maaf? Untuk apa?" Tanya Nara bingung menatap Bayu dengan penuh tanda tanya.
"Tidak ada. Aku hanya ingin meminta maaf saja." Jawab Bayu tersenyum.
"Kenapa hatiku merasa tidak enak ya? Ada apa ini?" Batin Nara meremang.
"Yasudah, aku pergi dulu ya... Jangan lupa, makan siang yang banyak. Dan jangan pernah lupakan aku di setiap kegiatan mu." Ucap Bayu.
"Aku akan jemput kamu nanti sore. Jangan kemana-mana oke." Lanjut Bayu.
"Siap pak bos... Hehehe." Ujar Nara menimpali ucapan Bayu.
"Bye... Aku sayang kamu." Ucap Bayu kembali sebelum ia pergi dari hadapan Nara.
"Aku juga..." Balas Nara. Dan Bayu pun pergi melajukan motornya
"Ada apa dengan perasaanku ini?! Semoga saja tidak ada kejadian apapun. Hah..." Hela Nara mencoba menenangkan hatinya yang terus saja gelisah. Ia pun masuk melangkah kedalam kantor.
......
Bayu sudah melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan. Tetapi tidak ada satu pun perusahaan yang menerimanya. Ia bahkan sempat frustasi dengan ini. Tapi ketika ia mengingat orang-orang yang di sayanginya selalu mensupport nya, ia kembali berusaha tanpa pantang menyerah.
"Aku harus bisa mendapatkan pekerjaan demi papa, mama, Adit, dan juga Nara." Lirih Bayu. Dan ia pun kembali melanjutkan perjalanan nya mencari pekerjaan.
Sedangkan Ansel, ia tengah sibuk dengan pekerjaannya.
"Tuan, ada nyonya Riani datang kemari untuk menemui tuan." Ujar Roni memasuki ruangan Ansel.
"Mommy? Ada apa mommy datang kesini?" Lirih Ansel menghentikan pekerjaan nya.
"Suruh mommy masuk." Perintah Ansel.
Roni pun menuruti Ansel dan ia pun memanggil mom Riani.
"Ansel..." Panggil Riani memasuki ruangan.
"Ada apa mom?" Tanya Ansel lalu menghampiri mommy nya ke sofa.
"Mommy bawa ini..." Riani membuka beberapa bekal makanan.
"Sushi? Mommy membuatnya sendiri?" Ujar Ansel.
"Iya... Mommy baru selesai kursus memasak. Dan mommy coba bikin sushi." Riani pun memberikan beberapa potongan sushi kearah Ansel.
"Minggu lalu mommy kasih aku soup ikan, pas di makan rasanya pahit dan rasanya aneh sampai-sampai aku bulak-balik ke kamar mandi lima kali. Dan ini sushi? Oh my god! Bagaimana jika ini rasanya lebih buruk dari soup ikan?!" Batin Ansel memperhatikan sushi buatan mommy nya.
Riani memang tidak bisa memasak. Makanya ia akhir-akhir ini mengikuti kursus memasak. Setiap makan malam atau pun sarapan pagi ia hanya bisa menyiapkan makanan nya saja untuk anak dan suaminya.
"Ayo di coba..." Riani terus menyodorkan sushi.
"Tidak, mommy mengikuti anjuran memasak dari guru kursus mommy saja. Kamu tenang aja, pasti kali ini enak. Ayo..."
Dengan terpaksa, Ansel pun mengambil sushi itu dan perlahan memasukannya kedalam mulut. Ketika ia mengunyah nya, tiba-tiba saja ada rasa yang aneh di mulutnya.
"Kenapa sushi ini rasanya aneh sekali?!" Ansel berusaha menahan rasa aneh itu di mulutnya. Ia tidak ingin melihat usaha mommy nya sia-sia dan ia tak ingin juga mommy nya kecewa.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Riani serius.
"Emmm... E~enak kok mom." Ucap Ansel berusaha tersenyum di depan mommy nya. Ia ingin sekali memuntahkan sushi yang rasanya aneh itu.
"Wah berarti mommy berhasil! Yes... Nanti malam mommy akan buatkan lagi. Yasudah mommy pulang dulu yah..." Riani pun bangkit dari duduknya dan pergi dari ruangan Ansel.
"Oek..." Ansel memuntahkan sushi nya ke plastik di depannya.
"Buat lagi?! Mati aku!!" Ansel langsung lari kedalam kamar mandi mencoba menggosok mulutnya menggunakan pasta gigi. Karna sudah beberapa kali ia minum, rasa sushi yang aneh itu tetap saja tak mau hilang.
Setelah jam kerja mulai habis. Nara mulai sibuk mengutak ngatik ponsel nya mencari sebuah lowongan pekerjaan yang cocok untuk Bayu. Untungnya saja pekerjaan Nara sudah selesai, jadi ia mulai bersantai dengan mencari beberapa situs media online untuk mencari pekerjaan.
"Semuanya tidak cocok dengan gelar Bayu." Lirih Nara.
"Ah aku telpon saja Bayu, semoga saja dia sudah menemukan pekerjaan." Nara pun mulai menelpon Bayu.
Tut... Tut...
"Kenapa dari tadi ponselnya gak bisa di telpon ya?" Bingung Nara yang sudah beberapa kali menghubungi Bayu, tetap saja tidak bisa di hubungi.
"Jam kerja ku sudah selesai." Nara melihat jam tangan nya. Dan ia pun membereskan beberapa berkas lalu pergi.
Di depan perusahaan, Nara menunggu kedatangan Bayu yang belum datang-datang sedari tadi. Dua jam Nara menunggu nya hingga matahari tampak hampir tenggelam.
"Huft, aku naik taxi aja." Nara akhirnya dengan terpaksa memesan taxi online.
Di dalam taxi, Nara terus saja memikirkan Bayu yang menghilang tanpa kabar. Hatinya semakin kalut memikirkan keadaan Bayu. Beberapa kali Nara menelpon Bayu tetapi ponsel nya masih saja tidak bisa di hubungi.
"Kamu kemana Bayu..." Cemas Nara menggenggam ponselnya erat.
Tepat di pertigaan lampu merah yang belum jauh dari perusahaan Nara, tampak kemacetan panjang di area itu. Entah apa yang terjadi, Nara tak memperdulikannya. Yang ia pedulikan hanya keadaan Bayu saat ini.
"Ada apa memangnya ini? Kok gak jalan-jalan pak?" Tanya Nara. Ia ingin sekali cepat-cepat pulang.
"Kayaknya ada kecelakaan deh mbak." Jawab pak sopir taxi itu.
"Kecelakaan?" Nara melihat-lihat kearah depan yang terdapat beberapa orang bergerumung.
"Kenapa hati ku semakin sesak ya? Ada apa ini?!" Batin Nara memegang dadanya yang sedikit sesak.
Ketika mobil taxi yang ditumpangi Nara berada di samping kerumungan orang-orang, ia pun menoleh kearah itu. Nara menyipitkan matanya bahkan mengucek-ngucek kedua matanya agar apa yang ia lihat itu hanya bayangan nya saja.
"Tidak mungkin!" Nara memalingkan wajah nya kearah depan ketika melihat helm yang tergeletak di atas tanah itu terlihat familiar di matanya.
Taxi nya pun jalan, karna kemacetan itu sedikit melenggang.
"Pak stop!" Nara menghentikan taxinya.
"Ada apa mbak?" Pak sopir menghentikan mobilnya di tengah-tengah kemacetan.
"Sa~saya ingin memastikan sesuatu dulu pak." Nara turun dari taxi dan berjalan ke kerumungan orang-orang.
"Tidak! Tidak mungkin itu..." Nara berusaha menguatkan hatinya jika apa yang di pikirannya itu salah.
Ia melewati beberapa orang-orang dan berusaha menyelip. Ia ingin melihat siapa sebenarnya korban kecelakaan yang terasa familiar itu. Ketika Nara sudah berada di depan kejadian, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Tidak! Itu tidak mungkin Bayu!" Air matanya seketika mengalir dari ujung mata hingga mengalir ke sisi hidung yang menandakan kesedihan nya yang bercampur keterkejutan.
Nara melihat helm yang sering di pakai Bayu itu tergeletak di atas aspal begitu juga dengan motornya yang sudah hancur. Ia juga melihat setangkai bunga mawar yang sudah di lumuri oleh darah tergelatak begitu saja yang tak jauh dari motor yang sudah hancur itu.
.
.
.
TBC