
#Happy Reading's🌻
.
.
.
Sesampainya Nara dikantor Ansel, ia segera pergi menemuinya di ruangannya. Saat itu Ansel sedang di sibukkan oleh beberapa dokumen. Ia terkejut ketika Nara langsung membuka pintunya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Ada apa Nara?" Ansel langsung bangkit dari duduknya. Ia khawatir melihat Nara begitu cemas. Bahkan tetesan keringatnya pun menetes banyak di keningnya.
"A~Ansel... Hah..." Nara mengatur nafasnya.
Ia berlari dari basemant parkiran sampai kelantai 15 tanpa menggunakan lift. Waktu itu ia menunggu lift sangat lama. Jadi dirinya memakai tangga darurat agar cepat sampai ke ruangan Ansel. Nara tak meminta ijin terlebih dahulu pada resepsionis, karna semua pegawai disana sudah mengenal siapa sosok Nara.
Ansel mendekati Nara dan memegang pundaknya. Hampir saja Nara terjatuh jika tidak secepatnya dipegangi Ansel. "Ada apa?" Tanya Ansel kembali.
"Ansel..." Nara memeluk Ansel dan menangis dipundaknya.
"Ayah Viana meninggal Ansel..."
Ansel membalas pelukan Nara. "Meninggal?" Ia mengelus punggung Nara.
"Iya Ans... Kamu tau, ayah Viana sudah aku anggap sebagai ayahku. Dulu... Hiks... Hiks..." Nara tak kuasa menahan tangisnya mengingat kenangan bersama ayah Viana.
Ansel melepas pelukannya dan mengusap air matanya. "Kenapa kamu sesedih ini hem?" Tanya Ansel dengan lembut.
"Dulu aku dan Viana sering bermain bersamanya. Bahkan.... Hiks... Bahkan kami setiap pekan selalu memancing tanpa mengingat waktu. Aku dianggapnya sebagai anaknya... Begitupun aku. Dia juga ayah kedua ku... Hiks."
Ansel kembali memeluk Nara. "Kamu yang sabar ya... Mungkin tuhan lebih sayang padanya. Kalo begitu, ayo kita kesana. Pasti Viana juga sudah disana." Ujar Ansel dan dibalas anggukan oleh Nara.
Menjelang sore hari, Ayah Viana di makamkan didekat rumahnya. Suasana haru menyelimuti keadaan disana. Viana terus saja memeluk batu nisan sang ayah. Semua orang sudah pergi, tinggalah Viana seorang. Ia menangisi penyesalannya karna tidak sempat bertemu ayahnya disaat terakhirnya.
"Ayah... Viana pun juga pasti akan menemui ayah disana. Mungkin sebentar lagi yah... Kenapa ayah tidak bersama saja perginya dengan Viana yah?" Lirih Viana.
"Apa maksud lo ngomong kayak gitu Vi?!"
Tanpa disadari Viana, Nara dan Ansel berada dibelakangnya dan sempat mendengar lirihannya. Nara dan Ansel baru saja sampai disana beberapa menit yang lalu. Viana yang mendengar itu, tersentak kaget. Ia pun menengok kearahnya dan langsung berdiri.
"Apa maksud lo ngomong kayak gitu Viana?" Mata Nara sudah memerah, menahan air matanya.
Viana mengusap air matanya. "Gak ada." Elak Viana memalingkan wajahnya.
"Lo bohong!" Ucap Nara. Ansel memegang pundaknya untuk menenangkannya.
"Gue gak ada maksud apa-apa ngomong kayak gitu. Seharusnya lo ngerti gue ngomong kayak gitu karna baru aja gue kehilangan ayah!"
Nara sedikit merasa bersalah. Ia berfikir tidak seharusnya dirinya mengatakan itu. Tanpa berfikir panjang, Nara langsung memeluk Viana.
"Maaf... Hiks. Gue ngomong kayak gitu, karna gue gak mau kehilangan lo lagi Vi... Hiks."
Keduanya berpelukan. Ansel melihatnya terharu dan merasa sedih juga.
"Aku memang salah karna telah memisahkan mereka sebelumnya. Aku tidak tau jika persahabatan mereka begitu kuat. Ini memang salahku!" Batin Ansel dengan penuh penyesalan. Ansel pun pergi dari hadapan Nara dan Viana.
Nara melepaskan pelukannya. "Kita berdoa lagi ya buat ayah..." Pinta Nara dan Viana mengiyakan.
Ansel menyenderkan punggung di mobil. Ia mengusap kasar wajahnya. Tak lama dari itu, ponselnya berdering.
"Halo?"
"Lo lagi dimana? Gue ke kantor lo, tapi ruangan lo kosong melompong gini kayak hati gue!" Ucap Tony dibalik telpon itu dengan nada yang kesal.
"Gue di pemakaman."
"What pemakaman? Lagi ngapain lo? Jangan bilang, lo lagi ngadain ritual pesugihan?"
"Eh keong racun! Kalau pun gue ngadain ritual pesugihan... Gak bakalan sore-sore kayak gini! Lagian juga ngapain gue ngadain kayak gituan... Gue kan udah kaya-raya dan gak bakal habis tujuh turunan, tujuh tanjakan!" Ucap Ansel dengan sombongnya.
"Sombong banget lo! Lo lagi ngapain dipemakaman?"
"Gue lagi datangin pemakamannya ayah Viana..."
"Ayah Viana? Ayah Viana meninggal?"
"Iya somplak! Yaudah buruan lo kesini. Kasian Viana keliatan terpukul banget..."
Tony diam saja. Ia tampak berfikir akan ke pemakaman ayah Viana atau tidak. Dirinya masih kecewa dengan kejadian tempo hari. Tetapi, hatinya juga merasa iba pada kondisi Viana saat ini.
"Eh malah diem lo! Cepet lo kesini..."
"Iya-iya gue kesana..." Tony pun menutup sambungan telponnya dan ia langsung pergi.
Setelah mengakhiri sambungan telponnya, Ansel menyusul Nara dan Viana yang sedang berdoa.
Malam harinya...
Keluarga Viana dan Nara sedang berkumpul setelah mereka menyelesaikan tahlilan pertama untuk ayah Viana. Ketika kedua keluarga itu sedang mengobrol, ketukan pintu terdengar. Viana membukakan pintunya, ia terkejut karna Tony lah yang mengetuk pintu rumahnya.
"Hai Vi... Apa kabar?" Canggung Tony.
"Baik..."
"Vi, aku turut berduka cita ya atas meninggalnya ayahmu. Dan aku juga minta maaf atas perlakuan ku waktu itu." Ucap Tony.
"I... Iya... Aku sudah memaafkan mu. Ayo masuk... Didalam juga ada Nara dan Ansel." Ujar Viana dengan sopan. Tony pun mengikuti Viana.
"Assalamualaikum semuanya..." Ucap Tony klau menyalami semua orang.
"Wa'alaikumsalam..." Serentak semua orang.
"Siapa dia nak?" Tanya Bunda Viana.
"Dia teman Viana Bund."
"Saya juga sepupunya Ansel Tan." Tutur sopan Tony.
"Oh... Yasudah, tante buatkan minuman mu dulu." Ucap bunda Viana. Tony duduk disamping Viana.
"Nara... Mamah, Ayah dan Rio pulang dulu ya..." Pamit Ranty.
"Iya Mah..." Angguk Nara.
Kini tinggal mereka berempat di ruang tamu. Untuk Anya adiknya Viana sudah tidur sedangkan bundanya membuatkan minuman untuk Tony dan setelah itu pergi ke kamarnya.
"Ra, lo nginep ya dirumah gue... Temenin gue." Ucap Viana.
"Iya Vi, gue temenin lo kok."
"Makasih Ra..."
"Kalo Nara menginap, bagaimana denganku?" Ujar Ansel.
"Kamu dan Tony juga boleh menginap disini... Tapi, kamu dan Tony harus tidur disofa ini karna aku tidak punya kamar lain lagi." Jelas Viana.
"Tidak mau! Aku harus tidur dengan istriku!" Ansel merangkul pundak Nara.
Nara memukul lengan Ansel dengan keras. "Kamu harus ngertiin suasananya! Aku harus tidur dengan Viana." Bantah Nara.
"Aku gak setuju! Kamu istriku, bukan istri Viana... Jadi kamu harus tidur denganku." Kekeh Ansel.
BUK
"Eh kadal ijo! Lo ngada-ngada aja deh kalo ngomong... Mana ada Nara istrinya Viana! Viana kan cewek. Lagian, apa salahnya Nara untuk saat ini tidur dengan Viana. Viana butuh Nara..." Ucap Tony bijak.
"Gue juga butuh Nara! Yaudah, lo aja yang tidur sama Viana!"
Seketika Viana dan Tony diam terpaku mendengar kalimat Ansel. Mereka kembali mengingat kejadian malam itu.
"AHHH!"
Ansel berteriak kesakitan karna kakinya diinjak Nara.
"Bagaimana pun, malam ini aku harus menemani Viana. Jangan melarangku... Sekali lagi melarangku bersama Viana, aku akan mencincangmu dan aku buang ke laut! Ayo Vi, kita langsung ke kamar..." Nara langsung menarik Viana dan mebawanya ke kamar.
GLEK
Ansel menelan salivanya dengan kasar. Ia berdiri dan duduk di samping Tony yang terbengong-bengong.
"Ton..." Panggil Ansel.
"Hemm..." Jawab Tony.
"Lo dengerkan tadi?"
Tony mengangguk.
"Kenapa gue bisa ya, jatuh cinta sama cewek kayak Nara?" Ucapnya.
Keduanya masih menatap kearah pintu kamar Viana.
"Gue juga gak tau kenapa dulu Nara suka sama gue... Mungkin gue terlalu tampan."
Ansel menoleh kearah Tony dan menoyorkan kepalanya. "Gue ngomong apa, lo ngomong apa! Gak jelas lo keong racun! Dan oh ya, apa tadi yang lo bilang? Dulu Nara suka sama lo? Sshhh mungkin dia menyesalinya sekarang..." Ejek Ansel.
"Kampret lo kadal ijo!" Tony melempar bantal sofa kearah wajah Ansel.
.
.
.
TBC