Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 35


#Happy Reading's🌻


.


.


.


"Apa yang lo liat itu, gak seperti yang lo bayangkan Vi." Nara kembali berusaha menjelaskan nya.


"Cih," Viana berdecih lalu melanjutkan jalan nya.


"Vi tunggu..." Nara memegang tangan Viana.


"Lepas! Jangan sentuh gue sama tangan kotor lo itu! Gue muak liat muka lo yang sok polos dan sok benar. Tapi kenyataannya? Cih, menjijikan!" Viana menghempaskan tangan Nara dari tangan nya.


"Viana... Gue harus gimana supaya lo percaya sama gue?" Nara sangat lelah saat ini. Ia tahu bahwa Viana sangat keras kepala.


"Jangan pernah muncul di hadapan gue lagi!" Ujar Viana dan kembali melangkah pergi meninggalkan Nara.


Nara duduk di sofanya. Ia menangkup kedua kakinya, lalu mennagis tersedu-sedu. Bagaiamana lagi ia akan mempertahankan persahabatan nya yang kini sudah hancur. Apa ia akan terima semua ini dengan mudah? Tentu saja tidak. Nara sangat terpukul dengan hancur nya persahabatan yang selama ini ia pertahankan.


"Hiks... Hiks... Apa ini tuhan? Apa?! Hiks. Aku harus apa? aku sudah berusaha selama ini. Kenapa Viana selalu tidak percaya dengan ku?" Isak Nara.


"Aku sudah berusaha untuk mempertahankan persahabatan ini. Tapi, kini aku tak bisa lagi tuhan. Hiks..." Nara terus saja menangisi nasib persahabatan nya dengan Viana yang tak bisa ia pertahankan lagi.


...........


Tiga bulan kemudian...


Sejak kejadian prom night tiga bulan yang lalu, persahabatan Nara dan Viana sudah tak sesempurna dulu. Persahabatan mereka bagaikan di telan bumi. Keduanya tak saling bertemu lagi. Terakhir kali mereka bertemu, itu sewaktu wisuda saja. Itupun mereka tak bertegur sapa seperti biasanya. Semua teman-teman kampusnya terheran-heran melihat kejauhan Viana dan Nara yang tak seperti biasanya.


Tetapi mereka tak bisa ikut campur masalah pribadi keduanya. Saat ini Viana pergi ke luar negeri, ia dimintai pamannya untuk mengurus perusahaannya di Las Vegas. Pamannya itu tak memiliki anak, jadi ia meminta Viana keponakan tertua nya untuk melanjutkan perusahaannya.


Untuk Nara, ia sudah bekerja di sebuah perusahaan periklanan. Ia lulus dengan gelar terbaik, jadi tak heran ia bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan dengan memanfaatkan kepintaran otak nya. Ia ditempatkan di bagian produksi periklanan.


Ia bekerja di salah satu perusahaan periklanan ternama yaitu, Swift Corp. Nara tak lagi bertemu dengan Ansel. Ia sengaja menjauhi Ansel semenjak kejadian malam itu. Walaupun Ansel terus saja mengejarnya dan berulang kali meminta permohonan maaf, tetapi Nara tetap tak bisa memaafkannya hingga kini. Sangat sulit untuk Nara melupakan kejadian itu.


Swift Corp.


"Nara Lathesia. Kamu sudah menjadi pegawai tetap disini. Magang mu selama tiga bulan, berhasil dengan baik." Ucap Tian manager perusahaan Swift Corp.


"Terimakasih pak." Nara membungkuk kan badannya, memberikan hormat dan ucapan terimakasih pada pak Tian.


"Saya sangat suka dengan kinerja mu, jadi saya percayakan kamu sebagai kepala bagian produksi periklanan." Ujar pak Tian dengan lantang.


"Beneran pak?" Ucap Nara tak percaya.


"Apa wajahku ini terlihat berbohong?" Pak Tian meyakinkan Nara.


"Ah tidak pak, maafkan saya. Saya hanya terkejut sekaligus bahagia pak mendengarnya." Nara kembali membungkuk meminta maaf.


"Baiklah, silahkan kamu kerjakan tugas mu di bagian kepala bagian produksi periklanan. Saya akan memanggil sekretaris saya Mira untuk memintanya memperkenalkan mu kepada semua pegawai bagian produksi." Pak Tian pun memanggil sekretaris nya Mira.


"Bagaimana bisa, anak magang ini secepat ini menjadi kepala bagian?!" Batin Mira melirik Kearah Nara yang berada tepat di samping nya.


"Apa kamu mendengar saya Mira?" Panggil pak Tian.


"Ah ba~baik pak. Ayo..." Ajak Mira dan Nara pun mengikuti nya dari belakang.


Di perempat jalan, tiba-tiba saja Mira menghentikan langkahnya. Dan menoleh Kearah Nara. "Apa kamu jual dirimu pada pak Tian?" Ucap Mira yang tiba-tiba saja berkata seperti itu pada Nara.


Nara terlihat bingung dengan perkataan Mira yang lebih tepatnya merendahkannya.


"Apa maksud mu?" Tanya Nara.


"Maksud ku, apa kamu menjual dirimu pada pak Tian? Aku tak percaya anak magang seperti mu bisa langsung menjadi kepala bagian. Aku curiga, apa kamu main belakang?" Jelas Mira merendahkan.


"Jaga bicara mu! Aku tidak semurahan itu! Kamu bisa langsung tanya sama pak Tian, kenapa beliau bisa menjadikan ku sebagai kepala bagian periklanan." Jawab Nara lantang.


"Wah-wah... Baru saja menjadi kepala bagian, sudah sombong seperti ini! Cih." Mira melanjutkan langkahnya.


"Huft, sabar Nara..." Nara menghembuskan nafasnya.


Sesampainya di ruang bagian produksi periklanan, Mira mulai mengumumkan kepada semua pegawai disitu bahwa Nara adalah kepala bagian produksi periklanan yang baru. Semuanya tampak terkejut dengan pengumuman itu. Bagaimana tidak? Semua orang tahu bahwa Nara adalah anak magang. Bahkan pegawai yang bertahun-tahun saja, pak Tian tak pernah menaikan jabatannya itu.


"Apa?! Anak magang itu kepala bagian kita? Apa pak Tian tidak salah pilih ya?" Ujar salah seorang pegawai disana.


"Aku saja yang sudah lima tahun bekerja disini, pak Tian tidak pernah menaikan jabatan ku."


"Aku tak percaya bahwa anak magang itu jadi kepala bagian kita. Apa dia main belakang ya sama pak Tian? Atau dia adalah simpanan pak Edward CEO kita?"


Dan masih banyak lagi perbincangan-perbincangan di kalangan para pegawai produksi periklanan itu perihal Nara. Mira tersenyum mengejek Nara. Dan Nara pun hanya menghela nafasnya saja. Ia berusaha menahannya.


"Halo semuanya. Perkanalkan saya Nara Lathesia, saya adalah kepala bagian produksi periklanan yang baru. Saya harap, kita bisa bekerja sama dengan baik dan tolong bimbing saya juga. Terimakasih."


"Heh, kamu main belakang ya sama pak Tian? Atau jangan-jangan, kamu simpanan pak Edward?" Ceplos salah seorang pegawai.


Nara tersenyum lalu berkata, "Maaf, saya bukan perempuan serendah itu. Saya hanya ditunjuk dan dipercaya oleh pak Tian saja, tidak lebih dari itu." Balas Nara sopan.


"Cih, munafik!"


"Sudah-sudah... Kalian kembali bekerja." Mira menghentikan semuanya. Sebenarnya ia sangat senang melihat Nara terpojoki. Sedari awal Nara bekerja di perusahaan itu, ia selalu iri pada Nara yang selalu mendapatkan pujian oleh pak Tian. Sedangkan dirinya? Ia tak pernah di puji seperti Nara.


"Ini belum berakhir Nara..." Bisik Mira sebelum ia pergi.


"Ada apa dengan Mira? Dia begitu membenciku, padahal aku tak tahu apa kesalahan ku. Ah... jangan dipikirkan, itu tidak penting. Yang terpenting saat ini adalah semangat! Semangat Nara, kamu pasti bisa menjalankan ini semua." Semangat nya pada dirinya sendiri. Lalu duduk di kursinya dan mengerjakan tugasnya.


.


.


.


TBC