
#Happy Reading's🌻
.
.
.
"Pelan-pelan Nara..." Ucap Ansel memperingatkan Nara.
"Ini juga udah pelan-pelan kok." Jawab Nara.
Nara dan Ansel kini berada di tempat terapi. Secara perlahan Nara berjalan dengan tangan memegangi pegangan besi. Walaupun beberapa kali ia jatuh, tetapi ia tak pantang menyerah untuk bisa berjalan kembali.
"Sudah ya, ini hampir sore dan aku harus kembali ke kantor." Ujar Ansel memegang kedua pundak Nara untuk menghentikannya.
"Yasudah pergi aja sana. Aku bisa menelpon bik Ijah atau mommy untuk menjemputku pulang. Lagian aku sebentar lagi bisa berjalan kembali seperti dulu." Nara melepaskan pegangan tangan Ansel dipundaknya dan kembali menggerakan kakinya.
Ansel mencegahnya kembali dan mengangkat tubuh Nara. "Eh-eh apa-apaan ini! Aku kan belum selesai Ansel... Sebentar lagi aku bisa berjalan Ans! Turunkan aku!" Nara memukul-mukul dada Ansel agar ia menurunkannya. Tetapi Ansel tetap membawa Nara ke kursi rodanya dan membawanya pulang.
Sepanjang perjalanan, Nara mendiami Ansel. Sampai mansion pun Nara tetap mendiami Ansel. Ansel hanya menghembuskan nafas kasarnya saja.
"Kalian sudah pulang... Tapi kenapa lama sekali?" Ucap Riani ketika melihat anaknya dan menantunya memasuki mansion.
"Iya mom, tadi Nara benar-benar ingin bisa berjalan jadi dia terus belajar berjalan tanpa beristirahat. Sampai-sampai aku harus membawanya paksa." Jawab Ansel.
"Oh... Kalo begitu mommy keluar dulu ya sebentar."
"Iya mom."
Ansel pun membawa Nara ke kamar. Ansel meletakan Nara diatas kasur. Wajah Nara benar-benar sangat masam dan terlihat kesal. Bahkan ia memalingkan wajahnya, enggan melihat kearah Ansel.
"Kamu marah?" Tanya Ansel. Ia mendudukan dirinya dihadapan Nara seraya memegang tangan Nara.
Nara diam saja tidak menjawab pertanyaan Ansel. Sungguh, Ansel dibuat kebingungan dengan sikapnya. Ansel pun mengelus lembut pipi Nara dan menarik wajahnya agar melihat padanya. Bibir Nara tampak mengerucut, dengan gemas Ansel mengecupnya singkat. Nara terkejut dibuatnya, ia pun mendorong Ansel.
"Apa-apaan lo?!" Dengan kesalnya Nara sampai berkata lo pada Ansel.
Mendengar kata lo dari mulut Nara, ia kembali mengecupnya. Kali ini tidak hanya sekali tetapi beberapa kali Ansel mengecupnya.
"Jangan pernah katakan lo-gue lagi di depanku! Jika sekali lagi aku dengar kata itu, aku tak segan-segan melakukan lebih dari ini." Ancam Ansel menatap tajam Nara.
Mata Nara sudah memerah. Dan tak lama kemudian, ia meneteskan air matanya. Ansel kelabakan melihat Nara tiba-tiba saja menangis. Ia merasa bersalah karna membuat istrinya menangis. Ansel pun memeluknya dan menenangkannya.
"Maafkan aku sayang..." Ansel mengusap-usap punggung Nara.
"Kenapa kamu harus melakukan ini?! Hiks... Aku kan hanya ingin bisa berjalan kembali! Kenapa kamu menghentikan ku tadi, padahal sebentar lagi aku bisa berjalan... Hiks."
Ansel tertegun mendengarnya, ia kira Nara menangis karna dirinya mencium dan mengancamnya. Ternyata Nara menangis karna tadi ia memaksa Nara berhenti terapi.
Ansel melepaskan pelukannya. "Maafkan aku. Tapi kamu melakukannya diluar batas terapi mu. Aku takut kamu terlalu kelelahan dan itu akan semakin memperburuk keadaanmu. Maafkan aku..." Ansel mengusap air mata Nara.
"Hiks, tapi kan aku ingin cepat-cepat berjalan kembali..."
"Bukankah ada waktu terapi lagi nanti? Di terapi berikutnya, aku pastikan kamu bisa berjalan... Percaya denganku. Jadi, jangan menangis lagi ya." Ansel berusaha menenangkan Nara.
Nara menganggukan kepalanya pelan.
"Yasudah, aku kembali ke kantor dulu ya." Ansel mencium kening Nara terlebih dahulu sebelum ia pergi ke kantor lagi.
"Terimakasih." Ucap Nara.
Ansel menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya. "Sama-sama... Jaga dirimu. Jika ada apa-apa tekan tombol itu untuk memanggil bik Ijah." Ucap Ansel menunjuk tombol yang berada di atas ranjang. Tombol itu berfungsi untuk memanggil bik Ijah atau pelayan-pelayan lain jika Nara membutuhkan bantuan. Nara mengangguk mengiyakan. Dan Ansel pun pergi.
......
"Ah... Akhirnya selesai juga." Ucap Viana seraya memberaskan berkas-berkasnya. Lalu ia pun pergi dari ruang meeting menuju ruangannya.
"Apa-apaan ini?" Teriak Viana.
"Tony, apa yang kamu lakukan di kantorku?" Tanya Viana.
"Aku ingin memberikan jam tanganmu yang waktu itu tertinggal di kamar hotel." Tony menyerahkan jam tangan itu pada Viana.
"Apa?! Hotel?!" Ucap tak percaya Maxim.
Beberapa saat sebelum Viana selesai meeting, Maxim yang sengaja menunggu Viana selesai meeting dikejutkan dengan kedatangan Tony di kantor Viana. Begitu juga dengan Tony. Tony berniat ingin mengembalikan jam tangan Viana yang waktu itu tertinggal di hotel.
Salah seorang pegawai menunjukan ruangan Viana dan menyuruh Tony menunggu Viana yang sedang meeting saat itu untuk menunggunya di ruangannya saja. Tony pun mengikuti saran dari pegawai itu, tapi disaat ia membuka pintu ruangan Viana yang ditunjukan pegawai tadi ia sangat terkejut melihat keberadaan Maxim.
"Apa hubungan kalian?" Tanya Maxim dengan mata yang memerah. Perkataan Tony mengenai hotel mengejutkan Maxim.
"Viana teman smp ku dulu." Jelas Tony.
"Teman smp? Tapi kenapa kalian ke hotel? Untuk apa?"
"Kenapa kamu kepo sekali! Bukan urusan mu aku ke hotel dengan siapapun!" Sergah Viana.
Maxim mengepalkan tangannya. "Ya! Kau benar, ini bukan urusan ku." Maxim pun pergi dari hadapan Viana dan Tony dengan hati yang terluka.
"Viana, kenapa kamu bersikap seperti itu pada Maxim?" Ujar Tony. Kini dirinya paham, bahwa wanita yang dimaksud Maxim malam itu ialah Viana. Wanita yang bisa menyentuh hati Maxim.
"Kamu kenal dengan Maxim?" Viana bertanya balik.
"Ya, Maxim adalah sahabatku."
"What? Sahabatmu?" Viana terkejut mendengarnya.
"Kamu tidak seharusnya berkata seperti itu pada Maxim, karna Maxim..." Tony menggantungkan ucapannya membuat Viana penasaran. Entah kenapa hati Tony merasa ngilu mengetahui Maxim mencintai Viana.
"Karna Maxim apa?"
"Karna... Karna Maxim sahabat ku. Ya, karna Maxim sahabatku jadi kamu tidak boleh berkata seperti itu." Tony mengalihkan ucapannya.
"Hanya sahabatmu... Memangnya kenapa? Aku tidak peduli!" Ucap Viana seraya duduk di kursi kerjanya.
"Ya, ya, ya... Terserahmu saja. Oh ya, bagaimana malam ini kita mengunjungi rumah Nara dan Ansel? Itung-itung kita mengecek keadaan Nara."
"Oke..."
"Baiklah, aku jemput kamu di apartemen mu malam ini. Aku akan ke unit mu."
Mendengar itu, mata Viana membulat. Sebelumnya ia memberitahu unit apartemennya, tetapi ia memberitahu unit yang salah.
"Jangan sampai Tony benar-benar ke unit ku!" Batin Viana cemas.
"Ah tidak perlu. Kamu hanya tunggu aku di luar gedung saja." Tolak Viana.
"Tidak apa-apa, aku akan ke unit mu. Sampai jumpa..." Tony pun langsung pergi dari ruangan Viana.
"Bagaimana ini?!" Viana semakin cemas.
"Aku harus memikirkan rencana agar Tony tidak mengetahui kebenarannya." Lirih Viana
.
.
.
TBC
Nantikan episode selanjutnya besok😉