Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 60


#Happy Reading's🌻


.


.


.


Saling menatap dan terpaku satu sama lain, itulah yang dilakukan oleh Nara dan Tony. Putaran demi putaran memori masa lalu berputar di benak keduanya. Cinta dan kebencian, perlahan hadir kembali di hati Nara.


"A~aku mau ke toilet dulu." Nara dengan gugup meminta izin pada Ansel untuk pergi ke toilet.


"Baiklah, hati-hati." Ucap Ansel melepas genggamannya.


Tony masih terpaku melihat kepergian Nara. Hatinya ngilu, mengingat masa lalunya bersama Nara. Rasa bersalah yang selama ini ia pendam, terukir kembali. Cinta yang ia sia-sia kan kini pun ikut hadir kembali.


"Hei! Lo kenapa natap calon istri gue kayak gitu?!" Ansel menyadarkan Tony dari lamunannya. Bukan hanya menyadarkannya dari lamunannya saja, tetapi ia terkejut mendengar bahwa Nara adalah calon istrinya.


"Ca... Calon istri?" Tanya Tony terbata-bata.


"Iya calon istri. Gue udah berhasil dapetin dia... Sebentar lagi Nara akan jadi milik gue." Ansel merangkul Tony dengan senyuman bahagianya. Tetapi tidak dengan Tony, ia terlihat diam saja.


"Kenapa lo diem gitu? Yaudah, mending kita duduk dulu. Pegel nih gue dari tadi berdiri terus." Ujar Ansel.


"Emm Ans, gue ke toilet dulu ya. Perut gue sakit." Ucap Tony memegang perutnya.


"Oh, yaudah sana."


Tanpa basa-basi, Tony pun langsung pergi menuju toilet. Di satu sisi, Nara melihat bayangan wajahnya yang terpantul di cermin toilet. Ia memegang dadanya yang terasa sakit. Ia memejamkan matanya berusaha untuk tidak mengingat masa lalunya.


"Kenapa dia harus hadir lagi?!" Lirih Nara melihat pantulan kaca.


Jujur saja, ada sedikit rasa cinta di hati Nara terhadap Tony. Ia masih menyimpan sedikit rasa cintanya di lubuk hatinya yang paling dalam. Tony adalah cinta pertamanya, sangat sulit ia lupakan begitu saja. Apakah usahanya akan sia-sia untuk move on dari Tony? Entahlah, hanya waktu saja yang bisa menjawabnya.


Nara membasuh wajahnya, dan kembali memoles sedikit bedak dan lipstik. "Jangan lagi Nara!" Nara memejamkan matanya dan mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum pergi dari toilet.


Nara keluar dari toilet tetapi seseorang menabraknya.


BRUK


"Aduh!" Nara terhuyung kebelakang.


"Hei..." Nara melihat kearah seseorang yang menabraknya. Ia sangat terkejut dengan sosok Tony di hadapannya dengan tatapan sendunya. Sejenak mereka saling pandang. Terlihat ada rasa kerinduan dimata keduanya. Tapi Nara lagi-lagi menepis hal itu.


Nara langsung memutuskan pandangannya dan ingin pergi, tetapi Tony memegang lengannya dan menariknya kedalam pelukannya.


"Apa kabarmu?" Lirih Tony di tengkuk Nara. Nara hanya diam saja tanpa niat menjawabnya.


"Aku tau, pasti kamu membenciku bukan? Maafkan aku... Maafkan aku Nara. Aku salah, sangat salah! Kau benar, aku akan menyesalinya suatu saat. Dan perkataan mu terwujud. Aku menyesalinya Nara!" Keduanya saling memejamkan mata.


"Lupakan." Nara mendorong tubuh Tony perlahan.


"Lupakan semuanya. Anggap, hal itu tak pernah terjadi. Dan anggap saja kita tidak pernah berhubungan atau saling mengenal. Sekarang kau dan aku hanya sebatas orang asing." Ucap Nara. Lalu ia pun pergi meninggalkan Tony yang masih mematung mencerna setiap perkataan Nara.


"Heh, kau benar Nara. Kau dan aku hanya sebatas orang asing saja saat ini." Tony memejamkan kedua matanya, menahan rasa sesak di hatinya.


Nara menghampiri Ansel yang tengah duduk. Ia mendudukan bokongnya di samping Ansel. "Mau pesan apa?" Tanya Ansel menatap Nara.


"Green tea saja." Jawab Nara.


"Baiklah, aku akan memesankannya. Kamu tunggu disini." Ansel menghampiri kasir dan memesan beberapa minuman dan makanan.


Tony datang, ia pun duduk berhadapan dengan Nara. Ia terus saja melihat Nara dengan perasaan yang tak menentu. Nara tau jika ia sedang ditatap oleh Tony, tetapi ia tak memperdulikan itu. Ia hanya sibuk dengan ponselnya saja, membuka aplikasi novel dan membacanya dengan serius.


"Ekhem... Tadi kamu belum jawab pertanyaan ku. Apa kabar mu?" Tony berdehem, berusaha mencairkan suasana.


"Baik." Singkat Nara tanpa melihat kearah Tony. Ia fokus dengan ponselnya saja.


"Tidak tau."


"Kenapa tidak tau? Kamu dan Viana sedang tidak baik ya?"


"Bukan urusan mu! Dan berhentilah bertanya!" Ketus Nara menatap Tony dengan tajam.


Tony membalas tatapan tajam Nara dengan tatapan lembutnya. Nara bersemu merah melihat betapa tampannya Tony ketika tersenyum lembut seperti itu. Bahkan ia mengingat ketika ia masih berpacaran dengannya, Tony selalu menampilkan senyum lembutnya padanya.


"Pesanan datang..." Ucap Ansel membawakan nampan yang berisi tiga minuman dan dua makanan. Tatapan keduanya terputus, dan saling menunduk.


"Hei ada apa dengan kalian?" Tanya bingung Ansel setelah menyimpan nampan dan duduk di samping Nara.


"Tidak ada." Ucap Tony lalu mengambil pesanan minuman dan makanan nya diatas nampan. Nara pun begitu, ia mengambil minuman nya dan langsung meminum nya.


Ansel tengah menyeliksik wajah Nara dan Tony secara bergantian. "Benarkah? Kenapa muka kalian merah? Terutama kamu Nara..." Ucap Ansel sampai-sampai Tony yang tengah menyantap makanan nya tersedak.


"Uhuk! Uhuk!" Tony meraih minuman nya dan langsung meminum nya.


"Ada apa sih?" Ansel semakin heran dan bingung dengan situasinya.


"Tidak apa-apa Ansel... Kita tadi hanya saling berkenalan saja kok." Dalih Nara memastikan Ansel.


"Oh... Bagaimana Tony, lo udah ngeliat kan rupa Nara seperti apa?" Ujar Ansel.


"Ya, dia sangat cantik dan menarik. Tidak diragukan lagi kalo playboy seperti lo bisa sebucin ini." Kekeh Tony seraya menatap Ansel dan Nara secara bergantian.


"Tentu... Gue gak mungkin salah pilih." Ansel memegang tangan Nara yang berada di atas meja. Tony melihat itu, hatinya terasa sesak dan panas. Ia mengalihkan pandangannya kearah sekitar seraya meminum minuman nya dengan kasar.


Nara melepas genggaman Ansel. Ia sangat tak nyaman dengan itu. "Maaf." Ucap Ansel. Nara hanya tersenyum saja menanggapinya.


"Oh ya, kapan kalian akan menyelenggarakan pernikahan?" Tanya Tony walau hatinya sangat ngilu dengan pertanyaannya sendiri.


"Satu minggu lagi kita akan menikah." Jawab Ansel antusias.


"Apa?! Secepat itu?!" Tony terkejut mendengarnya.


"Ya, orang tua kami sudah merencanakan ini semua. Dan kita mau tak mau harus menurutinya." Ujar Ansel.


Di setiap obrolan Ansel dan Tony, Nara hanya diam saja mencermati perbincangan keduanya. Hingga hampir larut malam, keduanya menyelesaikan makan malam mereka.


"Ayo Ra, kita pulang." Ajak Ansel.


"Kamu sudah membayarnya?" Tanya Nara.


"Sudah." Ucap Ansel.


"Ayo..." Nara bangkit dari duduknya dan melenggang pergi keluar cafe. Begitu juga dengan Tony.


"Rupanya aku sudah terlambat Nara..." Batin Tony melihat Ansel membukakan pintu mobil untuk Nara. Tony pun masuk kedalam mobil dan melajukan kecepatan mobilnya.


"Apa ini?! Ternyata perusahaan Ansel dengan perusahaan uncle Edward bekerjasama?!" Ucap Viana melihat beberapa berkas kerjasama perusahaan Swift Corp.


"Kenapa sangat kebetulan sekali?! Takdir seperti apa yang aku jalani ini? Kenapa hidupku selalu berkaitan dengan Ansel dan Nara!" Gumam Viana memijat pelipisnya.


Kepalanya terasa berat dan ia sangat pusing. Viana menutup berkas itu dengan kasar dan melemparnya sembarang. Ia bangkit dari duduknya dan pergi menuju kamarnya. Ia merehatkan tubuhnya, dan memejamkan kedua matanya. Beberapa kali ia menepis ingatan-ingatannya bersama Nara.


Sejujurnya, ia sangat merindukan sosok Nara. Sahabatnya yang dulu selalu bersamanya setiap saat. Menemaninya suka maupun duka, sahabat yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri. Tetapi ego dan keras kepalanya terlalu besar. Rasa rindunya itu ia alihkan pada rasa benci. Hatinya sudah tertutupi dengan rasa marah dan kebencian.


.


.


.


TBC