Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 87


#Happy Reading's🌻


.


.


.


Setelah mereka bersenang-senang ditempat wahana tersebut, mereka pun pulang ke ibu kota.


"Kalian sudah sampai?" Tanya Riani membukakan pintu mansion.


Nara dan Ansel menyalami Riani. "Iya mom, besokan Ans harus ke kantor."


"Oh... Yasudah kalian istirahatlah."


"Iya mom, selamat malam." Ucap Ansel.


"Selamat malam Mom." Ucap Nara juga.


"Selamat malam..." Jawab Riani tersenyum.


"Kalian memang benar-benar pasangan yang sangat serasi. Mommy harap kalian tetap bahagia dan harmonis." Lirih Riani melihat punggung anak dan menantunya.


Nara dan Ansel membereskan beberapa baju dikopernya, lalu mereka pun membersihkan diri. Saat ini keduanya tengah duduk diatas kasur dengan bersandar di kepala ranjang. Senyuman dan raut kebahagiaan tak pernah lepas dari keduanya. Ansel memeluk mesra Nara, begitupun sebaliknya.


"Mari kita memulainya dari awal." Ujar Nara menatap Ansel seraya tersenyum manis.


"Mari..." Ansel pun perlahan mendekati Nara dan menciumnya. Nara memejamkan matanya membalas perlakuan Ansel. Lalu ia pun melepaskan ciumannya dan saling menempelkan jidat serta hidung. Deru nafas saling bertautan, berusaha menghirup oksigen dalam-dalam.


"Apa boleh?" Tanya Ansel menahan hasratnya yang sudah menggebu-gebu. Dengan malu-malu Nara menganggukan kepalanya, Ansel yang mendapati lampu hijau itupun mengulaskan senyumannya.


"Aku akan melakukannya dengan lembut." Ujar Ansel dan kembali mencium Nara dengan penuh lembut dan dalam.


Malam itu adalah malam dimana kedua insan ini saling memberikan cinta dan saling menyalurkan hasrat mereka. Gelora cinta seakan melumpuhkan ingatan keduanya akan masa lalu yang penuh dengan intrik dan dendam. Hati keras Nara akhirnya bisa diluluhkan oleh sosok Ansel yang sebelumnya menyandang sebagai playboy kelas kakap. Tidak ada batasan apapun lagi yang menghalangi hubungan keduanya sejak malam itu.


Pagi harinya...


Kedua insan yang telah memadu kasih itu masih terlelap tidur dibalik selimut dengan saling berpelukan erat.


"Emmm..." Nara mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia mengingat kembali setiap momen tadi malam, seketika hatinya berdebar sangat kencang. Ia pun menatap Ansel yang masih memeluknya dengan erat.


"Selamat pagi sayang..." Ucap serak khas tidur Ansel yang mengejutkan Nara. Ia pun mengecup singkat bibir sang istri.


"Selamat pagi." Jawab Nara tersenyum.


"Apa masih sakit?" Tanya Ansel khawatir.


"Emmm, sedikit." Jujur Nara malu-malu.


Ansel tersenyum. "Terimakasih untuk semalam."


"Itu sudah kewajibanku."


"Bagaiamana pun juga aku berterimakasih. Yasudah ayo kita mandi... Mungkin Mommy sudah menunggu kita dibawah."


"Iya." Nara mencoba bangun, tetapi ia sulit untuk berdiri. Ansel yang melihatnya pun langsung beranjak bangun dan menggendongnya ala bridal style.


"Astaga Ansel! Aku bisa sendiri!"


"Bisa sendiri bagaimana? Buktinya aja berdiri pun kamu tidak bisa."


"Pokoknya aku bisa sendiri! Ah... Turunkan aku Ansel!"


"Iya nanti aku turunkan... Tapi dikamar mandi."


Ansel pun menurunkan Nara di bak mandi. "Yasudah kamu tunggu aku aja diluar." Pinta Nara.


Ansel tak mendengarkan Nara. "Eh-eh kamu mau ngapain?" Tanya Nara seraya menutupi tubuhnya di bagian tertentunya ketika melihat Ansel ikut masuk kedalam bak mandi.


"Ya mau mandi lah... Masa mau tidur." Ucap enteng Ansel mengisi bak mandinya dengan air.


"Kan bisa tunggu aku sebentar." Protes Nara.


"Biar cepet. Aku sebentar lagi ada meeting sama klien jadi gak ada waktu. Lagian apa salahnya kita mandi berdua? Bukankah aku sudah melihat semuanya?" Goda Ansel menaik turunkan alisnya.


"Dasar mesum!" Gerutu kesal Nara.


"Hahaha... Tenang aja, aku janji gak akan macam-macam." Ujarnya. Mereka pun menyelesaikan mandinya dan Ansel benar-benar menepati janjinya untuk tidak macam-macam dengan Nara.


Disatu sisi, Viana sedang menatap dirinya sendiri di cermin kamar mandinya. Ia beberapa kali membasuh hidungnya yang terus saja mengeluarkan darah. Rasa sakit dikepalanya pun menjadi-jadi, bahkan wajahnya sangat pucat.


"Aku lupa tidak meminum obat ku semalam."


"Wajahku kenapa seperti mayat hidup begini?" Ucapnya kembali seraya memperhatikan wajahnya.


"Aku harus sedikit menebalkan make up ku supaya wajah pucat ku ini tidak terlihat." Viana pun memoleskan make up nya. Tiba-tiba saja ia menitikan air matanya lalu menghapusnya.


"Tidak! Aku tidak boleh lemah. Aku harus kuat demi anakku." Lirihnya mengusap perutnya yang sudah sedikit membuncit.


"Sayang... Kamu baik-baik ya diperut Mama... Mama disini akan berjuang demi kamu sayang."


Ddrrrttt...


Ponsel Viana berdering...


"Halo sayang..." Sapa Tony dibalik telpon. Viana menghapus air matanya dan meredakan suaranya yang serak karna menangis.


"Iya Ton ada apa?"


"Sayang maaf, hari ini aku tidak bisa mengantarmu ke kantor karna jadwalku sangat padat. Tapi tenang saja, pulangnya aku pasti menjemputmu."


"Iya tidak apa-apa."


"Tunggu... suaramu kenapa? Seperti habis menagis." Ucap Tony penuh selidik.


"A~aku tidak apa-apa kok. Aku tutup dulu, aku harus berangkat ke kantor."


"Baiklah... Jaga kesehatanmu, kan sebentar lagi kita akan menikah."


"Iya kamu juga jaga kesehatan."


"Siap kapten... I love you."


"I love you too." Viana pun menutup sambungan telponnya.


Viana mengeratkan ponselnya di genggamannya. "Aku takut Ton... Aku takut kisah cinta kita tidak akan lama. Tapi sebelum semuanya berakhir, aku akan memberimu penggantiku. Hal yang paling berharga aku berikan padamu. Aku akan memberikan buah hati kita dalam keadaan sehat. Aku akan berusaha kuat demi buah hati kita sayang..." Isak tangis Viana memenuhi ruang kamar mandi. Kesedihan, ketakutan, dan kekhawatiran bercampur menjadi satu di dalam dirinya.


"Aku berangkat kerja dulu ya sayang..." Pamit Ansel mencium kening Nara.


"Aku boleh ikut ke kantormu?"


"Tidak. Kamu harus tetap di mansion menemani Mommy. Dan kamu juga harus beristirahat total hari ini karna nanti malam kita akan melanjutkan kegiatan yang semalam." Ucap Ansel uang diselingi kedipan matanya.


"Isshh... Dasar!" Ia memukul pelan bahu Ansel.


"Haha... Yasudah aku pergi ke kantor dulu. Daddy sudah menunggu didalam mobil."


"Iya hati-hati."


Viana hari ini disibukan oleh beberapa dokumen. Ia berhenti sejenak karna kepalanya berdenyut sakit. Viana memegang kepalanya dan sedikit meremas rambutnya karna ia merasakan sakit yang luar biasa.


"Rambutku sudah rontok." Ia mengigit bibir bawahnya lalu ia pun mengambil obat pereda nyeri di tasnya dan meminumnya.


Tok... Tok...


"Masuk." Pinta Viana segera memasukan obatnya kedalam tas.


"Permisi Miss, diluar ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda." Ucap asistennya.


"Siapa?"


"Tuan Maxim."


"Maxim? Oh astaga... Kenapa aku melupakan pria yang satu ini ya. Suruh dia masuk."


"Baik." Asistennya pun keluar dan memanggil Maxim.


"Apa kabar Viana?" Ucap Maxim tersenyum.


"Baik. Ada apa? Aku kira kamu sudah kembali ke Los Angeles."


"Bolehkah aku duduk dulu sebelum aku menjawab pertanyaanmu?"


"Silahkan."


"Terimakasih." Maxim pun duduk.


"Aku kesini hanya ingin berpamitan padamu. Hari ini aku akan kembali ke Los Angeles."


Viana berdiri dan ikut duduk di sofa bersebrangan dengan Maxim. "Aku minta maaf tidak bisa mengantarmu ke bandara."


"Tidak apa-apa. Oh ya, selamat atas pernikahanmu bersama Tony. Semoga kalian selalu bahagia." Ujar Maxim tersenyum.


"Terimakasih. Aku juga ingin minta maaf atas sikapku sebelumnya. Aku sudah banyak menyakitimu dengan perkataanku."


"Lupakan saja. Aku sudah memaafkanmu. Eumm... Jam penerbanganku sebentar lagi, aku pamit dulu." Maxim pun berdiri dan berpamitan.


"Iya hati-hati di perjalanan." Tutur Viana dan dibalas senyuman oleh Maxim. Tetapi senyuman Maxim luntur ketika melihat darah yang mengalir dihidung Viana.


"Viana! Hidungmu mimisan." Panik Maxim dan langsung mengambil tisu yang berada di atas meja kerja Viana.


"A... Aku tidak apa-apa." Viana merebut tisu itu ditangan Maxim.


"Aduh, kenapa pusing ini datang lagi disaat Maxim masih berada disini? Tapi kan aku sudah meminum obat, kenapa pusingku belum sembuh?" Batin Viana mengerutkan keningnya menahan rasa sakitnya yang kembali menyerangnya.


"Tapi Viana, hidungmu tetap mengeluarkan darah... Sebaiknya kita kedokter, ayo aku antar." Maxim berusaha memapah Viana, tetapi di dorong olehnya.


"Aku bilang aku tidak apa-apa! Lebih baik kamu cepat ke bandara. Bukankah penerbangannya sebentar lagi?"


"Tapi kamu..."


"Aku..." Viana pun ambruk pingsan dan Maxim langsung menahan tubuhnya.


"Viana! Viana bangun!!" Maxim menepuk-nepuk pipi Viana pelan.


"Aku harus membawanya kerumah sakit." Maxim pun menggendong Viana menuju rumah sakit.


Rumah sakit...


"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Maxim pada dokter yang telah menangani Viana.


"Begini, sebaiknya istri anda segera melakukan operasi untuk mengangkat tumor di jaringan otaknya. Jika tidak...."


"Jika tidak apa dok?"


"Jika tidak istri anda tidak bisa diselamatkan."


"Lakukan yang terbaik untuknya dok." Ucap Maxim.


"Tapi istri anda sedang hamil. Jika operasi itu berlanjut, bayi yang ada didalam kandungannya akan menjadi taruhannya."


"Apa? Hamil?!" Maxim terkejut bukan main mendengar bahwa Viana sedang hamil.


"Jadi benar perkiraan ku waktu itu, bahwa Tony dan Viana di hotel sudah melakukannya?" Batin Maxim mengingat kejadian dimana Tony ke kantor Viana untuk memberikan jamnya yang tertinggal di hotel.


"Bagaimana tuan? Anda harus memilih yang mana? Keselamatan istri anda atau bayi yang ada didalam kandungannya?" Tanya Dokter itu.


"Saya sebenarnya bukan suaminya dok. Jadi saya tidak bisa memutuskannya. Tapi apakah tidak bisa diselamatkan dua-duanya dok?"


"Itu berkemungkinan sangat kecil."


"Saya akan menyelamatkan kandungan saya."


Maxim dan dokter itu menengok kearah Viana. Viana sudah sedari tadi siuman, ia mendengar semua percakapan Maxim dan Dokter itu.


"Viana... Tapi nyawamu yang akan menjadi taruhannya." Tutur Maxim.


"Ini keputusanku."


"Tapi Viana..."


Viana menatap tajam Maxim dengan mata yang sudah dipenuhi air mata.


"Keputusanku sudah bulat. Aku akan memilih nyawa anakku! Aku tidak peduli dengan nyawaku sendiri! Yang aku pedulikan hanya keselamatan anakku!!" Ucap Viana penuh penekanan.


"Tenang nyonya. Anda tidak usah khawatir, saya akan berusaha menyelamatkan kalian berdua walaupun itu berkemungkinan sangat kecil." Ujar Dokter itu.


"Tidak apa-apa Dok, saya hanya ingin anak saya lahir dengan selamat dan sehat. Bagaimana pun caranya. Bahkan ditukarkan dengan nyawa saya sekalian, saya rela." Viana mengusap air matanya.


"Baik saya akan usahakan. Tapi anda juga harus rajin-rajin kemoterapi agar bisa mengontrol penyakit anda."


"Iya Dok, saya akan lebih rutin lagi kemoterapi. Saya permisi Dok, terimakasih." Viana pun keluar dari ruangan Dokter dan di ikuti Maxim.


"Viana tunggu..." Maxim menahan lengan Viana.


"Ada apa?"


"Aku minta maaf, tadi aku tidak bermaksud untuk..."


"Lupakan." Viana kembali melangkah tetapi ia berhenti.


"Maxim, aku harap kamu tidak memberitahu hal ini pada siapapun termasuk Tony."


"Kenapa? bukankah dia berhak tau tentang penyakitmu?" Ujar Maxim mengerutkan alisnya.


"Aku hanya ingin dia tidak mengetahuinya." Ucapnya.


"Kenapa?"


"Kau tak perlu tau!" Viana pun membalikkan tubuhnya dan kembali jalan meninggalkan Maxim yang masih berdiri terpaku.


.


.


.


TBC