
~Masih di situasi yang sama...
PRANG
Sebuah gelas terjatuh mengejutkan Ansel dan Nara. Keduanya menoleh kearah suara itu.
"Viana?"
"Viana?"
Nara dan Ansel membulatkan matanya seketika. Mereka terkejut siapa yang mempergoki mereka ketika sedang berciuman. Terlihat Viana mematung tepat diantara pintu belakang sekolah. Bibir Viana bergetar, air matanya meluncur dari pelupuk matanya. Dada nya kembang kempis menahan amarah yang tak terbendung. Viana pun menghampiri kedua orang yang selama ini ia sayangi.
PLAK
"Oh... Ternyata ini yang mau lo buktiin sama gue perihal sikap Ansel. Prok... Prok... Lo hebat Nara... Lo hebat!" Viana menampar Nara dan bertepuk tangan. Hati dan pikirannya kalut saat ini.
"Vi~ i... Ini... Ini gak seperti yang lo pikirin." Isak Nara memegang pipinya yang terasa perih. Ia mencoba menjelaskannya pada Viana.
"YANG GAK GUE PIKIRIN GIMANA MAKSUD LO HAH?! GUE LIAT PAKE MATA GUE SENDIRI!!" Teriak Viana. Hatinya sakit melihat dimana sahabatnya berciuman dengan kekasihnya.
"Hiks... Hiks... Vi, gue..."
"CUKUP! Jangan pernah lo panggil gue seperti itu lagi! Lo bukan sahabat gue lagi. Lo lebih pantas seperti jala*ng, bukan seperti sahabat gue!" Ujar Viana. Setiap perkataannya penuh dengan penekanan.
"VIANA!" Ansel tak terima jika Nara dipanggil seperti itu.
"Wah-wah... Apa ini? Kamu tak suka aku memanggilnya jala*ng sayang? Oh... Aku tau, kamu pasti sudah disodorkan dengan tubuhnya bukan? Oke, kalau begitu aku juga bisa sepertinya agar kamu bisa tetap bersama ku." Ucap Viana.
"Viana!!" Gertak Ansel.
"Viana... Apa maksud lo? Gue gak pernah nyodorin tubuh gue ke dia! Dan gue bukan jalang!" Sela Nara. Ia tak terima, Viana merendahkannya.
"Terus tadi apa HAH?! Maksud lo gue buta gitu? Lo penghianat Nara! Gue benci kalian!" Viana menatap keduanya dengan narnar.
Ia masih tak percaya dengan apa yang ia saksikan saat ini. Sahabat yang selama ini ia sayangi itu mengkhianati dirinya. Begitu juga dengan kekasihnya yang selama ini ia percaya dan cintai itu mengkhianati nya juga bahkan ia berkhianat dengan sahabat nya sendiri. Hatinya sangat hancur menerima ini semua.
"Viana... Tolong percaya sama gue, hiks." Nara mencoba memeluk Viana. Viana berusaha melepaskan pelukan Nara. Ia mendorong nya sangat kuat sehingga Nara terjungkal. Dan untung nya saja Ansel langsung menangkap tubuh Nara.
"APA SALAH GUE SAMA KALIAN HAH?! Kalian tega khianatin gue seperti ini!" Tegas Viana. Hatinya bertambah sakit melihat perlakuan Ansel pada Nara.
"Lo gak salah apa-apa Viana... Gue yang salah disini. Dan Nara juga gak salah. Lo salah paham sama dia." Jelas Ansel sambil merangkul Nara yang tengah terisak.
"Lo pikir gue percaya gitu aja hah?! Sekarang lo jujur sama gue, lo dan Nara punya hubungan apa?!"
"Vi... Gue dan dia gak punya hubungan apapun! Sekali ini... Aja. Lo percaya sama gue." Lirih Nara.
"DIAM LO NARA! Gue minta penjelasan pada Ansel bukan sama lo!" Viana menunjuk wajah Nara dengan telunjuknya.
Ansel menurunkan telunjuk Viana dan berkata, "Gue gak ada hubungan apa-apa dengan Nara. Gue akui, kalo gue cinta sama Nara." Ucap Ansel sejujurnya.
"Heh, cinta kamu bilang? Lalu bagaimana dengan aku?" Ujar Viana.
"Maaf." Ansel menundukkan kepalanya.
Viana menyeka air matanya. "Oke, aku mengerti. Mulai sekarang, jangan pernah kalian tunjukin muka kalian di hadapan gue! Anggap kita tak pernah mempunyai hubungan apapun!" Viana mengganti kata 'aku' menjadi 'gue'. Ia sungguh kecewa dan ia pun pergi meninggalkan Nara dan Ansel.
"Hiks... Viana... Maafin gue..." Nara beringsuk kebawah, ia menutup wajahnya menahan isaknya. Hatinya juga sangat sakit, melihat sahabat nya tak mempercayainya.
"Ra... Maafkan aku." Ansel memeluk Nara.
"INI SEMUA GARA-GARA LO!" Nara mendorong keras Ansel.
"Maaf." Ansel menunduk.
"Maaf lo bilang? Apa dengan kata maaf, lo bisa ngembaliin persahabatan gue?! Gue bener-bener benci sama lo Ansel!" Nara bangkit, dan ia berjalan menuju luar kampus.
..........
Viana pergi keluar kampus. Ia berjalan sambil menahan isak nya. Viana menghentikan taxi di depan gedung kampus, lalu ia pergi menuju rumah kontrakan. Setelah sampai, Viana langsung masuk kedalam. Ia membuka semua isi lemarinya. Ia masukan beberapa barang itu kedalam koper besarnya.
"Gue benci lo Nara! Gue benci lo! Hiks..." Beberapa kali ia menyeka air matanya yang selalu keluar dari pelupuk matanya. Ia keluar dari kamarnya dan hendak pergi.
"Vi... Lo mau kemana?" Cegah Nara yang baru saja datang. Ia terkejut melihat barang-barang yang dibawa Viana. Viana tak menyahut pertanyaan Nara, ia menyenggolnya dan kembali melangkah.
"Vi, tolong dengerin penjelasan gue dulu!" Nara kembali mencegah Viana. Ia menahan tangannya.
"Penjelas apa yang lo maksud? Penjelasan kenapa lo berciuman dengan Ansel di depan mata gue?" Viana menggertakan giginya menahan rasa sakit di hatinya mengingat kejadian di belakang kampus.
Flash back on
Saat Viana sudah mengambil minuman, ia melihat Ansel membawa Nara. Ia mengerutkan alis nya bertanya-tanya di pikiran nya.
"Ansel dan Nara mau kemana ya?" Pikir Viana melihat Ansel dan Nara.
Baru saja Viana hendak menyusul, bahunya di tepuk oleh Farah teman sekelasnya.
"Hai Viana." Fara menepuk bahu Viana.
"Eh hai Farah..."
"Lo sendirian disini?" Tanya Farah
"Enggak, gue sama Nara." Ucap Nara seraya tersenyum.
"Nara? Terus kemana Nara nya? Kok gue gak liat." Tanya Farah kembali. Tak biasanya Viana seorang diri, biasanya ia melihat Viana selalu bersama dengan Nara.
"Oh, tadi gue abis ngambil minum sendiri. Dan Nara gue tinggal sama Ansel dan Bayu di depan sana." Tunjuk Viana.
"Oh... Yaudah, gue kesana dulu ya." Ujar Farah. Dan Viana pun mengangguk mengiyakan.
Viana menghampiri Bayu. Ia masih tak melihat Nara dan Ansel.
"Bay, dimana sih Nara sama Ansel? Kok gak dateng-dateng." Tanya Viana.
"Gue gak tau, tadi tiba-tiba aja Ansel narik Nara kearah belakang kampus." Jelas Bayu.
"Belakang kampus?" pikir Viana.
Ia pun pergi mencari keberadaan Ansel dan Nara. Ketika ia hampir sampai di belakang kampus, ia mendengar teriakan dari seseorang yang familiar di telinganya.
"Apa itu Ansel?" Lirih Viana terus melanjutkan jalannya.
Disaat ia sampai di antara pintu belakang, ia terkejut dengan apa yang ia lihat di depannya. Dan...
PRANG
Gelas ditangannya terjatuh. Ia terkejut melihat Ansel dan Nara saling berciuman. Viana tak mendengar perkataan keduanya sebelumnya, ia melihat nya ketika Ansel dan Nara sudah berciuman. Sehingga membuat Viana salah paham.
Flash back off
.
.
.
TBC