Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 59


#Happy Reading's🌻


.


.


.


Malam harinya, Nara tengah memasak makan malamnya yang hanya nasi goreng saja. Setelah itu ia pun mulai memakan nya dengan santai. Di tengah makan malamnya, sebuah ketukan pintu menghentikan kegiatannya. Nara membuka pintu rumahnya dan terkejut melihat siapa yang datang.


"Mamah, ayah, tante, om, Ansel?" Satu persatu ia sebutkan orang-orang yang berdiri diambang pintunya.


"Bolehkah kita masuk sayang?" Pinta Ranty.


"Oh, ya... Si~silahkan masuk." Nara dengan gugup mempersilahkan kedua orang tuanya dan keluarga Ansel.


"Jangan bilang, mereka ingin membicarakan pernikahan? Mati aku!" Batin Nara resah.


Semuanya tampak sudah duduk. Nara terlebih dahulu menghidangkan minuman dan beberapa cemilan. Setelah itu duduk di dekat ayahnya Dani.


"Ada apa memangnya ini? Kenapa kalian Semuanya tiba-tiba datang kerumah?" Tanya Nara penasaran.


"Kita akan membicarakan pernikahan mu dan Ansel nak. Ayahmu sudah menjelaskan kejadian kemarin kepada kami." Ucap Abraham.


"Tuh kan!" Batin Nara.


"Tapi kan om, tan, itukan hanya kecelakaan saja. Tidak perlu di permasalahkan." Jelas Nara berusaha untuk meyakinkan.


"Walaupun itu hanya kecelakaan, kamu dan Ansel tetap menikah." Kekeh Dani.


"Kenapa sih, ayah ngebet banget pengen nikahin Nara sama Ansel? Ayah kan sudah tau kalo aku udah punya Bayu." Ucap Nara menaikan nada bicaranya.


"Nara... Perhatikan nada bicaramu!" Gertak Ranty.


"Maaf..." Lirih Nara menunduk.


"Ini keinginan ayah Nara. Ayah ingin kamu mendapatkan laki-laki baik seperti Ansel yang tulus mencintai kamu." Tutur Dani kembali.


"Ansel laki-laki baik? Cih! Ayah tidak tau saja seperti apa dirinya sebenarnya! Terus kenapa lagi dia malah diam terus dari tadi?!" Batin Nara mengepalkan kedua tangannya dengan sembunyi-sembunyi seraya memperhatikan Ansel yang hanya diam saja.


"Tapi ayah aku..."


"Ayah selama ini tidak pernah meminta apapun bukan sama kamu? Kali ini saja, turuti permintaan ayahmu." Dani menyela ucapannya dan memegang kedua tangan putrinya itu.


Nara terlihat bimbang. Benar apa yang dikatakan ayahnya. Selama ini ayahnya Dani tidak pernah meminta apapun padanya. Apakah mungkin sudah saatnya ia membalas semua perjuangan ayahnya?


"Ayolah Nara... Terima saja perjodohan ini." Batin Ansel melihat Nara yang tengah bimbang.


"Hah..." Nara menghela nafasnya lalu ia menatap sang ayah.


"Baiklah, aku akan menikah dengan Ansel." Nara tersenyum getir.


"Alhamdulillah..." Serentak semuanya.


"Terimakasih nak..." Serentak kedua orang tua Ansel. Nara hanya membalasnya dengan senyuman nya saja.


"Terimakasih sayang..." Dani memeluk Nara. Air matanya berlinang memupuk di peluk matanya.


"Ayah tidak usah menangis. Nara kan sudah menuruti permintaan ayah." Nara menghapus air mata Dani.


Dani mengangguk. "Sekarang kita persiapkan pernikahan kalian. Satu minggu lagi kalian akan menikah." Tutur Dani membuat Nara terkejut setengah mati akibatnya.


"Apa? Secepat itu?!"


"Iya. Sebelumnya kami sudah menentukan tanggal pernikahan kalian." Ucap Riani.


"Kenapa tidak meminta persetujuan Nara terlebih dahulu?" Gerutu Nara.


"Sekarang kan kita sudah meminta persetujuan kamu. Baru saja kita memintanya." Dalih Ranty.


"Ck, kalian ini." Cemberut Nara.


"Om, tante... Boleh saya berbicara berdua saja dengan Nara?" Pinta Ansel.


"Ya silahkan."


Ansel pun mmeinta Nara untuk mengikutinya keluar. Mereka kini tengah jalan-jalan di sekeliling lingkungan rumah Nara.


"Apa kau sudah puas?" Ujar Nara sinis pada Ansel.


"Sangat puas..." Jujur Ansel.


"Cih, menyebalkan!" Nara menghetakkan kakinya dan berjalan cepat.


"Hey tunggu!" Ansel mengejar Nara yang sudah lebih dulu mendahului nya.


"Cepatlah bicara!" Nara memelankan jalannya menyeimbangkan langkah Ansel.


"Aku ingin berterimakasih, karna sudah menyetujui pernikahan ini." Ucap Ansel.


"Berterimasih lah pada ayah... Bukan dengan ku!" Kilah Nara.


"Baiklah, aku akan berterimakasih pada ayah nanti."


"Terserah!"


Di tengah perjalanan, Nara melihat tukang baso keliling yang lewat di depannya. Ia mengingat jika tadi ia tidak sepat menghabiskan makan malamnya. Nara pun menghentikan tukang baso itu.


"Bang... Beli." Nara menghentikan tukang baso itu.


"Nara, mending kita cari makan di tempat lain saja." Pinta Ansel. Ia melihat kearah baso keliling itu dengan rasa geli. Ia belum pernah memakan baso di tempat seperti itu.


"Siap neng... Silahkan duduk dulu neng." Abang tukan baso itu pun menurunkan dua kursi untuk di berikan pada Nara dan Ansel.


"Hanya satu neng? Si mas nya nggak?" Tanya tukang baso itu.


"Ansel mau gak?" Tawar Nara.


"Tidak usah. Kamu saja."


"Beneran? Ini enak loh..."


"Nggak."


"Oke kalo gak mau. Bang satu aja."


"Siap neng. Bentar yah..."


Tidak lama kemudian, baso itu sudah jadi. Nara menatapnya dengan binar. Ia pun langsung melahapnya.


"Benaran kamu gak mau? Ini beneran enak loh. Liat nih..." Nara memperlihatkan cara makan basonya pada Ansel berusaha untuk menggodanya.


"Gak!" Elak Ansel. Jujur saja, ia melihat Nara memakan baso dirinya tergiur dengan itu. Perutnya tiba-tiba saja berbunyi. Nara mendengarnya.


"Kau lapar? Pesan saja." Ucap Nara.


"Ti~tidak! Aku tidak lapar! Siapa Juga yang lapar!" Ansel gengsi jika ia membeli baso. Pada awalnya kan ia sudah menolak, demi harga dirinya ia menahan rasa laparnya.


"Yasudah..." Nara kembali melanjutkan makannya.


Bau harumnya baso terus menyeruak di hidung Ansel. "Sial!" Gerutu Ansel.


Drrttt... Drrtt...


Ponsel Ansel berbunyi.


"Tunggu sebentar. Aku akan mengangkat telpon dulu." Ucap Ansel pada Nara.


"Ada apa?"


"Lo dimana Ans? Gue ke apartemen lo, tapi lo nya gak ada." Ucap Tony di sebrang telpon.


"Gue ada di luar."


"Di luar mana lo? Sini temenin gue ke bar."


"Gue gak mau! Gue lagi jalan-jalan sama cewek pujaan gue!" Tutur Ansel.


"Widih... Berhasil nih ceritanya?!"


"Tentu!"


"Yaudah, lo ajak cewek lo ke cafe dekat taman kota. Gue mau liat gimana rupanya cewek yang mampu membuat playboy cap kadal ini bucin."


"Oke... Lo tunggu aja disana." Ansel pun menutup sambungan telponnya dengan Tony, lalu kembali menghampiri Nara yang terlihat sudah menyelesaikan makan baso nya.


"Ra, yuk ikut gue." Ansel menarik tangan Nara.


"Eh, mau kemana?" Tanya Nara.


"Aku mau ngajak kamu ketemu sepupu ku di cafe dekat taman kota." Jelas Ansel tanpa melepaskan pegangannya.


"Apa?"


"Kamu harus ikut pokoknya!" Paksa Ansel.


Dengan terpaksa Nara mengikuti Ansel. Mereka terlebih dahulu pamit pada kedua orang tua mereka. Ansel mengemudi mobilnya bersama Nara yang berada duduk di samping nya. Mereka saling diam, tidak ada perbincangan di dalam mobil. Hingga sampailah mereka di cafe dekat taman kota.


Ansel menggandeng tangan Nara. Ansel melihat-lihat ke sekeliling cafe mencari keberadaan Tony. Akhirnya ia melihat sosok Tony yang tengah memakai pakaian casual, dengan celana pendek berwarna coklat yang berpaduaan dengan baju kaosnya yang polos berwarna hitam, dan topi hitamnya.


Tony membelakangi Ansel dan Nara. Ansel pun menepuk bahunya, Tony pun mengalihkan pandangan nya pada Ansel dan Nara.


"Hai bro!" Sapa Tony menyalami Ansel dengan cara khas mereka.


"Suara ini?!" Batin Nara terkejut mendengar suara yang terdengar familiar di telinganya.


"Dimana cewek lo?" Tanya Tony. Tony tak melihat keberadaan Nara karna Nara berada di belakang tubuh Ansel.


"Ini..." Ansel menarik tangan Nara kedepan.


DEG


Keduanya saling menatap dengan tatapan terkejut.


.


.


.


TBC


Jika kalian suka dengan cerita novel bergenre Reinkarnasi, Time Trevel, Romansa Istana, Dan Fantasi Modern. Kalian bisa lihat Novel baru author berjudul:


AGEN K2 MELINTAS WAKTU MENJADI SELIR


Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan dua sahabat yang berprofesi sebagai Agen. Mereka berdua terbunuh dan di beri kesempatan untuk hidup kembali menjadi selir raja yang kejam.


Yang satu menjadi selir tak di inginkan, yang satunya lagi menjadi selir yang lemah.


Yuk intip ceritanya di Novel baru Author😉 Kalian tinggal klik saja akun author dan ikuti kisah perjalanan dua sahabat itu🙌🏻