
"Bukalah matamu Om Edward.......lihatlah diriku sejenak,” ucap lirih Ghina, gadis itu menyentuh telapak tangan besar Edward.
Tanpa sepenglihatan Ghina, ujung ekor mata Edward tampak keluar buliran air mata, seakan telinga pria itu mendengar apa yang di ucapkan Ghina, segala makian yang terlontarkan dari mulut gadis itu.
Ghina masih duduk di lantai, ke dua kakinya tidak sanggup untuk berdiri, ke dua netranya pun tidak sanggup melihat wajah dan tubuh Edward.
Untuk pertama kalinya, gadis itu menyentuh telapak tangan besar Edward, menyentuhnya dengan lembut tanpa keraguan.
“Om Edward.......tahukah.......tangan pria ini yang pertama kali menyentuh diriku......menarikku dan memelukku.....lucu ya kalau saya mengingatnya. Belum tentu Om ingat, karena wanita yang Om Edward cintai adalah mbak Kiren. Kalau saya hanya butiran debu, numpang singgah, dan akan menghilang jika di lap dengan kain," Ghina tersenyum kecut, sambil menghapus air matanya.
“Om Edward tahu tidak? Dulu dua tahun yang lalu, saya pernah berkhayal pengen punya suami kaya Om Edward......eh ternyata jadi kenyataan. Tapi sayang pernikahan kita karena paksaan dan perjodohan. Dan kini sudah berakhir.........,” gadis itu kembali mengusap matanya, teringat akan masa lalu.
“Om Edward........” sapa gadis itu, tangannya masih mengelus lembut telapak tangan Edward. Ghina mencoba untuk bangun dari melantainya, pelan-pelan. Ghina kembali menatap wajah tampan Edward.
“Om Edward.......bukalah matamu sesaat........saya sekarang ada di hadapanmu. Dan saya akan pergi lagi Om......,” ucap lirih Ghina.
Gadis itu dengan memberanikan diri mencondongkan dirinya ke wajah Edward, mendekati telinga pria itu.
“Jika Om Edward memang ingin tidur selamanya, bukalah matamu sejenak, lihat diriku ini......istri yang tak dianggap Om Edward, sebentar aja,” bisik Ghina, menghembuskan napas hangatnya di pipi Edward.
Jangan pergi lagi......istriku. Aku mendengar suaramu.......aku merindukanmu....Ghina.
Tangan mungil gadis itu, menyentuh pipi Edward untuk pertama kalinya........mengelus rahang yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus. Ghina menyentuh pria itu seakan-akan ini pertemuan yang terakhir bagi mereka berdua.
Gadis itu merasa Edward tidak merespon kehadirannya, tetap tidak ada tanda-tanda akan sadar dari koma nya.
“Om Edward, saya sudah memaafkan kesalahan Om......jika memang Om ingin tidur selamanya......,” jeda sejenak, Ghina menghela napas panjang, kembali menguatkan dirinya, untuk melihat pria yang masih berbaring lemah, tidak menunjukkan respon selama gadis itu mengajak bicara.
Ya Allah ini begitu menyesakkan, beginikah......rasanya jika akan di tinggal selamanya oleh orang yang pernah kita sukai.
“Om......bangun yukk, buka matanya dulu sebentar. Jika memang ingin pergi, pamit dulu yuk......jangan pergi tanpa pamit. Sesak Om rasanya......!” Ghina mulai mengelus dadanya yang terasa sesak.
“Om........Ghina enggak kuat lihat kayak begini..... buka sebentar saja matanya Om,” tak kuasa diri Ghina, tiba-tiba menjerit. Setelah beberapa lama gadis itu mencoba kuat melihat dan menatap Edward.
"Bangunlah Om......Ghina gak kuat lihatnya......pamit dulu sama Ghina kalau mau pergi selamanya!!"
"Bangunlah......sebentar saja!!" jerit Ghina, kedua tangan gadis itu mulai memegang tepi ranjang, agar dirinya tidak kembali terjatuh.
Maafkan aku......istriku.......
Buliran bening kembali muncul di ujung ekor mata Edward, sehabis Ghina menjerit. Dan tak satu pun ada yang orang yang melihatnya.
Dokter Setyo dan salah satu perawat bergegas masuk ruang ICu, setelah sempat mendengar jeritan Ghina. Dan Dokter Setyo langsung memegang tubuh Ghina yang mulai terhuyung-huyung seketika itu juga jatuh tak sadarkan diri.
Dokter Setyo bergegas mengangkat dan membopong gadis itu keluar ruang ICU. Dan membawanya ke ruang praktek dokter, untuk segera di periksa.
Papa Zakaria dan mama Sarah, yang melihat Ghina sudah tak sadarkan diri, mengikuti Dokter Setyo.
“Untuk sementara biarkan Ghina istirahat dulu, dia sedikit kelelahan serta shock. Ini hal yang wajar, tidak semua orang bisa bertahan lama berada di ruang ICU melihat kondisi pasien,” ujar Dokter Setyo, setelah memeriksa kondisi Ghina.
“Terima kasih banyak Dokter,” jawab Papa Zakaria. Mama Sarah duduk di samping ranjang Ghina, di elus lembut lengan Ghina. Berharap anaknya cepat sadar.
🌹🌹
Esok hari
Ghina masih beristirahat di kamar rawat inap yang telah di siapkan pihak rumah sakit atas perintah Opa Thalib, ditemani oleh kedua orang tuanya.
“Ghina, makan dulu sarapannya biar kamu ada tenaganya,” ujar Mama Sarah, sambil menyodorkan nampan yang berisi makanan.
“Makasih mam,” jawab gadis itu, dan mulai menyantap sarapannya. Begitu juga mama Sarah dan papa Zakaria turut menyantap sarapannya.
TOK........TOK.......TOK
“Masuk,” sahut Mama Sarah.
“Selamat pagi Om, Tante, Ghina,” sapa Ferdi.
“Makasih Om Zaka, saya sudah sarapan. Maaf jadi mengganggu ini,” ucap Ferdi.
“Enggak pa-pa kok, ada apa ya?” tanya Papa Zakaria.
“Saya mau bicara dengan non Ghina, ada hal yang mau di bicarakan,” ujar Ferdi.
“Oooh tunggu ya Pak Ferdi, saya selesaikan makanannya dulu,” sambung Ghina.
“Iya Non, habiskan dulu, jangan terburu-buru nanti keselek.”
“Oke,” Ghina segera menuntaskan sarapan paginya.
Tanpa menunggu waktu lama, Ghina sudah duduk di sofa bersama Ferdi, Papa Zakaria dan Mama Sarah ke kamar sebelah, tempat Opa Thalib dan Oma Ratna menginap.
“Pak Ferdi ingin bicara tentang apa?” tanya Ghina.
“Saya ingin membicarakan tentang Tuan Edward, semoga Non Ghina berkenan mendengarnya.”
“Ceritalah, saya akan mendengarnya,” jawab Ghina tenang.
Ferdi mulai memperlihatkan rekaman ketika Edward mengucapkan talak tiga kepada Ghina, lanjut rekaman CCTV lobby hotel saat terjadi penu-sukan.
Mulut Ghina mengangga melihat aksi Kiren, tidak percaya tega melakukannya. Lantas barulah Ferdi menceritakan kronologis kejadian, hingga kenapa Edward bisa sampai kritis.
“Sungguh saya gak percaya mbak Kiren bisa senekat itu, bukankah dia sangat mencintai Om Edward?” tanya Ghina.
“Ya seperti yang saya ceritakan tadi karena emosi, rasa tidak terima ketika Tuan Edward menalaknya,” jawab Ferdi.
“Non Ghina, sebelum Tuan Edward jatuh tak sadarkan diri. Tuan Edward menitipkan pesan ke saya,” ujar Ferdi, mengingat pesan Edward.
“Pesan apa?”
“Tuan Edward titip pesan, katanya Tuan merindukan istrinya Non Ghina, lalu Tuan bilang menc----,”
DEG
“Stop, Pak Ferdi jangan diteruskan,” sela Ghina, kedua netranya mulai berkaca-kaca. Sudah tak sanggup gadis itu mendengar kelanjutan pesan dari Edward. Sedangkan dirinya berupaya menguatkan hatinya.
“Non Ghina, kalau boleh saya tahu, sekarang Non Ghina tinggal di mana?” selidik Ferdi mengorek informasi.
“Itu hal pribadi saya Pak Ferdi, maaf saya tidak bisa memberitahukannya. Lebih baik sekarang kita fokus dengan keadaan Om Edward,” jawab Ghina
.
“Maaf ya Non Ghina, kalau begitu saya izin pamit. Mau kembali menunggu di ruang ICU, melihat perkembangan Tuan Edward,”
“Saya ikut ke sana Pak Ferdi,” pinta Ghina.
“Silahkan Non,” ujar Ferdi mempersilahkan gadis itu untuk jalan duluan.
Di depan ruang ICU terlihat sudah ramai dengan keluarga Edward, Derby adik Edward terlihat masih di dalam ruangan ICU menjenguk sang kakak.
“Gimana nak, udah enakkan badannya?” tanya Oma Ratna.
“Lumayan mendingan Oma, semalam hanya kelelahan saja,” jawab Ghina.
“Syukurlah kalau begitu,” balas Oma Ratna.
Tampak kejauhan ada sepasang suami istri datang tergopoh-gopoh dengan wajah masamnya, mulai mendekati ruang ICU.
.
.
bersambung