
Mansion Edward
Pak Jaka Kepala pelayan dan Ferdi terlihat sedang menunggu kedatangan Tuannya. Dari gerbang sudah terlihat mobil Edward memasuki luar lobby mansion.
“Selamat malam tuan besar,” sapa Pak Jaka.
Edward menyerahkan jasnya ke Pak Jaka. Kemudian Pak Jaka dan Ferdi mengikuti langkah Tuannya maauk ke dalam mansion.
“Sayang, akhir kamu pulang,” ucap Kiren langsung memeluk suaminya.
“Sayang.........mau langsung mandikah? biar aku siapkan air hangat di kamar kita," tawar Kiren dengan suara lemah lembutnya.
“Tidak perlu,” jawab dingin Edward, sambil melepas pelukan Kiren.
“Pak Jaka siapkan air hangat di kamar mandi Ghina,” perintah Edward.
“Kenapa menyuruh pelayan menyiapkan air di kamar Ghina, kamar kamu di atas.......kamar kita, sayang.” Kiren tidak terima penolakkan suaminya.
Netra Kiren sempat melirik ke arah pintu, mencari gadis yang namanya di sebut suaminya. Ternyata orangnya tidak ada, hati Kiren tenang.
Edward menatap wajah Kiren “saya akan tidur di kamar Ghina,” ucap Edward.
“Sayang, kenapa tidur di sana, bukannya di kamar kamu, kamar kita........ lebih bagus dan mewah, ketimbang kamar tamu. Atau kamu tidak ingin sekamar denganku.”
“Kiren, ingat ini adalah mansion saya. Dan saya berhak mau tidur di mana saja,” jawab Edward.
“Kalau begitu aku ikut, di mana kamu tidur.... ya sayang,” pinta Kiren dengan suara manjanya, sambil memainkan kancing kemeja Edward.
“Saya ingin tidur sendiri!” jawab tegas Edward, dan berlalu meninggalkan Kiren.
“Gak bisa sayang, aku ini istrimu......harus tidur dengan suaminya. Kita sudah sah sebagai suami istri.” Kiren langsung menarik salah satu tangan Edward, akan tetapi langsung di tepisnya.
“Hentikan Kiren, hari ini saya benar-benar lelah, hentikanlah kemanjaanmu itu!” tegur Edward.
“Wajar aku manja denganmu, aku ini adalah istrimu, dan Kak Edward adalah suamiku. Kenapa Kak Edwars tiba-tiba berubah.....?” tegur Kiren.
“Saya tidak pernah berubah.”
“Tapi Kak Edward tidak pernah seacuh ini padaku, Kak Edward selalu memanjakanku selama kita dulu pacaran, tapi kenapa sekarang setelah kita menikah, kenapa Kak Edward berubah begitu saja,” ungkap Kiren.
Kepala Edward sedikit menengadah ke atas, menghela napas kasarnya, kemudian meraup wajahnya dengan kasar.
“Saya tidak bisa membahas masalah ini, saya sedang banyak pikiran. Seharusnya kamu mengerti posisi saya saat ini,” tegur keras Edward, yang tak ingin di tentang lagi oleh Kiren.
“Tapi-----“
“Saya ingin istirahat....!” sela Edward, kemudian pria itu bergegas ke menuju kamar tamu yang sudah berubah namanya jadi kamar Ghina.
Langkah Kiren yang ingin menyusul suaminya ternyata di hadang oleh asisten pribadi Edward.
“Sebaiknya Nyonya jangan menyusul Tuan, untuk menghindari sesuatu hal yang buruk. Nyonya kan sudah tahu jika Tuan sudah emosi seperti apa. Sebaiknya turuti keinginan Tuan Besar kali ini,” ucap Ferdi dengan penuh keyakinan.
Kiren tidak bisa berkata, justru hanya bisa menghentakan kedua kakinya, karena tidak bisa menyusul suaminya di kamar Ghina.
“Tuan Besar, air hangatnya sudah siap,” ucap Pak Jaka saat Edward masuk ke dalam kamar.
“Siapkan baju saya, dan makan malam di kamar istri saya ini!” perintah Edward.
.
“Kamar ini, kamar istri saya Ghina!” sebut Edward.
“Oohh.....iya Tuan, baik saya akan siapkan.”
Bukannya Tuan Besar sama Non Ghina sudah berpisah, kenapa sekarang di sebut istri, kemarin bukannya dianggap pelayan di sini.......ckck Tuan yang aneh.
Pak Jaka segera ke bagian laundry untuk meminta mereka menyiapkan baju Tuan, dari pada harus ke kamar Tuannya yang berada di lantai, dan bertemu dengan NYONYA MANSION yang gayanya selangit.
Di kamar Ghina, Edward masih terngiang-ngiang saat menatap wajah Ghina dan mencium kening gadis itu. Pria itu mulai melucuti satu persatu pakaian yang menempel di tubuhnya tanpa menyisakan satu pun, kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Setelah menyentuh air dalam bathup dengan tangannya, untuk memastikan kehangatannya serta menuangkan minyak esensial, baru pria itu berendam di bathup.
Sesaat pria itu mulai rileks tubuhnya setelah merasakan air hangat yang memenuhi tubuhnya. Membuat dirinya memejamkan matanya. Dalam mata yang terpejam Edward terlihat tersenyum, mengingat kejadian dua tahun silam.
Kala itu acara ulang tahun papa pria itu, oleh papanya di minta untuk pulang ke Indonesia, karena pria itu sudah lama tinggal di Australia, dan jarang pulang ke Indonesia.
Semua keluarga besar berkumpul di mansion utama, semua sanak saudara dan kerabat di undang, termasuk keluarga Zakaria. Dengan kehadiran Edward, suasana acara semakin meriah, apalagi saudara yang berjenis kelamin perempuan, semuanya mengerubuti pria tampan, tapi ada satu gadis yang berbeda dari antara semua sanak saudara perempuannya.
Pria itu memperhatikan gadis kecil berwajah cantik, hidung mancung, bibir yang sudah berbentuk sensual berwarna merah muda dengan memakai dress putih, panjangnya selutut dengan jenis rok bawahnya yang mekar, tubuhnya terlihat mungil.
Gadis itu terlihat sibuk dengan makanan yang ada di beberapa stand makanan, dan tidak sekalipun menatap pria itu, atau pun ikutan mengerubungi dirinya seperti saudaranya yang lain.
Tatapan lekat pria itu tak putus putusnya menatap gadis itu, kadang pria itu sengaja mengikutinya tanpa di sadari gadis itu.
Pria itu sambil mengobrol dengan saudara yang lain, sangat sabar menanti gadis itu untuk menghampiri dirinya, satu jam berlalu......dua jam berlalu. Sudah putus asa dan tak kuasa lagi, akhirnya pria itu menghampiri gadis mungil itu.
“Permisi boleh, ikutan duduk di sini?” tanya pria itu, pada gadis yang sibuk makan sepotong cake red velvetnya.
Gadis itu mendongakkan wajahnya, seketika mereka berdua saling beradu pandang. Netra pria itu seketika seakan terhipnotis dengan mata lentik berwarna coklat gadis itu yang begitu bening dan bercahaya.
Gadis Cantik.....!!
“Kenalkan.....saya Edward, anak pertamanya Opa Thalib,” ucap perkenalan Edward pertama kali, dengan menjulurkan tangan kanannya.
“Ghina, saya anak papa Zakaria,” balas Ghina menyambut uluran tangan Edward dengan senyum malu-malunya dan suara lembutnya.
Edward terpesona dengan gadis kecil yang baru di kenalinya, dan menatap secara dekat wajah gadis kecil itu, masih kecil saja sudah cantik luar biasa, apalagi jika sudah dewasa nanti, itulah benak yang terbesit di hati Edward.
Sentuhan tangan yang terasa hangat kala itu buat Edward dan Ghina.
Dan tanpa di sadari Edward, Opa Thalib tersenyum hangat melihat Edward mendekati Ghina, gadis kecil yang tak pernah mendekati Edward dari pertama kali Ghina datang ke acaranya. Perkenalan yang dimulai dari anaknya sendiri....Edward.
"Istri cantikku.....Ghina Farahditya," gumam Edward dalam mata terpejamnya.
.
.
Kakak Reader yang cantik dan ganteng jangan lupa tinggalin jejaknya ya, komennya 😊😊😊
Love You sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹🌹😘😘😘😘