
Setelah kejadian Edward mengambil paksa buket bunga dari Dokter Irfan, hati Ghina semakin dongkol dan kesal dengan Om Edward.
“Non Ghina, ini tadi mbak belikan cake sama macha latte. Buat menghibur hati Non. Jangan berlarut larut sedihnya.” Ria menyediakan cake yang tadi di ambil dari ruang kerja Edward.
Memang usia muda itu tidak bisa di bohongin tingkah lakunya, hanya melihat cake yang cantik aja mata Ghina langsung berbinar-binar, lupa seketika masalah buket bunga dari Dokter Irfan.
“Woow..... makasih banyak ya Mbak Ria, cake nya enak banget......apalagi ini macha latte kesukaan Ghina. Kok bisa pas banget belinya?” Ghina mulai menikmati cake nya penuh perasaan, benar benar menghayati makannya.
“Kebetulan aja Non Ghina......mbak waktu beli cuma mengira-gira saja pilih minumannya.”
“Mbak Ria, ayo ikutan di makan cakenya, gak mungkin saya menghabiskan semuanya. Yang ada nanti saya tambah manis kalau banyak makan cake yang manis manis,” pinta Ghina.
“Oke.....mbak pilih cake tiramisu aja ya,” di ambilnya cake tersebut dari kotak kue.
Maafin mbak ya Non Ghina terpaksa mbak berbohong, kalau bilang cake ini pemberian dari Tuan Besar, pasti Non buang. Lebih baik di nikmati, nyatanya Non kembali tersenyum.
Ria diam diam mengambil foto pose Ghina menikmati cake dari Edward, lalu mengirimnya ke nomor ponsel Edward, sebagai bukti buat Edward.
Edward yang menerima foto Ghina, mengulum senyum. Cantik.....
Tanpa di sadari Edward mood kesalnya, jadi baik kembali, hanya gara gara sebuah foto.
🌹🌹
Balik ke perusahaan Thalib Grup.....
“Ini cara pakainya, loe bisa campurin ke dalam minuman, bisa kopi, teh, jus....susu tidak boleh.” Anis menjelaskan cara pakai cairan yang berada di setiap botol ukuran 5ml yang tersusun rapi di kotak.
“Produk ini sangat terkenal di Korea, dan biasa di minum buat pasangan yang ingin segera punya momongan. Minuman yang membuat bergairah.”
Kiren sumringah mendengar kata gairah, pikirannya langsung ke ranjang. Membayangkan tubuhnya di cumbu oleh Edward.
“Reaksi obatnya menunggu berapa lama setelah di minum?”
“Cukup hanya 10 menit, obatnya langsung bereaksi.......suami loe pasti langsung tancap gas, tinggal loe yang siapin tenaga.”
“Gue pengen buru-buru pulang, pengen tahu reaksi obatnya.”
“Husss.....masih jam kerja. Tadi gue lihat ada mertua loe di ruangan CEO.”
“Oooohhh......!” bibir Kiren membulat. Tuan Thalib sang pemilik utama perusahaan, belum tahu kalau dirinya sudah jadi menantunya, pikir Kiren.
Tapi bisik bisik karyawan Thalib Grup sudah sampai ke telinga Opa Thalib, jika Edward sudah menikah dengan Kiren.
Bukan hanya sekedar gosip belaka, beberapa teman kerja Kiren di undang saat pernikahan mereka di Bandung, dan tak mungkin akan menutup mulutnya. Sepertinya Edward tidak memperhitungkan hal itu, bagaimanapun berita itu akan sampai kepada kedua orang tuanya terutama papa nya yang masih punya kedudukan paling tinggi dari dirinya.
🌹🌹
“Maaf honey, hari ini saya masih menginap di rumah sakit. Kamu harus bisa mengerti keadaan ini,” jawab Edward dalam sambungan ponselnya.
“Aku kangen sayang, gak bisa jauh dari kamu, dan tidak bisa lama lama di tinggalin,” rengek Kiren.
“Selepas Ghina sudah keluar dari rumah sakit, saya janji akan ajak kamu jalan-jalan.”
“Bener sayang, ajak aku jalan jalan dan shopping ya.”
“Iya honey, kalau begitu sudah dulu ya telepon nya .....saya masih banyak pekerjaan.”
“Oke sayang, I love you.”
“I love you too.”
Dari siang sampai malam ini Edward belum kembali menengok ke kamar Ghina, dia hanya minta di kirimkan beberapa foto Ghina yang berada di dalam kamarnya melalui Ria.
Edward mengendarai mobil sedan keluaran baru tanpa sopir malam ini. Menelusuri hiruk pikuk malam yang masih terlihat ramai. Mobil sedan tersebut berhenti di salah satu toko bunga kenamaan.
“Selamat malam Pak, ada yang bisa saya bantu?” tanya salah satu pegawai toko.
“Saya ingin membeli bunga.”
“Bunga seperti apa yang di inginkan? Atau mungkin untuk tema apa Pak.....biar saya bantu carikan?”
“Boleh saya pilih sendiri?”
“Oh.....silahkan Pak.....langsung saja masuk ke dalam banyak pilihan bunga segarnya.”
Mata Edward menelisik ke berbagai macam dan jenis bunga yang terpajang di dalam toko tersebut. Matanya tiba tiba terpesona dengan bunga Tulip berwarna merah, bunga ini jarang berada di Indonesia, kecuali di pesan secara khusus.
“Mbak......saya mau bunga Tulip itu, tolong di rangkai menjadi buket,” pinta Edward.
“Baik Pak, pilihan bunganya ini sungguh cantik dan jarang ada di Jakarta. Pasti yang menerima bunga ini akan bahagia sekali. Bunga Tulip merah melambangkan pernyataan cinta,” ujar pegawai toko bunga, membawa vas yang berisikan bunga tulip lalu merangkainya dengan indah.
Seketika itu juga Edward terpaku diam Tulip.......cinta. Edward memasukkan ke dua tangan ke dalam saku samping celananya, memperhatikan pegawai toko bunga merangkai bunga pilihannya, tapi ada sesuatu hal yang berbeda di matanya saat menatap bunga tulip merah.
“Bunganya sudah siap, Pak,” ujar pegawai toko bunga.
Edward segera mengeluarkan dompet dan mengambil blackcard untuk membayar buket bunganya. Tanpa bertanya harganya berapa, langsung Edward membayarnya.
“Terima kasih Pak atas pembelanjaannya.”
Buket bunga yang di belinya di bawa secara hati hati, bagaikan mengendong bayi yang baru lahir, lalu di taruhnya di bangku samping kemudi.
Selang 30 menit, pasnya di waktu jam 9 malam mobil Edward terparkir rapi di parkiran khusus pemilik rumah sakit.
“Ria.....Ghina sudah tidur?” tanya Edward lewat teleponnya.
“Sudah Tuan, tadi habis minum obat, tak berapa lama Ghina sudah tertidur.”
“Saya akan ke kamarnya, kamu tunggu di luar kamar,” titah Edward.
“Baik Tuan.”
Edward mematikan sambungan teleponnya. Dengan langkah gagahnya Edward sambil membawa buket bunga menuju kamar Ghina dari parkiran rumah sakit.
“Tuan Besar mau ngapain lagi ya ke kamar, malah non Ghina sudah tidur pulas,” gumam Ria. Dari pada terjadi sesuatu hal dan tidak ada bukti, Ria menyalakan video yang berada di ponselnya lalu meletakkan ponselnya di tempat strategis yang dapat mengambil video Ghina yang saat ini sedang tertidur. “Aman.” Setelah memastikan ponselnya tidak terlalu mencolok menaruhnya.
“Malam Tuan Besar,” sapa Ria dan Denis yang duduk di depan kamar rawat Ghina.
“Mmm...,” gumam Edward, dan langsung masuk kamar Ghina dengan langkah pelan-pelan.
Buket bunga tulip yang dia beli di taruhnya di atas nakas samping ranjang Ghina. Seperti semalam Ghina tidur dengan posisi menyamping.
Tangan Edward melambai lambai di wajah Ghina untuk memastikan jika Ghina sudah berada di alam mimpinya. Dengan hati-hati Edward melepas jasnya, menaruhnya di sofa, lanjut membuka kedua sepatunya.
Melihat sisi ranjang Ghina terlihat lapang, dia naik ke atas ranjang, ikut berbaring di samping Ghina dan menghadap ke arah wajah Ghina.
.
.
Ayo tebak apa yang mau di lakukan Om Edward ???
Stay tune Kak Readers yang Cantik dan Ganteng 😘😘