
Tangan besar Edward mengelus lembut punggung Ghina, yang terlihat semakin pulas tidurnya. Dulu saat malam pertama mereka berdua setelah menikah, Edward tidur dengan memeluk tubuh Ghina, tanpa sepengetahuan wanita itu, karena sebelum wanita itu terbangun, Edward lebih dulu bangun dan pura-pura tidak tidur dengan wanita itu.
Pagi ini Edward tidak mau melakukan hal yang sama seperti malam pertama mereka berdua, pria itu ingin ketika Ghina membuka matanya, melihat dirinya masih ada di sampingnya.
“Sayang, pulas sekali tidurnya.....,” ucap Edward sambil merapikan rambut Ghina yang terlihat menutupi wajahnya.
Bibir Edward berlabuh di kening Ghina, mengecupnya dalam-dalam. Pria itu benar-benar hatinya berselimut dengan kebahagiaan, menikmati waktu paginya mendekap hangat tubuh wanita yang di cintainya, menghujami kecupan hangat di pucuk kepala yang beraroma wangi, serta keningnya.
Ghina yang masih dalam dekapan Edward, merasakan tubuhnya semakin hangat, serta elusan lembut di punggungnya, membuat semakin pulas tidurnya. Rasanya malas untuk membuka matanya.
Tapi ada yang sangat aneh, yang tercium di hidung Ghina. Wanita itu mencium aroma maskulin yang menyeruak di dekat dirinya. Di tambah salah satu tangannya merasakan sedang menyentuh kulit yang tidak dingin dan juga tidak hangat, suhunya pas.
Awalnya Ghina menduga yang di peluknya adalah guling, tapi kenapa sedikit keras tidak empuk, tapi padat berisi. Tangan Ghina mulai mengulur ke pinggang Edward, dan itu membuat pria itu tersenyum.
Kok gulingnya besar banget.......trus kok gulingnya wangi..
Berasa ada yang berbeda dengan gulingnya, tubuh Ghina mulai menggeliat di dalam dekapan Edward.
“Eugh........” lenguhan Ghina, kedua kelopak matanya mulai mengerjap-ngerjap.......membuka matanya.......dan.......
“Morning, istriku........sayangku...,” sapa Edward.
“ASTAGA.........,” pekik Ghina langsung bangun dari baringnya, dan mengecek semua badannya, kemeja dan roknya masih utuh.
Alhamdulillah...tidak terjadi apa-apa.
Lalu menoleh ke pria yang berada di sampingnya...”apa yang OM Edward lakukan di sini!” tegur Ghina dengan mata melotot. Geram rasanya mendapat dirinya berada di samping Edward.
Edward ikut duduk di samping Ghina “ya tidurlah, sama istriku yang cantik ini........”
“Memangnya gak bisa Om Edward tidur di sofa, memang harus kita tidur seranjang!” ketus Ghina, sambil menunjuk ke arah sofa panjang yang berada di kamar.
“Sayang......pagi-pagi jangan marah dong, tapi kalau kamu marah rasanya pengen aku kurung di kamar ini,” goda Edward.
“Ciih.......,” berdecih Ghina, sambil beranjak berdiri dari atas ranjang.
“Kamu, mau ke mana sayang? Kamu masih sakit?” tanya Edward sambil menarik lengan Ghina.
“Aakh....,” pekik Ghina, tubuhnya kembali terhempas di atas ranjang, dan mulai di kungkung pria itu.
“OM EDWARD...!!!” pekik Ghina.
BRAK !!!!
Pintu kamar terdobrak kencang....
“EDWARD.....GHINA.......APA YANG TELAH KALIAN LAKUKAN!!” ucap Opa Thalib, dari depan pintu kamar.
Edward dan Ghina sama-sama kaget mendengar suara teriakan yang terdengar kencang, Edward yang masih menindih Ghina hanya menoleh ke belakang, sedang Ghina hanya melihat dari balik tubuh Edward.
“Papa, Mama.......,” ucap Edward dengan wajah terkejutnya.
“Opa, Oma.......” ucap Ghina, kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya, malu kepergok dengan posisi yang terlihat intim.
Edward langsung beringsut dari atas tubuh Ghina.
PLAK
Tangan Opa Thalib mendarat ke salah satu pipi Edward, “Apa yang telah kamu lakukan dengan Ghina.....hem,” tegur Opa dengan suara meninggi.
Ghina tersentak ketika Edward mendapat tamparan kencang dari Opa Thalib.
Oma Ratna menghampiri Ghina yang sudah mulai duduk di tepi ranjang.
“Maafkan Edward Pah........aku melakukannya dengan Ghina, semalam.....,” ucap Edward sambil memegang pipi yang terkena tamparan.
Ghina langsung menoleh ke samping, kedua matanya melotot.....mendengar ucapan bohong dari Edward.
PLAK
“Anak breng-sek kamu....bersihkan tubuh kalian berdua, papa tunggu di ruang tamu sekarang juga. Papa tidak mau tahu.....kalian berdua harus-----!!”
“Opa.......Opa.....Om Edward bohong, kami gak melakukan apa-apa Opa sama Oma harus percaya sama Ghina. Om Edward bohong,” sela Ghina membela diri, tidak terima dengan perkataan Edward.
“Bersihkan dirimu dulu nak, nanti kita bicarakan lagi,” pinta Oma Ratna lembut, lalu meninggalkan kamar menyusul Opa Thalib ke ruang tamu, dan tak lupa menutup pintu kamar.
Opa Thalib dan Oma Ratna tertawa kecil, setelah berhasil menggerebek Edward dan Ghina satu kamar, setelah semalam dapat informasi dari ajudan Opa Thalib. Dan yang lebih tak menyangka, waktunya pas sekali adegannya. Edward sedang berada dia atas tubuh Ghina.
“Mama, gak sabar pengen punya cucu dari Edward sama Ghina.......pasti cucu mama lucu-lucu....ganteng dan cantik,” ucap Oma Ratna sudah membayangkan sambil tertawa kecil.
“Kita doaiin aja mam,” jawab Opa Thalib.
Selepas Opa Thalib dan Oma Ratna telah keluar dari kamar.
Ghina memutar balik badannya ke arah Edward yang sudah berdiri, dan masih berte-lanjang dada.
“Apa maksud Om Edward bilang begitu sama Opa, kenapa Om berbohong,” tukas Ghina sambil menunjuk-nunjuk dada Edward.
“Sayang....aku berkata jujur. Kita kan memang melakukannya semalam sampai pagi,” jawab Edward.
“Sayang.....sayang.....siapa yang nyuruh Om panggil aku sayang,” ketus Ghina.
Edward meraih pinggang Ghina,”memangnya gak boleh suami panggil istrinya.....sayang.. atau kamu mau aku panggil cinta,” goda Edward, sambil menundukkan wajahnya agar lebih dekat dengan wajah Ghina.
“Iish..........”desis Ghina, tubuhnya mulai meronta-ronta agar bisa lepas dari dekapan pria tampan itu.
“Please sayang.......jangan marah terus ya......mending sekarang kita mandi dulu, sudah di tunggu sama papa dan mama di luar,” pinta Edward dengan lembutnya.
“Terserah aku....mau marah kek, mau gak marah kek.......itu hak aku!” jawab Ghina sedikit galak.
“Ya sudah terserah kamu, sekarang sayang mandi dulu. Nanti aku pesankan sarapan buat kamu. Biar kamu cepat sehat,” balas Edward, lalu mengecup kening Ghina, kemudian mengurai pelukannya.
“Dasar gak sopan, main peluk-peluk aja, main cium-cium aja,” gerutu Ghina sambil melap keningnya, kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Edward hanya tersenyum mendengar gerutuan Ghina, kemudian menelepon restoran untuk memesan makanan untuk sarapan pagi melalui line telepon kamarnya.
Ada sekitar sepuluh menit Ghina berada di kamar mandi, dan keluar dengan pakaian yang sama, tapi wajahnya sedikit cemberut.
“Aku mandi dulu ya, tunggu aku......jangan keluar kamar dulu. Biar kita sama sama menemui papa dan mama,” ucap lembut Edward, sambil mengacak-acak rambut Ghina.
“Kalau gomong, gomong aja......tangannya gak usah pegang-pegang,” ujar ketus Ghina.
CUP
Edward secepat kilat mencium pipi Ghina, dan bergegas ke kamar mandi, sebelum Ghina kembali marah.
“OM EDWARD.....” pekik Ghina.
“Jangan marah-marah sayang, masih pagi.......” sahut Edward dari dalam kamar mandi. Dan terdengar jelas di telinga Ghina.
.
.
next.......Edward sama Ghina mau di apaiin sama Opa Thalib 🤔