Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Mencari yang belum pergi


Pikiran Edward mulai gundah, bisa saja perkiraan Ghina pergi, benar-benar terjadi. Apakah dia harus ke mansion utama, atau mengecek ke rumah orang tua Ghina. Ini hal gila kalau sampai dia ke sana mencari Ghina, pasti akan menimbulkan  pertanyaan dari kedua orang tuanya dan orangtua Ghina.


Hosh.....hosh.....hosh


Napas Denis tersengal sengal berlarian mengelilingi mansion.


“Tuan, maaf Non Ghina sepertinya tidak ada di mansion!” lapor Denis, setelah bersama rekannya mengitari mansion di setiap sudutnya.


“Siapkan mobil, kita cari Ghina di luar!” titah Edward, kali ini hatinya benar-benar cemas mengkhawatirkan kepergian Ghina, apalagi dengan kondisi luka di bagian punggungnya. Ditambahnya bekas tamparan tangannya.


“Baik Tuan Besar,” Denis bergegas menyiapkan mobil dan membawa Tuan Besarnya mencari keberadaan Ghina.


Edward dan Denis sepertinya lupa untuk mengecek CCTV mansion terlebih dahulu, untuk lebih memastikan keberadaan Ghina. Akan tetapi, percuma saja karena area ke arah paviliun dan di dalam paviliun tidak di pasang CCTV demi menjaga privacy pelayan yang bekerja di mansion Edward.


Edward segera berkoordinasi dengan team pengawalnya, menyebarnya ke beberapa titik, agar proses pencariannya lebih cepat.


“Kita akan ke daerah mana, Tuan?” tanya Denis yang memegang kemudi mobil.


“Kita keliling daerah Jakarta, jangan mengebut nyetir mobilnya, saya akan memperhatikan sepanjang jalannya,” jawab Edward.


“Baik Tuan.” Denis mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Mata Edward memperhatikan sepanjang jalanan, melihat orang yang berdiri atau berjalan di pinggir jalan. Berharap Ghina salah satunya ada di sana.


Kenapa kamu kembali pergi, kenapa kamu tidak membela diri, jika kamu tidak mendorong Ibunya Kiren saat kita berdua di kamar, justru kamu meminta berpisah lagi.


Batin Edward berkecamuk selama pencarian Ghina di sepanjang jalan.


Sudah hampir satu jam setengah, Denis mengendarai mobil dan sudah satu jam setengah juga mata Edward mawas melihat arah jalanan.


“Stop.....stop.....stop!” perintah Edward dengan suara menggebu-gebu. Denis membawa mobilnya ke pinggir jalan untuk menepi, dan berhenti.


Dengan terburu-buru Edward membuka pintu mobil, lalu berlari kecil mengejar seseorang.


“GHINA.......!” teriak Edward agar wanita tersebut menghentikan langkahnya, namun wanita yang dituju masih saja berjalan.


“GHINA ......!” ditepuknya bahu wanita tersebut, dan membuat wanita tersebut berputar ke belakang.


“Eeeh.....maaf mbak, saya salah orang,” sambil menangkup kedua tangannya tanda maaf, seketika juga kekecewaan hadir di hatinya.


“Ohh...iya Pak....ngak pa-pa,” balas wanita yang di sangka Ghina oleh Edward.


“Hufh....,” Edward menghela napas, mengambil napas dalam dalam, dan menghembuskannya. Hawa dingin malam ini, begitu menusuk di tubuh kekar Edward.


Meraup wajahnya dengan kedua tangannya, memutar otak untuk mencari keberadaan Ghina. pikirannya benar benar buntu.


Kiren yang berulang kali menghubungi ponsel Edward, benar-benar di abaikan, di rasanya tidak penting untuk menjawabnya.


“Ghina, kamu di mana please pulanglah. Ini sudah larut malam!” gumam Edward sendiri, wajahnya mulai frustasi, hampir sama saat Ghina tidak mau terima panggilan teleponenya......ketika pria itu akan menikahi Kiren. Masih tidakkah sadar pria itu jika di relung hatinya sudah tertulis nama Ghina.


Edward melambaikan tangannya agar Denis melajukan mobilnya sampai ke tempat dia berdiri.


“Keliling lagi....!” titah Edward sebelum Denis bertanya hendak kemana.


Berjam jam mereka berdua keliling kota Jakarta, dan tetap tidak menemukan Ghina. Laporan dari teamnya pun sama belum menemukan Ghina.


“Denis, balik ke mansion!” suara putus asanya terdengar di telinga Denis. Denis mengikuti perintah Tuannya.


Sepanjang perjalanan pulang ke mansion, Edward banyak diam dan melamun, raganya ada di dalam mobil tapi pikiran di anta berantah.


Pria itu juga tak habis pikir bisa ikut mencari keberadaan Ghina malam ini, seakan ada yang menariknya. Tapi tetap saja dia menepis semua rasa yang datang. Sedangkan rasa itu sudah tumbuh tanpa seizin sang pemilik hati.


Sunyi itu yang dia rasakan, saat masuk kamar tamu. Makan malam yang di pesannya masih tertata rapi di meja. Dengan gerakan lamban Edward membuka kedua sepatunya, lalu jas nya di lemparkan ke atas ranjang. Di bukanya beberapa kancing kemejanya, dan menggulung lengan panjang kemeja tersebut.


Pria itu menghampiri meja sofa, dan dipaksa dirinya untuk mulai menyantap makan malam yang tertunda. Sungguh tidak ada selera untuk makan, ketika tahu Ghina tidak ada di mansionnya, akan tetapi dirinya harus di paksa untuk menyantap makanannya agar tubuhnya tidak jatuh sakit. Makan hanya beberapa suap sudah cukup mengisi perut kosongnya.


Dilain tempat, tepatnya di kamar yang tanpa pencahayaan, gadis yang di cari Edward malam ini, tampak tertidur pulas. Setelah makan malam dan minum obat, Ghina langsung masuk kamar, karena efek obatnya membuat dirinya cepat mengantuk.


Sungguh berbanding terbalik dengan keadaan Edward, jam tiga pagi dia baru berbaring di ranjang, mengelus dan mencium wangi bantal yang pernah dipakai Ghina. Dan mulai memejamkan matanya.


Di mana kamu berada Ghina, pulanglah ke mansion....


Keesokan paginya......


Jam 6 pagi, Ghina sudah berada di dapur mansion. Tangannya begitu lincah membumbui ikan nila, merajang sayur kangkung, dan menyiangi cabe bawang tomat.


Pagi ini Ghina turut membantu chef mansion, dengan semangat empat lima, dia mengoreng ikan nila yang sudah di bumbuinya, lanjut masak cah kangkung sambal balacan, goreng tempe mendoan dan terakhir sambal terasi. Sungguh masakan sederhana tapi wanginya bikin semerbak seluruh dapur.


 Edward yang baru tertidur selama tiga jam, sudah terbangun dari mimpinya yang membuat dirinya tidak tenang. Mimpi buruk yang seakan-akan nyata.


Ghina.......semoga mimpi itu tidak pernah terjadi.


“Pak Jaka, tolong antar air putih hangat dan baju ganti saya ke kamar Ghina,” titahnya melalui interkom dengan suara seraknya.


“Baik Tuan,” jawab Pak Jaka.


Berarti semalam Tuan Besar tidur di kamar tamu, kenapa gak tidur di kamarnya sendiri.....batin Pak Jaka.


Pak Jaka yang melihat Ghina sedang memasak di dapur, menghampirinya.


“Wah masak enak nih Non Ghina,” ucap Pak Jaka.


“Masak yang sederhana kok Pak Jaka, nanti bantu siapin buat sarapan ya Pak,” pinta Ghina, karena Ria dan Tia lagi tugas ke pasar.


Tanpa pikir panjang Pak Jaka, menyiapkan sarapan pagi buat Tuan Besarnya, mumpung masakan yang Ghina buat masih hangat. Lalu segera di antarnya ke kamar tamu.


TOK......TOK.....TOK


“Permisi Tuan,” sapa Pak Jaka dari luar kamar.


“Masuk Pak Jaka,” sahut Edward dari dalam kamar.


Pak Jaka mendorong troly makanan, Edward menaikkan alisnya, heran dia minta air hangat, malah di bawa sarapan.


“Maaf Tuan, saya sekalian bawa sarapan buat Tuan. Mumpung baru matang semua.”


“Kok tumben chef masak seperti ini?” heran Edward. Tidak mungkin istrinya Kiren yang memasak, karena dia tahu betul, Kiren tidak bisa masak, hanya bisa menyajikannya saja.


.


.


next......mimpi buruk Edward, siapkan emosi selanjutnya 😁.


Demi malam mingguan Kakak Reader yang ganteng dan cantik, hari ini saya tambah up lagi. Sungguh baru kali ini up 3 bab....3600 kata....omg.....otakku ngebul 🤧 di malam minggu 🤣🤣.


Demi si Om Edward yang lagi cariin Ghina di malam minggu 🤣🤣