
Edward baru teringat kalau Ria ikut Ghina ke mansion papanya, pria itu bergegas mencari ponselnya di dalam saku celananya.
“Semoga Ria bisa membantu,” gumam Edward langsung menekan nomor Ria di handphonenya.
Dertt......Dertt.........
Tuan Edward calling
Ria terkejut melihat siapa yang menghubungi handphonenya.
“Ada apa ya Tuan Edward telepon, kok tumben?” gumam Ria, antara menerima panggilan atau menolaknya, praduga dia pasti ada hubungannya dengan Ghina.
Dertt......Dertt
Handphone Ria kembali berdering lagi, untuk kedua kalinya.
“Assalammualikum, Tuan,” sapa Ria akhirnya memutuskan menerima panggilan telepon.
“Waalaikumsalam, Ria, kamu tahu nomor ponsel Ghina yang terbaru?” tanya Edward.
“Maaf Tuan, saya tidak tahu nomor handphone Ghina yang terbaru,” jawab bohong Ria.
“Sekarang posisi kamu ada dimana?”
“Saya lagi ada di dapur, sedang membantu menyiapkan makan siang.”
“Saya ingin bicara dengan Ghina, bisa kamu pinjamkan handphone kamu ke Ghina, sekarang juga?” ujar Edward dengan suara sedikit pelan, tapi sedikit memaksa.
“Tuan, kalau non Ghina menolak bagaimana?” tanya Ria, antara ragu dan tidaknya, Ghina menolak bicara dengan tuannya.
“Coba dulu Ria, tolong bantu saya. Saya ingin bicara dengan Ghina,” ujar Edward dengan nada memohon.
“Baiklah Tuan, saya cari Non Ghina dulu. Nanti Tuan bisa telepon saya lagi sekitar sepuluh menit lagi,” pinta Ria.
“Ya sepuluh menit lagi, saya akan telepon kembali.” Edward memutuskan sambungan teleponnya, dan menunggu Ria ke tempat Ghina berada.
Ria setelah menerima panggilan telepon dari Edward, memutuskan untuk mencari Ghina yang berada di kamar Edward, di lantai tiga.
TOK.......TOK......TOK
“Permisi Non Ghina, saya mbak Ria boleh masukkah?” suara Ria memanggil dari luar kamar.
“Ya, mbak Ria masuk aja. Pintunya tidak di kunci.
Ghina sedang terduduk di sofa single dekat keberadaan ranjang milik Edward. Sepertinya gadis itu sedang sibuk dengan ponselnya.
“Ya, mbak Ria ada apa cari saya?” tanya Ghina tapi masih menatap ponselnya.
“Anu.....Non Ghina maaf kalau mbak mengganggu. Itu non......Tuan Edward ingin bicara sama non,” dengan nada cemasnya.
“Bicara, maksud mbak Ria......saya harus menemui Om Edward di gerbang?” tanya Ghina dengan mengangkat wajahnya agar bisa melihat wajah Ria.
“Bukan......bukan begitu maksudnya Non, Tuan Edward mau bicara sama Non Ghina lewat handphone mbak. Nanti Tuan telepon lewat ini,” Ria menunjukkan ponselnya.
“OOOHH.....seperti itu. Apalagi yang mau di bicarakan. Bukannya sudah jelas kalau kami akan bercerai. Enggak habis pikir sama tuh orang!” celetuk Ghina, kesal.
“Mbak juga kurang tahu Non,” Ria juga bingung mau jawab apa, dia hanya penyambung lidah Tuannya.
Ria mau berargumen pun takut salah, karena ini masalah rumah tangga tuannya dengan nonanya.
Derrt.......Derrt......Derrt....
Tuan Edward calling
Sepertinya Edward benar-benar tidak sabaran, belum ada sepuluh menit, pria itu sudah kembali menghubungi ponsel Ria.
“Bagaimana Non Ghina, mau di terima panggilan dari Tuan Edward?” tanya Ria, siap-siap akan penolakan dari Ghina karena sudah terbaca di raut wajah gadis itu.
“Tidak mbak. Mbak Ria saja yang jawab,” tolak Ghina.
“Baik Non,” benar tebakan Ria.
“Halo Tuan, maaf Non Ghina tidak mau bicara dengan Tuan,” jawab Ria, menerima panggilan telepon, masih di dalam kamar Edward.
“Ghina ada di dekat kamu?”
“Iya Tuan, saya masih dekat dengan non Ghina.”
“Loudspeaker handphone kamu, dan dekatkan handphonenya ke Ghina,” perintah Edward, masih tidak putus asa, tetap ingin berbicara dengan Ghina.
Ghina hanya bisa memperhatikan gerakan Ria.
“Ghina, saya tahu kamu mendengar suara saya. Kamu tidak mau bicarakah dengan saya?” tanya Edward.
Gadis itu hanya diam, tidak menjawabnya, pertanyaan Edward.
Edward menghela napas panjang, ketika tidak ada jawaban dari Ghina.
“Ghina, saya minta maaf atas segala perilaku saya, yang telah berkata tidak pantas, mengurungmu di gudang sampai kamu terluka. Menampar kedua pipimu.” Edward berhenti sejenak, untuk mengatur hatinya yang mulai tak karuan rasanya.
“Maafkan saya yang telah menyakitimu, saya memohon maaf darimu. Dan saya mohon, berikan saya kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Izinkan saya tetap menjadi suamimu, istriku Ghina Farahditya,” suara Edward terdengar berbeda, tidak biasa suaranya seperti pria yang menyedihkan.
Ghina bangkit dari duduknya, lalu mendekat ke jendala, di buka gorden kamar. Dari tempat gadis itu berdiri, terlihat Edward sedang berdiri di luar gerbang mansion dengan salah satu tangan memegang handphonenya yang menempel di telinganya.
Entah alam yang mengatur seperti apa, yang jelas saat Ghina membuka gorden kamar Edward. Edward sedang memandang ke arah jendela kamarnya yang sangat jelas terlihat dari kejauhan. Mata mereka berdua beradu pandang dari kejauhan.
“Saya melihatmu Ghina, kamu pun melihatku... jawablah teleponku......saya ingin bicara denganmu,” pinta Edward, sambil melambaikan tangannya, dan itu terlihat jelas di mata gadis itu.
“Jawablah istriku......Ghina......?” Suara Edward masih terdengar di ponsel Ria.
Ghina menjauh dari jendela kamar, lalu di ambil handphone Ria dan kembali berdiri di depan jendela yang sudah terbuka, sengaja agar Edward melihat dirinya.
“Sesama manusia, kita harus saling memaafkan. Sombong sekali jika saya tidak memaafkan kesalahan Om Edward selama ini, walau masih terasa sakitnya dan membekas. Allah saja memaafkan hambanya, apalagi saya yang hanya hamba bukan Tuhan,” jawab Ghina.
“Terima kasih Ghina, sudah mau memaafkan saya,” balas Edward sedikit lega hatinya, setelah di maafkan oleh Ghina.
“Ghina.........sekarang kita pulang ke mansion kita ya. Kita mulai buka lembaran baru, saya akan belajar menerima dan belajar mencintai kamu sebagai istriku,” pinta Edward.
“Memaafkan bukan berarti menerima kembali, Om Edward,” jawab Ghina.
“Saya mohon Ghina berikan satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya, saya tidak sanggup........saya tidak sanggup, saya belum siap jauh darimu,” ucap Edward dengan suaranya mulai terdengar serak.
“Siap atau tidak siap itu urusan Om, bukankah semua sudah tercantum jelas surat perjanjian pranikah kita. Bahwa pernikahan kita hanya sementara dan pasti akan berakhir. Om jangan menjilat ludahnya sendiri, semuanya sudah Om atur sendiri, dan sekarang sudah menjadi kenyataan. Kenapa sekarang bilang tidak siap, sungguh konyol sekali.” Ghina berusaha untuk tidak terbawa emosi.
“Stop......jangan bicara seperti itu lagi Ghina, saya mohon,” Edward mulai kembali terpojokkan.
“Kembalilah Om Edward pada tujuan awal, kita sudah mengakhirinya semua kemarin di mansion Om sendiri. Please jangan habiskan waktu Om Edward di sini, saya tidak pantas dikejar oleh seorang Presdir, karena saya bukan wanita yang Om Edward cintai.”
Edward terdiam sesaat, sampai detik sekarang pria itu masih belum merasakan, apakah dia sudah mencintai Ghina atau belum, hingga sampai detik ini pria itu berdiri di luar gerbang mansion untuk menunggu Ghina, memohon kembali padanya.
Sekarang Ghina berucap kalau gadis itu bukan wanita yang di cintainya. Edward hingga saat ini belum pernah mengatakan cinta pada Ghina.
“Benarkan yang saya katakan, saya bukanlah wanita yang Om Edward cintai,” ucap Ghina.
Edward masih membungkam mulutnya, tidak bisa menjawab.
“Diam, berarti itu benar,” jawab Ghina sendiri.
Ooh......rasanya gadis itu ingin berteriak sekencang-kencangnya.
“Redamlah obsesimu sesaat itu Om Edward, saya bukanlah mainan yang harus di miliki selamanya oleh sang pemilik. Saya manusia yang memiliki hati dan perasaan."
“Sekarang pulanglah Om Edward, tidak usah berlama-lama menunggu di luar sana. Opa akan tetap melarang Om Edward masuk, jadi percuma menunggu sampai kapanpun. Apalagi istri Om pasti sedang mencari suaminya sekarang.”
“Ghina.......!”suara Edward kembali meninggi.
“Keputusan saya tidak bisa berubah, saya tunggu talak dari Om Edward di pengadilan!”
Ghina langsung memutuskan panggilan teleponnya.
“Shittttt.....!” Edward menjambak rambutnya, dan meraup wajahnya yang kecewa.
“GHINA.........!” teriak Edward dengan suara yang begitu kencang dan menggema. Sampai Ghina tersentak mendengar teriakkan pria itu.
“Mbak Ria ini ponselnya terima kasih, jika Om Edward minta bicara dengan saya, tolong di tolak saja. Sudah cukup rasanya bicara panjang lebar dengan Om Edward hari ini.”
.
.
next........selamat tinggal Jakarta