
“Insha Allah Pak, saya akan berusaha semaksimal mungkin,” jawab Ghina.
“Dan saya tidak menyangka anak Pak Thalib selain berprestasi, juga cantik sekali. Sepertinya harus extra pengawasan ini,” canda Bapak Rektor yang sudah akrab dengan Opa Thalib.
“Makanya dari itu tadi saya sudah jelaskan secara detail, dan di mohon kerja samanya.”
“Pasti Pak Thalib, kami akan melaksanakannya dengan baik.”
“Baiklah kalau begitu saya permisi dulu, masih banyak keperluan yang lain. Nanti kapan-kapan kita kopdar lah. Sudah lama kita gak ketemu,” ucap Opa Thalib.
“Siap Pak Thalib, saya tunggu kabarnya, kapan kita bisa kopdar lagi,” balas Bapak Rektor sambil saling berjabat tangan kembali.
Papa Zakaria dan Ghina turut berjabat tangan dengan Bapak Rektor serta dengan yang lainnya, sebelum berpamitan.
“Masya Allah, anak Pak Thalib cantiknya luar biasa, sampai gak bisa berkedip lihatnya, di tambah attitudenya bagus sekali. Memang ya kalau anak orang kaya itu pasti cantik dan ganteng.” Ucap salah satu pengurus universitas kepada ketua rektor.
“Gadis itu cantiknya luar dalam, terlihat dari sorot matanya, andaikan anak saya sudah pulang dari luar negeri, ingin saya jodohkan dengan Ghina,” jawab Bapak Rektor.
Pertemuan singkat tapi berkesan.
🌹🌹
“Ghina, kemungkinan Opa baru besok akan mengajak ke rumah yang akan kamu tempati, karena Opa ada meeting dadakan dengan karyawan hotel Opa,” ucap Opa Thalib setelah mereka tiba ke hotel.
“Iya Opa, kalau begitu Ghina boleh izin jalan gak Opa, Papa......mumpung masih sore Ghina mau jalan sepanjang jalan malioboro,” mohon Ghina dengan puppy eyesnya.
“Boleh, tapi kamu jalan sama Ria. Tidak boleh sendirian,” izin Papa Zakaria.
Opa Thalib mengeluarkan dompetnya dari kantong celananya, lalu mengambil duapuluh lembar kertas warna merah.
“Ini ambil buat jajan kamu, siapa tahu kamu mau beli sesuatu atau mau makan sesuatu,” Opa Thalib mengambil salah satu tangan Ghina, dan menaruh lembaran uang itu ke telapak tangan Ghina.
“Opa ini terlalu banyak buat Ghina. Ghina masih punya uang simpanan kok.” Ghina mengembalikan lembaran tersebut ke tangan Opa Thalib.
“Jangan menolak rezeki nak, Opa tidak suka di tolak,” Opa menolak uangnya pemberiannya dikembalikan.
“Jajanin Ria dengan uang Opa, pergilah jalan-jalan. Buatlah hatimu senang,” pinta Opa Thalib.
“Baiklah kalau begitu Ghina terima uang dari Opa, terima kasih banyak Opa,” jawab Ghina sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.
“Ya udah sana samperin Ria, Opa sama papa kamu sudah di tunggu mau meeting,” ucap Opa Thalib,
kemudian meninggalkan Ghina di lobby hotel.
Setelah ditinggal Opa Thalib dan Papa Zakaria, Ghina segera menghubungi Ria dengan ponselnya untuk di ajak jalan-jalan sore.
🌹🌹
“Non, kita mau kemana....” tanya Ria yang baru saja turun dari lantai lima.
“Kita jalan-jalan sore aja mbak Ria, sambil cuci mata, sama cuci mulut,” ucap Ghina sambil nyengir kuda. Tanpa membandingkan status antara nona muda dan pelayan, Ghina tidak canggung untuk mengandeng tangan Ria selama jalan-jalan.
Jalan Malioboro sudah terkenal menjadi pusat keramaian, salah satu pusat perbelanjaan serta jalan yang wajib dikunjungi kalau ke kota Yogyakarta, gak afdol kalau ke Yogyakarta tapi tidak jalan-jalan ke malioboro.
Sepanjang jalan mata Ghina sibuk melihat segala barang yang dijual, ada daster, kaos, blangkon, tas, dompet....segala barang ada. Tapi hanya melihat saja, tidak berani menyentuh atau menanyakan harganya. Gak enak sama penjualnya kalau tidak jadi beli.
“Mbak Ria, kayaknya makan pecel itu enak deh.......makan itu yuk mbak,” tunjuk Ghina pada si mbok yang jualan pecel di depan pasar beringharjo.
“Non Ghina mau, ya mbak temenin,” jawab Ria, Ghina manggut-manggut.
Ria kadang ingin tertawa lihat tingkah nona mudanya, terkadang terlihat dewasa, terkadang terlihat seperti gadis remaja pada umumnya.
Ria turuti kemauan nona mudanya, makan pecel di pinggir jalan, sungguh tidak sesuai dengan wajah cantik nona mudanya, tidak malu ikutan makan di pinggir jalan. Padahal banyak mata melirik ke nona mudanya.
Sungguh rasa puas, nikmat dan kenyang makan seporsi pecel sama tempe mendoan.
“Alhamdulillah kenyang, mbak abis itu kita ke dalam ya, cari daster buat bobo cantik,” ajak Ghina.
“Iya Non, saya ngikut aja......Non Ghina mau kemana.”
Melihat-lihat, dan meraba bahan dasternya, baru tanya harganya itu yang dilakukan gadis itu.
Beberapa daster batik jadi pilihan gadis itu, tidak lupa gadis itu membelikan untuk mama, oma dan Ria selain untuknya sendiri.
“Nah beres, cukup beli selusin. Nanti tinggal pada pilih sendiri,” ucap Ghina, setelah membayar belanjaannya.
“Nggak kebanyakan belinya Non?” tanya Ria.
“Daster batik ini nanti di bagi-bagi mbak Ria, buat mama, oma sama mbak Ria, sisanya buat saya,” jawab Ghina.
“OOOH.....” bibir Ria membulat, dan buru buru Ria mengambil barang belanjaan gadis itu.
“Sekarang kita mau kemana lagi Non?”
“Kita balik ke hotel aja mbak.”
“Ok.” Jalan jalan sore berakhir dengan berbelanja daster di pasar beringharjo.
🌹🌹
Perusahaan Thalib Group.
Setibanya Edward tadi pagi di kantornya, Ferdi sudah di minta untuk mengurus surat pemecatan Kiren di bagian HRD dengan memo dari pria itu.
Pagi ini Edward coba konsentrasi dalam kerjanya, walau sesungguhnya pikiran bercabang antara pekerjaan dan Ghina. Tapi Ghina yang paling dominan di pikirannya.
Bergelut dengan dokumen yang berada di atas mejanya, tetap saja wajah gadis itu masih terbayang-bayang seakan tidak mau pergi.
Sabar........sebentar lagi akan bertemu....istriku...batin Edward.
Edward yang merasa Ferdi belum kembali ke ruangan pria itu dari bagian HRD, pria itu beranjak dari kursi kebesarannya, kemudian keluar untuk menghampiri meja sekretarisnya.
“Santi, sih Kiren hebat banget ya peletnya bisa gaet CEO perusahaan kita,” ujar Anis, yang datang untuk mengantar dokumen dari divisi marketing.
“Eh gimana maksud loe pakai pelet?” tanya Santi sekretaris CEO.
“Ya iyalah pasti si Kiren pakai pelet tubuh sexynya ituloh, biar CEO kita terpesona.”
“Ooooh itu toh tubuh sexy nya Kiren, tapi memang sexy sih. Gue aja iri lihat bodynya.....aduhay bak gitar spanyol,” ucap Santi.
“Tapi sayang CEO kita bodoh!” seru Anis.
“Husss......jangan asal bicara, loe bilang CEO kita bodoh," tegur Santi.
“Iya gue bilang bodoh, karena CEO kita gak tahu kalau sudah di bohongin sama istrinya sendiri."
“Maksudnya bagaimana, gue gak ngerti. Memangnya Kiren bohongin apa sama Pak Edward?”
“Loe jangan bilang siapa-siapa ya, ini rahasia kita."
“OKE.......cus ceritaiin,”
“Kiren itu sudah gak virgin lagi, sebelum nikah sama Pak Edward, gue nemenin Kiren buat operasi selaput dara. Kiren tuh dulu sering berhubungan intim sama mantan pacarnya yang di Bandung. Kasihan kan CEO kita di bodohi Kiren.”
Dasar Anis, teman yang bermulut ember, tidak bisa pegang rahasia.
Santi hanya bisa menganga mendengar rahasia Kiren.
JEDER
Rahang Edward mengeras, wajahnya tampak murka mendengar perbincangan yang tidak disengajanya, saat pria itu akan menghampiri meja sekretarisnya Santi.
.
.
next.......menahan emosi