
Rumah Sakit
Sesuai permintaan Edward, ingin segera membawa istrinya cek kandungan untuk lebih memastikan si calon baby.
Para staff rumah sakit milik Edward bergegas menyambut kedatangan pemilik rumah sakit. Dokter kandungan sudah siap menerima kunjungan.
Dan tak lupa Ferdi dan Ria turut ikut, buat berjaga-jaga jika Tuan dan Nyonya membutuhkan bantuan.
“Selamat sore Pak Edward dan Bu Ghina,” sapa Dokter Asih.
“Sore Bu Dokter,” balas sapa Ghina. Edward dan Ghina sama dengan pasien pada umumnya langsung duduk di tempat yang telah di sediakan.
“Dokter Asih tolong periksa istri saya, tadi di mansion sempat testpack dan hasilnya positif,” pinta Edward.
Ghina mengeluarkan bukti testpacknya dari tas jinjingnya, dan memberikannya ke dokter Asih.
“Baik Pak Edward, sekarang Bu Ghina, saya akan mengeceknya melalui USG. Silahkan berbaring dulu di atas brankar,” pinta Dokter Asih.
“Baik Bu Dokter,” ujar Ghina, tanpa aba-aba Edward segera membopong istrinya dan di rebahkan di atas brankar.
“Hubby..........kebiasaan...,” gerutu Ghina, malu di lihat dokter dan suster.
Dokter Asih hanya tersenyum melihatnya, “maaf ya Bu, saya naikkan sedikit kemejanya ya,” ujar Dokter Asih.
“O-oh iya Bu Dokter,” jawab Ghina. Edward sang suami berdiri di depan brankar, dan mengamati yang akan di lakukan Dokter Asih.
Suster mulai mengolesi gel di area perut bawah Ghina, kemudian Dokter Asih mulai memegang alat transducer nya, dan di tempelkannya transducer di bagian perut bawah, dan sedikit di tekan. Dokter Asih begitu serius melihat layar monitor yang menangkap keadaan bagian rahim Ghina.
Alat transducer di geser ke kanan lalu ke kiri di bagian perut bagian bawah wanita itu, hingga mendapatkan yang ingin di lihat oleh sang Dokter.
“Pak Edward, bisa lihat di monitor ini kantong rahim Bu Ghina.......ada dua kantong. Selamat insya Allah calon babynya kembar,” ujar Dokter Asih.
“B-Benarkah calon anak saya kembar Dokter Asih,” Edward hampir tak percaya. Kedua netra Ghina mulai berbinar-binar.
“Betul Pak Edward calon babynya ada dua, usia kandungnya sudah empat minggu. Sekarang ukurannya masih kecil, sekecil biji kedelai. Jadi masih butuh perhatian yang sangat khusus untuk calon babynya.”
Pria itu kedua netranya ikutan berbinar binar melihat mata istrinya sudah terlihat berembun. Tak di sangka istrinya hamil anak kembar.
“Calon anak kita kembar, sayang,” ujar Edward dengan suaranya agak sedikit serak seperti menahan rasa tangis, terharu menjadi satu.
“USG nya sudah selesai, bisa bangun kembali ya Bu Ghina,” ujar Dokter Asih. Suster segera membersihkan bekas gel yang di perut Ghina.
Setelah selesai, Edward kembali membopong istrinya, Ghina sudah pasrah saja dengan tindakan suaminya.
“Selamat ya Bu Ghina atas calon babynya, mulai sekarang di perhatikan asupan gizinya, banyak konsumsi makanan sehat, lalu minum susu dan nanti ada tambahan vitamin untuk masa hamilnya.”
“Untuk sementara jangan melakukan aktivitas yang berat, dan kelola stress ya Bu, karena berpengaruh pada janin.”
“Baik Bu Dokter,” jawab Ghina.
“Kemudian untuk aktivitas ranjangnya untuk tiga bulan awal dalam masa usia janin saat ini, sebaiknya sementara jangan dulu ya. Karena Bu Ghina sedang hamil anak kembar."
“Maksud Dokter, kami tidak boleh berhubungan sampai usia hamil tiga bulan?” tanya Edward.
“Sebaiknya seperti itu, karena berhubungan saat janin berusia tiga bulan ke bawah banyak resikonya, saran saya sebaiknya dihindarkan dulu demi calon baby.”
“Hubby puasa dulu,” sambung Ghina.
“Iya sayang, demi calon anak daddy. Aku rela puasa dulu,” ujar melas Edward.
Ghina langsung mengelus lengan suaminya, lagi pula masih banyak cara untuk menyenangkan hasrat suaminya.
“Bu Ghina mengalami mual sampai muntah-muntah gak?”
“Sampai hari ini saya tidak merasakan mual, Bu Dokter. Tapi suami saya yang mengalaminya.”
“Oh berarti Pak Edward mengalami kehamilan simpatik, dan itu tidak berlangsung lama.”
“Perkiraan berapa lama ya Bu Dokter?” tanya Ghina.
“Biasanya pas trisemester pertama, selanjutnya akan berkurang.”
“Syukurlah kalau begitu,” ujar Ghina.
“Nanti Bu Ghina, bisa kembali kontrol di bulan depan ya Bu, untuk vitaminnya akan di siapkan oleh suster saya,” ujar Dokter Asih, sambil memberikan buku kontrol khusus ibu hamil.
“Terima kasih banyak Bu Dokter,” ujar Ghina.
“Sama-sama Bu Ghina, Pak Edward.” Mereka berdua keluar dari ruang praktek Dokter Asih.
“Lupa, hubby kalau ada calon si dede,” nyegir Ghina.
“Sayang, kita langsung ke hotel ya,” ajak Edward.
“Loh kok ke hotel mau ngapain hubby?”
“Aku sengaja menyuruh semua keluarga kita semua berkumpul, aku mau makan malam bersama, sekalian memberitahukan calon anak kita, sayang.”
“Suamiku ini memang penuh dengan kejutan manis, aku setuju. Ya sudah kita segera ke hotel.”
“Lets go, bumil cantikku,” Edward menggandeng tangan istrinya.
Ferdi dan Ria turut berbahagia mendengar Ghina sudah berbadan dua. Sebentar lagi mansion akan terdengar dengan suara tawa, tangis sang baby.
“Ria kapan mau menyusul, kayak nyonya?” Tanya Ferdi saat mereka berjalan ke luar lobby rumah sakit.
“Nikah aja belum, masa tiba-tiba hamil, ngimana sih Pak Ferdi.....ada-ada aja,” celetuk Ria.
“Ya kali aja ada pria yang mau ngajak kamu nikah!” ujar Ferdi.
“Ah gak usah ngehalu Pak Ferdi, siapa yang mau sama saya,” gerutu Ria.
“Kalau aku mau, bagaimana?” Bisik Ferdi di telinga Ria. Sesaat Ria kaget tapi........
“Bercanda aja nih Pak Ferdi,” Ria tidak menanggapinya, justru wanita itu buru-buru mengejar Nyonya nya yang sudah masuk mobil.
“Huft.......” Ferdi hanya bisa menghela napas panjangnya, melihat ria yang tidak menanggapinya.
“Bagaiman cara kasih tahunya ya?” gumam Ferdi sendiri, lalu segera menyusul Tuan dan Nyonya nya.
🌹🌹
Hotel A
Suasana restoran ruangan vip terlihat ramai, terlihat kedua orang tua Edward dan Ghina sudah datang. Begitu juga dengan kedua adik Edward beserta suami dan anak-anak mereka, juga adik satu satunya Ghina, juga tampak hadir.
“Perhatian buat semuanya sebelum acara makan malam, saya mau kasih kado buat mama dan papa,” ucap Edward, sembari memegang kotak ukuran sedang.
“Kado apa nak, perasaan mama sama papa tidak ulang tahun?” Oma Ratna terasa aneh menerima kotak hadiah dari Edward.
“Di buka aja mah kadonya,” pinta Edward.
Mau tidak mau Oma Ratna membuka kadonya di temani Opa Thalib.
Tangan Oma Ratna gemetaran, ketika memegang foto usg,”i-ini........!”
Opa Thalib langsung memeluk putra satu-satunya, “selamat nak, kamu akan jadi papa!!” begitu bahagianya Opa Thalib.
Oma Ratna langsung berlinang air mata, Ghina langsung memeluk Oma Ratna, ”alhamdulillah, oma akan dapat cucu lagi dari kalian berdua.”
“Zaka, selamat sebentar lagi bakal jadi opa,” ucap Opa Thalib sambil memeluk Papa Zakaria.
Mama Sarah menyambut hangat pelukan anaknya yang sudah berbadan dua, ”selamat ya nak, di jaga kandungannya.”
“Iya Mah.”
“Dan satu lagi beritanya,” ucap Edward.
“Apa lagi beritanya?” tanya Opa Thalib.
“Calon babynya kembar,” jawab Edward, sambil tersenyum lebar.
“Masya Allah, alhamdulillah......,” serempak suasana ruangan VIP riuh dengan kebahagian.
Pelukan hangat di terima untuk calon mommy dan calon daddy dari seluruh anggota keluarga. Berita kehamilan Ghina, membawa kebahagiaan untuk seluruh anggota keluarga Edward dan Ghina.
bersambung