
Bulan terus berlalu, tak terasa kandungan Ghina sudah mendekati HPLnya yang terhitung perkiraan seminggu lagi.
Sudah beberapa hari ini Ghina dan Edward sibuk menyiapkan kamar untuk baby kembarnya. Edward sengaja merombak kamar utama agar tersambung dengan kamar babynya sesuai permintaan istrinya.
“Hubby, aku gak mau posisi tempat tidurnya seperti itu. Coba pindah ke sebelah kanan, kayaknya bagus di situ deh hubby,” pinta Ghina.
Edward menyeka keringatnya, entah sudah berapa kali pria itu bersama Pak Jaka, Ferdi dan beberapa pelayan laki-laki, memindahkan perabotan, tempat tidur baby dari sebelah kanan, ke sebelah kiri, lalu berpindah lagi.
“Ya sayangku,” tapi tetap Edward menuruti permintaan istrinya.
“Bapak-bapak.....ayo di minum dulu nih, ada es jeruk......biar tambah semangat lagi kerjanya,” ujar Ria yang baru datang dengan pelayan lainnya membawakan minuman dingin dan beberapa cemilan.
“Makasih mbak Ria, saya malah hampir lupa para bapak-bapak belum minum sedari tadi,” ujar Ghina.
“Biar tambah semangat nyonya yang ngerapiin kamar si kembar,” ujar Ria.
“Iya mbak Ria.”
“Hubby, berhenti dulu kerjanya. Minum dulu,” pinta Ghina, wanita itu mengambil gelas yang sudah berisikan es jeruk.
Edward menurunkan barang yang di pegangnya, “makasih sayang,” Edward langsung menegak minumnya sampai tandas.
Melihat dahi suaminya penuh dengan keringat, Ghina mengambil handuk kecil yang sudah di siapkan. Di sekanya keringat suaminya. “Hubby, capekkah......keringatnya sampai banyak begini?”
“Demi sayang, aku gak capek. Yang capek itu kamu, bawa baby twins kemana-mana dalam perut. Masa hanya mengurus kamar baby twin, aku capek,” jawab Edward, sembari mengelus perut Ghina yang sudah membesar, bisa dibilang sangat besar dari ibu hamil kebanyakan, karena ada baby twin di dalam perut Ghina.
“Eh sayang.....si baby nendang daddy nih,” ujar senang Edward, ketika mengelus perut sang istri, tangannya kena tendangan si baby dari dalam perut mommynya.
“Iya hubby, tuh kelihatan pergerakan,” jawab Ghina, melihat perutnya ada yang menonjol-nonjol.
Edward mencondongkan wajahnya ke perut istrinya,”hey....anak daddy gak sabar keluar dari perut mommy ya. Kalau begitu nanti sore, anak daddy ajak mommy ya buat keluar dari perut mommy. Jalannya yang cepat, jangan siksa mommy. Kasihan mommy udah sembilan bulan bawa kalian berdua jalan kemana-mana, daddy sudah gak tega,” ujar Edward yang sedang mengajak calon anak kembarnya yang masih di dalam perut.
“Iya daddy, nanti aku keluarnya cepat-cepat. Biar mommy gak kesakitan,” balas Ghina dengan suara menirukan anak kecil.
“Semoga nanti lahirannya lancar ya, sayang,” ucap Edward, sambil mengecup pipi cubby Ghina, selama hamil, berat badan wanita itu tambah dua puluh kilo. Lumayan membuat tubuhnya berisi, namun menurut Edward melihat istrinya sedang berbadan dua justru semakin sexy.
Sesuai hasil konsultasi dengan dokter kandungan, menginjak usia kandungan sembilan bulan, Edward sering menjenguk baby kembar, sekaligus memberikan rangsangan agar proses melahirkan normal yang diinginkan Ghina bisa terwujud.
“Sayang jangan kelamaan berdiri sebaiknya duduk aja,” pinta Edward.
“Gak pa-pa hubby, aku sekalian jalan mondar mandir, biar gampang nanti lahirannya,” selama mandorin suaminya merapikan kamar baby twin, wanita itu juga sambil berjalan, tidak berdiam berdiri.
“Yaa sudah terserah sayang, tapi kalau lelah....kamu istirahat ya.”
“Ya hubby...”
Setiap calon ibu baru menantikan HPL pasti rasanya campur aduk, ada rasa cemas, takut tapi bahagia karena akan bertemu dengan sang buah hati. Itulah yang di rasakan oleh Ghina, akan tetapi rasa cemas dan takutnya bisa di kontrolnya menjadi perasaan yang nyaman untuk menantikan HPLnya, karena berkat pria yang selalu mensupport dirinya, siapa lagi kalau bukan Edward, sungguh suami siaga.
Bukan hanya kenyamanan yang di berikan oleh Edward, tapi ketenteraman hati yang selalu dihadirkan oleh suaminya. Dan dampaknya selama masa hamil Ghina jarang mengeluh, menjalankan masa hamil baby twin dengan hati yang luar biasa bahagia.
🌹🌹
Dari jam delapan pagi sampai jam empat sore, akhirnya Edward beserta team yang membantunya sudah selesai merapikan dan menyiapkan kamar baby kembarnya.
“Akhirnya, kelar juga kerjaan kita,” ujar Edward.
“Iya Tuan, akhirnya kelar juga,” balas Pak Jaka.
Ketiga pria itu berdiri dan menatap kamar yang sudah rapi, dengan mengurai senyum keberhasilan. Sedangkan pelayan yang lain sudah kembali ke posnya masing-masing.
“Sayang, bagaimana.....suka dengan kamarnya, ini sesuai keinginan kamu loh?” tanya Edward, menghampiri istrinya yang sedang ikutan berdiri.
“Suka sayang, aku sangat suka, terima kasih atas kerja kerasnya buat anak kita berdua ya hubby,” ujar Ghina.
“Sama-sama bumil cantikku.”
Jika dipikir-pikir Edward dan Ghina bisa saja menyewa design interior untuk mengurus kamar baby mereka. Tapi Edward ingin mengurusnya sendiri, demi menyambut baby yang sangat di nantinya.
“Nyonya........kok dibawah nyonya ada netes air ya?” tanya Ria tiba-tiba penasaran karena melihat di bawah Ghina berdiri, lantainya ada air.
Ghina dan Edward langsung menunduk melihat ke bawah.
“Hubby........perutku by....,”
“Tuan........ini nyonya kayaknya udah pecah ketuban,” ujar Ria setelah melihat secara dekat.
“Sayang.......tenang ya....ambil napas dalam-dalam ....” pria itu sebenarnya udah berdebar-debar, tapi berusaha tenang agar istrinya tidak panik.
“Ferdi segera bilang sopir siapkan mobil. Pak Jaka, Ria turunin koper yang sudah di siapkan ada di dalam kamar,” perintah Edward.
“Hubby......,” ringis kesakitan Ghina, perutnya mulai terasa kontraksi.
“Sayang masih kuat jalan, atau mau aku gendong?”
“Jalan aja hubby, masih kuat,” jawab Ghina, sambil mengatur napasnya. Edward langsung membantu memapah istrinya.
Kebetulan Mama Sarah dan Oma Ratna ada di mansion Edward, jadi turut menemani Ghina ke rumah sakit.
“Ambil napas, hembuskan....sayang,” ujar Edward selama di dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ghina mengikuti aba-aba suaminya, genggaman tangan mereka berdua semakin erat, apalagi wanita itu semakin kuat memegang tangan suaminya, karena menahan dorongan yang ingin keluar dari bagian intinya.
“Hubby.......sakit....hubby...,” ringgis kesakitan.
“Tahan sayang, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit......” di elusnya perut Ghina agar sedikit reda rasa sakitnya. Pria itu rasanya ingin menggantikan rasa sakit yang mendera istrinya kalau bisa.
Tiga puluh menit, akhirnya mobil yang membawa Ghina dan Edward tiba di rumah sakit, para medis dan dokter sudah menunggu kedatangannya.
Dengan sigap mereka menerima istri pemilik rumah sakit, dan langsung membawanya ke ruang bersalin.
“Hubby.......” wanita itu menatap ke arah suaminya.
“Iya sayang....ini hubby. Aku ada di sini sayang, akan menemani kamu selama melahirkan.”
“Sakit......hubby......”
“Sakit ya sayang, maafin aku ya.....,” Edward mengecup semua wajah istrinya, yang sudah berada di kamar bersalin.
*bersambung
Kakak Readers, yuk usulin nama buat si kembar anaknya Om Edward dan Ghina........kembarnya cewek cowok, di tunggu ya Kakak Readers*.