Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Toko Kue Gina's


Yogyakarta


Open Toko Cake Gina’s


Mulai pagi hari Ghina, Ria, Rika beserta tiga karyawan sudah mulai terlihat sibuk untuk hari pembukaan toko kue Gina’s.


Dari jauh jauh hari Ghina sudah mengundang pelanggannya untuk acara pembukaan toko kuenya, untuk datang di acara morning tea.


Beberapa cup cake dan cake potong yang akan di sajikan secara gratis buat yang datang hari ini sudah tertata dengan cantiknya.



Hari ini Ghina sebagai pemilik toko juga berdandan cantik, dengan menggunakan dress serta polesan make up natural, plus sepatu snickers berwarna putih. Dan tak lupa rambut coklat indahnya di gerai dan di jepit tengah sebagai pemanis. Sederhana tapi tetap terlihat elegan.


Gadis itu selalu tersenyum manis, apalagi hari ini untuk pertama kalinya, dia membuka toko kuenya sendiri.


“Masya allah nak, papa bangga dengan kamu. Papa tidak menyangka kamu berani mengambil langkah untuk membuka toko, berani untuk menjalankan bisnis sendiri,” ucap Papa Zakaria sambil merangkul bahu putrinya, kemudian mengecup kening putrinya.


“Bukankah papa pernah bilang ke Ghina, gapailah mimpimu setinggi langit. Dan inilah salah satu mimpi Ghina, punya bisnis sendiri,” ungkap Ghina.


Papa Zakaria, Mama Sarah dan Rio sudah tiba di Yogyakarta dari semalam, untuk menghadiri peresmian toko kue Ghina. Kabar ini membuat kedua orang tua Ghina kaget, putrinya sudah mempersiapkan tokonya tanpa diskusi dengan mereka terlebih dahulu, walau mereka tahu jika Ghina memang punya usaha kue tapi bukan buka toko kue.


“Doain Ghina ya Pah, Mam..........biar lancar, dan panjang umur usahanya serta berkembang,” pinta Ghina.


“Insha allah, mama dan papa selalu mendoakanmu nak, doa yang terbaik buat anak mama yang cantik ini. Sukses selalu ya Nak,” ucap Mama Sarah, sembari memeluk putrinya.


Memiliki seorang putri sepertimu, sungguh hadiah yang luar biasa buat papa. Selama setahun kamu tinggal jauh dari orang tua, ternyata kamu benar-benar mandiri


Putriku.......kamu sungguh wanita yang luar biasa, wanita yang pintar. Kamu juga sangat cantik.....nak..


Maafkan papa ya nak, jika pernah menorehkan luka untukmu. Andaikan waktu bisa mundur, papa tidak akan menerima perjodohan kamu dengan Edward.


Papa Zakaria menyeka matanya yang tampak berembun, rasa bersalah tetap ada di dalam benaknya. Setiap melihat wajah putrinya, rasanya seperti tamparan buat Papa Zakaria. Terlebih lagi sekarang putrinya belajar berdikari dalam bisnisnya,  tanpa bantuan kedua orang tuanya.


“Papa nangis ya.....?” tegur Ghina.


“Mata papa kemasukan debu nak,” elak Papa Zakaria.


“Jangan sedih ya pah,” Ghina memeluk Papa Zakaria, alasan kemasukan debu itu hanya kata bohong saja. Ghina tahu jika papanya sedang bersedih hatinya.


Setelah menemani kedua orang tuanya yang turut hadir di tokonya, Ghina bersiap-siap menyambut kedatangan pelanggannya.


Rika turut sibuk, membalas chat para pelanggan di ponsel yang khusus untuk masalah bisnis, baik dalam promosi atau menerima pesanan, biar terpantau sendiri tidak tercampur dengan masalah pribadi.


Pelanggan yang biasa memesan kue Ghina mulai berdatangan dengan membawa beberapa temannya, penuh keramahan Ghina menyambut calon pelanggannya. Terlihat Ghina begitu menikmati kegiatan hari ini di toko kuenya.



🌹🌹


Malam Hari


Ghina beserta kedua orang tuanya dan adiknya Rio habis menyelesaikan makan malam. Kemudian lanjut bercengkerama di ruang keluarga sambil nonton televisi.


“Luar biasa toko kue kamu, ternyata pelanggan kamu udah banyak juga ya nak,” ucap Mama Sarah.


“Alhamdulillah selama setahun ini banyak yang suka sama kue Ghina.”


“Emang kue buatan kamu enak nak, mamanya sampai ketagihan.”


“Bisaaaaa aja sih mama, memujinya,” balas Ghina.


“Ghina ada yang mau papa bicarakan, serius.”


“Serius..........bicara tentang apa pah?” penasaran juga gadis itu, karena kata seriusnya.


“ini masalah pernikahan kamu dengan Edward,” ujar Papa Zakaria.


Kedua netra Ghina menatap ke arah atas meja “ya....” balas Ghina.


“Utusan Opa Thalib memberikan ini ke papa untuk kamu tanda tangani."


Ghina mengambil dan membuka amplop tersebut, kemudian membacanya.


Surat perceraian


Ghina tersenyum tipis, lalu meletakkan surat tersebut kembali ke meja “apa kabarnya Om Edward, sudah sembuh atau masih koma, Pah?” tanya Ghina.


“Sebulan yang lalu Edward sudah sadar dari komanya, sekarang masih pengobatan di sana. Dan rencananya Edward akan kembali menetap di sana,” ucap Papa Zakaria.


“Alhamdulillah kalau sudah sadar dari komanya,” balas Ghina. Kembali menatap kertas yang sempat gadis itu taruh di meja.


Menata hati........


Ya selama satu tahun ini gadis itu sudah belajar menata hati, menerima keputusan yang dipilihnya. Hidup itu pilihan...!


Segala siksaan yang diterima dari suaminya, sikap arogantnya......kembali gadis itu teringat. Hingga akhirnya saat itu Ghina meminta berpisah sebelum kejadian yang menimpa Edward.


Lantas bagaimana dengan perasaan gadis itu terhadap Edward? Seiringnya waktu, seiringnya kesibukannya......rasa sukanya mulai berkurang....apalagi selama satu tahun tidak ada interaksi apa-apa dengan Edward.


Gadis itu mengela napas panjang, kembali membaca surat tersebut, di surat tercantum tanda tangan kedua belah pihak, dan masih kosong belum ada tanda tangan.


Tidak ada lagi yang harus di pertahankan, lagi pula kita tidak akan pernah bertemu lagi. Dia akan menetap di Australia.


“Ghina.........kok melamun,” ucap Mama Sarah.


“Ehhh gak kok Mah,” buyar seketika pikiran Ghina karena colekan mama Sarah.


“Dengan menanda tangani surat tersebut, status kamu akan lebih jelas nak, tentukan pilihanmu demi masa depan kamu sendiri. Papa dan mama menyerahkan ke putusan ini  sepenuhnya kepada kamu. Kamu sudah bisa menentukan jalan hidupmu sendiri,” ujar Papa Zakaria.


Ghina meraih bolpoin.......


“Bismillah.........semoga ini keputusan yang tepat.” Dengan tangan yang sedikit bergetar Ghina membubuhkan tanda tangan tersebut di surat tersebut. Dan kembali memasukkan surat itu ke dalam amplop coklatnya.


“Ini suratnya Pah,” dikembalikan amplop coklat ke tangan Papa Zakaria.


Mama Sarah langsung memeluk erat putrinya, sambil mengelus lembut punggung gadis itu.


“Mam, Pah......Ghina mau istirahat.....udah ngantuk,” ucap Ghina sambil mengurai pelukan mamanya.


“Istirahatlah, kamu pasti capek.....,” jawab Mama Sarah.


Dengan langkah malasnya, Ghina naik ke lantai dua menuju kamarnya.


Gadis itu hanya beralasan saja, kini gadis itu justru sedang berdiri di balkon kamarnya, memandang bulan dan bintang di langit yang gelap.


“Hai Bulan........akhirnya penantian selama satu tahun lebih terjawab sudah, aku akan menjadi janda.......malang ya nasibku.”


“Akhirnya Om Edward sudah bangun dari tidurnya, dan akan menetap di Australia.....” gumam Ghina.


“Bulan.........sekarang aku sudah bebas dari ikatannya......!” kedua netra gadis itu mulai berkaca-kaca, tanpa di sadarinya buliran bening sudah keluar dari ujung matanya.


“Aku sudah bebas!!!!” dipejamkan kedua matanya, dan salah satu tangannya memegang dadanya.