Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Merawat Ghina - 2


Ria sudah keluar dari kamar Ghina, Edward membetulkan posisi duduknya yang berada di tepi ranjang Ghina.


“Sudah jangan melihat aku aja, sekarang kamu istirahat. Nanti pas makan siang aku banguni. Aku ada di sini. Tidak akan ke mana-mana,” ucap Edward penuh percaya diri, seakan-akan wanita itu membutuhkan dirinya berada di sampingnya.


“Idih ge-er......siapa yang lihat,” celetuk Ghina pelan.


Ghina mendengus kesal mendengar kata-kata pria itu, lalu menutup kembali tubuhnya dengan bed cover sampai leher, dan memejamkan matanya.


Dihati wanita itu sudah meronta-ronta ingin mengusir pria itu dari kamarnya, tapi tubuhnya sedang tidak berdaya untuk mengusirnya. Karena butuh tenaga extra untuk mengusir pria yang sekarang ikut berbaring di sampingnya.


Tidak butuh waktu lama setelah minum obat parasetamol, wanita itu mulai tertidur.


Pria itu ikut berbaring di samping Ghina, kemudian Edward mulai merangkul pinggang Ghina, ”cepat sembuh istriku.....,” ucap Edward, lalu melabuhkan kecupan hangat di kening Ghina, tangan besarnya mengusap lembut pipi mulus wanita itu.


Setelah puas memeluk dan mencium seluruh wajah Ghina, pria itu bangkit dari pembaringannya. Di ambilnya baskom yang tadi di bawa oleh Ria beserta handuk kecil di atas nakas. Pria itu mulai mengompres Ghina, dengan menaruh handuk hangat di atas kening wanita itu. Setelah tidak hangat handuknya, Edward kembali menggantikan dengan handuk hangat. Pria itu berharap, suhu panas wanita itu cepat turun.


Air yang sudah tidak terasa hangat, di gantinya air dalam baskom tersebut di dalam kamar mandi, dengan air hangat dari wastafel.


Menjelang siang sepertinya pria itu masih menyibukkan dirinya mengurus Ghina yang sekarang di anggap istrinya. Menggantikan handuk kompresan dan sesekali mengecek suhu tubuh Ghina.


Buat pria itu, ini hal pertama yang dia lakukan terhadap seorang wanita dan hanya Ghina yang dapat perlakuan istimewa dari dirinya. Bahkan saat Kiren sakit ketika mereka masih menjalin kasih, pria itu tetap tidak mengurusi atau menemaninya, hanya sekedar memanggil dokter lalu kembali ke kantornya, walau Kiren sudah menangis tersedu-sedu agar tetap Edward menemaninya di saat sedang sakit, tapi tetap di acuhkan pria itu.


Satu setengah jam kemudian.......


TOK........TOK.......TOK


“Masuk....” sahut Edward dari dalam kamar.


“Permisi Tuan, saya mau antar bubur buat Nyonya,” ujar Ria yang sudah membawa nampan berisi mangkok bubur.


“Taruh di meja,” pinta Edward, kemudian pria itu beringsut dari duduknya di sofa, untuk menghampiri ranjang.


CUP


Edward mengecup pipi Ghina, sepertinya sudah jadi candu.......mencium wanita itu.


Astaga ternyata kebiasaan Tuan, masih belum berubah.....batin Ria.


Ria jadi teringat kejadian di rumah sakit, saat Tuannya mencium mesra Ghina dalam keadaan tertidur pulas. Bulu roma Ria langsung tergidik ketika rekaman itu muncul lagi di otaknya. Edward sepertinya tidak peduli, Ria melihat pria itu mengecup kedua pipi Ghina yang masih tertidur pulas.


“Sayang........bangun....makan dulu yuk,” ucap Edward pelan, sambil mengelus pipi Ghina, agar wanita itu terbangun.


“Eeugh......,” lenguhan yang keluar dari mulut Ghina. Kemudian wanita itu mulai mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya.


“Buburnya sudah di antar, waktunya.......sayang makan,” ucap Edward.


“Mmm........”gumam Ghina, di sibaknya selimut bed cover yang dia pakai sampai sepinggang.


“Mbak Ria, sini,” panggil Ghina sambil merentangkan kedua tangannya. Ria buru buru putar haluan ke sisi ranjang yang lain.


“Ya Non Ghina,” jawab Ria.


“Tolongin, saya mau duduk bersandar,” pinta Ghina.


Alis Edward naik dua-duanya, kesal....... padahal posisi pria itu persis ada di samping wanita itu tidur. Kenapa bukannya minta tolong sama dia, malah justru posisi Ria yang agak jauh di suruh mendekat.


Kedua tangan Edward menyelisip ke bawah ketiak Ghina, agar bisa mengangkat tubuh Ghina.


DEG


Kedua tangan Edward tak sengaja meraba samping buah dada wanita itu, membuat pria itu kesusahan menelan salivanya sendiri.


Si junior kembali tegang........Edward berusaha menetralkan hasratnya yang tiba-tiba muncul.


“Sudah nyaman duduknya?” tanya Edward, sedikit memalingkan wajahnya yang mulai terlihat memerah.


“Bantuin....sih bantuiin, tapi gak usah pakai nyentuh juga kali,” Ghina mulai dalam ON galak tapi masih dalam nada pelan, setelah sempat merasakan buah dadanya tersentuh oleh kedua tangan besar Edward.


“Gak sengaja, ke pegang dikit.....” jawab Edward pelan, sambil mengambil mangkok bubur di atas meja.


“Sekarang isi perut kamu,” pinta Edward mulai menyodorkan sendok bubur ke mulut Ghina yang masih tertutup.


“Biar mbak Ria yang suapin saya, tidak perlu Om Edward,” tolak Ghina. Ria mulai mau mengambil mangkok dari tangan Edward.


“Ria, segera keluar dari kamar ini juga! Biar saya yang mengurus istri saya yang sedang sakit!!!” suara Edward kembali meninggi, setelah mendapat penolakan dari Ghina.


“Jangan keluar mbak Ria, saya membutuhkan mbak Ria di sini, bukan pria ini. Justru pria ini yang harusnya keluar dari kamar ini,” dengan tenaga yang ada terpaksa wanita ini ikut meninggi suaranya.


Ria yang berada di posisi tengah-tengah, kepalanya bolak balik menengok ke arah Ghina lalu ke arah Tuannya.


“RIA.......!” ujar Edward dengan tatapan tajamnya.


“Mbak Ria.......,” ujar Ghina serempak dengan ucapan Edward.


“Wisss.......Tuan dan Nyonya jangan saling bertengkar, malu sama tetangga. Apa lagi pintu balkon terbuka lebar, jadi suara teriakan Tuan ke dengaran sampai keluar. Nanti kalau tiba-tiba Pak RT datang ke sini, dan melihat ada pria di kamar ini bagaimana? Kasihan Nyonya Ghina, nanti di sangka Nyonya Ghina perempuan murahan, nyimpan laki laki di kamarnya. Padahal Nyonya Ghina di kenal baik oleh para tetangga di sini, ya walau Tuan masih suami Nyonya Ghina, tapi orang di sini tidak tahu kalau Nyonya sudah punya suami," entah dapat dari mana Ria bisa berucap panjang kali lebar.


“Lagi pula selama ini saya yang ngurus Nyonya Ghina termasuk saat kondisi sakit, sejak dari empat tahun yang lalu. Wajar kalau Nyonya Ghina tidak mau di urus sama Tuan, mungkin rasanya aneh melihat Tuan Besar tiba-tiba perhatian!!” sambung Ria.


Pria itu memberikan mangkok bubur yang di pegangnya ke tangan Ria.”Blok berapa rumah Pak RTnya?” Tanya Edward.


“Blok V no. 3,  namanya Pak Junet......memangnya Tuan mau kesana?” tanya Ria.


“YA.....mau lapor ke Pak RT kalau di sini ada suaminya Ghina. Enak aja kamu tuduh istri saya perempuan murahan!!” kesal Edward dengan ceramah Ria, walau ada benarnya.....karena pria itu tidak menyangkalnya.


“Sayang, di makan buburnya sampai habis. Aku akan kembali ke sini, dan jangan sesekali mengusir aku dari sini. Berani sayang..... usir aku, kamu akan aku culik bawa balik ke Jakarta!!” ancam Edward.


“Culik aja kalau berani, apa perlu aku lapor ke polisi atas kekejaman seorang suami yang menyiksa istrinya sampai terluka, empat  tahun yang lalu  ...,” ancam balik Ghina.


“Astaga Ya Allah, bagaimana aku bisa luluhkan hati istriku sendiri......bantulah aku Ya Allah!” teriak Edward sambil lalu, keluar dari kamar Ghina menuju rumah Pak RT.


.


.


Next........Om Edward harus bagaimana???