
“Ruko yang pertama sewa pertahunnya 20 juta, ruko yang ke dua 25 juta, ruko yang terakhir 20 juta,” gumam Ghina sambil membuat coretan di note miliknya.
“Lumayan mahal juga ya, padahal rukonya kecil ya,” ucap Rika.
“Kata mereka memang pasaran segitu sekarang, malah lebih mahal lagi kalau tempatnya lebih stategis dekat mall atau perkantoran atau pusat bisnis.”
“Tapi gomong-gomong, loe punya modalnya berapa? Kita sesuaikan budgetnya aja , jangan terlalu di paksakan, lagi pula kita juga belum survei dalam rukonya sama belum ketemu langsung sama yang empunya. Siapa tahu aja tuh si pemilik ruko bisa di nego kalau lihat loe langsung. Semua pria kalau lihat wajah loe, langsung klepek klepek,” ledek Rika.
“AAhhh.....dasar siake loe, ngeledek aja,”
“Eehhh beneran kok, emang loe gak perhatian. Nih di dalam cafe aja, cowok-cowok pada ngelihatin loe. Makanya punya wajah cantiknya jangan kebangetan,” ujar Rika.
Netra Ghina langsung menuju ke semua arah, dan benar kata Rika......pengunjung cafe khususnya kaum adam......memandang ke arah dirinya.
“Hufft..........!!” Ghina hanya bisa menghela napas panjang.
Ghina menyesap macha lattenya, dan menghiraukan tatapan mata pria. Maksud hati mau nongkrong cantik sambil diskusi, malah gadis itu jadi pusat perhatian.
“Benerkan yang gue bilang,” lanjut Rika.
“Mmm......,”
“Permisi mbak.......” ujar pelayan cafe, sambil menaruh segelas ice chocolate dan sepotong chesse cake stawberry, di hadapan Ghina.
“Maaf mbak, pesanan kita sudah ada semuanya. Yang ini bukan pesanan kita,” ucap Ghina, sambil menunjuk ke makanan yang baru di letakkan di meja.
“Maaf Mbak, ini memang di pesan untuk mbak cantik dari pria yang duduk di sebelah sana,” jawab si pelayan cafe, sambil menunjukkan pria yang di maksud.
Ghina dan Rika langsung menoleh ke arah pria yang di tunjukkan.
DEG
Om Edward.........eeh bukan hanya mirip saja.
“Mbak, tolong kembalikan sama yang pesan ya, kalau pria itu menolak. Buat mbaknya aja,” pinta Ghina yang terkesan tak ingin di bantah.
“Baik mbak,” jawab si pelayan, lalu mengangkat makanan yang tadi dia bawa.
“Kenapa gak di terima aja makanannya Ghina, biar gue yang makan?” tanya Rika.
“Kita gak kenal sama orang yang kasih, kalau makanannya ada sesuatu.... bagaimana? Truss kalau kita-nya kenapa-napa bagaimana. Loe mau!”
“Iya juga....sih!” Rika garuk-garuk kepalanya.
Tak lama kemudian......
“Heemmmm.......,” deheman suara pria terdekat dengan meja Ghina dan Rika.
Ghina mendongakkan wajahnya, begitu pun juga Rika.
Di dekat meja mereka berdua, telah berdiri seorang pria dengan postur tubuh dan perawakan hampir mirip dengan Edward. “Perkenalkan saya Rafael,” sapa Pria tampan dengan mengulurkan tangannya ke hadapan Ghina.
“Saya Rika,” sahut Rika yang mengambil alih jabat tangan Rafael, membuat pria itu mengerutkan keningnya. Maksud hati mengulurkan tangan ke Ghina tapi di sambut oleh Rika.
“Dan ini Ghina, teman saya,” sambung Rika dengan senyum lebarnya. Ghina hanya bisa tersenyum keki melihat tingkah bestinya.
“Maaf jika tadi saya lancang, makanan tadi memang sengaja saya pesan untuk nona cantik ini, sebagai salam perkenalan, akan tetapi nona ini sepertinya menolaknya,” ujar Rafael, arah matanya tertuju kepada Ghina.
“Om Rafael tidak perlu repot-repot memesankan makanan buat saya, sungguh mubazir. Om bisa melihat kan kalau di meja saya masih ada minuman dan makanan saya. Lagi pula kita tidak saling mengenal, sungguh tidak wajar,” balas Ghina santai dan dingin.
Sungguh menarik.......
“OM......apakah saya terlihat tua di hadapan kamu?” tanya Rafael yang masih berdiri.
“Bukankah memang Om sudah tua, terlihat dari wajahnya.......ya paling banter umur Om sekarang 30 tahunlah,” jawab asal Ghina.
“Wow.....gadis yang luar biasa, bisa menebak umur saya,” balas Rafael, tanpa mengalihkan pandangannya.
“Ghina, boleh saya ikut bergabung duduk di sini dengan kalian berdua,” pinta Rafael.
“Tidak bisa, saya datang ke sini hanya ingin menikmati berdua dengan teman saya. Sebaiknya Om Rafael duduk kembali ke meja, sepertinya teman Om sudah menunggu di sana,” tolak Ghina halus, dengan mengulum senyum tipis. Gadis itu melihat punggung seorang pria yang duduk, di tempat yang sama dengan Rafael.
“Kalau begitu boleh saya minta nomor telepon kamu, saya ingin mengenal kamu lebih akrab lagi,” pinta Rafael to the point, berusaha untuk menaklukkan makhluk cantik yang masih duduk.
“Sayangnya.......saya tidak mau akrab dengan Anda Om Rafael,” tegas Ghina, menolak permintaan Rafael.
Rafael tertegun dengan penolakan, lalu memikirkan cara lain, agar tetap bisa komunikasi dengan Ghina.
“Rika boleh saya minta nomor ponselnya?” tanya Rafael.
Rika melirik wajah Ghina sesaat, dan gadis itu hanya menaikkan kedua bahunya. Bukan hak Ghina untuk melarang Rika memberikan nomor ponselnya.
“Kemarikan ponsel punya Om.....,” pinta Rika, dan ikutan memanggil pria itu dengan sebutan OM.
“Ini....,” Rafael memberikan ponselnya, sambil tersenyum tipis menatap Ghina yang sedang bersedekap dalam duduknya.
“Terima kasih, Rika.......senang berkenalan dengan kalian berdua,” ujar Rafael.
“Sama-sama Om Rafael,” jawab Rika, membalas senyum Rafael. Kemudian pria itu kembali ke mejanya.
“Gila........ganteng banget tuh cowok, sayangnya udah tuir,” ujar Rika.
“Mmm.........,” gumam Ghina.
“Hati-hati kalau kenalan sama cowok, apalagi model kayak yang tadi. Jangan jangan mau di jadiin istri kedua atau simpanannya,” celetuk Ghina.
“Pengalaman pribadi ya Ghin,” balas Rika.
“Mmmm........,” gumam Ghina.
“Tapi yang jelas yang perlu hati-hati sih loe, yang di tuju Rafael tuh.....ya loe.......bukan gue,” tukas Rika.
🌹🌹
“Siapa namanya tuh cewek, anak kuliahan atau bukan?” tanya Brandon si teman Rafael, yang belum melihat cewek yang di samperin Rafael.
“Ghina namanya, cantik banget ....” jawab Rafael, pandangannya masih belum lepas dari meja Ghina.
“Ghina......, sepertinya yang namanya Ghina banyak ya” gumam Brandon.
“Ada untungnya gue ngajak loe mampir ke cafe habis kita meeting,” ujar Brandon.
“Iya thanks ya Bro, udah ngajak gue ke sini. Sekarang gue ketemu calon bidadari surga gue.”
“Wah kayaknya bakal siap-siap pendekatan nih.”
“Kayaknya agak sulit, orangnya dingin.......butuh perjuangan. Minta nomor ponselnya aja tidak di kasih, minta berkenalan aja gue di tolak,” ujar Rafael, dengan rasa kecewanya.
“Ha.....ha.....ha seorang CEO hotel di Yogyakarta yang ganteng dan kaya di tolak mentah sama cewek. Wah mantap tuh cewek.....gue pengen tahu secantik apa dia,” jawab Brandon, kemudian menoleh ke arah belakang.
DEG
Kedua bola mata Brandon membelalak.
“Ghina.........si model cantik,” rasa tak percaya Brandon melihat Ghina untuk kedua kalinya, setelah selama satu tahun menanyakan keberadaan gadis itu ke Tante Feby si pemilik butik.
“Ehh.....jangan lama-lama pandang calon bidadari surga gue,” tegur Rafael.
GLEK
Brandon menelan salivanya kasar, lalu menatap Rafael sejenak, kemudian beringsut dari duduknya, melangkah menuju meja Ghina. Tatapan Rafael terlihat heran......
.
.
bersambung......
Buat Kakak Readers yang cantik dan ganteng, yang penasaran tentang kondisi Edward.......sabar ya 😊
Love You sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹🌹