
Mansion Edward, kamar tamu...
Ghina dan Edward sudah sama sama duduk berhadapan. Hati Ghina terasa rapuh kali ini, laksana kapal yang terhantam ombak besar bertubi-tubi. Sekuat-kuatnya berlayar di tengah laut, kapal itu bisa oleng atau malah tenggelam ke dasar laut.
Mata Ghina mulai memerah menahan rasa isak yang ingin membuncah, seakan-akan ingin minta di keluarkan dari penjara hatinya sendiri. Di tundukkan kepalanya, agar tidak terlihat nampak jika buliran bening itu mulai menerobos pertahanannya. Salah satu tangan gadis itu memegang sudut bibirnya yang terasa sakit, nampaklah ada darah di ujung jarinya, gadis itu hanya bisa tersenyum kecut.
Tamparan yang dilayangkan suaminya sendiri, memberinya luka baru, dan bukan hanya luka secara fisik saja akan tetapi hatinya ikut terluka.
Edward masih memandang tangannya yang telah menambah luka baru buat Ghina, dia menatap Ghina yang sedari tadi tertunduk, seperti menutupi wajahnya dengan rambut yang tergerai sudah terlihat tak beratur.
Sungguh sudah menjadi bodohkah seorang Edward sebagai CEO, Presdir dan memiliki beberapa perusahaan, dengan hal masalah sepele tersebut. Yang seharusnya dia selidiki terlebih dahulu, bukannya bertindak gegabah.
Mulut pria itu seketika kaku, bingung ingin mulai berkata apa, namun hatinya sudah ada rangkaian kata yang ingin di utarakan. Tapi pikirannya menghentikan hatinya untuk mengungkapkannya.
Permohonan maaf dari mulut Edward pun tidak keluar. Yang ada kamar terasa hening dan dingin, dengan kedua orang saling terdiam dan terpaku.
“Istirahatlah.....!” ucap Edward yang akhirnya keluar dari mulutnya.
“Putuskanlah segera pernikahan kita. Lepaskan ikatan ini." jawab lirih Ghina, sambil melihat cincin nikah yang masih tersemat di jari manisnya.
“Agar rumah tangga Tuan bersama Nyonya tentram dan bahagia, hingga mertua Tuan tidak menuduhku sebagai pela-kor!” sungguh miris seorang istri pertama memanggil suaminya Tuan, dan madunya Nyonya.
“Ingat Tuan, saya bukan tawananmu yang harus berdiam di sini. Saya di nikahi bukan untuk di jadikan tawanan, di siksa dan di injak-injak harga dirinya. Dan ingat karena sayalah, Tuan bisa menikahi kekasih Tuan. Jadi tentukanlah keputusan Tuan sekarang juga. Dan saya sudah tidak peduli dengan ancaman jika ingin memecat papa saya, silahkan Tuan pecat!!” ucapan pelan yang keluar tapi terdengar tegas.
Wajah cantik Ghina terlihat sendu membalas tatapan Edward. Tanpa menjawab dan sanggahan.........Edward keluar dari kamar Ghina.
Selepas kepergian Edward, salah satu tangan Ghina memegang dadanya yang terasa sakit. Sakitnya seperti tertu-suk pisau yang sangat tajam. Dalam diamnya, sesungguhnya hati Ghina menangis deras.
Edward setelah keluar dari kamar Ghina, pria itu menuju ruang kerjanya dan meminta Ferdi mengambil rekaman cctv satu jam sebelum kepulangan dia, di sekitar kolam renang.
Hati Edward sebenarnya terasa ngilu dan sakit, selepas dia menampar Ghina. Entah kenapa dia tidak bisa mengontrol dirinya, hingga terjadi kekerasan fisik. Emosi karena Ghina pergi tanpa izin kah, atau mengetahui temannya Brandon mengagumi Ghina hingga ada rasa tidak rela muncul di relung hatinya dan cemburu. Padahal dia tidak pernah menganggap Ghina istrinya, Ghina hanya saudaranya, kenapa harus tidak rela.
“Permisi, Tuan....ini rekaman cctvnya,” Ferdi menyerahkan flasdisk.
Edward menerimanya dan memasangnya di laptop. Beberapa menit Edward mengawasi rekaman cctvnya, terlihatlah adegan Ghina saat pulang ke mansion, di hampiri Bu Sari, lalu di tariknya rambut Ghina hingga terjatuh duduk. Sampai Bu Sari jatuh sendiri di kolam renang.
Ditambah Kiren yang tiba-tiba datang, dan menampar Ghina. Sampai dirinya baru datang ikutan melayangkan tangannya sendiri.
Edward menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, menyesali perbuatannya yang sudah termakan dengan omongan mertua dan istrinya. Dirinya serasa di tipu oleh orang yang dia cintai.
Bodoh.......bodoh......sungguh bodohnya saya!!! batin Edward memaki.
“EEERGH......GHINA BUKAN PELAYAN TAPI ISTRIKU SENDIRI!!” teriak Edward di dalam ruang kerjanya.
Dengan menutupi kebenaran yang ada, membuat seseorang yang tak berdosa menjadi korban.
🌹🌹
“Non Ghina.....” sapa Ria, setelah Edward keluar dari kamar tamu, Ria segera masuk ke dalam kamar.
“Ya....mbak Ria...!” ucap lirih Ghina.
“Non.....,” dengan suara menahan rasa tangisnya, Ria menggenggam tangan Ghina. “Non Ghina.....baik-baik sajakan?” tanpa disadarinya mata Ria sudah berkaca kaca. Melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana nona mudanya di perlakukan kasar oleh keluarga madu dan suaminya sendiri.
Ria tidak bisa membantu di saat kejadian, karena dia sendiri mendapat tugas untuk merekam jika ada kejadian oleh nona mudanya, secara diam diam.
“Mbak Ria, kok menangis?” Ghina melihat Ria sudah terisak isak di hadapannya.
“Mbak gak tega lihat Non Ghina, kenapa masih mau bertahan di mansion ini. Seharusnya Non saat tadi sudah keluar mansion, jangan balik lagi ke sini........hiks.....hiks,” ujar Ria sambil melap kedua pipinya yang sudah banjir.
“Kenapa Non Ghina kuat menghadapi mereka semua, kalau mbak jadi Non Ghina......bakal kabur sejauh jauhnya.”
Ghina tersenyum tipis mendengarnya “Mbak Ria, tidak selamanya saya kuat. Hari ini saya pun rapuh.......tapi buat apa berlarut larut lama merasakannya. Tidak ada gunanya, saya menangis lama pun, tidak akan membuat Om Edward membela saya dan berpaling dari mbak Kiren.”
Seketika hati Ghina seperti ingin bercerita “Mbak Ria, tahu tidak...... waktu pertama kali bertemu Om Edward.....saya sangat mengaguminya, menyukainya, sampai membayangkan punya suami seperti Om Edward, ternyata dengan kuasa Allah mengabulkannya......saya dinikahinya dengan cara yang berbeda.” Sejenak Ghina menghentikan ucapannya, bercerita tentang rasa, agar hatinya sedikit lapang.
Terkadang seseorang butuh teman, hanya sekedar untuk di dengarkan saja. Tidak butuh nasihat yang panjang lebar, cukup menjadi teman pendengar yang baik. Seperti sekarang, yang Ghina butuhkan.
“Penuh kesadaran saya dinikahinya hanya sebagai istri tumbal, hingga tidak memikirkan rasa suka di hati saya. Dan hari ini semakin yakin untuk membuang rasa suka sebelah tangan itu.” Tatapan Ghina sesaat terlihat hampa, kosong.
“Kenapa tadi siang saya tidak kabur saja, karena saya ingin mengukir kenangan bersama suamiku sesaat, karena esok hari atau entah kapan saya tidak akan berada di sini dan tidak akan bertemu dengan Om Edward. Walau yang saya dapat hanyalah kenangan pahit. Seperti hari ini, bertambah lagi luka yang dibuat Om Edward.” Jarinya menyentuh pipi yang terluka.
Ria hanya bisa terdiam, menyimak isi hati yang baru di ungkap istri pertama tuannya, ternyata Non Ghina menyukai suaminya sendiri tapi begitu epik menutup rasa semuanya, dan bersikap seperti tidak ada hubungan dan rasa apa-apa dengan Tuannya.
“Non Ghina, maaf kalau mbak bertanya lagi, Non... ..tidak ada keinginan untuk memperjuangkan cinta ke Tuan dan bertahan menjalani bahtera rumah tangga dengan Tuan Besar?”
Ghina tersenyum tipis “saya tidak akan mengejar atau mengemis cinta ke Om Edward. Dan tidak akan pernah mempertahankan rumah tangga saya dengan Om Edward. Lagi pula landasan Om Edward menikahi saya, karena akan menikahi wanita yang dicintainya, yang seperti mbak Ria ketahui... wanita itu sudah dinikahinya dan menjadi nyonya di sini.”
“Sejatinya saya walau masih muda, tapi sebagai wanita tidak pernah menginginkan masuk ke dalam pernikahan poligami. Saya hanya ingin di cintai sebagai satu-satunya seorang istri.” Tidak muluk muluk impian Ghina.
“Semoga Non Ghina diberikan kekuatan, dan kelapangan hati, sampai waktunya tiba,” Ria coba mensupport Ghina.
“Non Ghina mau istirahat di sini atau di paviliun, mbak mau bantu ganti perban sudah waktunya di ganti Non?” tanya Ria, mengingat mereka berada di kamar tamu.
“Kembali ke paviliun saja mbak, rasanya saya juga malas istirahat di sini. Dan tidak pantas tinggal di kamar ini.”
Mereka berdua akhirnya keluar dari kamar tamu menuju paviliun.
Usia Ghina masih terbilang muda, tapi takdir membuat gadis itu menerima segala ujian yang harus di hadapinya dalam pernikahan di usia mudanya. Walau sesungguhnya bisa saja mengadu kepada kedua orang tuanya, tetapi sejati dirinya tidak ingin bergantung dan membebani orang tuanya. Tapi satu keyakinan di hatinya, bahwa dia bisa melewatinya dan akan pergi jauh dari pria yang menjeratnya. Menunggu Opa/papa Edward menjemput gadis itu, karena gadis itu tahu Opa.....orang yang selalu menepati janjinya.
.
.
next......video Ria sudah terkirim