Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Ketika sensasi itu datang


Tatapan hangat penuh cinta dan damba, tak pernah teralihkan oleh pria itu. Bagaikan anak muda sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya.


Pria itu beringsut dari duduknya kemudian mendekati tempat istrinya duduk dan berkutat dengan kerjaannya.


“Sudah jam enam petang, kita pulang yuk. Honey,” pinta Edward dengan mengelus bahu istrinya.


Ghina mendongakkan wajahnya menatap suaminya yang sudah dekat dengan dirinya berada, dan mengulum senyum tipis.


“Sebelum pulang, kita makan malam di sini ya Om Erward.....eh hubby,” ralat Ghina.


“Kok panggil aku Om lagi?”


“Rindu panggil Om Edward,” jawab Ghina dengan senyum lebarnya.


“Ya sudah terserah honey aja,” pasrah Edward.


“Honey sudah pesan buat makan malamnya?”


“Sudah pesan, hubby. Kita makan di sini, jadi nanti pulang ke rumah tinggal istirahat aja.”


“Maaf ya hubby, gak tanya Om mau makan apa dulu.”


“Gak pa-pa, aku bisa makan apa aja. Makan kamu sekarang juga, aku juga mau,” goda Edward. Pria itu membungkukkan dirinya, dan meraih dagu Ghina.


Tanpa permisi, bibir Edward berlabuh di bibir istrinya. Sentuh hangat kembali terasa di bibir Ghina, lummatan sang suami memberikan sensasi yang berbeda, sesapan demi sesapan membuat gairah itu datang. Edward memiringkan wajahnya, agar kedua hidung mancung mereka tidak saling beradu, dan pria itu menarik tubuh Ghina agar berdiri dari duduknya tanpa melepas pagutannya.


Kemudian pria itu mengangkat dan  mendudukkan tubuh istrinya ke atas meja kerja. Gelombang hasrat yang di berikan Edward, membuat Ghina semakin terbuai dengan pagutan Edward. Pria itu memajukan dadanya agar menempel dengan dada istrinya, semakin menempel, gesekan tubuh mereka bagaikan menyulut api hasrat yang sedang mereka tahan berdua.


Suara dessahan merdu keluar dari kedua manusia itu, tak terhingga rasanya. Hanya sekedar berbagi saliva dan membelit lidah, membuat hati mereka berdua berdebar kencang, dan rasa menggelitik di perut mereka berdua. Pagutan penuh cinta membuat hati mereka menggelora.


“Manisnya.........istriku,” puji Edward saat melepas pagutannya. Ghina tersipu malu-malu.


“Punggungnya tidak sakitkan honey, waktu aku sedikit menekannya,” saat mereka berpagutan refleks tangan Edward sedikit menekan bagian punggung Ghina, agar tubuh wanita itu lebih menempel ke tubuh dirinya.


“Tidak terlalu sakit kok Om.......turunin aku dong By, nanti ada yang masuk. Gak enak di lihat posisinya begini,” pinta Ghina malu-malu.


“Tapi aku suka posisi kayak begini,” goda Edward.


Melakukan ciuman hot di ruang kerja, ternyata membuat mereka berdua merasakan sensasi yang berbeda. Edward segera membantu istrinya turun dari meja, lalu merapikan  meja kerja istrinya yang sudah berantakan karena ulahnya.


TOK.....TOK....TOK


“Masuk,” sahut Ghina.


“Permisi Nyonya, mau antara makan malamnya,” ujar Ria dengan membawa nampan.


“Iya mbak Ria, taruh di atas meja aja mbak,” pinta Ghina.


“Baik Nyonya,” ria kangsung menaruh nampannya.


“Mbak Ria sudah makan malam belum? Terus nanti pulang bareng saya aja ya mbak,” pinta Ghina.


“Sudah makan tadi. Oke mbak selesaikan pekerjaan mbak dulu ya, biar bisa pulang bareng,” ujar Ria.


“Oke........jangan lama-lama ya mbak. Habis saya dan suami selesai makan, kita langsung pulang ya mbak.”


“Oke Nyonya,” Ria bergegas ke lantai bawah untuk merapikan pekerjaan di toko nyonya-nya.


“Hubby, ayo makan dulu,” ajak Ghina, sambil menyiapkan makan malam untuk Edward.


“Makasih honey,” jawab hangat Edward. Lantas mereka berdua menyantap makan malamnya, sesekali Edward dan Ghina berbincang hangat di sela-sela makannya.


🌹🌹


Rumah Ghina


“Honey duluan, atau aku duluan yang mandi. Atau kita mandi berdua?” ujar Edward dengan senyum nakalnya.


“Iihh.......hubby emang mau nya begitu. Aku duluan aja yang mandi, baru hubby yang mandi,” jawab Ghina, langsung lemarinya untuk mengambil dasternya.


“Honey.....mandi berdua yuk,” rengek Edward. Bulu kuduk Ghina langsung merinding, membayangkan ketika mandi berdua dengan suaminya.


“Enggak mau.....,” tolak Ghina, buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Edward harus banyak bersabar dengan Ghina, sabar untuk menenangkan si Jon.


Tidak butuh lama Ghina membersihkan tubuhnya, karena sudah malam. Setelah selesai mandi, Ghina hanya bisa menelan kasar salivanya, setelah kedapatan Edward bertelanjang dada, dan hanya menggunakan celana pendek. Tubuh atletis Edward terpampang nyata di hadapan wanita itu, dan dengan santainya pria itu berjalan dan melewati  Ghina untuk masuk ke kamar mandi. Sedangkan tatapan Edward bagaikan sedang menggoda istrinya.


Ya Allah.....kok jadi berdebar-debar sendiri melihat Om Edward.


Wanita itu langsung menyegarkan otaknya kembali dari pikiran messumnya setelah melihat tubuh suaminya sendiri, kemudian duduk di depan meja rias untuk memakai serum di wajahnya, serta sedikit memberikan pelembab ke bibirnya. Rambut wanita itu di gulung lalu di cepol ke atas sehingga leher jenjang dan putih terlihat jelas.


Tiba-tiba.........


GREB...


Tubuh Ghina sudah dipeluk dari belakang oleh suaminya yang sedikit membungkuk, karena posisi Ghina masih duduk.


Kecupan demi kecupan dari Edward mulai di rasakan oleh Ghina, saat bibir kenyal itu menempel di bagian tengkuk wanita itu. Jantung Ghina mulai berdegup kencang, hembusan napas hangat Edward terasa di pipi Ghina. Pria itu sedikit mengangkat tubuh istrinya agar berdiri dari duduknya.


Bibir Edward mulai mengecup daun telinga istrinya dengan lembut, serta sentuhan yang sangat menggelitik di hati Ghina. Refleks tangan Ghina memegang wajah Edward yang memeluk dirinya dari belakang.


“Om.........iiish,” desis Ghina tak tertahankan, sensasi-sensasi Edward ketika memainkan daun telinganya lalu tengkuknya, membuat dirinya bernapas cepat.


“Om......hubby......akkhh,” gelombang hasrat yang tak pernah dirasakan wanita itu, datang menghujam dirinya. Antara harus menerima atau menahan rasa yang baru dirasakannya.


Mendengar suara merdu sudah keluar dari bibir istrinya, Edward menghentikan aksinya, lalu membalikkan  tubuh istrinya pelan-pelan.


Tatapan kedua netra Edward sudah berkabut gairah, melihat istrinya. Hal yang wajar jika suami terangsang dengan istrinya sendiri.


“Masih sakitkah punggung honey?” pertanyaan kedua setelah yang pertama di ruang kerja Ghina.


Ghina menelisik wajah Edward, dan wanita itu baru sadar jika suami hanya memakai boxer, lalu tercium aroma maskulin yang menguar di tubuh suaminya.


Wanita itu memberanikan diri memegang dada berotot suaminya,” tidak sesakit hari sebelumnya Om, yaa sedikit nyeri....tapi tidak senyeri hari kemarin.”


Edward memejamkan matanya ketika tangan halus istrinya memegang lembut dada berototnya. Merasakan sensasi akibat sentuh lembut Ghina.


Secara naluri Ghina, mengecup dada berotot suaminya dengan lembut. Dan melummatnya hingga meninggalkan bekas merah, Edward yang menerima sensasi yang tak  bisa digambarkan, tangan pria itu langsung meraih tengkuk Ghina kemudian membungkam bibir istrinya dengan bibirnya.


“Aku sangat menginginkanmu, honey,” desis Edward, ketika melepas pagutannya.


bersambung