
Masih berdiri di samping meja kerja Tuannya, Ferdi sungguh menikmati pertikaian antara Tuannya dan istri keduanya Kiren.
Ferdi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, sungguh ikutan eneg lihat tingkah Kiren. Iseng-iseng Ferdi mengambil ponselnya dan merekam pertikaian Tuannya.
“Kak Edward masih saja mau di tipu dengan foto ini. Sama saja Kak Edward memfitnah saya,” sanggah Kiren.
“Apa karena gadis itu, sekarang Kak Edward berpaling dari aku sekarang, hingga mencari tahu tentang aku....hem!” geram Kiren dengan menunjukkan bingkai foto yang terpajang.
“Kemana rasa cinta Kak Edward yang dulu, apa jangan-jangan Kak Edward sudah suka dengan bocah ingusan itu.....hah. Dia hanya bocah kecil Kak, tidak akan bisa memuaskanmu Kak. Hanya aku yang bisa memuaskanmu,” ujar Kiren......ah Kiren tidak sadar dengan perkataan memuaskan membuat Edward semakin muak melihat wanita yang sedang bertolak pinggang dengan angkuhnya.
BRAK !!
Kiren mengambil foto Edward dan Ghina yang terpajang, lalu menghempaskan ke lantai. Hingga kaca figura foto pecah berserakan.
Edward tersentak melihatnya “Apa yang kamu lakukan Kiren!!” bentak Edward.
PLAK !!
Pipi Kiren sudah mendapatkan hadiah tamparan dari suaminya.
Edward langsung mencengkeram dagu Kiren dengan penuh tekanan "Kamu bilang Ghina, bocah ingusan!!" raanya tidak terima dengan perkataan Kiren terhadap Ghina.
“Ooh sekarang Kak Edward membelanya, lalu sekarang bertanya apa yang aku lakukan! Aku lakukan karena gadis itu tidak pantas bersanding denganmu dan di pajang di sini!!” hati Kiren sudah diliputi rasa cemburunya, sambil memegang tangan Edward yang masih mencengkeram dagunya.
“Ck.......,” decak Edward, melepas cengkeramannya, dan mendorong Kiren ke belakang untuk menjauh dari dirinya.
“Sungguh saya bersyukur menikahi Ghina, dan gadis itulah yang pantas bersanding dengan saya bukan kamu yang penuh dengan kebohongan! Serta berkat menikahi Ghina, saya jadi tahu dirimu sesungguhnya Kiren. Bukti sudah ada semua, tapi kamu masih saja menyanggahnya,” tegas Edward sambil menahan emosinya.
Edward mengambil napas panjangnya, dan menghembuskan pelan-pelan, sebelum melanjutkan ucapannya.
“Kiren Lestari mulai hari ini saya jatuhkan talak tiga kepadamu, sekarang kamu bukan tanggung jawab saya lagi. Dan diharamkan kamu menyentuh saya!!” ucap Edward dengan suara lantang.
JEDER....
Jantung Kiren berdegup kencang mendengar ucapan talak dari Edward. Bukan lagi talak satu, tapi langsung talak tiga yang keluar dari mulut Edward.
“TIDAAAKKKK!” teriak Kiren.
“K-KAK......K-KAK......ini gak benar, tarik talakmu itu kak Edward, batalkan talaknya......” mohon Kiren, sambil menjambak rambutnya sendiri.
“Ferdi, kamu jadi saksi saya hari ini,” ujar Edward.
Ferdi yang masih merekam Tuannya dan Kiren dengan ponselnya secara diam-diam, ikutan kaget mendengar Tuannya sudah menjatuhkan talak tiga ke istri tercintanya.”B-baik Tuan.....!” jawab Ferdi.
Kiren masih teriak histeris, tiba-tiba.......
TOK....TOK....TOK
“Permisi, Pak Presdir ada tamu, katanya sudah bikin janji dengan Pak Presdir.” Saat genting di dalam ruangan, tiba-tiba sekretaris Edward masuk.
“Suruh masuk!!!” perintah Edward, karena tamu ini sangat penting buat pria itu.
“Kiren, lihat siapa yang datang!!” ucap Edward.
Sejenak Kiren berhenti histeris, dan melihat dua orang wanita yang masuk ke dalam ruang kerja Edward.
“Dokter Tia, Anis....!” kedua nama itu terucap dari mulut Kiren.
“Silahkan duduk Dokter Tia. Jadi kamu mengenal Dokter Tia ini?” tanya Edward kepada Kiren yang masih berdiri di tengah-tengah ruangannya.
“Pak Edward, Kiren salah satu pasien saya, yang operasi selaput dara di rumah sakit Permata,” keterangan Dokter Tia.
"Apa kamu masih mau menyanggah lagi, Kiren," ujar Edward.
Seketika wajah Kiren terlihat tidak enak dipandang, tatapannya begitu tajam menatap Anis.
“Jadi kamu biang kerok semuanya, dasar breng-sek kamu......Anis!!”
“AAKKHHH!!” jerit Anis kesakitan, rambut pendeknya dijambak oleh Kiren.
Dokter Tia yang sedang duduk langsung terbangun, dan menyingkir, jauh dari keberadaan Kiren yang seakan mengancam keselamatan dirinya.
“Hentikan Kiren,” Ferdi berusaha memisahkan Kiren dengan Anis.
Sekelebat di meja sofa, Kiren melihat pisau buah yang tergeletak di piring berisi buah. Di ambilnya pisau itu dengan salah satu tangannya, sedangkan tangan yang lain masih menjambak rambut Anis.
“Gara-gara kamu......Kak Edward menalakku.....kurang ajar kamu. Akan aku habisi nyawa kamu sekarang juga!!” pekik Kiren, dengan menodongkan pisau ke leher Anis, wanita itu terlihat sedang kerasukan setan.
“Kiren.......please sadar ren....!” Anis terlihat ketakutan....
“KIren.....buang pisau kamu.....jangan khilaf Kiren,” ucap Edward, mulai mendekati Kiren yang sedang merangkul leher Anis dari belakang sambil menodongkan pisau ke leher Anis.
“Jangan berani dekat-dekat Kak Edward!!” ancam Kiren yang mulai terlihat gila, dengan menjulurkan pisaunya ke arah Edward.
“Pak Edward tolong saya......pak,” mohon Anis sudah terurai air mata, sambil melirik pisau yang di pegang Kiren sudah menyentuh lehernya. Bergerak dikit maka lehernya tergores
Para ajudan Edward sudah tiba di ruang kerja Edward, setelah di beritahu Ferdi, tapi belum bisa bertindak, karena akan ada resikonya, jadi mereka membaca situasinya.
Begitu juga Edward tidak mau mengambil tindakan gegabah, karena ada nyawa orang yang terancam.
“Kiren.....lepaskan Anis. Kita bicarakan baik-baik dulu,” pinta Edward dengan suara merendah.
“Tolong.....lepaskan Anis, saya akan mengabulkan semua permintaanmu,” pikir Edward, jika Kiren meminta hartanya, maka pria itu akan memberikannya, dari pada ada nyawa orang melayang.
“Kalau begitu cabut talak Kak Edward,” ucap Kiren.
“Talak itu tidak bisa di tarik, karena sudah terikrar. Kamu bisa minta yang lain,” jawab Edward.
“Kalau begitu lebih baik wanita ini mati, karena wanita menjadi pengacau rumah tangga kita,” geram Kiren semakin menempelkan pisaunya ke leher Anis.
“Hiks....hikss...Pak tolong kabulin permintaannya Pak, saya belum mau mati,” mohon Anis dengan suara terdengar lemah.
“Minta yang lain, untuk masalah talak tidak bisa saya tarik,” balas Edward, tetap dengan pendiriannya.
Kiren semakin geram dengan Edward yang teguh pendiriannya. Otaknya langsung berpikir yang lain.
“Jika Kak Edward ingin wanita ini selamat, siapkan mobil lalu pergi denganku tanpa sopir dan menuruti apa yang kumau! Serta jangan ada satu pun mengikuti!” pinta Kiren.
Edward terdiam sejenak, sembari memandang Ferdi dan ajudannya.
“Ferdi, siapkan mobil di bawah,” pinta Edward dengan memberi kode, pria itu akhirnya menuruti kemauan Kiren.
“Baik Tuan,” Ferdi dan satu ajudan ke lantai bawah mengurus permintaan Edward.
“Lepaskan Anis, sekarang. Saya sudah menyuruh Ferdi untuk menyiapkan mobil. Saya akan menuruti kamu apapun, kecuali menarik kata talak,” ucap Edward.
Kiren tersenyum devil ketika menatap Edward.
“Kak Edward dan ajudan, jalan duluan,” perintah Kiren. Edward menurutinya dan memberi kode ke ajudannya.
“Jalan......kamu Anis.....!” pinta Kiren sedikit mendorong tubuh Anis, sekarang todongan pisaunya beralih ke pinggang Anis. Mau tidak mau, Anis menurutinya.
Edward di dampingi ajudannya sudah jalan dulu di depan Anis dan Kiren.
Tidak ada yang boleh satu pun memilikimu Kak Edward, kau hanya milikku seorang. Jika aku tidak bisa memilikimu, maka wanita manapun tidak akan bisa memilikimu termasuk istrimu Ghina.
Edward hanya milik Kiren.