Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Bertemu kembali


“Ghina,” panggil Rafael.


“Mmmmm.......” gumam Ghina sambil menatap wajah Rafael.


“Besok kamu sibuk gak?” tanya Rafael.


“Besok, rencananya akan kedatangan pemilik hotel ini. Dan akan ada meeting. Kayaknya besok jadi hari yang sibuk. Memangnya ada apa mas?” tanya Ghina.


“Rencana mau ngajak kamu ke mall pulang kerja, temenin saya cari baju...”


“Oohhh.....di kiraiin ada apa, makanya mas Rafa buru-buru cari istri ........jadi bisa ada yang temenin. Masa Mas Rafael seorang CEO, banyak duit, ganteng dan sempurna.....gak ada wanita yang mau sama mas Rafa.”


“Ada kok yang gak mau sama saya, padahal selama dua tahun di kejar tetap aja wanita itu menolak,” celetuk Rafael sambil menatap wajah Ghina penuh damba. Sedangkan wanita yang di tatap pria itu sibuk dengan ponselnya.


“Berarti tuh perempuan buta matanya, gak bisa lihat Mas Rafael,” celetuk Ghina, masih menjawab pesan WA di ponselnya.


“Wanita itu tidak buta, tapi lagi sibuk mainin ponselnya,” jawab Rafael.


Ghina langsung mengangkat kepalanya dan menatap Rafael ”jangan mulai lagi deh......ungkit-ungkit aja terus,” jawab Ghina.


“HA.......HA......HA.....tapi benarkan kamu yang sering menolak saya selama ini,” Rafael tawa terbahak-bahak.


“Mmmm......” gumam Ghina malas.


“Kenapa kamu sering menolak saya, padahal tadi kamu bilang.......saya sempurna?” tanya Rafael.


“Ya.......Mas Rafael sempurna, tapi hati orang tidak bisa di paksakan. Saya belum punya pikiran untuk  hubungan yang lebih serius, saya ingin menikmati kebahagiaan buat diri sendiri terlebih dahulu.” Ungkap Ghina.


“Saya akan menunggumu, sampai kamu siap.......Ghina.”


“Jangan menunggu saya, Mas Rafael. Saya tidak mau memberikan harapan palsu, cukup kita berteman saja tidak lebih.”


“Saya tetap berjuang meluluhkan hatimu, karena saya sangat mencintaimu.....Ghina.”


Rafael dan Ghina saling bersitatap, tatapan Rafael penuh damba dengan wanita cantik yang berhadapan dengannya, sedangkan Ghina hanya membalas dengan tatapan biasa.


“Permisi Mbak Ghina,” ujar Tyas yang menghampiri dengan membawa troly makanan, dan menyajikannya di meja.


“Selamat makan Mbak Ghina, Pak......” ucap Tyas.


“Makasih ya...,”


“Sama-sama,” Tyas undur diri.


“Ayo di makan mas Rafael, kalau makanannya cuma di lihatin aja perut gak bakal kenyang,” ajak Ghina.


“Ngelihatin kamu aja, saya udah kenyang kok,” balas Rafael.


“Udah mas, ngomongnya gak usah bercanda terus,” ucap Ghina, kemudian wanita itu mulai menyantap makan siangnya.


Rafael pun ikut menyantap makanannya, di selingi pembicaraan ringan, berdiskusi tentang perihal kerja, terkadang Rafael minta pendapat Ghina. Menurut Rafael, Ghina tidak hanya sekedar cantik, tapi juga pintar serta memiliki attitude yang baik. Tapi satu yang tidak pernah diketahui Rafael selama ini, jika Ghina sudah menikah.


🌹🌹


Esok hari.........


Pagi hari......


“Tumben Opa, kok nggak kasih kabar dari kemarin ya. Kata Pak Direktur, hari ini pemilik Hotel mau datang, siang mau ada rapat manajer dengan pemilik hotel. Berarti Opa dong yang datang atau Tante Derby yang datang,” gumam Ghina saat menikmati sarapannya.


“Mungkin Opa sibuk kali Ghin, jadi belum sempat kasih tahu ke loe,” sahut Rika, sama sama menyantap sarapan.


Rika masih tinggal satu rumah dengan Ghina, dan sekarang sudah menjadi manajer di toko kue Gina’s. Jadi Ghina tidak terlalu repot mengurus toko kuenya, tapi masih rutin tiap pulang kerja, mampir untuk mengecek, kadang masih membantu membuat cake.


Hari ini Ghina menggunakan setelan kerjanya berwarna abu-abu, dengan make up flawessnya, terkesan natural tapi aura kecantikan lebih terpancar, rambut coklat curlynya yang panjangnya sedada di gerainya, terkesan tambah sexy. Ya tubuh Ghina semakin berisi ketimbang empat tahun yang lalu.


🌹🌹


Hotel A.


Pagi jam 07.30, pria yang semakin tampan walau umurnya sudah memasuki usia 37 tahun, dengan mengenakan setelan jas berwarna abu-abu senada dengan celana panjangnya. Tiba di Hotel A, di dampingi oleh asisten pribadinya Ferdi.


“Selamat datang Pak Presdir, sudah lama kita tidak berjumpa,” sapa Yoga sambil mengulurkan tangannya.


Para staf hotel yang melihat Edward untuk pertama kalinya, langsung terpesona. Tidak menyangka pemilik hotelnya luar biasa tampan, gagah, dan berkharisma sebagai pemimpin.


“Terima kasih atas sambutannya Pak Yoga,” Edward membalas jabatan tangan Pak Yoga.


“Kamar untuk Pak Presdir selama tinggal di Yogyakarta sudah saya siapkan. Pak Presdir ingin istirahat dulu, atau mungkin mau sarapan terlebih dahulu,” tawar Yoga.


“Saya sarapan dulu,” jawab Edward.


“Mari Pak, kita ke restoran,” ajak Yoga sambil mempersilahkan. Edward dan Ferdi ikut ke restoran hotel, saat ini memang mereka berdua butuh mengisi perutnya, karena penerbangan mereka pagi-pagi sekali, belum sempat sarapan.


Satu jam kemudian.....


“Selamat pagi mbak Ghina,” sapa Indri bagian resepsionis.


“Pagi juga, mbak Indri ada surat untuk saya gak?” tanya Ghina, yang masih berdiri di depan meja resepsionis.


“Sebentar ya mbak Ghina, saya cek dulu,” Indri segera mengecek surat masuk yang tertera nama penerima Ghina Farahditya.


Sambil menunggu Ghina memeriksa ponselnya.


Edward dan Ferdi telah menyelesaikan sarapannya, rencana akan istirahat sebentar di kamar, baru akan melanjutkan agenda kerjanya.


“Sebentar Pak Presdir, saya ambilkan dulu kunci kamarnya di bagian resepsionis,” ujar Yoga.


“Silahkan,” jawab Edward, pria itu pun ikut melangkah ke bagian resepsionis. Edward sesaat melihat ada wanita memakai setelan kerja dengan warna yang sama dengan setelan kerja yang dia kenakan,  dan bodynya terlihat sexy sedang berdiri dan menghadap di depan meja resepsionis.


Jarak Edward berdiri dengan wanita itu hanya sekitar dua meter.


“Ini mbak......ada beberapa surat,” Indri menyerahkan beberapa amplop putih dan coklat ke tangan Ghina yang sudah terulur.


“Makasih ya mbak Indri,” ucap Ghina, kemudian wanita itu membalikkan badannya.


DEG....DEG....DEG


Kedua netra Edward langsung membelalak, mulutnya terkatup rapat, jantungnya berdebar-debar. Seketika itu juga kedua kaki pria itu terasa lemas.


Gadis yang selama ini dia rindukan dan yang selama ini dicarinya, kini ada di hadapannya, hanya berjarak dua meter. Dan bagaimana ceritanya gadis yang dia nikahi, berubah menjadi wanita dewasa, tambah cantik dengan setelan kerjanya. Kemanakah gaya casualnya yang dulu sering pria itu lihat di gadis itu. Tatapan pria itu semakin mendamba melihat wanita yang masih berdiri di hadapannya.


Kenapa kamu banyak berubah......aku terpesona....Ghina


Sedangkan Ghina tampak tenang melihat pria yang kini berdiri gagah di hadapannya , walau salah satu tangan yang memegang amplop surat, terlihat sedikit lecek akibat re-masannya.


Ternyata Om Edward tampak lebih baik dan sehat, tidak banyak berubah masih gagah dan tampan seperti empat tahun yang lalu.......syukurlah.


“Mbak Ghina....” panggil Yoga.


Ghina langsung menoleh ke arah Yoga berada.


“ Mbak Ghina, perkenalkan ini Pak Presdir Hotel A, Pak Edward."


“Pak Presdir, perkenalkan ini Ghina Farahditya manajer keuangan hotel di sini.”


Yoga selaku Direktur Hotel, memperkenalkan Edward dan Ghina. Yoga dan seluruh karyawan hotel tidak tahu silsilah tentang Ghina dengan Keluarga Opa Thalib, mereka hanya tahu jika Ghina bisa di terima kerja di hotel A atas rekomendasi baik dari Opa Thalib. Ghina meminta ke Opa Thalib merahasiakan hubungan saudara atau pernah jadi bagian inti dari keluarga Thalib, demi kenyamanan kerjanya.


Edward mengulurkan tangannya untuk disambut oleh Ghina, melihat uluran tangan Edward.......Ghina menyambutnya.


“Perkenalkan saya Edward,” ucap Edward, ketika sedang menjabat tangan Ghina, dan mengurai senyum hangat, senyum kerinduannya di wajah tampannya.


“Perkenalkan saya Ghina, selamat datang Pak Edward,” balas Ghina, dengan senyum tipisnya.


Aku merindukanmu .....istri cantikku.......aku ingin memelukmu...