
Mansion Edward
Pagi ini wajah Edward sedikit muram, masih mengingat mimpi buruknya semalam.
“Tuan, mau sarapan di sini atau di ruang makan?” tanya Pak Jaka.
“Di ruang makan,” jawab Edward.
Setelah selesai berpakaian dengan setelan kerjanya, Edward langsung menuju ruang makan.
“Pagi.....sayang...,” sapa Kiren sambil mengecup pipi Edward.
“Pagi.....,” balas Edward, tanpa membalas mengecup pipi Kiren, yang biasa pria itu lakukan.
“Sayang, mau sarapan pakai apa?” tanya Kiren.
“Salad sayur, sama roti sandwich dan omelet,” jawab Edward datar.
Dengan cekatan, Kiren mengambil menu yang di minta Edward, dan semuanya sudah ada di meja makan. Jadi Kiren hanya mengambilkan saja.
Penuh senyum Kiren meletakkan sarapan di depan Edward “ini sayang sarapannya, silahkan di nikmati.”
“Mmmmm......” gumam Edward tanpa membalaa senyuman istrinya Kiren, kemudian menyantap sarapannya.
“Sayang, hari aku masuk kerja ya, berangkatnya bareng ya..........sayang,” ucap Kiren.
“Hari ini kamu datang ke kantor, langsung kemasi barang-barang kamu,” ujar Edward, kemudian melanjuti makannya.
Kiren menaikkan salah satu alisnya “maksud Kak Edward apa? Aku datang lalu mengemasi barang-barang saja!” sentak Kiren.
“Hari ini saya akan meminta bagian HRD membuatkan surat pemecatan buat kamu.”
“Maksudnya Kak Edward, aku di pecat dari perusahaan Kak Edward, perusahaan suamiku sendiri,” Kiren langsung beringsut dari duduknya seketika, dan salah satunya tangannya bertolak pinggang.
“Jadi sekarang Kak Edward menuruti kata-kata papa Kak Edward, begitu!!” bentak Kiren.
Edward menghentikan makannya, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Tersenyum kecut melihat Kiren yang berani membentaknya, apakah Kiren mengikuti gaya Ghina yang sering melawan dirinya menurut pemikiran pria itu, agar dirinya terpukau melihat sosok istri keduanya Kiren.
“Apakah kamu sedang membentakku sekarang!!” ujar sinis Edward.
“Karena kesalahan dan keputusanku, hingga detik ini kedua orang tuaku tidak menerima kedatanganku di mansion utama. Lalu sekarang kamu menyinggung masalah pemecatan kamu karena saya menuruti papaku!” lanjut kata Edward.
“Baguslah, kalau Kak Edward sudah tidak dianggap anak mereka. Hidup kita berdua akan tentram!” jawab sinis Kiren.
Sungguh geram Edward, Kiren menganggapnya hal sepele!!
“Lantas apakah kamu ingat!! Kamu selalu menuntut minta dinikahi dalam keadaan saya yang belum siap, dan memaksa saya menerima perjodohan dengan gadis yang tidak tahu apa-apa, agar kamu bisa saya nikahi setelahnya. Semuanya sudah saya turuti kehendakmu!”
“Sekarang kamu diberhentikan bekerja, merasa tidak terima. Marah......begitu!” seru Edward.
“Berhentilah mengatur-atur hidupku. Jika kamu tetap ingin menjadi istriku, sebaiknya kamu berhenti bekerja di perusahaan saya dan papaku. Tapi jika kamu bersikekeh tetap ingin bekerja, maka kita berpisah!” ancam Edward.
“Kenapa Kak Edward bicara tentang berpisah, bukankah Kak Edward yang telah berpisah dengan Ghina. Aku menuntut dinikahi, wajarlah......karena wanita butuh kepastian bukan hanya sekedar janji dan ucapan cinta. Lagi pula bukankah Kak Edward mencintaiku, kita menikah karena saling mencintai. Bukan seperti Kak Edward dengan Ghina menikah karena perjodohan dan di paksa.”
Kiren menghampiri Edward yang telah berdiri, lalu menyentuh salah satu tangan pria itu.
“Tatap mataku Kak Edward, aku istrimu......wanita yang Kak Edward cintai,” pinta Kiren dengan menatap wajah tampan suaminya.
Netra Edward menatap wanita yang dicintainya dengan tatapan kosong dan hampa, sekelebat pria itu melihat wajah Ghina yang terlihat sendu, menyedihkan.
Ghina.....
Lantas Edward memejamkan kedua matanya, berhenti menatap Kiren. Hatinya mulai bergejolak, rasa aneh itu mulai muncul.
Edward menepis genggaman tangan Kiren. Wanita itu tampak heran.
Berpisah dengan Ghina
Salah satu tangan Edward mulai meremas serbet makan, mendengar ucapan bercerai dengan Ghina, hatinya mulai mendidih. Rahang pria itu mulai mengeras.
PRANG !!!!
Edward menjatuhkan piring bekas makannya ke lantai “jangan sesekali kamu lantang mengucapkan saya bercerai dengan Ghina!!” geram Edward, kemudian meninggalkan Kiren begitu saja.
Wajah Kiren terlihat kecewa akan sikap suaminya.
🌹🌹
Universitas Uxx Yogyakarta
Opa Thalib dan Papa Zakaria, mengantar Ghina ke kampus, untuk registrasi ulang atas undang beasiswanya. Sedangkan Oma Ratna dan Mama Sarah serta Ria tidak turut ikut, karena ingin beristirahat di hotel.
Ghina dengan semangat empat lima menginjak kampus yang telah mengundangnya. Saat kedatangan mereka ternyata sudah ditunggu oleh para pengurus dan rektor universitas U, dan lagi-lagi Ghina baru tahu jika Opa Thalib salah satu donatur terbesar untuk universitas tersebut, jadi salah satu pemasukan Opa Thalib di sumbangsihkan untuk dunia pendidikan. Maka dari itu Opa Thalib turut berbangga hati dengan Ghina dengan prestasinya bisa mendapat beasiswa di Universitas yang bagus dan bergengsi, tanpa jalur khusus dari Opa Thalib.
Kini Ghina sudah terdaftar resmi sebagai calon mahasiswi dengan program studi Akuntansi, sesuai dengan kejuruan gadis itu saat di SMKN.
Selesai masalah registrasi ulang, salah satu pengurus mengajak Ghina berkeliling kampus, sedangkan Opa Thalib dan Papa Zakaria masih berbincang dengan para rektor, membicarakan hal yang khusus mengenai keamanan dan identitas Ghina selama kuliah nanti.
Ada hampir satu jam berkeliling area kampusnya, dan keberadaan gadis itu pun jadi pusat perhatian baik laki laki maupun wanita, pasti terpesona dengan wajah cantik natural Ghina bagaikan seorang model kenamaan.
“Ghina, kamu cantik banget......saya sampai terpesona lihatnya udah kayak lihat artis,” ucap Dini staff universitas, yang mengajaknya berkeliling.
“Makasih mbak Dhini,” jawab sopan Ghina.
“Ghina, pasti fotomodel ya?” tanya Dhini.
“Kok mbak Dhini bisa duga seperti itu?” tanya Ghina agak heran.
“Wajahnya pernah lihat di mana ngitu, pakai baju kebaya....betulkan,” duga Dini.
“Mmm........ada benar sih.”
“Wah benar dong tebakan saya, bisa lihat modelnya langsung,” ujar Dhini dengan tersenyum lebar.
“Udah cantik, di tambah siswi yang berprestasi. Wah luar biasa,” puji Dhini.
“Makasih atas pujiannya Mbak Dhini, cantik itu hanya kebetulan kalau prestasi itu hasil kerja keras,” jawab Ghina merendah, karena tidak ada satu hal pun yang patut di sombongkan di dunia ini.
Dhini kembali mengajak Ghina berkeliling setelah tadi sempat berhenti sebentar. Kali ini Dhini mengajak ke fakultas ekonomi tempat nanti Ghina akan mengenyam pendidikan srata S1 nya, program studi Akuntasi.
Penuh doa dan harapan saat gadis itu masuk ke fakultas ekonomi, bisa menyelesaikan masa pendidikannya dengan mudah dan lancar. Di rasa semua ruangan sudah di kunjungi, Dhini kembali mengantar Ghina ke ruang rektor.
“Bagaimana Nak, sudah berkeliling kampusnya?” tanya Opa Thalib.
“Sudah Opa,” jawab Ghina, sambil membalas senyuman bapak rektor, serta pengurus universitas.
“Sebuah kebanggaan buat kampus kami Pak Thalib, ternyata siswi pilihan kami adalah anak dari Pak Thalib, sungguh luar biasa prestasinya saat kami melihatnya. Semoga bisa mempertahankan prestasinya kedepan,” ucap Bapak Rektor.
“Insha Allah Pak, saya akan berusaha semaksimal mungkin,” jawab Ghina.
.
.
next........siap siap, ayo tebak 😁