Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Rapat Manajer


Wah gawat Tuan sama Nyonya bisa bertengkar ini di sini, bisa makin rumit hubungan mereka berdua. Yang ada nyonya gak bakal mau di ajak rujuk.


Ferdi beringsut dari duduknya, dan mendekati Tuannya, ”maaf Tuan, tahan dulu emosinya.......ini lagi di ruang rapat, banyak mata yang melihat di sini,” bisik Ferdi.


Edward menghelakan napas  panjang “masuk dan segera duduk,” perintah Edward ke pada Ghina.


Tanpa membalas perintah Edward, Ghina dengan tenang menuju kursi kosong, yang agak jauh dari tempat Edward.


“Berhubung semua sudah hadir, maka rapat ini saya mulai,” ucap Yoga, selaku direktur hotel.


Suasana rapat manajer kali ini lumayan agak tegang karena kehadiran Presdir Hotel A, buat para manajer tiap divisi. Sedangkan buat Edward, sebenarnya pria itu agak galau, melihat istrinya duduk berdampingan dengan pria lain. Apalagi wanita itu sesekali tampak bicara dengan pria yang duduk di sampingnya. Rahang Edward mengeras ketika wanita itu mengulum senyumnya untuk pria lain, sedangkan jika mereka bertatapan tidak ada senyuman yang mengurai dari wajah Ghina, yang ada tatapan dingin yang di dapatkan pria itu.


Setiap manajer yang berbeda divisi, mempresentasikan laporan dan perencanaan kerja di depan Prsdir Hotel. Sekarang waktunya divisi keuangan yang akan presentasi di pimpin oleh Ghina sebagai manajer keuangan.


Edward sebagai Presdir Hotel, sedikit kurang yakin dan agak menyepelekan dengan kemampuan Ghina sebagai manajer keuangan, karena hari ini Edward baru tahu jika Ghina bekerja di hotelnya, dan belum lihat kemampuan Ghina, yang pria itu tahu adalah Ghina gadis bocah yang suka menantang dirinya.


Ghina mulai berdiri di depan, dengan layout screen. Terlihat tenang, tidak ada rasa gugup dan grogi, karena bagi wanita itu sudah terbiasa. Ghina mulai presentasi laporan keuangan hotel, suara lembutnya berubah menjadi tegas, tutur katanya teratur dan sistematis. Postur dan gerakan tubuhnya terlihat senada dengan mulut yang sedang berbicara.


GLEK


GLEK


GLEK


Berulang kali Edward menelan saliva dengan kasar, ternyata wanita yang pria itu sepelekan dalam bidang kerjanya......luar biasa mengagumkan. Setiap pertanyaan yang di ajukan Edward, selalu di jawab dengan jawaban yang luar biasa berdasarkan data semuanya. Semakin jatuh cintalah Edward dengan Ghina.


Edward masih menatap kagum kepada wanita yang masih berdiri di depan, sesekali bibir bawahnya digigitnya......seperti menahan sesuatu.


Selesai Ghina presentasi, gantian Edward yang memimpin untuk evaluasi kinerja Hotel A. Buat Ghina, sama dengan Edward.....melihat sisi pria itu sebagai pemimpin perusahaan secara langsung. Sama dengan Edward, wanita itu juga kagum dengan kharisma dan wibawanya......tapi sayang wanita itu tidak suka dengan sifat pria itu yang arrogant.


“Baiklah rapat hari ini sudah selesai, dan saya tutup. Sekian dan terima kasih. Karena jam kerja sudah lewat, Ibu dan Bapak di perkenankan untuk pulang,” ucap Yoga.


Edward dan Ferdi keluar ruangan terlebih dahulu, baru di ikuti oleh para karyawannya. Akan tetapi Edward menghentikan langkah kakinya pas keluar dari pintu ruangan, pria itu sepertinya menunggu seseorang.


Ternyata pria itu menunggu Ghina.....ketika wanita itu keluar ruangan, mereka sama-sama tidak bicara. Wanita itu justru mengacuhkan Edward yang masih berdiri di luar ruangan.


Ghina tidak menghentikan langkahnya, justru tetap berjalan menuju ruang kerjanya. Tanpa bertanya Edward mengikuti langkah kaki Ghina dari belakang, bagaikan anak bebek yang mengikuti induknya.


Ferdi hanya menghela napas panjang lihat tingkah Tuannya, secara pria itu harus tetap mengikuti Tuannya.


Ngapaiin Om Edward ngikutin sihhh, kayak gak ada kerjaannya...


Ghina merasa kalau Edward mengikuti langkah kakinya di belakangnya.


Ceklek....


Kenop pintu ruang kerjanya di buka oleh wanita itu, kemudian masuk.....tapi langkah kaki wanita itu tiba-tiba berhenti, dan memutar badannya ke belakang.


BUG


Edward lupa ngerem mendadak, alhasil mereka berdua terjatuh di lantai karena kehilangan keseimbangan, tubuh pria itu menin-dih Ghina. Dan bibir pria itu sudah mendarat dan menempel pas di bibir wanita itu.


Kedua netra mereka membelalak, bukan Edward namanya kalau tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan, Edward mulai menyesap dan melummat bibir sensual Ghina, wanita yang di rindukan. Wanita yang sudah lama tidak diciumnya.


Oohh my god.......batin Ferdi.


Asisten Edward, langsung mundur keluar dari ruangan, setelah tanpa sengaja melihat adegan Tuannya berciuman.


“Mmpphhhtt.....” Ghina membungkam bibirnya ketika Edward mulai melummat bibirnya, dan disesapnya.


Tak berapa lama kemudian.....


“BANGUN,” pekik Ghina, tubuhnya masih di tin-dih oleh Edward.


Bibir Edward sudah terlihat ada darahnya, di usapnya darah tersebut dengan jemarinya, lalu tersenyum tipis. Tanpa aba-aba lagi.....Edward kembali mencium bibir Ghina. Lalu bangkit berdiri.


Penuh emosi dan dada yang terlihat naik turun, Ghina bangkit dari jatuhnya, Edward sempat ingin membantunya untuk bangkit, akan tetapi ditepis oleh wanita itu.


PLAK.....


Tangan Ghina sudah mendarat di salah satu pipi Edward.


“Kamu benar benar pria breng-sek, bisa bisanya Om mencium saya!” pekik Ghina, sambil mengusap bibirnya dengan jarinya


“Silahkan tampar lagi saya, pipi yang sebelah kanan belum kamu tampar, biar hati kamu senang," ujar Edward tampak tenang.


“Pergi dari ruangan ini Pak Edward yang terhormat,” pinta Ghina dengan suara naik dua oktaf.


Dengan santainya pria itu malah duduk di sofa menghiraukan pemintaan Ghina.


“Ini hotel saya......berarti ini ruangan milik saya, dan kamu tidak berhak mengusir saya di sini,” jawab Edward  santai tapi terkesan sombong.


Ya benar ini hotel punya Om Edward, bukan hak saya mengusir di sini.


Tanpa menjawab lagi, dan menghindari perdebatan. Ghina langsung mengambil tas dan kunci mobilnya. Dan itu tertangkap oleh netra Edward.


“Kamu mau ke mana, Ghina?” tanya Edward agak bingung.


Ghina tidak menggubris pertanyaan pria itu, justru wanita itu melepaskan sepatu high heelsnya dan menentengnya, kemudian........


LAAAARIIIII


“GHINA......” teriak Edward mengejar Ghina yang sudah lari duluan menuju lift, dan sudah masuk duluan. Wanita itu tersenyum smirk sambil melambaikan tangannya ke Edward ketika pintu lift sudah tertutup.


“Sialan......dia lari lagi,” gumam Edward sambil ngos-ngosan. Melihat ada pintu darurat.....Edward langsung kembali lari menuruni anak tangga darurat, tidak mau menunggu lift......keburu Ghina menghilang di lobby.


Ferdi dengan langkah santainya tetap menunggu lift untuk turun ke lobby hotel, buang tenaga kalau ikutan Tuannya turun lewat tangga darurat. Biarkan Tuannya sendiri yang mengejar cintanya.


Dengan napas ngos-ngosan, Edward sudah sampai di lantai lobby hotel, akan tetapi.....


DEG


Kedua netra Edward melihat tak jauh dari tempatnya berdiri, ada seorang pria tak kalah tampan darinya sedang berlutut di hadapan Ghina, pria itu sedang memakaikan sepatu ke Ghina, sedangkan salah satu tangan Ghina memegang pundak pria tampan tersebut.


Hati Edward tersulut cemburu melihat adegan mereka berdua. Kedua tangannya sudah terkepal, rahangnya mulai mengeras.


.


.


apa yang terjadi selanjutnya.......