
“Dan syukurnya kamu sudah siuman, ini sedikit membuat saya tenang karena kamu termasuk pasien yang lama siumannya. Jadi untuk saat ini kamu harus berhati hati dengan jahitan di punggung, jangan sampai kena gesekan, tertindih. Biar jahitannya cepat mengering dan cepat sembuh.”
“Baik Pak Dokter, akan saya ingat pesan Pak Dokter,” Ghina membalas senyum Dokter Irfan.
Dokter Irfan masih setia menunggu Ghina menghabiskan makanannya. Tanpa putus pandangannya, Dokter Irfan terpana dengan wajah pasiennya yang terlihat cantik natural.
“Sekarang Ghina sudah kelas berapa?” pertanyaan Dokter Irfan di luar kesehatan.
“Saya baru saja lulus sekolah....Pak Dokter,” jawab Ghina.
“Ooh baru lulus, lanjut kuliah atau langsung menikah?”
“Rencana akan lanjut kuliah.”
“Oh syukurlah kalau begitu, tidak langsung menikah.”
“Kenapa memangnya Pak Dokter?” tanya Ghina.
“Berarti saya bisa kenal dekat dengan Ghina, kalau berkenan,” Dokter Irfan to the point.
Dari semalam saat dia menerima pasien untuk di operasi, hatinya berdebar debar......terpesona dengan wajah pasiennya tanpa di duganya.
Dari semua pasien yang dia tangani, baru kali ini dia merasa berdebar debar. Dokter Irfan termasuk dokter ganteng idolanya para perawat, masih jomblo di usia 30 tahun.
“Ini minum dulu air putihnya, omongan saya tadi jangan dianggap serius,” Dokter Irfan menyodorkan segelas air putih ke Ghina.
“Makasih Pak Dokter, kalau berkenalan gak pa-pa Pak Dokter, jadi bertambah temannya. Banyak teman.....banyak rezeki,” senyum tipis di bibir Ghina.
“Baiklah perkenalkan nama saya Irfan,” Dokter Irfan menjulurkan tangannya.
“Saya....Ghina,” balas Ghina menerima jabatan tangan Irfan.
“Nah sekarang makannya sudah selesai, saya akan menyuntikkan obat nyerinya.....ini akan terasa pegal di lengan ya.”
“Baik Pak Dokter.” Dokter Irfan langsung memasukkan cairan suntikan melalui infus, sambil mengelus lengan Ghina agar cepat mengalir.
“Iiisssh...,” desis Ghina merasa lengannya perih dan pegal.
“Tahan sebentar ya, ini hanya sebentar reaksinya.” Dokter Irfan masih mengelus lengan Ghina.
“Terima kasih banyak Pak Dokter.”
“Sama sama, kalau begitu saya kembali bertugas. Nanti kalau ada yang di rasa, langsung pencet tombolnya,” pinta Dokter Irfan.
“Siap Pak Dokter," balas Ghina, Dokter Irfan meninggalkan kamar rawat Ghina.
“Non Ghina, mau berbaring atau mau duduk dulu,” tawar Ria.
“Duduk dulu sebentar."
“Mbak Ria, boleh minta tolong pulang sementara ke mansion, kemasin baju baju saya dan bawa ke sini.”
“Bisa Non tapi—,”
“Baju siapa yang akan di kemas!” suara bariton Pria terdengar begitu lantangnya.
Ghina dan Ria seketika menoleh ke arah suara itu berada. Berdiri tegak Edward tak jauh dari ranjang Ghina.
“Cepat kemasi baju serta barang barang saya dan segera bawa ke sini Mbak Ria,” pinta Ghina, mengacuhkan pertanyaan Edward.
Paper bag yang di bawa Edward, di lemparkannya ke arah sofa. Lalu mendekatkan dirinya ke ranjang Ghina.
“Ria kalau kamu sampai berani mengemasi barang Ghina dan membawanya ke sini. Saya tak akan segan memulangkan kamu ke kampung.”
Sungguh posisi Ria jadi serba salah karena ancaman dari Tuan Besar.
“CIH.......selalu suka mengancam orang,” ujar Ghina memalingkan wajahnya dari tatapan Edward.
“Masih kurang'kah menyiksa saya Om Edward, kau benar benar lelaki be-jat tak punya hati!” tanpa rasa takut berkata buruk.
“Ya.....saya masih kurang menyiksamu!” balas Edward.
“Oh seperti itu, Om Edward masih belum puas menyiksa saya. Oke baik kalau begitu!” Ghina coba memaksakan diri untuk bangkit dari ranjangnya, dan berdiri di samping nakas, Edward hanya memandangnya.
Dijatuhkannya mangkok bubur bekas dia makan ke lantai, lalu membungkukkan dirinya mengambil sesuatu di lantai.
“Ini OM ambillah.....!” Ghina menyodorkan pecahan mangkok yang ukurannya lumayan besar, dan sisinya terlihat tajam, tergores dikit pasti akan terluka.
“Ayo ambil Om Edward, bagian tubuh Ghina mana lagi yang ingin Om siksa!” Edward tak bergeming ketika Ghina menyodorkan pecahan beling ke hadapannya.
“Sekarang baru punggung yang terluka, atau Ghina harus mati di depan OM, BIAR HATI OM EDWARD PUAS!” kata Ghina dengan tatapan tajamnya bagai burung elang versi betina.
“Non Ghina.......jangan Non,” ucap Ria berusaha menggagalkan niat Ghina.
Ghina sudah mengarahkan pecahan beling yang terlihat tajam ke bagian pergelangan tangannya sendiri.
“Entah dosa apa di masa lalu Ghina terhadap Om, hingga Om Edward membenciku. Semua yang Om pinta sudah ku turuti. Sekarang saya minta diceraikan, Om malah menyiksaku. Inikah yang Om pinta sekarang!” Ghina mulai menggoreskan beling tersebut tanpa ada rasa takut untuk melakukannya.
“NON GHINA......!” pekik Ria sembari menutup ke dua matanya.
“Aaahhhh......!” Edward langsung meraih pecahan beling itu dari tangan Ghina.
“JANGAN KONYOL KAMU......GHINA!” langsung di raihnya tubuh Ghina.
“JANGAN LAKUKAN HAL KONYOL GHINA!” pekik Edward sambil mendekap tubuh Ghina. Salah satu tangan Edward masih menggenggam pecahan beling yang diraihnya dari Ghina, sampai muncul darah dari telapak tangannya sendiri karena menahan amarahnya.
Hati Edward gamang saat ini, tidak karuan rasanya. Bukan hal ini yang dia inginkan sebenarnya, dan entah kenapa juga dia selalu emosi, marah jika menghadapi Ghina wanita pilihan papa nya. Dan wanita yang di hadapinya selalu tidak takut akan dirinya, selalu menantangnya, serta tidak mencari kesempatan untuk bersikap lembut, merayunya, membuatnya jatuh cinta seperti wanita kebanyakan yang dikenalnya.
Ria bernapas lega, Ghina terselamatkan dari hal yang bodoh dan gila.
“Hik......hik......hik.....!” napas Ghina sedikit berbunyi di dalam dekapan Edward.
Edward mengurai dekapannya sedikit tidak terlalu di lepasnya. Wajah Ghina semakin pucat, terlihat agak susah bernapas.
“Ria tadi Ghina habis di kasih obat apa?” karena sebelum dia masuk ke kamar rawat inap, Edward sempat melihat Dokter Irfan keluar dari kamar Ghina
“Baru saja di suntik obat nyeri Tuan sama Dokter.”
“Obat nyeri! Panggil Dokter secepatnya Ria. Ghina sesak napas! Dan sekalian panggilkan cleaning service untuk membersihkan pecahan ini!”
Sepengetahuan Edward, obat nyeri bisa memicu kambuhnya asma bagi orang yang punya penyakit asma.
“Ba---baik Tuan,” Ria berlari keluar ke tempat dokter, dia lupa padahal tinggal di pencet tombolnya.
Edward mengangkat Ghina ke atas ranjang, tapi tidak bisa dibaringkan, hanya duduk. Kepala Ghina di biarkan menyandar di dadanya, agar sedikit mudah bernapas.
Ghina sudah pasrah bersandar di dada Edward, karena kalau dia berbaring....maka makin susah dia bernapas.
“Tenanglah ambil napas pelan pelan, dokter sebentar lagi ke sini,” ujar Edward pelan.
Dokter Irfan tergopoh gopoh masuk ke kamar rawat. Melihat wajah Ghina yang terlihat pucat langsung di hampirinya.
“Ghina sesak napasnya kambuh,” ucap Edward.
“Punya riwayat asma?” tanya Edward.
“Ya..," jawab Edward.
Dokter Irfan langsung mengecek saturasi oksigennya ternyata di bawah 80%.
“Boleh saya ambil alih pasiennya Pak Edward?” pinta Dokter Irfan.
Ada rasa tidak rela Edward melepaskan dirinya dari Ghina.
Dokter Irfan menyetel tabung oksigen yang sudah standby di samping ranjang dan memasang selang oksigen ke hidung Ghina.
Berhubung punggung Ghina tidak bisa menyandar ke headboard ranjang karena luka punggungnya. Dokter Irfan sekarang memposisikan dirinya sebagai sandaran dari samping untuk Ghina. Seperti yang Edward lakukan sebelumnya.
.
bersambung
note : Kakak Reader besok saya agak telat up nya ya, ada deadline buat laporan keuangan. Jadi malam ini saya tambah up lagi buat Kakak reader yang cantik dan ganteng. Stay tune ya, jangan lupa tinggalin jejaknya.
Love you sekebon 🌹🌹🌹