Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Jangan coba lawan Ghina


"Edward mohon pah, kembalikan istri Edward.”


“Di sini tidak ada istrimu, bukannya istri kamu ada di mansion kamu sendiri,” balas Papa Zakaria, terlihat geram. Melihat sosok pria yang semena-menanya telah menyiksa anaknya secara fisik maupun verbal.


“Bang Zaka, tolong maafkan saya......yang sudah berlaku kasar sama anak abang. Saya khilaf Bang,” ucap Edward sambil menangkup kedua tangannya.


“Kamu bilang khilaf, tapi sampai meninggalkan luka di punggungnya, lalu di keningnya. Lalu di dalam hatinya ..... dan itu semua kamu bilang khilaf!” seru Papa Zakaria.


“Orang tua mana yang tidak akan sakit hati melihat anaknya di siksa oleh suaminya sendiri. Kali ini abang benar-benar tidak bisa memaafkan kelakuan kamu!!”


“Robby, Bobby, Jack......bawa Ghina segera ke mobil!” perintah Opa Thalib.


“Kalian halangi mereka semua jangan sampai istri saya, di bawa kembali,” perintah Edward kepada ajudannya, setelah mendengar kata Opa Thalib.


“SEBENTAR.....!” suara Ghina sedikit meninggi, hingga semua orang berhenti bergerak. Ghina menepis genggaman tangan mama Sarah.


Ghina mengambil beberapa langkah ke depan dengan anggunnya, agar dekat dengan Edward tapi tidak terlalu dekat, hanya berjarak dua meter yang memisahkan mereka berdua. Ajudan Opa tetap di samping Ghina.


“Apakah saya salah dengar Om Edward, betul kata papaku. Istri Om Edward ada di mansion Om sendiri, dia tidak ada di sini!” suara Ghina terdengar sangat lantang dan tegas di telinga Edward.


“Kamu tidak salah dengar, istri saya memang ada di sini. Dan dia ada di hadapan saya sekarang,” Tegas Edward, hati kecilnya senang Ghina kembali menantangnya seperti biasa.


“Woow luar biasa, selamat kalau begitu silahkan....... mencari istri Om,” balas Ghina.


Edward ingin meraih tubuh Ghina, namun sayang salah satu ajudan opa sudah menghalaunya.


“Ghina Farahditya, istriku.........Ghina Farahditya istriku.....” teriak Edward dengan lantangnya.


“Saya bukan istrimu, ingat itu!! Nama istrimu Kiren Lestari, bukan Ghina Farahditya. Om Edward jangan bikin lelucon di sini, ini tidak lucu. Om Edward masih ingat  dengan ucapan yang pernah dilontarkan kalau saya hanyalah SAUDARA, LALU PELAYAN!!” sahut Ghina dengan tatapan sinisnya.


Dari kejauhan Ghina melihat sosok wanita yang dikenalnya semakin mendekat ke arah mereka.


“Sayang......Kak Edward,” suara wanita itu terdengar lemah lembut, memanggil Edward.


Kiren tadi pagi sengaja menguping pembicaraan Ferdi dengan suaminya dari luar kamar tamu. Setelah mendengar kata Ghina akan ke rumah sakit, Kiren memutuskan untuk menyusul ke rumah sakit menggunakan taksi.


“WOW........ternyata kalian memang pasangan serasi dan sehati. Suami mencari istrinya, ternyata benar istrinya ada di sini,” celetuk Ghina.


Edward memutarkan tubuhnya ke belakang, terlihatlah wajah Kiren yang terlihat lesu.


“Silahkan Mbak Kiren, suaminya sedang mencari....!” seru Ghina.


Edward kembali menoleh ke arah Ghina berada.


“Ghina Farahditya, istriku....!” Edward kembali berseru.


“Sayang, aku istrimu yang sesungguhnya......Kiren Lestari istri yang kamu cintai bukan Ghina Farahditya. Kak Edward sudah berjanji padaku akan menceraikan Ghina. Dan akan menjadikan istri satu-satunya,” ucap lirih Kiren, dengan menatap sinis ke arah Ghina.


“Tutup mulut kamu Kiren, siapa yang menyuruhmu ikut campur masalahku dengan Ghina!!” tegur keras Edward.


“Om Edward sudahlah tidak usah berteriak dengan istrimu, dengarlah keluhan istri tercintamu. Yang sangat mencintaimu. Jadi pria jangan serakah dan egois, ingatlah masa indah Om Edward bersama mbak Kiren. Sekarang Om Edward hanya terobsesi dengan saya........tidak lebih, bukan seperti Om Edward dengan mbak Kiren yang saling mencintai. Dan ingat Om, tidak ada wanita yang ingin diduakan, atau dipoligami. Rendahkan egomu.......berbahagialah dengan mbak Kiren,” ucap Ghina pelan.


“Diam kamu Ghina, jangan menceramahi saya!” geram Edward, hati pria itu rasanya makin gila dibuat Ghina. Bisa bisanya gadis dihadapinya membiarkan dia dengan wanita lain walau itu istrinya juga.


“Saya datang ke sini menjemput istri saya Ghina Farahditya yaitu kamu!!” tegas Edward memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya lebih dekat ke Ghina.


“Saya tidak peduli, Papa atau Bang Zaka melarang atau menghadang saya untuk menjemput istri saya Ghina!”


“Sayang, jika Ghina sudah tidak mau kembali jangan di paksa. Ingat masih ada aku istri kamu, yang membutuhkan kamu, bukan Ghina. Ceraikanlah Ghina, Kak Edward!” Kiren mulai ingin menitikkan air matanya. Rasanya sakit melihat suami mengejar wanita lain, walau wanita itu istri sahnya.


Langkah Edward semakin dekat ke arah Ghina, segala ucapan yang keluar dari mulut Kiren di acuhkannya, tidak peduli.


“Hadang mereka semua, jangan sampai mereka menyentuhku sedikitpun. Terutama pria itu,” tunjuk Ghina dengan wajah kerasnya kepada Edward. Dengan tegasnya Ghina memerintahkan ajudan Opa Thalib.


Para ajudan segera menahan Edward secepat mungkin.


Edward tidak menyangka wajah cantik Ghina bisa terlihat menyeramkan seketika. Gadis itu tak pernah gentar menantang dia.


“Kalian semua bawa istri saya Ghina, sekarang juga ke mobil!!!” perintah Edward yang tubuhnya masih di pegang ajudan Opa, melawan Ghina.


“Berani kalian menyentuh saya, maka Tuan Besar kalian, saya laporkan ke kantor polisi atas KDRT, hasil visum sudah ada di tangan saya. Jadi silahkan jika kalian menuruti perintah Tuan Besar kalian!” ancaman dengan tegasnya, saat ajudan Edward mulai mendekatinya ingin meraih lengannya. Mendengar perkataan Ghina, langkah kaki mereka langsung berhenti.


Ghina dengan senyum smirknya berlalu dari Edward.


“Jangan pernah Anda berpikir bisa memperlakukan saya semena -mena!! Sampai bertemu di pengadilan nanti!” seru Ghina, berhenti di samping Edward.


“Ingat di sampingmu sudah ada istri tercintamu KIREN!!” dengan ketusnya Ghina berkata.


“Sampai kapan pun, saya tidak akan menceraikan kamu.......Ghina. Ghina Farahditya tetap istri saya sampai kapanpun!!” teriak Edward, dengan suara lantangnya. Hingga semua orang mendekati mereka, ada beberapa dari mereka merekam kejadian ini dengan ponselnya.


Ghina hanya bisa melambaikan tangannya ke Edward tanpa menolehkan wajahnya.


“Lepaskan, dasar ajudan bodoh!!!” kedua lengannya masih di tahan. Sedangkan ajudan Edward tidak banyak membantu, karena menghargai para pasien yang berada di dekat mereka, untuk tidak membuat keributan.


Begitupun Kiren tidak bisa membantu suaminya yang masih ditahan beberapa ajudan Opa Thalib, malah sedang terisak-isak, mendengar suaminya tidak akan menceraikan Ghina.


Opa Thalib, Oma Ratna, Mama Sarah dan Papa Zakaria ikut berlalu juga, mengejar Ghina yang sudah berjalan meninggalkan mereka.


BUGH !!!


BUGH !!!


Terjadilah sudah baku hantam, dengan sekuat tenaga Edward melumpuhkan kedua ajudan papanya, di bantu ajudan Edward. Pria itu sudah tidak perduli lagi dengan sakit di tubuhnya. Lepas dari ajudan papanya, pria itu langsung berlari mengejar Ghina, ajudan Edward pun mengikutinya.


Turun melalui tangga darurat, lalu segera ke lobby utama, mata elangnya melihat Ghina baru masuk ke dalam mobil. Larinya pun semakin cepat.


“Ghina..........keluar Ghina......Kita pulang Ghina.......ke mansion kita,” Edward mengedor-gedor kaca mobil yang ditumpangi Ghina.


“Ghina.....saya minta maaf, kembalilah istriku.....!” mohon Edward, matanya sudah mulai memerah.


.


.


bersambung...


Note: Kakak Readeras besok agak telat upnya ya, mau bersemedi dulu cari ilham 😁😁😁. Thanks buat Kakak Readers yang cantik dan ganteng, sudah mensupport, semoga sehat selalu.


Love You sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹