Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Kenalan sama si Jon


Wangi semerbak bagaikan kamar pengganti menguar di ruang rawat Ghina. Dekorasi bunga masih terlihat segar dengan nuansa putih yang menandakan arti suci dan bersih.


Tangan besar pria itu merangkul lembut pinggul sang wanita, sesekali merematnya dengan rasa gemas yang penuh gelora malam ini. Malam pengantin baru untuk pasangan ini, walau sebenarnya mereka pasangan lama tapi belum merasakan satu sama lain, menikmati syahdunya malam pengantin baru seperti orang kebanyakan.


Kecuali Edward pernah merasakan malam pertamanya, melepas keperjakaannya pada wanita yang tidak tepat. Akan tetapi semua sudah berlalu.


Edward adalah pria pertama kali yang mencium Ghina, dan pria itu adalah suaminya, walau tadi siang Rafael sempat mencium bibir Ghina.


Pria itu bagaikan orang yang sedang kehausan di padang pasir, kemudian menemukan air yang membuat dahaganya terisi dengan rasa manis di bibirnya. Memberikan lu-matan lembut kepada sang pujaan hati, menyelusup ke dalam rongga mulut, dan menyesap semua rasa di dalamnya, hangat dan manis.


Wanita itu tersulut dengan sesapan sang suami yang begitu lembut, tapi tersirat akan gairah di setiap lu-matannya, awal balasan ciuman yang kaku, namun seiringan secara natural wanita itu bisa membalas pagutan sang suami, dan membuat sang pria semakin berhasrat dan menuntutnya untuk lebih dari sekedar ciuman yang bergairah.


“Aku menginginkanmu, istriku,” ucap Edward sesaat melepaskan pagutannya, dengan napas yang terengah-engah.


PUG


Pukulan kecil melayang di lengan kekar Edward.


“Kok aku di pukul, honey,” ujar Edward kaget.


“OM itu ngimana sih, gak ngelihat apa punggungku masih sakit. Kepalaku ada plester. Terus kita ada di rumah sakit. Jangan ngada-ngada deh Om Edward!” Seru Ghina.


“Aku kan cuma bilang menginginkanmu, bukan.....”


“Bukan apa ayo, coba di perjelaskan maksudnya?”


“Maksudnya......itu.......aku mau makan kamu.....mau minta hakku sebagai suami,” jawab Edward pelan.


“Boleh gak?” sambung tanya Edward.


“NO.......tidak boleh. Om Edward ke pengen ya lihat punggungku tambah sakit ya. Inikan gara-gara Om sendiri, aku jadi cedera. Coba kalau Om berhenti, aku kan gak bakal terluka kayak begini!!” omel Ghina.


“Maaf honey, iya aku ngerti......maaf sekali lagi ya. Aku benar-benar bergairah saat mencium kamu, sampai si Jon sudah tegang,” ucap Edward.


“Si Jon......si Jon siapa Om, di sini kan hanya kita berdua?” kedua netra Ghina melirik ke belakang punggung Edward.


Edward meraih tangan Ghina dan mengajaknya untuk memegang sesuatu yang sudah tegang di balik celana bahannya “kenalkan ini si jon, junior nama lengkapnya,” bisik Edward.


Seketika kedua mata Ghina membelalak saat diperkenalkan dengan si Jon, sentuhan awal di bagian inti sang suami, yang terasa keras tapi tidak sekeras batu.


“Astaga Om Edward.......!” terkaget saat menyentuhnya, dan segera melepaskan sentuhannya.


“Dia milikmu seorang, honey,” ujar Edward dengan tatapan penuh gairah.


“Tapi tidak sekarang OM EDWARD,” jawab Ghina sedikit kesal.


“Iya honey, aku akan sabar menunggumu. Selama empat tahun aja aku sabar puasa menunggu kamu, apalagi sekarang.....di suruh puasa lagi ya sudah......puasa lagi!”


Ghina meletaknya tangan di atas pipi Edward, dan mengelus lembut “orang sabar di sayang Tuhan. Jadi harus sabar ya suamiku yang ganteng ini.”


“Aku juga mau di sayang sama istriku yang cantik ini,” manja Edward.


“Nih udah aku sayang-sayang, udah aku elus-elus pipinya,” jawab Ghina sambil terkekeh kecil.


“Honey mau lagi, sekali lagi ya.......habis itu kita tidur,” rayu Edward.


“Om, bibirku udah berasa kebas....dan kayaknya bengkak,” tolak halus Ghina.


“Gak bengkak kok, cuma tambah sexy aja,” balas Edward, jarinya sudah menyentuh bibir Ghina. Dan bibirnya kembali melabuh ke bibir wanita itu.


Kali ini Edward melahapnya dengan rakus, seakan ada dorongan untuk menuntaskan si Jon yang sedari tadi memberontak untuk di keluarkan. Suara decakan -decakan akibat pagutan mereka berdua bagaikan alunan musik dalam ruang rawat, untung tidak ada yang masuk ke dalam.


“A-Aku......sudah gak sanggup, honey,” ujar Edward dengan deru napas yang berat, ketika melepas pangutannya.


Ghina yang di tinggal oleh Edward, hanya bisa melongo aja, melihat Edward terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi.


Tanpa menunggu waktu lama suara lenguhan Edward terdengar jelas di kamar mandi.


“Aaakhhh.....honeyku.....Ghina,” de-sahan  panjang dari mulut Edward, saat pelepasannya ketika nikmatnya sudah memuncak.


Ghina yang mendengar suara Edward bikin merinding disko, dan wanita itu memutuskan untuk tidur saja dari pada mendengarkan suara de-sahan panjang yang berasal dari kamar mandi.


Edward kembali membersihkan dirinya lagi untuk kedua kalinya di malam hari, tanpa memakan waktu lama.


“Ya.....dia sudah tidur,” gumam Edward selepasnya selesai dari kamar mandi.


Pelan-pelan pria itu kembali merebahkan dirinya di samping istrinya yang sudah terlelap, agar tidak terbangun.


“Selamat tidur, istriku....,” ucap Edward, kemudian mengecup kening Ghina. Kemudian pria itu turut memejamkan matanya, menyusul istrinya yang sudah duluan ke alam mimpi.


🌹🌹


Pagi hari....


Sinar matahari mulai muncul menyinari indahnya pagi hari, cahaya matahari pagi menyelusup ke dalam celah celah tirai yang berada di dalam ruang rawat.


Sinar itu menyapa di ke dua netra pasangan suami istri yang masih terlelap dalam tidurnya, tangan sang pria terlihat begitu posesif, merangkul pinggul sang istri. Kelopak mata Ghina mulai mengerjap-ngerjap, dan sedikit memicing matanya untuk beradaptasi dengan cahaya yang masuk dalam ruangannya.


Wanita itu  kemudian mendongakkan wajahnya, melihat wajah tampan suaminya yang masih terlelap.


“OM.......bangun,” suara Ghina terdengar serak.


“OM..........bangun...,” ujar Ghina sambil mengelus rahang Edward.


“Mmmm.......,” gumam Edward, mulai mengerjapkan kedua kelopak matanya.


“Morning.....babyku,” jawab Edward dengan suara beratnya.


“Om, aku mau ke kamar mandi, udah gak tahan nih,” keluh Ghina.


“Sebentar, tahan dulu honey,” Edward mengumpulkan nyawanya dulu, karena baru bangun tidur. Kemudian bangun dari tidurnya, dan duduk sebentar.


Pria itu meraih langsung meraih kantong infus dari tiangnya.


“Honey, tangannya rangkul di leher aku, sekarang,” pinta Edward, dan wanita itu menurutinya.


Pelan-pelan Ghina bangun dari pembaringannya. Edward langsung menyikap selimut yang di pakai Ghina.


“Tetapa rangkul leher aku ya, honey,” pinta Edward.


“Ya Om.”


Edward menarik pinggul Ghina agar ke tepi ranjang, lalu membuka lebar kedua paha Ghina.


Kemudian.....hap.....


Jadilah Edward mengendong Ghina bagaikan baby koala, mengantar Ghina ke kamar mandi. Wajah Ghina memerah saat di gendong ala baby koala oleh Edward, merasakan buah dadanya bersentuhan dengan dada kekar Edward. Sedangkan Edward kembali merasakan si Jon tegang kembali, akibat kedua inti tubuh Edward dan Ghina bersentuhan dan sedikit ada gesekan.


.


.


ups.......malam pengantinnya gagal 🤭, sabar ya