
Tanpa menunggu waktu lama, Dokter pribadi sudah datang dengan salah satu perawat dengan membawa beberapa alat medis.
Edward langsung di cek Dokter Rio “Pak Edward tensinya sedikit naik 150/90, dan tubuhnya kurang cairan, mengalami dehidrasi. Apakah Pak Edward jarang makan?” tanya Dokter Rio.
“Ya sudah beberapa hari Tuan Besar kurang nafsu makan,” jawab Ferdi.
“Dan Pak Edward sepertinya dalam tekanan stres, hingga bisa menjadi penyebab beliau pingsan, untuk penanganannya saya akan infus Pak Edward, agak tubuhnya cepat pulih,” ucap Dokter Rio.
“Silahkan Dokter, saya menyerahkannya ke Dokter, untuk memulihkan kesehatan Tuan besar,” jawab Ferdi, mempersilahkan jika Edward butuh ditindak lebih lanjut.
Oooh Tuan Edward, di mana jiwa arogantmu, di mana jiwa kerasmu, di mana kekuatan tubuhmu yang selalu di jaga. Ternyata sekuat-kuatnya Tuan, bisa terjatuh dan rapuh karena surat pengadilan agama!! Terjatuh karena seorang gadis kecil yang baru Tuan sadari.......
Kupikir seorang Kiren yang bisa membuatmu rapuh dan terjatuh, ternyata gadis kecil yang pernah Tuan sakiti membuat Tuan rapuh dan terjatuh.
Tahukah Tuan, yang sekarang Tuan rasakan......adalah kesakitan gadis kecil itu. Kesakitan di lubuk hatinya.
Tiga puluh menit kemudian pria itu mengerjap ngerjapkan kelopak matanya, lalu melihat tempat di sekelilingnya.
“Akhirnya Tuan sadar juga,” ujar Ferdi beramjak dari duduknya, dan menghampiri Edward, termasuk Dokter Rio.
“Apa yang sekarang Pak Edward rasakan?” tanya Dokter Rio.
“Agak pusing, sakit kepala.....dan badan sedikit lemas,” ungkap Edward, sambil memijat keningnya.
“Tensi Pak Edward sedikit naik, dan mengalami dehirasi jadi membuat tubuh lemas. Nanti akan ada obat yang harus di minum, dan sekarang Pak Edward sudah saya infus, untuk segara menggantikan cairan yang hilang.” Ujar Dokter Rio.
“Terima kasih Dokter,” jawab Edward dengan suara pelannya.
“Dan satu lagi jangan banyak pikiran, sepertinya Pak Edward mengalami tekanan hingga timbuk stres, hal itu harus di manage oleh pikiran Pak Edward sendiri,” masukkan dari Dokter Rio.
Bagaimana Tuan enggak stres Dokter, dalam satu hari dapat berita yang tidak mengenakkan, di tambah lagi cari istri pertamanya.....batin Ferdi.
“Iya Dok,” jawab singkat Edward.
“Tuan sebaiknya, makan dulu biar bisa minum obatnya,” ucap Ferdi dengan membawa nampan yang sudah berisi makan siang yang sudah terlambat.
Edward bangun dari tidurnya, dan menyandarkan punggungnya ke headboard ranjang, kemudian Ferdi menaruh nampan dekat sisi Edward yang kosong.
“Perlu saya bantu Tuan, atau Tuan bisa makan sendiri?” tawar Ferdi.
“Tidak......saya bisa sendiri,” jawab Edward, langsung mengambil piring yang sudah berisi nasi dan lauknya. Pria itu menghela napas panjang, sebelum memulai makan, mencari nafsu makannya yang sudah hilang. Kemudian di sendoknya nasi berserta lauknya ke mulutnya.
Sambil makan pria itu tersenyum kecut, tak menyangka jika dirinya bisa tiba-tiba jatuh pingsan. Ingatan pria itu kembali ke masa lalu, saat melihat Ghina menari, tak lama kemudian terjatuh tak sadarkan diri, kala itu hatinya cemas tapi semuanya tertutupi dengan sikap dinginnya.
“Tuan, perlu saya kabari ke istri Tuan kah, jika Tuan sakit dan memintanya ke sini untuk menemani Tuan,” celetuk Ferdi yang sangat asal, sudah tahu Tuannya lagi ada masalah dengan kedua istrinya.
“Ya kabari ke Istri saya......Ghina,..minta istri saya ke sini, menemani saya di sini,” jawab Edward dengan sorot mata yang tajam, sungguh pria itu tidak suka dengan olokkan asisten pribadinya.
Ferdi lantas terdiam atas jawaban dari Tuannya.
“Kenapa kamu diam, ayo cepat kabarin keadaan saya pada Ghina. Bawa Ghina ke sini.......bisa gak!!!” seru Edward.
“Maaf Tuan, maksud saya.......istri Tuan yang ada di mansion,” balas Ferdi.
“Hufft..........,” Edward meraup kasar wajahnya, lalu menghentikan makannya.
“Ini bawa piringnya, dan mana obat yang harus saya minum,” pinta Edward.
Setelah minum obat, Edward kembali beristirahat. Sepertinya Edward hari ini benar benar harus mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
🌹🌹
Keesokkan hari
Yogyakarta
Ghina setelah menyelesaikan sarapan paginya , sibuk berkutat di dapurnya dengan bahan-bahan kue yang kemarin di beli di pasar serta alat pembuat kue.
Beberapa loyang kue sudah di olesi mentega oleh Ria, sedangkan Ghina masih sibuk mengadoni bahan kuenya.
“Non Ghina, bikin kue sebanyak ini buat siapa?” tanya Ria sambil merapikan loyang kue.
“Ini mau di bagikan ke tetangga terdekat, sebagai tetangga baru kita belum sempat berkenalan. Jadi sambil silaturahmi, sekalian memperkenalkan cake buatan saya, sekalian promosi,” ucap Ghina, dengan mengular senyumannya.
Di dalam pikiran gadis itu, dia akan melanjutkan usaha menerima pesanan cakenya di tempat tinggal dia sekarang, dan ada rencana gadis itu ingin mengembangkan hobinya menjadi usaha bisnis dia sendiri.
Mumpung perkuliahan belum di mulai, masih sekitar dua minggu lagi, jadi gadis itu memanfaatkan waktu luangnya untuk gencar promosi di mulai dari sekitar lingkungannya.
Ria baru kali ini melihat nona mudanya baking, terlihat begitu terampil mengolah bahan, tidak menyangka masih muda sudah pintar bikin cake. Dan menurut Ria, cake buatan gadis itu memang enak, walau baru sekali menyicipinya.
Adonan cake sudah jadi, oleh gadis itu di tuangnya adonan tersebut ke berapa loyang yang sudah siap. Kemudian di masukkan ke dalam oven, satu persatu.
“Nah sudah beres, tinggal nunggu di oven........nunggu giliran ya,” gumam Ghina pada para loyang yang ada di meja dapur.
Ria hanya menggelengkan kepalanya melihat Ghina lagi bicara sama loyang-loyangnya. Ria kembali melanjutkan pekerjaannya, memasak untuk makan siang dan makan malam.
Sambil menunggu ke matangan cakenya dalam oven, Ghina duduk manis di meja dapur, sambil menyesap minuman coklat hangatnya.
“Nikmatnya......,” gumam Ghina menikmati coklat hangatnya yang sudah masuk ke dalam tenggorokannya.
“Semoga cakeku nanti banyak yang suka dan banyak yang pesan,” gumam Ghina sendiri, sembari menatap oven.
“Amin, semoga terkabul non,” sahut Ria, menimpali ucapan Ghina yang sedang bicara sendiri.
Jika dipikir-pikir keadaan keuangan Ghina sekarang jauh dari kata lebih baik atau berlebihan. Karena ada bantuan dana dari Opa Thalib. Tapi tidak membuat gadis itu berdiam diri, hanya duduk manis menerima bantuan tanpa berusaha, itu bukan tipe gadis itu.
Sejak duduk di bangku SMK, gadis itu sudah mulai menekuni hobbynya membuat kue, dengan modal dua ratus ribu dari mama Sarah untuk membeli bahan kue, gadis itu belajar membuat kue dengan bimbingan video di youtube, buku resep kue yang dia beli. Mencoba buat, lalu di ujilah rasa cakenya, kemudian di kembangkan. Hingga rasa dan tampilan cake yang diinginkan pas, dan layak dijual. Itulah awal mula gadis itu mulai menerima pesanan cake di rumahnya.
Ting......timer oven sudah berbunyi, tanda cake untuk di keluarkan, bergantian dengan adonan yang siap masuk ke oven.
“Alhamdulillah.....cakenya mengembang,” gumam Ghina. Ria ikutan melirik ke oven.
“Mantap non.....,” sahut Ria.
Berkutat selama empat jam di dapur, membuat Ghina tersenyum merekah. Dua puluh cake keju ukuran kecil sudah selesai semua. Dan sudah dikemas cantik dalam mika khusus cake.
“Masya allah, luar biasa enak banget Non cake kejunya, lembut......malted banget......ini pasti banyak yang pesan,” puji Ria, yang masih mengunyah cake buatan Ghina sampai bibirnya belepotan dengan keju.
“Amin......semoga...” balas Ghina. Gadis itu memang sengaja membuat cake yang berkelas, menyesuaikan lingkungan rumahnya yang termasuk elit. Ya semoga saja ini jadi awal gadis itu memulai bisnisnya kembali. Meraih impiannya kuliah sambil menjalankan usahanya .