
Edward berusaha menggenggam tangan Ghina, namun berulang kali di tepis oleh wanita itu. Mereka berdua sekarang sudah berada di lobby hotel, Ferdi terlihat sudah menunggu di luar lobby di depan mobil merah.
Semua mata karyawan memandang ke arah Edward dan Ghina yang sedang jalan berdampingan, gosip kemarin sudah tersebar dan menjadi perbincangan hangat bagi sesama karyawan, dan itu tidak bisa di elakkan. Edward masih tidak putus asa, tidak dapat memegang tangan Ghina, dirangkulnya pinggang wanita itu, untuk menunjukkan kepemilikan pria itu.
Ghina hanya bisa mendengus kesal dengan tingkah laku Edward.
“Sayang......,” ucap Edward.
“Jangan panggil aku sayang, aku gak suka,” ketus Ghina.
“Cinta.........,” panggil Edward.
“Iiiiissssh.........cinta. Cinta dari hongkong,” balas Ghina.
“Cintaku......masuk ke mobil......gak usah masam begitu mukanya,” goda Edward, dengan mempersilahkan Ghina masuk ke dalam mobil yang sudah di buka pintunya oleh Edward.
“Pakai mobilku saja,” jawab Ghina menolak masuk ke dalam mobil mewah yang sudah terparkir rapi di luar lobby.
“Kamu jadi mau pulang, atau kita kembali ke kamar. Kamu pilih yang mana?” balas Edward.
Ghina bersedekap dengan melipat kedua tangan di dada,”selalu saja Om memaksa, maksa dan memaksa....Apa memang Om hobinya memaksa!!” gerutu Ghina, dengan sorotan mata tajamnya.
“Lalu Cintaku...... hobinya melawan, melawan dan melawan dari dulu....!!” balas Edward dengan mengikis jaraknya antara mereka dan mencondongkan wajahnya. Terlukis senyum smirknya di wajah tampan itu.
“Masuk ke dalam mobil, atau aku lummat bibir sensualmu itu di sini.......di depan karyawan kita. Biar karyawan kita tambah yakin jika kamu memang benar istriku,” ancam Edward dengan bisikan lembutnya pas di daun telinganya.
Refleks salah satu tangan Ghina menutup mulutnya masuk ke dalam mobil. Edward tersenyum tipis, melihat wanita itu menurutinya. Pria itu menyusul masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Ghina.
Sebelum mobil berjalan, Ghina memberitahukan alamat rumahnya ke pada sopir, sebelum Edward bertanya. Kemudian mobil mewah yang di tumpangi Edward dan Ghina, meninggalkan hotel A.....melaju ke rumah Ghina.
Sepanjang perjalanan ke rumah Ghina, Edward tidak memalingkan tatapannya ke arah Ghina yang berada di sampingnya, sedangkan wanita yang ditatapnya malah mengacuhkannya.
“Ghina sebelum sampai ke rumah, ada yang mau dibeli gak, biar kita mampir dulu ke supermarket?” tanya Edward.
“Gak usah,” jawab Ghina, menoleh sebentar ke arah Edward. Lalu kembali menatap jendela.
“Sepertinya pemandangan jalan di luar lebih menarik, ke timbang memandang suami tampannya yang ada di sampingnya,” gerutu Edward kesal, yang sedari tadi di acuhkan.
“Ya lebih menarik lihat jalanan, ketimbang lihat pria yang egois, tukang paksa, tukang mengancam,” sahut Ghina tanpa menatap pria itu.
“Tapi aku suka dengan wanita yang sering melawanku, sering menantangku...agak galak tapi makin cantik yang berada di sampingku. Buatku tambah jatuh cinta,” balas Edward.
“Lebay........,” sahut Ghina.
Ferdi yang duduk di sebelah sopir, menoleh sebentar ke belakang, gara-gara mendengar perdebatan Edward dan Ghina.
Kucing kalau ke temu sama tikus....begini nih gak ada yang mau mengalah...bisa-bisa gak selesai-selesai!!.......batin Ferdi.
Sekitar empat puluh lima menit mobil mewah sudah terparkir di depan rumah Ghina. Edward duluan keluar dari mobil, baru di susul oleh Ghina.
Edward melihat tampak depan bangunan rumah yang ditempati Ghina, buat ukuran orang biasa sudah termasuk rumah mewah. Tapi hati Edward teriris, seharusnya istrinya tinggal di rumah yang lebih mewah lagi dengan kekayaan yang dia miliki.
“Sudah berapa lama kamu tinggal di sini,” tanya Edward.
“Sudah empat tahun, rumah ini Opa yang membelinya,” jawab Ghina.
“Maafkan aku, harusnya kamu tinggal mansion......maafkan aku,” ujar Edward.
“Itu sudah masa lalu Om Edward, tidak perlu di ungkit kembali,” balas Ghina.
“Terima kasih Om Edward sudah mengantar, silahkan kembali ke hotel,” lanjut Ghina.
“Kamu tidak mengizinkan suami kamu masuk ke dalam rumah?” tanya Edward dengan menaikkan alisnya, baru saja tiba di depan rumah Ghina, kemudian di usir untuk segera meninggalkan rumah wanita itu.
“Tapi buat apa masuk ke dalam rumah, lagi pula aku mau istirahat. Tidak mungkin aku harus menemani Om Edward,” ujar Ghina, mulai jengkel.
“Aku tidak perlu di temani, kalau kamu mau istirahat.....ya istirahat aja. Aku hanya ingin berada di rumah istriku.....memangnya tidak boleh!” tegas Edward.
“TERSERAH!!!” jawab Ghina, lalu membuka pintu rumahnya.
“Baik Tuan, maaf Tuan ini obat yang Nyonya yang semalam di beli,” ujar Ferdi memberikan plastik putih ke Tuannya, lalu memeriksa ponselnya, dan pergi dengan sopir menuju supermarket terdekat.
Edward menyusul Ghina masuk ke dalam rumahnya.
“Tuan Besar,” sapa Ria kaget melihat kedatangan Edward.
“Kamu tinggal di sini Ria, dengan Ghina?” tanya Edward.
“Iya Tuan, saya ikut Non Ghina semenjak empat tahun yang lalu.” ujar Ria.
“Syukurlah kalau begitu, sekarang istri saya ke mana Ria?”
Istri........bukannya Non Ghina dan Tuan sudah pisah ya????
“Non Ghina sudah di kamarnya Tuan, di lantai dua.....,” jawab Ria.
“Oh iya Ria, perlu kamu ketahui, saya belum resmi bercerai dengan Ghina. Saya belum pernah menceraikannya atau akan, Ghina istri saya,” penjelasan Edward, setelah dapat tatapan curiga dari Ria.
“B-Baik......Tuan, saya paham. Silahkan duduk Tuan, biar saya siapkan minum buat Tuan,” pinta Ria agak canggung.
“Nanti antar ke kamar Nyonya, sekalian buatkan untuk Nyonya, istri saya lagi sakit.....” jawab Edward.
“Kamar nyonya di sebelah mana?” tanya Edward sebelum naik ke lantai dua.
“Yang sebelah kanan Tuan,” jawab Ria.
Semoga tidak ada keributan seperti di mansion........kenangan yang pahit....batin Ria.
Edward bergegas naik tangga ke lantai dua, dan mencari pintu kamar yang di sebut Ria tadi.
Ceklek
Kenop pintu kamar terbuka, sepertinya tidak di kunci......Edward membuka pintu kamarnya pelan-pelan.....
“Sayang.....cinta....,” panggil Edward pelan. Pria itu melihat Ghina sudah berbaring di atas ranjang, tubuh wanita itu sudah ditutupi dengan bed cover.
“Sayang.......aku masuk ya,” panggil Edward kembali, karena belum di sahut Ghina. Pria itu mencoba menghampiri wanita itu ke ranjangnya.
“Sayang.....minum obat dulu yuk,” pinta Edward, pria itu duduk di tepi ranjang, lalu memeriksa kondisi wanita itu.
Wanita yang dipanggil tampak bergeming, bibirnya sudah tak sanggup untuk bersuara.
“Sayang, wajah kamu tambah pucat,” ujar Edward, kemudian menyentuh kening Ghina dengan punggung tanggannya.
“Panas.......badan kamu panas, sayang....,” Edward terlihat cemas luar biasa.
“Kita ke rumah sakit ya,” pinta Edward.
“Gak usah, nanti juga sembuh sendiri,” jawab pelan Ghina, sedikit membuka matanya.
.
.
next.......apa ya🤔