Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Benci


Tiba-tiba suasana kamar Ghina hening sesaat.


“Tapi selain itu, bukankah seorang wanita memang harus menjaga harga dirinya sendiri, bukan karena orang lain. Dan bukan orang lain juga yang menjaga harga diri kita. Tapi kita sendiri!” lanjut Ghina.


“Iya juga........lantas kenapa loe gak tanya ke Opa masalah status pernikahan loe?” tanya Rika.


“Tidak bisa di hubungi, mungkin nomor ponselnya sudah di ganti.” Ghina mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya.


“Jadi status  loe di gantung dong, di bilang istri bukan, di bilang janda juga bukan.”


“Ya kalau Om Edward sudah meninggal, otomatis gue udah jadi janda lah.....,” jawab asal Ghina.


“Nanti gue bakal tanya lagi sama papa, kelanjutannya.....sudah di urus lagi atau belumnya......Oh Rika kenapa jadi bahas masalah Om Edward lagi.....!” Ghina menghela napas panjang, dan menatap langit-langit kamarnya. Termenung.......


“Sorry ya Ghin, jadi  mengungkit masalah oribadi loe lagi.”


“Mmmm......”gumam Ghina. Gadis itu tidak ingin melanjutkan pembicaraannya lagi, lebih baik memejamkan matanya, sungguh hari ini melelahkan buat gadis itu.


🌹🌹


Australia


Tatapan pria tampan tampak sangat tajam dan sangat menusuk jika orang melihatnya. Pria itu duduk di kursi rodanya sambil menatap jendela, melihat ke arah luar gedung.


Terlihat cuaca cerah dengan awan biru yang berada di langit, tapi sayang cerahnya cuaca di luar, tidak secerah hati pria itu yang baru beberapa hari sadar dari tidur panjangnya.


Hatinya tiba-tiba mengeras, ketika menerima kenyataan pahit  saat pria itu membuka matanya pertama kali.


Kenapa aku tidak mati saja sekalian biar kamu puas Ghina.......pria yang pernah menyakitimu sudah mati!!


Kamu benar-benar tidak punya hati, Ghina. Tidakkah kamu punya sedikit rasa dan empati saat aku terbaring koma, walau kamu tidak menyukai aku. Paling tidak dampingi aku saat ini.


Nyatanya kamu benar-benar meninggalkanku. Dan aku kembali salah mencintai wanita!!! Ghina, kamu benar-benar wanita JAHAT!! Tunggu pembalasku!!!


Rahang pria tampan itu mengeras dan mengepalkan kedua tangannya. Relung hati pria itu sudah berbalut dengan kebencian yang begitu mendalam, rasa cintanya sudah terlapiskan dengan rasa kecewa dan kebencian, rasa itu bergelut di relung hatinya paling dalam.


Benci, kecewa, karena tidak mendapatkan gadis yang di cintainya berada di sisinya.


Tunggulah pembalasanku Ghina!!!


Sepertinya Opa Thalib dan Oma Ratna tidak menceritakan tentang kehadiran Ghina saat pria itu masih di rawat di rumah sakit waktu di Jakarta.


“Edward.......,” sapa Oma Ratna.


Edward menoleh...”sudah waktunya terapi nak,” ujar Oma Ratna yang baru saja masuk ke kamar, dengan seorang perawat.


“Iya Mam.....” jawab Edward, kemudian sang perawat mendorong kursi roda Edward dan membawanya ke ruang terapi.


Selama hampir satu tahun tidur panjang, Edward harus menjalankan rangkaian terapi, agar seluruh tubuhnya kembali berfungsi secara baik.


Rasa syukur tak terhingga di hati Oma Ratna dan Opa Thalib, hampir satu tahun mendampingi putranya yang masih tertidur pulas. Seminggu yang lalu, akhirnya Edward membuka mata. Doa mereka berdua untuk putranya terkabulkan, kado yang terindah buat Opa Thalib dan Oma Ratna.


Tapi sungguh menyayatkan hati Oma Ratna dan Opa Thalib, saat putranya membuka mata untuk pertama kalinya, Edward memanggil nama


Ghina........Ghina......Ghina.


Oma Ratna dan Opa Thalib hanya bisa menenangkan Edward, yang kala itu memberontak tak menentu, meluapkan rasa kecewanya ketika nama gadis yang di panggilnya tidak ada di sampingnya.


Setelah kejadian itu, Edward terlihat semakin dingin, tanpa ada eskpresi.


“Mama sebaiknya kita jangan mengganggu Ghina, biarkan Ghina menjalankan hidupnya. Papa tidak mau kehidupan Ghina terusik karena Edward. Biarkan Ghina bahagia dengan kehidupannya sekarang, nanti papa juga akan melanjutkan perceraian mereka berdua.”


Oma Ratna termenung mendengar perkataan Opa Thalib.


“Apa mama ingin Ghina tersakiti kembali di tangan anak kita sendiri, sedangkan kita juga punya anak perempuan yang tidak rela di sakiti oleh suaminya. Ghina sudah nyaman dengan kehidupannya sekarang mah, nilai mata kuliahnya bagus-bagus, lalu sudah mulai menjalankan bisnisnya.......dia bahagia mah.....itu membuat papa tidak tega jika memberitahu perihal Ghina yang pernah datang saat Edward kritis, papa takut Edward akan mengusik Ghina. Dan papa juga sengaja tidak memberi kabar, biar Ghina tidak mengingat tentang Edward. Karena apa? Kalau kita sering memberi kabar tentang Edward, akan menjadi beban pikiran Ghina.”


Lalu Opa Thalib mengeluarkan ponselnya, kemudian memperlihatkan beberapa foto kegiatan Ghina yang di ambil secara tersembunyi oleh ajudan Opa Thalib, yang bertugas menjaga Ghina dari jarak jauh.


Oma Ratna meneteskan air mata terharu melihat potret Ghina di ponsel Opa Thalib, “menantu kita makin cantik ya Pah....baru setahun tidak ketemu.... sudah  banyak perubahan,” ucap Oma Ratna.


“Bukan menantu kita mah, tapi Ghina anak kita.....” balas Opa Thalib, sambil menggenggam tangan istrinya.


Maafkan papa nak kali ini, papa akan memisahkan kalian berdua, dan membuat kalian jauh.


Papa belum tahu isi hatimu, nak....


 Jika kamu benar benar mencintai Ghina.......maka tunjukkanlah kegigihanmu, papa ingin tahu setulus apa kamu mencintai Ghina.


Tapi kalau kamu hanya ingin kembali menyakiti Ghina. Sebaiknya menjauhlah, jangan pernah menunjukkan dirimu di hadapan Ghina.


Opa Thalib menatap Edward yang sedang terapi berjalan. Sejujurnya Opa Thalib tidak mau melepaskan Ghina sebagai menantunya, tapi tidak mau menyakiti Ghina kembali, sekarang anaknya sudah hidup kembali, Opa Thalib akan meminta Edward menata hidup barunya dan meneruskan perusahaan mereka di Australia, yang sempat di kelola Edward sebelum kembali ke Jakarta.


Semoga keputusan ini tepat....


“Lanjutkan pengurusan perceraian Edward dan Ghina, secepatnya!!” titah Opa Thalib ketika menghubungi seseorang melalui sambungan telepon.


Sementara itu....


Buliran keringat mulai bercucuran di wajah Edward, yang sedang berjuang keras terapi, agar kedua kakinya kembali berjalan secara normal.


Ayo......kamu bisa Edward........kamu bisa berjalan lagi!! Setelah ini akan aku cari kamu Ghina walau sampai ke ujung dunia, akan aku balas semua rasa sakitku, ketika kamu benar benar tidak peduli denganku.


Sungguh kamu luar biasa JAHAT meninggalkanku yang sedang kritis. Aku sangat membencimu Ghina Farahditya!!!!


Bukankah benci dan cinta jaraknya hanya sejengkal??


🌹🌹


Yogyakarta


Satu bulan full Ghina sibuk dengan persiapan pembukaan toko kuenya, mulai dari renovasi tokonya, belanja barang-barang, serta perabotan untuk tokonya. Serta melatih tiga karyawan yang akan bekerja membantu gadis itu, nantinya di toko kuenya.


Dengan telitinya Ghina menyusun rencana bisnis toko kuenya secara matang, sesuai dengan ilmu yang dia peroleh selama kuliah.


Dilain pihak Rika yang sibuk  membantu Ghina, Rika juga sibuk menjawab semua panggilan dari dua orang yaitu Brandon dan Rafael, kelimpungan sendiri.......karena Ghina enggan menjawab telepon dari kedua orang tersebut. Karena fokus mengurus bisnisnya, dan tidak ingin di ganggu.


“Rik, loe sebaiknya ganti nomor ponsel...biar gak capek balas pesan, angkat telepon dari dua tuh cowok,” tegur Ghina.


“Iya entar gue ganti nomor deh, pusing juga jadinya.”


“Emang enak......pusingkan loe!” ledek Ghina.


.


.


bersambung