
Melepas kecupannya, Edward memperhatikan wajah Ghina yang penuh dengan keringat dan menyentuh keningnya dengan punggung tangganya masih terasa hangat, pria itu langsung ke kamar mandi untuk mengambil handuk kecil. Dan kembali duduk di tepi ranjang, kemudian melap keringat yang ada di wajah wanita itu hingga leher....
“Kok masih belum turun panasnya....” gumam Edward.
“Hiks......hiks...sakit Om Edward........jangan kurung Ghina.......Om.......,” racau Ghina dalam tidurnya.
“Ghina.....,” panggil lembut Edward sambil mengelus lembut rambut Ghina.
“Keluarin Ghina dari sini Om...........sakit......Om........hiks......hiks,” racau kembali Ghina dalam keadaan demam tinggi.
Edward langsung naik ke atas ranjang, dan berbaring di samping Ghina.
“Sakit Om.....sakit rasanya Om.......hiks....hiks,” racau Ghina kembali.
“Maafkan aku........ istriku,” Edward langsung memeluk tubuh Ghina yang terasa panas.
“Sakit Om, Ghina sakit.....Om......,”
“Iya istriku, pasti sakit rasanya, maafkan aku.” Edward menghapus air mata yang berada di pipi Ghina.
Kedua mata Edward pun turut berlinang air mata, mendengar kata kesakitan Ghina. “Aku berjanji akan menggantikan kesakitanmu dengan kebahagiaan, istriku,” ujar lirih Edward.
Pria itu merutuki dirinya sendiri, atas luka yang dulu pernah dia goreskan di masa lalu wanita itu, ternyata masih membekas begitu dalam di hatinya. Mampukah pria itu menyembuhkan luka itu? Namun yang jelas pria itu berjanji untuk memperbaiki semua kesalahan di masa lalunya.
Edward kembali mendekap tubuh Ghina, sayup sayup racauan Ghina dalam tidurnya mulai tak terdengar setelah pria itu memeluknya erat dan mengelus lembut punggung Ghina, seakan-akan memberi rasa nyaman untuk wanita itu.
Malam ini Edward dan Ghina kembali tidur seranjang, sesekali Edward terjaga dari tidurnya untuk mengecek suhu tubuh Ghina.
🌹🌹
Esok Hari.
Pagi di rumah Ghina.
Ghina masih tidur pulas di dekapan Edward, begitu pun Edward masih tertidur pulas setelah sempat beberapa kali bangun tidur untuk mengecek suhu dan mengompres kening Ghina.
Tubuh Ghina mulai menggeliat dalam dekapan Edward, dan hal itu terasa oleh pria itu. Edward mulai mengerjap ngerjapkan kelopak matanya. Mereka sama sama membuka kelopak matanya.
“OM........” pekik Ghina kaget, melihat Edward berada di sampingnya.
Edward langsung menyentuh kening Ghina, ”alhamdulillah panasnya sudah turun, semalaman kamu tidurnya mengigau. Aku peluk, kamu langsung tenang,” ujar Edward dengan suara seraknya, ciri khas orang bangun tidur.
Ghina menjauhkan wajahnya dari wajah tampan Edward. Dengan santainya Edward beranjak dari tempat tidur kemudian mengambil gelas dan menuangkan air dari botol.
“Minum dulu Ghin,” pinta Edward, dengan menyodorkan gelas.
Ghina langsung meraih gelas dari tangan Edward, dan segera minum. “maaf kalau semalam aku merepotkan Om Edward,” ucap lirih Ghina, sambil memberikan gelas kosongnya. Sekilas kedua netra wanita itu melihat buket bunga di atas nakas.
“Tidak ada yang merepotkan, ini sudah tanggung jawab aku sebagai suami,” jawab lembut Edward dengan mengelus pipi Ghina. Tak lama kemudian pria itu meraih buket bunga tulip yang semalam dia bawa.
“Untukmu istriku, semoga cepat sembuh,” ucap harapan tulus Edward, sembari memberikan buket bunga tulipnya.
Wanita itu terlihat antara mau dan tidak mau menerima buket bunga tersebut.”Terima kasih Om,” ucap tulus Ghina, menerima bunga dari Edward.
"Apakah waktu di rumah sakit, Om Edward yang memberikan buket bunga tulip buatku?" tanya Ghina.
"Harus aku jawab jujur atau bohong?" tanya balik Edward, wajah muka bantalnya tidak membuat ketampanan pria itu luntur.
"Terserah......," jawab malas Ghina.
"Ya itu dariku, tanda cintaku untukmu saat itu. Tapi saat itu aku tidak berani mengatakannya langsung," jawab jujur Edward.
Wanita yang bertanya itu hanya menundukkan kepalanya, setelah mendapat jawaban dari Edward.
Edward kembali berada di samping Ghina.
“Syukurlah, panas kamu sudah turun. Kamu mau sarapan apa? Biar nanti aku ke bawah bilang ke Ria,” tanya Edward, kembali mengecek suhu tubuh wanita itu dengan termometer.
“Bubur ayam aja,” jawab Ghina.
“Aku mandi dulu, baru ke bawah. Kamu ngemil roti isi dulu ya.....sambil nunggu sarapan,” ujar Edward langsung mengambil roti isi yang masih tergeletak di atas nakas, dan memberikannya ke Ghina.
“Mmm.......,” gumam Ghina, dan menerima roti isi dari tangan Edward.
Kemudian pria itu masuk ke kamar mandi.
Ghina menghela napas panjang, setelah Edward masuk ke dalam kamar mandi. Ingin rasanya wanita itu merutuki dirinya sendiri, sudah kedua kalinya dia tidur dengan Edward yang nota bene masih suaminya. Di tambah ada kejutan manis di pagi hari dari Edward.
Apakah aku harus membuka hatiku? Dan memberikan kesempatan buat Om Edward....?
Aku harus apa.....
Ceklek.....
Pintu kamar mandi sudah terbuka, tampak Edward keluar hanya menggunakan handuk yang hanya menutupi pinggang ke bawah.
GLEK
Ghina menelan salivanya dengan kasar, untuk pertama kalinya melihat secara langsung tubuh atletis Edward, dadanya yang gagah, perutnya yang kotak-kotak. Pantesan saja dirinya terasa hangat di peluk pria itu.
Lalu........
“OM EDWARD.....!!” pekik Ghina langsung masuk ke dalam selimutnya.
Edward tertawa geli melihat Ghina, pria itu sengaja menggunakan baju di depan Ghina, lagi pula wanita yang berada di atas ranjang masih istri sahnya.
Untuk pertama kalinya pria arogan itu tertawa lepas, tanpa pria itu sadari.
“Sudah buka selimutnya,” pinta Edward.
Ghina langsung menyibak selimutnya, terlihat wajahnya memerah kemudian melemparkan bantal ke arah Edward.
“Bisa-bisanya Om Edward, telanjang di depan mata......hem,” geram Ghina, lanjut melemparkan bantalnya ke arah Edward.
Pria itu sigap menangkap bantal yang di lempar Ghina, sambil tertawa kembali.
“Sudah Ghina cukup lempar bantalnya, nanti kamu capek...” pinta Edward.
“Lagian ngapain juga pakai buka handuk di depan aku, kan ada kamar mandi. Bisa di sana,” ujar kesal Ghina, setelah melihat tubuh Edward tanpa sehelai benang.
“Memang aku salah kalau telanjang di depan istri sendiri, menggoda istri sendiri. Jangan marah ya..........aku ke bawah dulu,” ucap Edward sambil mengecup kening Ghina, lalu bergegas keluar kamar.
“Dasar OM OM.....enak aja main-main cium,” gerutu Ghina.
🌹🌹
“Ria, tolong siapkan bubur ayam untuk nyonya sarapan,” pinta Edward.
“Sudah saya siapkan Tuan, ini bubur ayam buat Nyonya dan ini nasi goreng buat tuan,” tunjuk Ria ke atas meja makan.
“Makasih Ria,” ujar Edward, pria itu membawa nampan yang sudah di siapkan oleh Ria.
“Sekalian antar air minum ke kamar, Ria,” pinta Edward, sebelum meninggalkan ruang makan.
“Baik Tuan,” jawab Ria.
Dengan langkah cepat Edward kembali ke kamar Ghina.
“Sarapan datang untuk istriku yang cantik.....,” ujar Edward, ketika masuk ke dalam kamar.
“Ini bubur ayamnya, sudah di siapkan. Mau aku suapin?” tanya Edward.
“Tidak perlu, bisa makan sendiri. Om Edward ini sambelnya mana, terus sate telor sama sate hati ayamnya mana?” tanya Ghina.
“Oh gak ada ya......Aku ke bawah lagi, mungkin masih ada di bawah,” jawab Edward, bergegas ke bawah lagi mencari yang di minta Ghina.
“Mmm......”gumam Ghina, sambil tertawa kecil.
“Emang enak naik turun tangga....Om.”
.
.
next......bertemu anak??
Kakak Reader yang cantik dan ganteng terima kasih sudah berpartisipasi untuk GA di bab Aku Takut.
Sesuai janji saya hari ini akan umumkan 2 orang Kakak Readers yang mendapatkan pulsa sebesar 25K berdasarkan hasil kocok undian ya.
Pemenang GA :
Annisa Chaer
Noer Wanti.
Buat yang beruntung silahkan tinggalkan komentar, dan jangan lupa follow saya. Dan buat Kakak Reader yang belum beruntung, nanti akan ada give away lagi......stay tune ya. Jangan lupa mampir ya ke novel baru saya Pinjam Rahim Istri Ketiga. Terima Kasih
Love You sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Permisi Om Edward mau pakai baju dulu 😅