
Kiren terlihat mondar mandir di ruang utama, sesekali melihat ke arah pintu.......untuk memastikan kedatangan suaminya. Sudah jam delapan malam tapi masih belum pulang ke mansion.
Suara deru mobil Edward sudah mulai terdengar dari kejauhan, Kiren bergegas membuka pintu mansion, kemudian keluar untuk menyambut kepulangan suaminya. Akan tetapi langkah wanita itu kurang cepat dengan langkah Kepala Pelayan yang sedari tadi sudah standby di luar lobby mansion.
Mobil mewah sudah berhenti pas di depan lobby mansion, Pak Jaka segera menyambut Tuannya.
Edward yang baru keluar dari mobilnya tampak heran melihat Kiren ada diluar lobby.
“Bawa sini Pak Jaka, jas suami saya,” pinta Kiren, yang melihat Pak Jaka membawa jas Edward.
“Sayang........kok baru pulang,” tanya lembut Kiren, sangat berbeda ketika tadi siang di kantor Edward.
Edward mengacuhkan Kiren, dam berlalu dari wanita itu, akan tetapi wanita itu tetap mengikuti suaminya, menuju kamar Ghina.
“Sayang, sudah makan malam. Kalau belum aku akan siapkan,” tawar Kiren masih dengan suara lembutnya.
Edward mendudukkan bokongnya di sofa, dan menatap Kiren yang masih berdiri.
“Duduklah, ada yang ingin saya bicarakan.”
Kiren turut duduk di sofa, berhadapan dengan suaminya Edward.
“Sayang, aku minta maaf atas kejadian tadi siang. Sungguh aku emosi, sampai memarahimu. Aku terima pemecatan Kak Edward, sebagai istri harusnya aku patuh dengan suamiku.” Kiren menundukkan kepalanya, tanda penyesalan paling dalam.
“Adakah yang kamu sembunyikan dari saya selama ini?” tanya Edward.
Kiren mengangkat kepalanya,”tidak ada yang aku sembunyikan darimu Kak. Kak Edward kan sudah mengenal aku selama dua tahun ini,” jawab Kiren agak heran dengan pertanyaan Edward.
“Betulkah tidak ada yang kamu sembunyikan?” dengan tatapan sinisnya.
“Atau mungkin kamu harus melihat buktinya dulu, baru mengakuinya!” ancam Edward.
“Ini sungguh aneh, bukti apa? Selama ini aku tidak menyembunyikan apa-apa,” ujar Kiren.
“Permisi Tuan, mau dibuatkan kopi atau teh,” tawar Pak Jaka, yang tiba-tiba berbicara di depan pintu kamar.
“Bikin kan saya kopi,” balas Edward.
“Sayang, biarkan aku yang bikin.....ya,” tawar Kiren, langsung beranjak dari duduknya tanpa menunggu jawaban dari Edward. Kiren tersenyum manis.
Pak Jaka kembali ke tempatnya, setelah Kiren mengajukan dirinya yang akan membuatkan kopi.
Sambil menunggu kopi datang, Edward memainkan handphonenya, kemudian mencari kontak Ria, lalu coba menghubunginya. Rasa rindu mendengar suara Ghina, sudah tidak tertahankan. Setelah seharian pria itu selalu terbayang-bayang wajah Ghina.
Tut.......tut.......tut......
Berulang kali, nomor Ria tidak bisa di hubungi. Membuat Edward terlihat kecewa seketika.
“Sayang, ini kopinya.......langsung di minum selagi hangat,” ucap Kiren, menaruh secangkir kopi di meja, pas di hadapan Edward.
“Ayo.......sayang di minum,” pinta Kiren, menunggu Edward meminum kopi buatannya.
Kedua netra pria itu menatap kopi yang dibuat istrinya, serasa ada keraguan untuk meminumnya. Pria itu mulai mengambil cangkir kopi tersebut, awal pria itu mencium wangi aroma kopi tersebut.
Menurut pria itu aroma kopinya masih wajar, lalu mulai sedikit menyesapnya....masih wajar rasanya tidak ada yang aneh. Lalu menyesap kembali tapi sedikit.
Wajah Kiren terulas senyum keberhasilan, dan itu tertangkap oleh netra Edward.
“Keluarlah kamu dari kamar ini, saya ingin mandi,” usir Edward, kemudian pria itu masuk ke kamar mandi.
“Baiklah,” jawab Kiren pelan.
Aku tidak akan mungkin keluar dari kamar ini, pasti sebentar lagi kau akan butuh diriku.
Kiren beranjak dari duduknya, dan menghampiri pintu kamar.
Klek.......
Selama sepuluh menit Edward masih di kamar mandi, badannya sedikit kurang enak, terasa hawa panas tapi masih bisa di kendalikan, tapi hasratnya sedikit naik. Terlihat senjatanya sudah berdiri tegak.
Tiba-tiba pria itu teringat, saat salah satu temannya di Australia pernah seperti dirinya.
“Ooh Kiren, kamu cari perkara rupanya!” geram Edward.
Akhirnya Edward menuntaskan hasratnya di kamar mandi, dan untungnya pria itu hanya menyesap kopinya sedikit, jadi masih dalam dosis kecil.
“Aah.........aahh.......Ghina,” de-sah Edward kesekian kali saat melepas kenikmatannya. Sudah satu jam pria itu menuntaskan hasratnya sendiri di kamar mandi.
Kiren yang masih berbaring di ranjang tanpa busana, sudah terlihat gelisah.
Gimana sih Anis, katanya efeknya akan muncul dalam waktu sepuluh menit, tapi kok udah satu jam Kak Edward belum keluar dari kamar mandi. Jangan jangan Anis nipu gue nih.
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka, Edward hanya memakai handuk di pinggangnya dan wajahnya terlihat segar, setelah beberapa kali memanggil nama Ghina dalam lenguhnya di kamar mandi.
“Sayang......kok lama sekali di kamar mandi,” ujar Kiren, mulai berpose sexy di atas ranjang.
Edward terhenyak, melihat Kiren tanpa busana diatas ranjang.
“Apa-apaan, kamu beraninya tidur diranjang Ghina!” pekik Edward, tidak terima ada wanita lain di atas ranjang Ghina.
“Jadi ini maksud kamu, ingin menjebakku Kiren. Lihatlah dirimu seperti wanita murahan!!!” murka Edward.
Tidak sekalipun malam ini Edward tergoda dengan tubuh Kiren, mengingat tubuh Kiren sudah pernah di naiki oleh pria lain.
“Aku jadi murahan, hanya di depan suamiku. Ayolah sayang, saat ini kamu pasti menginginkan diriku. Ayo cumbui aku....sayang...,” pinta Kiren sambil menghampiri Edward, namun sayang Edward bergegas ke pintu kamar. Akan tetapi pintunya terkunci dan tidak ada kuncinya.
“Sayang........ayolah kita bersenang-senang malam ini,” Kiren benar benar seperti wanita penggoda.
“Pak Jaka, sekarang juga buka pintu kamar Ghina,” titah Edward lewat line telepone.
Kiren dengan gerak cepat, memeluk Edward, agar Edward terangsang dengan sentuhan tubuh polosnya. Akan tetapi reflek Edward mendorong Kiren, hingga terjatuh duduk. Ya......hampir sama seperti Bu Sari mendorong Ghina dekat area kolam renang, itulah yang terjadi dengan Kiren.
Tanpa menunggu waktu lama
Ceklek....
Pintu kamar Ghina, sudah terbuka....dan Pak Jaka membuka pintunya dengan lebar.
Seketika juga Pak Jaka dan Ferdi menutup kedua matanya, yang tanpa sengaja melihat tubuh polos Kiren.
“Kiren.....keluar dari kamar ini juga, dan kita lihat apa yang akan saya lakukan dengan kamu nanti!” ancam Edward dengan murkanya.
Kiren masih meringis kesakitan dalam jatuh duduknya, tanpa sedikit pertolongan dari Edward untuk membantu berdiri.
“Sungguh Kak Edward, benar- benar kejam dengan istrinya,” keluh Kiren.
“YA......saya benar-benar kejam, sampai istri saya Ghina, pergi dari mansion ini. Itu karena siapa! Semuanya karena kamu Kiren, karena saat itu saya lebih memilih kamu. Dan menepis semua rasa ini terhadap istri pertamaku!” seru Edward.
Pak Jaka dan Ferdi menyingkir dari pintu kamar Ghina, masih dalam keadaan menutup mata. Sungguh pemandangan gratis buat kedua pria itu, tapi bikin panas dingin.
“Akulah istrimu Kak Edward, bukan Ghina,” pekik Kiren tidak terima.
“Cepat pakai baju kamu, dan keluarlah dari kamar ini!!” suara Edward kembali meninggi. Kiren mengambil bajunya, dan sengaja memakai pakaiannya di hadapan Edward.
Tubuh sexy Kiren, kali ini tidak membuat hasrat Edward tergoda.
Dengan langkah kesalnya Kiren keluar dari kamar Ghina.
Sial gue gagal........erghh