
Pandangan Ghina mulai was-was melihat Edward, jantungnya mulai berdebar cepat, ketika Edward mulai semakin dekat.
Jantung Edward sudah mulai dag dig dug, ketika membuka kancing kemejanya, satu persatu di bukanya, dengan mendekati posisi Ghina. Awalnya mereka berdua sama sama duduk di tepi ranjang.
Tapi melihat tingkah Edward yang mulai membuka kancing kemejanya, Ghina pelan-pelan menggeserkan posisi duduknya. Wanita itu mengangkat kedua kakinya ke atas ranjang, dengan kedua tangan nya yang tertumpu pada atas ranjang, membantu menggeser tubuhnya yang masih terasa lemas.
“OM Edward..........,” ucap Ghina dengan nada sedikit takut.
Tatapan Edward mulai menajam ke arah Ghina, tubuh pria itu ikut menggeser........mendekati tubuh Ghina......yang mulai menyandar ke headbord ranjang.
SREK
Kemeja pria itu telah terlempar ke sembarang tempat, terpampang tubuh atletisnya. Dan untuk pertama kalinya Ghina melihat Edward bertelanjang dada.
GLEK
Ghina menelan salivanya dengan kasar, tubuhnya mulai merinding dan gemetaran.
“Om Edward mau ngapain,” tanya Ghina pelan.
Tangan besar pria itu mulai menarik pinggang wanita itu, yang sudah mulai ketakutan.
“AAAKK.........” pekik Ghina, tubuhnya sudah di tarik pria itu, dan sekarang sudah berada di bawah tubuh besar pria itu.
Edward dan Ghina saling bersitatap “Bagaimana caranya, agar kamu tidak meminta bercerai denganku. Haruskah aku meminta hakku malam ini sebagai suami!” ucap Edward, salah satu tangannya mulai mengelus leher wanita sudah dikungkungnya.
“Ini sungguh menyakitkan Om Edward, sungguh menyakitkan. Dan itu masih tersimpan rapi di hatiku. Semua perkataanmu, semua perilakumu empat tahun lalu. Semuanya masih membekas di sini, Om Edward,” ucap lirih Ghina sambil menyentuh dada kirinya.
“Ghina.......tolong maafkan aku, aku memang bersalah telah menyakitimu. Aku sudah terima semua karma atas perbuatanku sendiri, kesalahan yang terbesarku. Yang meminta kamu menikah denganku karena wanita pilihanku.”
“Om yang sudah mempermainkan pernikahan kita, demi wanita lain......dan dengan mudah berkata kasar padaku. Apa aku salah saat itu aku minta berpisah pada Om. Aku manusia Om bukan boneka, punya hati dan perasaan.” Ghina memalingkan wajahnya dari tatapan Edward yang masih mengungkung tubuh sexynya.
Tangan besar pria itu langsung memegang lembut dagu Ghina, agar kembali melihat wajahnya “Lihatlah aku, jika aku sedang bicara...,” ucap Edward pelan.
Ghina memejamkan matanya sejenak, tiba-tiba Edward mengecup lembut kedua kelopak mata Ghina yang tertutup dengan lembut.
“Bukalah matamu, lihatlah suamimu ini......,” ujar Edward kembali melembut.
Kelopak mata Ghina mulai terbuka, dan kembali menatap wajah pria tampan itu, dengan tatapan sendu.
“Tolong dengarkan ceritaku......Ghina,” pinta Edward, tapi tidak ada tanggapan yang terlontar dari bibir Ghina.
“Ketika aku sadar dari koma, kamulah orang yang aku cari pertama kali. Tapi nyatanya kamu tidak ada di sisiku. Saat itu aku membencimu Ghina, kamu begitu jahat tidak pernah datang menjengukku. Tapi mama cepat memberitahuku, kalau kamu datang. Dan setibanya di Indonesia, aku juga baru tahu dari Ferdi, ada rekaman cctv dari rumah sakit. Kamu jatuh pingsan, dan satu yang membuat ku bahagia........kamu mencium pipiku untuk pertama kalinya,” ucap Edward, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Ghina tampak tertegun......
“Tapi sayangnya......papa melarang mencarimu selama tiga tahun. Aku tidak boleh pulang ke Indonesia. Aku menahan rindu sendiri di Australia. Tapi perlu kamu tahu, setelah aku bangun dari koma, aku memberikan nafkah selayaknya sebagai suami, walau aku jauh.”
“Apakah Om Edward yang mengirim uang sebesar 250 juta setiap bulan?” tanya Ghina.
“Iya itu aku yang kirim, sebagai nafkahku sebagai suami untuk istriku yang pergi,” jawab Edward, sesekali tangan pria itu mengelus pipi mulus Ghina.
“Kamu tahu, ketika papa menjemputmu di mansionku. Hatiku terasa sakit, sungguh sakit sekali....dan itu baru pertama kali aku rasakan. Aku tidak menyangka kepergian kamu, membuat aku kesakitan sendiri.”
“Bukankah Om Edward harusnya senang dengan kepergianku waktu itu. Karena bisa melanjutkan rumah tangga dengan mbak Kiren?” selidik Ghina.
Mereka berdua sepertinya tidak sadar, tubuh mereka saling menempel dalam waktu lama, walau Edward menopang tubuhnya dengan salah satu tangan besarnya, agar beban tubuhnya yang besar tidak terlalu berat buah Ghina.
“Kamu maukan memaafkan kesalahan aku selama ini?” tanya Edward.
“Aku sudah lama memaafkan Om Edward, tapi bukan berarti kembali menerima Om Edward,” jawab Ghina pelan.
Sejenak Edward memejamkan kedua matanya, mengatur kembali napasnya, setelah mendengar penolakan Ghina. Hening sejenak.....
“Aku mencintaimu Ghina Farahditya, istriku.....,” ungkap Edward.
Jantung Ghina mulai berdebar-debar lagi......
“Beri aku kesempatan kedua untuk memperbaiki semua kesalahan, menyembuhkan luka yang pernah ku torehkan di hati kamu. Izinkanlah.....sayang.......aku sangat mencintaimu dari awal aku melihatmu. Tapi saat itu aku menepisnya. Aku sudah lama menunggumu........sayang,” ungkap Edward, suaranya mulai terdengar serak, menahan rasa sedih yang membuncah di hatinya saat ini.
Wajah Edward mulai menyelusup ke ceruk leher Ghina, matanya sudah berembun, tangan Ghina mulai memegang bahu Edward.
DEG.....DEG......DEG.......
Jantung mereka berdua seperti sedang saling berpacu, jika bisa di dengar.
“Aku sangat mencintaimu Ghina, aku mohon berilah sekali kesempatan.....hiks....hiks,” ucap Edward yang terdengar sekali di telinga Ghina. Wanita itu juga bisa merasakan kemejanya sedikit basah, sepertinya pria itu sudah berurai air mata.
Kedua netra Ghina pun ikut berkaca-kaca, setelah mendengar semua pengakuan Edward. Pria yang dulu sempat dia sukai ternyata mencintainya. Rasa hati wanita itu dengan rasa hati pria itu sudah terpaut dari saat mereka pertama kali bertemu, namun telat untuk menyadarinya.
Tak ada jawaban dari Ghina, yang ada tangisan pelan yang keluar dari bibirnya yang larut karena tangisan Edward.
Mereka berdua larut dalam kesedihan dalam posisi berpelukan berbaring di atas ranjang. Hingga tak terasa mereka berdua tertidur lelap dalam tangisannya masing-masing, sampai pagi hari.
🌹🌹
Keesokan hari......
Pagi menjelang....
Kelopak mata Edward mulai mengerjap-ngerjap, pria itu merasa tidurnya sangat pulas malam tadi. Pagi ini Edward terasa bahagia, ketika saat membuka matanya, ternyata pria itu masih memeluk tubuh Ghina, dan wanita itu terlihat nyaman dalam pelukannya.
Edward langsung mengecup berulang kali pucuk kepala Ghina.
“Aku bahagia sayang, ternyata kamu masih di sini...,” Edward menarik tubuh Ghina agar bisa di dekapnya dengan erat, menghirup aroma tubuh Ghina, yang sesungguhnya sangat menggoda hasratnya, karena juniornya sudah berdiri tegak siap untuk bertempur.
Pria mana yang tidak akan tergoda dengan tubuh sexynya Ghina, begitu juga dengan Edward......tapi demi ingin rujuk kembali dengan Ghina, pria itu menahan hasratnya untuk saat ini.......entah kalau dilain hari.
Pagi yang indah buat Edward, tapi entah kalau buat Ghina jika sudah membuka matanya.
.
.
next.......kira-kira Ghina marah gak ya??