Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Nasehat Ferdi


“Tuan muda, waktunya makan siang. Makan siangnya sudah siap,” ucap Pak Jaka.


Edward mendongakkan wajahnya “saya tidak lapar,” jawab pelannya seperti tidak ada tenaga, masih dengan tatapan kosongnya.


Akan tetapi Pak Jaka berinisiatif menyajikan makanan di meja ruang utama, siapa tahu Tuannya tergugah untuk makan.


Pria itu hanya melihat gerak gerik Pak Jaka yang menghidangkan makan siang di meja ruang utama.


Dilihatnya di meja ada hidangan ikan nila goreng serta sambal terasi.


Aku rindu masakkanmu........Ghina


Matanya kembali berembun, hanya karena melihat ikan nila yang di goreng. Yang pernah pria itu santap, merasakan masakan istrinya sendiri......untuk terakhir kalinya.


“Tuan, makanlah dulu, biar tuan bisa kembali berpikiran jernih. Untuk memikirkan langkah selanjutnya,” ajak Ferdi, melihat tuannya masih termenung.


Selera makan Edward menghilang, tidak tergugah untuk menyantap makanan yang sudah di siapkan Pak Irwan.


“Kamu belum pernah merasakan saat mencintai seseorang tapi tiba-tiba pergi meninggalkanmu begitu saja, sakit rasanya,” ungkap Edward, menolak ajakan Ferdi untuk makan.


“Memangnya Tuan mencintai siapa? bukankah wanita yang Tuan cintai tidak pergi, masih tinggal di mansion Tuan,” jawab Ferdi, asal.


Tatapan Edward menyalak, paham wanita yang dimaksud Ferdi adalah Kiren.


“Bukan wanita itu, tapi istri saya yang pertama.....Ghina," sahut Edward.


“Maaf Tuan, saya bingung wanita yang mana. Karena istri tuan ada dua. Apakah Non Ghina sudah di anggap istri oleh Tuan. Atau Tuan sekarang sudah menganggap Non Ghina sebagai istri karena sudah kecewa dengan Kiren wanita yang Tuan pacari lalu dinikahi,” sindir Ferdi yang sangat sengaja diucapkannya.


“Kasihan Non Ghina, sudah seperti istri cadangan, hanya dicari dan dikejar oleh suaminya karena rasa kecewa dengan istri yang lainnya. Baguslah kalau non Ghina pergi jauh,” lanjut Ferdi berucap dengan nada pelan.


BRAK !!!


Edward menggeprak meja dengan salah satu tangannya, ternyata sindiran Ferdi terdengar jelas oleh telinga Edward.


“Kamu sudah berani menyindir saya, Ferdi!” tegur keras Edward.


“Maaf bukan saya menyindir Tuan, saya hanya bicara fakta kenyataannya. Dari awal Tuan sudah memperlakukan Non Ghina semena-mena, tidak manusiawi. Wajar jika seorang istri akan meninggalkan suaminya yang kejam. Saya sebagai laki-laki juga tidak rela Non Ghina di perlakukan secara kasar oleh Tuan. Apa kurangnya Non Ghina, semua lelaki yang mengenalnya pasti akan memujanya. Tuanlah yang selama ini dibutakan, ditulikan akan cinta dengan Kiren. Hingga tidak melihat sosok berlian yang sudah Tuan miliki dan berada di samping Tuan, malah menikahi Kiren!”


“Lalu sekarang Tuan berteriak histeris di sini dan melempari semua barang, menangisi kepergian Non Ghina. ITU PERCUMA TUAN. Apakah Tuan tidak mengingat, saat Tuan menggerek non Ghina ke gudang, dan mengurungnya sendiri dalam ruang yang lembab dengan luka dipunggungnya yang tanpa Tuan ketahui. Pastinya dia menangis pilu, merintih kesakitan sendiri, tak mampu berteriak, lebih parah dari histerisnya Tuan. Apakah Tuan merasakan kesakitannya saat itu!!!”


“Takkan ada wanita yang kuat seperti Non Ghina menghadapi sikap Tuan yang kejam, dia mampu berdiri dalam kesakitannya. Dan wajar jika Non Ghina pergi dari Tuan. Jadi jangan disesalkan Tuan, apa yang Tuan tanam itulah yang Tuan dapatkan.”


Entah dapat dari mana keberanian Ferdi menegur keras Tuannya, memberikan sentilan agar Tuannya lebih terbuka lagi pikirannya. Bukankah hal yang salah harus segera diluruskan, apalagi orang tersebut dekat dengan kita, walau itu Bos sendiri.


Edward terhenyak dengan semua perkataan Ferdi, tentang dirinya dan Ghina.


“Tuan, hampir semua wanita tidak akan mau di duakan atau di poligami. Sekarang Tuan punya dua istri, tapi Non Ghina sudah mundur dari pernikahan dengan Tuan, minta di ceraikan sesuai kesepakatan awal. Jika Tuan merasa kehilangan Non Ghina, hal ini membuat saya tertawa, bukankah Tuan sebenarnya tidak mencintai Ghina tapi sekarang Tuan bilang cinta.  Dan lagi pula jika Tuan nanti akan mencari Ghina, istri yang lain masih ada di sisi Tuan. Jadi Tuan ceritanya akan berbagi cinta dengan wanita lain!!”


“Non Ghina bukan wanita yang bodoh Tuan, bukan gadis kecil biasa!!”


“Lepaskanlah Non Ghina, jika Tuan masih mempertahankan Kiren. Menjalankan poligami tidaklah mudah, walau Tuan banyak harta. Karena sesungguhnya ada hati istri yang harus di jaga, dan belum tentu Tuan bisa adil antara keduanya. Pernikahan itu bukanlah sebuah permainan, tapi tanpa Tuan sadari, Tuan telah mempermaikan pernikahan Tuan dengan Non Ghina dari awal!!” ucap tegas Ferdi.


“Maaf Tuan, jika saat ini mulut saya lancang. Saya harap ke depan Tuan bisa mengambil keputusan yang baik demi masa depan Tuan. Saya permisi.” Pamit Ferdi.


Edward tergugu, tidak bisa mengeluarkan suaranya, atau memberikan argumennya dan sanggahan dengan asisten pribadinya Ferdi.


Pria itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.....poligami.....dua istri


Histeris karena kepergian istri, ternyata tidak sepadan dengan tangisan batin sang istri pertama. Pria itu beranjak dari duduknya, kemudian ke lift menuju lantai tiga.


Pria itu memperhatikan foto-foto yang dia pajang di kamar, ada foto dirinya dengan Kiren. Pikir Edward, Ghina pasti telah melihat foto tersebut.


Maafkan.......pasti kamu sudah lihat foto ini.


 Diambilnya foto tersebut, kemudian Edward buang ke tempat sampah. Kemudian pria itu melihat ke meja sebelahnya, terpajang foto saat acara ulang tahun papanya dua tahun silam. Terdapat secarik kertas dekat pajangan fotonya.


Andaikan waktu bisa berputar, lebih baik tidak mengenal dia, dan menikah dengan dia.


Tapi sayangnya mau berlari kemana pun, dia pasti menemukanku.


Namun kali ini kuharap dia tak dapat menemukanku untuk selamanya.


Selamat Tinggal


“Huffth.........” Edward menghela napas panjang, setelah membaca secarik kertas tersebut. Kemudian pria itu menyugarkan rambutnya.


“Halo Denis, sebar team ke semua wilayah.....cari keberadaan istri saya, di rumahnya juga di cek. Dan kamu cek semua keberangkatan dari dua hari yang lalu di bandara dan stasiun kereta api,” perintah Edward melalui sambungan telepon.


Edward memutuskan akan mencari keberadaan Ghina sampai ketemu.


“Istri yang mana Tuan?” jawab Denis.


“Astaga Denis, istri saya Ghina Farahditya,” jawab Edward.


“Maklum Tuan kan istrinya dua, jadi harus jelas istri mana yang di cari,” celetuk Denis.


“Cepat laksanakan perintah saya.”


“Baik Tuan, siap di laksanakan!” seru Denis.


Edward memutus sambungan teleponnya dengan ajudannya. Lalu menghubungi Papa Zakaria.


Tut......Tut......Tut


Telepon Papa Zakaria sedang tidak aktif.


“Saya akan mencari kamu, Ghina........sampai ketemu,” gumam Edward.


.


.


Terima Kasih buat Kakak Readers yang sudah mampir ke novel recehan ini, yang ceritanya tidak sebagus authur yang sudah pemesss 😁.


Mohon maaf kalau komentar Kakak Readers tidak bisa dijawab semuanya tapi tetap di baca, karena waktunya kebagi sama bikin lanjutan ceritanya. Tapi intinya saya berterima kasih atas komentar kakak, apa pun isinya. Karena cerita novel ini juga tidak sempurna yang di inginkan kakak readers semuanya.


Buat Kakak Readers yang sudah meninggal jejaknya, terima kasih banyak ya. Jangan lupa kalau masih punya Vote, mau dong.......biar novel ini tetap masuk rangking Vote 😉😉.


Love You sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Selamat mencari Ghina....


..Om Edward 😁😁😁