Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Akan menjemput Ghina


Mansion Utama


Raut wajah Opa Thalib terlihat begitu sangar melihat video yang di terimanya. Hatinya mulai mendidih melihat Edward sudah main tangan dengan Ghina.


“Papa......papa lagi nonton video apa? Kok serius sekali, sampai mama di cuekkin,” keluh Oma Ratna ikutan mengintip ke ponsel Opa Thalib.


“Apa ini Pah,” dirampasnya ponsel Opa Thalib, lalu mereplay ulang video tersebut.


Kedua bola mata Oma Ratna membelalak lihat video tersebut, hatinya memanas dan geram....melihat Kiren dan Edward menampar pipi Ghina.


“Ini maksud papa, membiarkan Ghina menjadi menantu kita, agar di siksa Edward dan Kiren........dasar anak lacknat. Di besarkan dengan cara baik-baik, tapi ternyata perilakunya seperti ini!” Oma Ratna hatinya mulai mengebu-ngebu dan geram.


“Sekarang juga kita harus jemput Ghina, Pah,........jangan sampai nyawa Ghina ikut menghilang di tangan anak kita sendiri!” Oma Ratna beranjak dari ranjang, padahal Oma Ratna sudah mau siap siap tidur.


“Tenang Mah, jangan gegabah dulu......kita atur strategi dulu. Dan untuk Ghina, sudah ada orang utusan papa yang menjaganya di mansion Edward.”


“Lantas kapan Pah, jangan di biarkan saja.......ini sudah keterlaluan.....sudah KDRT, apalagi Kiren menampar menantu mama?” Oma Ratna kembali duduk di ranjang, dengan wajah kesalnya.


“Tunggu kabar terbaru dari orang papa, jika waktunya tepat.......kita langsung jemput Ghina. Kita lihat besok pagi.”


“Kita juga harus berembuk dengan Zakaria dan Sarah, biar mereka tidak kaget,” sambung Opa Thalib.


“Ck........!” decak kesal Oma Ratna. Suaminya terlalu banyak strategi, kebanyakan mengatur perusahaan sampai kebiasaannya ke bawa saat ada masalah di keluarga besarnya, termasuk anaknya sendiri......Edward.


Kepala Oma Ratna kembali pusing setelah melihat video Ghina.


"Pokoknya mama gak mau tahu, kalau malam ini tidak menjemput Ghina, berarti besok pagi harus jemput Ghina di mansion Edward. Mama sudah ngak mau turuti kata papa lagi. Dari pada Ghina tambah di siksa di sana!" seru Oma Ratna.


🌹🌹


Mansion Edward, ruang kerja.......


TOK.......TOK......TOK


“Sayang........boleh aku masuk,” sapa Kiren yang sudah membuka pintu.


“Mmmm.....,” dehem Edward, langsung di matikan laptopnya.


“Sayang, makan malam sudah siap. Ayah dan Ibu sudah menunggu di ruang makan," ajak Kiren.


Kiren melirik wajah suaminya yang terlihat tidak enak di pandang.


Edward bangkit dari bangku kebesarannya, dan duduk di sofa ruang kerjanya di ikuti Kiren.


“Sayang, kata ibu masalah Ghina tidak usaha di bahas lagi.”


“Kenapa kamu menampar Ghina, padahal kamu melihat jelas kejadiannya. Dan kenapa membohongi saya, membuat saya ikut menampar Ghina.” Edward terlihat kecewa dengan wanita yang dia cintai.


Sesuai dugaan Kiren, pasti Edward telah melihat rekaman CCTV.


“Itu....sayang.....aku terbawa emosi karena lihat ibu ke cebur ke kolam renang. Siapa yang tidak jadi emosi kalau lihat ibu sendiri di dorong oleh----.”


“Memangnya kamu melihat Ghina mendorong ibu kamu....HAH. Sudah jelas kamu melihatnya, ibu kamu terjatuh sendiri tanpa di dorong!” seru Edward. Kiren sejenak terdiam.


“Apa Kak Edward sekarang sedang membela Ghina?” tanya Kiren.


“Saya tidak membela, hanya melihat kenyataannya. Dan kita harus mengakui kesalahan kita berdua, itu saja!” tegas Edward.


“Ya aku akui, aku salah," ucap Kiren.


“Apa kamu sering berbohong? Atau ada hal lain yang kamu sembunyikan dari saya?” selidik Edward.


“Tidak.....tidak ada yang aku sembunyikan dari Kak Edward,” ucap Kiren, mencoba menutupi rasa paniknya.


Edward diam sejenak


“Sebaiknya, kamu temani ibu dan ayah makan. Saya akan makan sendiri di sini!” secara halus Edward tidak ingin kehadiran Kiren lama di ruang kerjanya..


“Sayang kok begitu, apa kata Ibu dan Ayah kalau kamu tidak ikut makan bareng, padahal Kak Edward ada di sini. wajar dong kita makan malam bersama."


“Saya tidak peduli kata kedua orang tuamu, itu tidak penting. Buat apa juga saya harus mencari perhatian dengan orang tuamu,” jawab kasar Edward.


Sedari awal menjalin hubungan dengan Kiren, Edward tipe pria dingin dan sedikit arogan, bersikap apa adanya kepada kedua orang tua Kiren. Lagi pula orang tua Kiren langsung menyetujui hubungan mereka, setelah tahu Edward seorang Presdir dari perusahaan ternama, dan beberapa hotel bintang lima.


Sekarang oleh Kiren, dia di minta untuk menjaga perkataan mertuanya, sepertinya itu tidak masuk di point Edward.


Kiren hanya bisa bergumam kesal mendapat tanggapan dari Edward, ingin merayu suaminya sepertinya harus di tunda setelah melihat wajah Edward tidak bersahabat. Dengan langkah beratnya Kiren meninggalkan suaminya.


“Ferdi.......!” panggil Edward terdengar meninggi, agar Ferdi yang berada di luar ruang, mendengarnya.


“Ya,Tuan....ada yang bisa saya bantu?”


“Bilang ke Pak Jaka, siapkan makan malam saya dan Ghina, lalu antar ke kamar tamu, segera!” titah Edward.


“Baik Tuan...”


🌹🌹


Di paviliun.....


Setelah membantu Ghina menggantikan perban di punggungnya, Ria dan beberapa pelayan sedang bersiap siap menyajikan makan malam buat mereka di pavilun.


Sedangkan Ghina sedang sibuk goreng tempe mendoan di dapur yang berada di paviliun. Sudah kangen katanya pengen makan tempe mendoan, untung bahannya tersedia di dapur.


“Non Ghina, biar saya saja yang meneruskan goreng tempenya,” tawar Tia.


“Nggak pa-pa mbak Tia, nanggung dikit lagi juga selesai,” balas Ghina.


Tia kagum dengan istri pertama Tuan besarnya, sudah cantik, ramah sama pelayan di mansion dan mau berada di dapur. Sungguh berbeda dengan Kiren yang sering menyebutkan dirinya  Nyonya Besar, istri dari Tuan Besar mereka. Sebenarnya hampir semua pelayan sudah tahu status Ghina yang sesungguhnya sebagai istri pertama, tapi Pak Jaka dan Ria minta untuk di simpan masing masing, cukup sekedar tahu saja dan jangan mencari tahu lebihnya.


“Ayuk......teman teman makan malam sudah  siap!” ajak Ria.


Beberapa pelayan, beserta Ria, Tia dan Ghina ikut duduk lesehan di atas karpet. Sama sama ikut bergabung menyantap makan malam bersama, ada beberapa pelayan akan menyusul karena masih sibuk mengurusi nyonya besarnya makan malam.


Di kamar tamu......


Pak Jaka telah menyajikan makan malam yang di pesan Edward untuk dua orang. Sudah tertata rapi di meja sofa.


“Pak Jaka, Ghina nya mana?” tanya Edward, di melihat ke semua sudut tidak ada keberadaan Ghina. Seprai ranjang pun terlihat mulus, rapi seperti tidak tersentuh.


“Saya belum lihat Non Ghina, mungkin ada di luar, Tuan.”


Apa jangan....jangan dia pergi diam diam lagi, seperti tadi siang!! batin Edward


“Perlu saya carikan Non Ghina?” tawar Pak Jaka.


“Ya Pak Jaka, carikan Ghina suruh segera ke kamarnya.”


“Baik Tuan.” Senyum tipis mengular di wajah Pak Jaka setelah keluar dari kamar tamu, sesungguhnya dia tahu ke beradaan Ghina, tapi pura pura tidak tahu. Dan tidak akan di kasih tahu kepada Tuannya.


“Selamat makan malam sendiri Tuan Besar!” gumam Pak Jaka sendiri.


Ghina menikmati makan malamnya dengan senang hati, apalagi pembicaraan dengan para pelayan membuat perut Ghina sakit karena sering tertawa. Sungguh hiburan yang tidak bisa di bayar dengan uang.


Setengah jam Edward menunggu Ghina di kamar tamu, tapi tidak muncul juga gadis itu. Bagaikan setrikaan, Edward mondar mandir di dalam kamar tamu, karena rasa tidak sabarnya, dia mencari Ghina sendiri di sekitar mansionnya.


“Denis, cari Ghina ke seluruh mansion!” titah Edward saat bertemu Denis.


“Siap Tuan.”


Edward lanjut keluar mansion, untuk mencari Ghina di luar. Tapi hasilnya nihil, tidak menemukan Ghina di halaman depan.


Pikiran Edward mulai gundah, bisa saja perkiraan Ghina pergi, benar-benar terjadi. Apakah dia harus ke mansion utama, atau mengecek ke rumah orang tua Ghina. Ini hal gila kalau sampai dia ke sana mencari Ghina, pasti akan menimbulkan  pertanyaan dari kedua orang tuanya dan orangtua Ghina.


.


.


next......Edward akan kelimpungan


Saya tambah UP lagi buat malam mingguan Kakak Reader yang cantik dan ganteng. Jangan lupa tinggalin jejaknya ya.


Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹