
Rafael menatap hangat wanita cantik yang duduk di hadapannya penuh dengan damba.
“Selama tiga tahun saya sabar menunggu, agar cintaku terbalaskan olehmu Ghina. Saya terima setiap penolakanmu. Apa salahnya jika kali ini saya memohon darimu, dan meminta balasan darimu. Saya akan terima statusmu jika kamu sudah bercerai resmi dengan Edward. Apalagi yang kamu tunggu, sudah empat tahun jelas kamu berpisah dengan Edward. Dan selama tiga tahun kita sudah berhubungan baik jauh berbeda dengan hubungan kamu dengan Edward yang baru dua minggu. Dasar laki-laki breng-sek, kamu pergi dari Edward saat itu, pasti ada sesuatu yang burukkan??” duga Rafael.
Nalarnya orang awam jika ada usia pernikahan hanya dua minggu, pasti ada kejadian yang fatal hingga menyebabkan pihak istri pergi dari rumah suami. Inilah yang sekarang ada di dalam pikiran Rafael.
“Mas Rafa, terima kasih telah menjadi teman baik selama tiga tahun ini. Terima kasih atas rasa untuk saya, maafkan tidak bisa membalas cintamu. Bukankah sejak dulu saya sudah bilang, saya tidak bisa memberikan harapan palsu buat mas Rafael. Bukan karena tidak suka dengan mas Rafael, tapi saya lebih menyukai kita hanya sebagai teman,” jawab Ghina.
Rafael dan Ghina masih belum menyadari kehadiran Edward yang tak jauh dari mereka duduk.
Rafael beringsut dari duduknya, kemudian mencondongkan dirinya ke hadapan Ghina, lalu meraih dagu wanita itu.
Rafael langsung mencium bibir Ghina tanpa aba-aba dengan rakusnya, rasa yang sudah lama di pendamnya selama tiga tahun. Ghina berusaha melepaskan pagutan Rafael yang tiba-tiba itu.
“DASAR BRENG-SEK !!!” Edward yang melihat Ghina di cium Rafael, tangan besarnya meraih kerah jas Rafael, hingga Rafael melepas pagutannya. Ghina terkesiap melihat kehadiran Edward.
BUG....
Bogeman Edward melayang ke pipi Rafael, tapi Rafael terlihat santai menima pukulan di wajahnya.
BUG....
Rafael pun memberikan bogemennya ke pipi Edward, dengan tatapan tajamnya.
“Breng-sek kamu........Rafael, beraninya mencium istri saya!!!” pekik Edward, kembali menghajar Rafael.
BUG.....
“Kamulah yang paling breng-sek, menyia-yiakan wanita yang berharga!!!” balas pekik Rafael, kemudian membalas pukulan Edward, dengan sekeras-kerasnya.
“Om Edward......Mas Rafael......hentikan!!” Ghina berusaha memisahkan kedua pria tersebut, yang wajahnya hampir mirip.
Suasana restoran hotel jangan di tanya lagi keadaannya, kegaduhan yang terjadi buat pusat perhatian para pengunjung restoran menjadi heboh.
Ada dua pria tampan baku hantam untuk merebutkan wanita cantik.
Security hotel mulai berdatangan, dan kaget melihat presdir merekalah yang membuat kegaduhan di dalam restoran.
“Om Edward.........berhenti.....” teriak Ghina, tapi sepertinya tidak di dengarkan juga. Di tariknya lengan besar Edward sekuat tenaga Ghina, agar tidak melayangkan pukulan lagi ke Rafael yang sudah babak belur.
Namun sayangnya.......
BRAK......
“AAAKHH.......” teriak Ghina, tubuhnya terhempas jauh. Dan.......
Mendengar teriakan Ghina, Edward dan Rafael menghentikan perkelahiannya.
“GHINA.........!!” teriak serempak Edward dan Rafael.
Tubuh wanita itu sudah tergeletak di lantai, sudah tidak sadarkan diri, sedangkan bagian kepala wanita itu sudah mengeluarkan darah.
“Maafkan aku, Ghina........siapkan mobil,” pinta Edward, kemudian langsung mengangkat tubuh Ghina yang sudah tak sadarkan diri.
Security hotel langsung keluar restoran, untuk menyiapkan mobil Presdirnya.
Edward langsung berlarian keluar restoran dalam keadaan mengangkat tubuh Ghina seorang diri menuju luar lobby hotel.
Rafael masih terduduk di lantai restoran dalam keadaan babak belur. Hanya bisa menyugarkan rambutnya, setelah melihat Ghina terjatuh di lantai akibat perkelahian dirinya dengan Edward.
“Istriku, maafkan aku........bangun Ghina......,” ucap Edward yang memangku Ghina dalam mobilnya menuju rumah sakit. Buliran bening kembali turun di ujung ekor mata pria itu, tanpa di sadari Edward terisak melihat wajah istrinya yang sudah tidak sadarkan.
Dua puluh menit mobil mewah Edward sampai di rumah sakit terdekat. Pria itu tidak mengizinkan orang lain membantu mengangkat tubuh Ghina.
Hanya pria itu yang mengangkat wanita itu dan merebahkan tubuh Ghina di atas brankar, yang sudah di sediakan di luar lobby rumah sakit. Para perawat langsung mendorong brankar ke ruang IGD, Edward turut masuk ke dalam ruang IGD.
Dokter dan perawat langsung memeriksa kondisi Ghina, terutama luka di kepala wanita itu. Edward berdiri di salah satu sisi brankar Ghina, selama Ghina di periksa oleh Dokter, pria itu menggenggam tangan Ghina.
Dokter memberikan suntikan obat bius dengan dosis rendah, karena akan menjahit luka robek yang ada di kepala Ghina. Untungnya luka robeknya tidak terlalu lebar, tapi tetap harus di jahit, dan dapat dua jahitan.
“Pak Edward, wajahnya harus di obati juga.....untuk mengurangi memar di wajahnya,” ujar Dokter.
“Tolong tangani istri saya dulu, istri saya yang perlu di obati,” pinta Edward.
“Istri Pak Edward sudah tertangani, tinggal menunggu sadar dari pingsan dan efek obat bius. Selanjutnya nanti saya akan cek kembali kondisi istri Pak Edward, untuk sekarang pasien di pindahkan ke ruang rawat inap,” ujar Dokter.
“Pindahkan ke ruang rawat VVIP,” pinta Edward, memilih ruang perawatan yang terbaik demi kenyamanan Ghina.
Sebelum Ghina di pindahkan dari ruang IGD ke ruang rawat inap, sang Dokter mengobati luka memar di wajah Edward, sesuai saran dokter, untuk mengurangi memar dan luka di wajah.
Sudah dua jam Ghina belum terbangun, Ferdi dan Ria yang dapat kabar dari Tuannya, segera meluncur ke rumah sakit, membawa keperluan Tuan dan Nyonya nya.
Edward masih setia menunggu duduk di samping ranjang Ghina, tangan besarnya sering sekali menelus pipi Ghina lalu pindah ke tangan wanita itu.
Kelopak mata Ghina mulai mengerjap-ngerjap, “akhirnya kamu sadar juga,” ucap lega Edward melihat Ghina sudah membuka kedua matanya.
Kedua netra wanita itu menelisik keadaannya sendiri, melihat salah satu tangannya di infus, kemudian aroma obat disinfektan ciri khas wangi rumah sakit.
“Maafkan aku, honey......telah buat kamu terluka lagi,” ujar Edward dengan tatapan sendunya.
“Hufft...........!” Ghina menghela napas panjang.
“Apakah dengan berkelahi hati Om, jadi puas!!” tegur Ghina.
“Hati suami mana yang tidak cemburu, melihat pria lain mencium istrinya sendiri di depan mata!” Jawab Edward.
“Lalu hati istri mana yang tidak sakit melihat suaminya sendiri berciuman dengan istri yang lain di depan matanya sendiri. Haruskah saat itu aku berkelahi dengan Kiren!!!” jawab telak Ghina.
“Tapi aku tidak berkelahi Om, aku pendam rasa sakit ini di sini. Apa yang Om rasa.........itulah yang aku rasa saat itu,” lanjut Ghina.
“Tapi Rafael telah berani mencium kamu Ghin. Aku cemburu!!!”
“Atau jangan-jangan selama ini kamu sering berciuman dengan Rafael, jadi kamu sudah terbiasa di cium oleh Rafael,” tuduh Edward kepada Ghina.
bersambung