
Edward mengajak Ghina mengelilingi mansion mereka yang baru. Ghina selalu terpukau dengan interior yang di pilih oleh suaminya, terlihat nyaman. Apalagi area dapur, Ghina sangat menyukainya.
“Hubby, aku suka banget sama dapurnya......bagus.”
“Aku tahu dari dulu kamu memang paling suka dengan dapur yang bagus, apalagi istriku ini hobbynya ke dapur. Jadi aku khusus bikin dapur bersih sama dapur kotornya lebih bagus, biar istriku nyaman di dapur. Tapi jangan lama-lama di dapurnya.....nanti aku kangen sama sayang.”
“Akukan di dapur masak buat hubby, biar hubby makin jatuh cinta sama aku,” Ghina mengedipkan salah satu matanya.
“Sayang di dapur, ada yang lagi masak apa ya....kok wanginya gak enak banget ya. Perutku kok tiba-tiba mual ya,” tiba-tiba Edward mengeluh, ketika mencium aroma masakan.
“O-oh ini aroma bawang goreng, hubby,”
“Aku pengen muntah sayang,” Edward langsung membungkam mulutnya, dan berlari menuju kamar mandi dekat dapur. Ghina turut mengikuti suaminya.
“Huek.........huek.....huek....,” Pria itu benar mengeluarkan isi perutnya di closet. Ghina langsung memijat tengkuk suaminya.
“Hubby, kayaknya masuk angin deh.”
“Huek......huek.....huek.,” kembali lagi Edward mengeluarkan isi perutnya. Dengan lembutnya Ghina masih memijat tengkuk Edward.
“Sudah enakkan, by?”
“Masih agak mual, sayang,” wajah Edward mulai pucat.
“Istirahat di kamar ya, aku buatkan teh hangat dulu biar enakkan,” ujar Ghina.
“Iya sayang, jangan lama-lama ya,” manja Edward, sambil memegang perutnya yang masih terasa mual.
“Iya hubby,” Ghina segera ke dapur membuat teh hangat untuk suaminya. Tapi sebelum ke kamar ternyata Edward masih di kamar mandi dekat dapur mengeluarkan isi perutnya kembali.
Terpaksa Ghina memanggil Pak Jaka untuk membantu membopong Edward yang nampak lemas di kamar mandi. “Bawa ke kamar di bawah aja Pak Jaka,” pinta Ghina, agak repot kalau Pak Jaka membawa Edward ke kamar mereka yang ada di lantai dua.
Sedangkan Ferdi yang melihat Tuan Besarnya sakit, langsung menghubungi dokter dari rumah sakit Tuan Besarnya, agar segera di cek.
“Nyonya, sebentar lagi dokter akan datang,” lapor Ferdi.
“Iya makasih Pak Ferdi, sekalian saya minta tolong minta sama mbak Ria minyak angin, dan minta buatkan bubur ayam.”
“Baik Nyonya,” Ferdi bergegas keluar dari kamar.
“Sayang, perut aku kok mual sekali,” keluh Edward.
“Minum teh hangat dulu ya, buar agak enakkan perut hubby,” Ghina menyodorkan teh hangat. Dan Edward langsung menyesapnya pelan-pelan.
“Nyonya, ini minyak anginnya,” Ferdi menyodorkan botol minyak anginnya.
“Dokternya sudah sampai mana, Pak Ferdi?”
“Perkiraan tiga puluh menit lagi sampai,” jawab Ferdi.
“Oke.”
“Hubby, aku balurin minyak angin dulu perutnya ya?” wanita itu langsung menyingkap kaos yang melekat di tubuh suaminya. Edward sudah pasrah saja, terserah istrinya, pria itu manut aja.
“Kok gak biasanya hubby muntah-muntah loh, padahal makannya sudah teratur. Apa hubby punya sakit lambung?”
“Punya sayang, malah pernah pingsan gara-gara dapat surat cerai dari sayang,” ucap lirih Edward.
“Iyakah? Gara-gara surat cerai hubby bisa pingsan, jadi ngebayangin badan hubby yang kelihatan sehat dan gagah ini bisa pingsan juga!” Ejek Ghina.
“Ya bisa pingsan, gara-gara cari dan pikirin sayang, sampai lupa makan.”
“Duh kasihan suamiku ini, bisa sakit karena memikirkan aku. Makasih hubby, cepat sehat ya.”
“Tapi kali ini kok beda ya sayang, masa gara-gara cium aroma bawang goreng, bikin langsung mual dan pengen muntah seketika.”
“Ada beberapa orang suka mual sih by, kalau cium aroma bawang. Mungkin hubby termasuk tipe seperti itu. Sekarang apa lagi yang di rasa?”
“Kepalaku tiba-tiba pusing,.....pijitin kepalaku dong, sayang” keluh Edward. Ghina langsung memijat lembut kepala suaminya, dan terlihat Edward menikmati pijatan istrinya.
“Pijatan sayang enak banget,” Edward terbuai dengan jari istrinya yang berada di kepalanya.
TOK....TOK....TOK
“Permisi Nyonya, dokternya sudah datang,” lapor Ferdi.
“Suruh masuk Pak Ferdi,” pinta Ghina.
“Silahkan masuk Dokter,” ujar Ferdi.
“Selamat siang Pak Edward, apa yang di keluhkan?” tanya Dokter, sambil mengeluarkan alat stetoskopnya dari tasnya
“Makannya teratur Pak Edward?”
“Teratur tidak pernah telat, saya tiba-tiba mual gara-gara cium aroma bawang goreng.”
Dokter langsung mengernyitkan keningnya, seperti biasa dokter memeriksa kondisi di bagian dada dan perut dengan menggunakan stetoskopnya.
“Istri Pak Edward sedang hamilkah?” tanya Dokter.
“Tidak Dokter, saya sedang tidak hamil,” jawab Ghina.
“Kalau menurut saya kondisi Pak Edward sehat-sehat saja.”
“Lalu kenapa saya tiba-tiba mual dan muntah, jika tidak sakit namanya?” tanda tanya Edward
“Maaf Bu, sebelumnya dalam sebulan ini ibu sudah haid belum?” tanya Dokter.
Ghina langsung mengingat-ingat kapan terakhir haid, dan dirinya juga merasa hampir tiap hari digumuli sama suaminya, berarti dalam sebulan ini wanita itu belum haid. Ghina langsung menatap wajah suaminya.
“Seingat saya, sebulan ini saya belum datang bulan, Dokter.”
Dokter segera membuka tas obatnya, dan mengeluarkan sesuatu.
“Ibu sekarang cek pakai test pack dulu, tampung urine ibu ke wadah ini, lalu masukkan alat test pack ini,” pinta Dokter.
“B-baik Dokter,” agak bingung sendiri Ghina, di minta seperti itu oleh sang dokter. Kemudian wanita itu masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar.
Sepuluh menit kemudian Ghina keluar dari kamar mandi, “ini Dokter alat testpack nya,” Ghina menyodorkannya kepada sang Dokter.
Dokter langsung tersenyum melihat hasil testpack Ghina, “selamat Pak Edward, istri bapak positif hamil.”
“Apa......istri saya hamil,” terkejut Edward, langsung loncat dari pembaringannya dan memeluk tubuh istrinya.
“Sayang.....kamu hamil sayang....!” Kebahagiaan Edward membuncah. Sedangkan Ghina menangis bahagia menerima berita yang mengejutkan, bahwa dirinya sedang mengandung buah hati, benih cinta mereka berdua.
“Aku akan jadi daddy, sayang,” Edward memeluk erat Ghina, bahagia........sangat bahagia.
“Dan aku akan menjadi mommy,” jawab Ghina bahagia.
“Terima kasih Dokter, atas kabar bahagia ini,” ujar Edward.
“Sama-sama Pak Edward, untuk lebih memastikan kondisi kehamilan istri bapak. Sebaiknya langsung periksa ke rumah sakit. Sedangkan kondisi bapak, sepertinya mengalami kehamilan simpatik.”
“Apa itu kehamilan simpatik?” tanya Edward.
“Di mana kondisi istri yang sedang hamil mengalami beberapa hal pindah ke suami, jadi suami merasakan yang biasa di alami oleh ibu yang sedang hamil. Seperti mual, muntah, tidak suka beberapa aroma, hingga menginginkan sesuatu berupa makanan atau minuman.”
“OOh.....jadi saya merasakan layaknya ibu hamil ya Dok?”
“Betul sekali Pak Edward,”
“Demi anak daddy di perut mommy, daddy rela merasakan sakitnya,” Edward tersenyum bahagia sambil mengelus perut istrinya.
“Kalau begitu, saya hanya bisa memberikan obat mual, agar mengurangi rasa mual untuk Pak Edward.”
“Terima kasih Dokter,”
“Kalau begitu saya pamit kembali ke rumah sakit,” pamit Dokter.
“Silahkan Dokter, terima kasih banyak,” ujar Ghina. Ferdi langsung mengantar dokter ke lobby mansion.
“Aku bahagia sayang, akhirnya doaku terkabul. Aku akan memiliki anak darimu sayang,” Edward mengecup-ngecup perut Ghina.
“Hubby....geli.....jangan dicium terus perutnya.”
“Kita ke rumah sakit ya sayang, aku gak sabar lihat calon anak kita,” begitu semangatnya Edward.
“Ya sudah kita siap-siap dulu ya, lalu ke rumah sakit,” ucap Ghina.
“Oke sayang......”
Hal yang di nantikan akhirnya datang, berita kehamilan ini membuat kedua pasangan suami istri ini sangat bahagia. Menanti buah hati pengikat cinta mereka berdua.