
Yogyakarta
Pagi ini Ghina sedikit melow, setelah kemarin sore berpisah dengan kedua orang tuanya. Sekarang kedua orang tua Ghina sudah berada di Jakarta, dan tinggallah Ghina di Yogyakarta.
“Non.....pagi-pagi jangan bengong nanti di patuk ayam loh,” ujar Ria, sambil menyiapkan sarapan pagi buat gadis itu.
“Mbak Ria bisa aja, masa bengong bisa di patuk ayam,” celetuk Ghina.
“Ya bisalah di patuk ayam, coba non Ghina bengong di kandang ayam, pasti banyak yang matukkin.”
“Duh ya.....kalau di kandang ayam ya pastilah di patuk ayam,” sahut Ghina sambil terkekeh.
“Nah sekarang sarapan pagi dulu, biar semangat menghadapi dunia ini,” ucap Ria lagi semangat.
“Widih mantap kali mbak kata-katanya menghadapi dunia yang kejam, makasih ya mbak Ria buat sarapannya,” Ghina segera menuang nasi goreng beserta telur mata ayam di piring kosongnya, kalau piringnya penuh gak mungkin di isi lagi.
“Mbak Ria, sekalian ikutan sarapan, masa saya sendiri makannya,” ajak Ghina sambil menepuk tangannya di bangku kosong, yang gak ada penghuninya. Kalau ada penghuninya gak bakal bisa ditepuk tuh kursinya, yang ada pasti di marahin.
“Iya Non,” Ria segera duduk di bangku kosong, dan segera menuang nasi ke dalam piring kosong.
Ghina dan Ria menikmati sarapan berdua dengan hikmat Sambil menikmati sarapannya, gadis itu melihat ke arah dapur yang interiornya membuat Ghina jatuh cinta, walau tidak semewah dapur di mansion utama dan mansion Edward. Tapi buat Ghina sudah cukup mewah, gadis itu melihat sudah tersedia oven, mixer dan berbagai perabotan masak.
“Mbak Ria, setelah sarapan, kita ke pasar yuk.......belanja keperluan buat kita berdua, sekalian saya mau belin bahan-bahan kue,” ucap Ghina.
“Iya Non, kebutuhan dapur juga seadanya tadi mbak lihat, makannya bikin sarapannya seadanya saja.”
“Kalau begitu habis sarapan, siap-siap ya mbak,” ucap Ghina.
“OKE non.”
Habis menyantap sarapannya, Ghina bergegas mengganti dasternya dengan baju casual, dan tak lupa kepalanya memakai topi.
“Ayuk mbak cusss, mobil onlinenya sudah datang nih,” panggil Ghina yang sudah berada di ruang tamu.
“Iya Non,” sahut Ria, buru-buru keluar dari kamarnya yang berada di lantai bawah, setelah berganti pakaian.
Ria segera mengunci pintu, kemudian mengunci pagar rumah, lalu menyusul Ghina yang sudah berada di dalam mobil.
“Tujuannya sesuai aplikasi ya Pak,” pinta Ghina.
“Baik mbak.”
Mobil online pun melaju menuju pasar yang terdekat dari komplek perumahannya.
Hanya memakan waktu dua puluh menit, Ghina dan Ria sudah sampai ke pasar.
“Mbak Ria, kita ke atm dulu ya, ambil uangnya dulu buat belanja,” ucap Ghina setelah melihat ada beberapa bilik ATM yang tersedia di area luar pasar.
“Iya Non,” Ria mengikuti langkah Ghina.
Gadis itu memilih bilik ATM yang sesuai dengan kartu ATM yang diberikan Opa Thalib.
“Masya allah.........,” seru Ghina, matanya membelalak saat mengecek saldo yang tertera di layar mesin atm.
Saldo Rp. 50.000.000,00
Ini gak salah Opa kasih uangnya, ini bisa buat keperluan satu tahun.
Ghina hanya mengambil uang tunai seperlunya saja, sesuai kebutuhan yang mau di belinya. Sebanyak apapun uang jika terlalu dihambur-hamburkan tidak akan pernah cukup. Dengan uang yang diberikan Opa Thalib, tidak membuat Ghina gelap mata untuk membeli barang. Lagi pula gadis itu masih memiliki tabungan hasil dari jerih payahnya sendiri, apalagi honor terakhir pemotretan sudah gadis itu terima, dan masih utuh di tabungannya.
“Let’s go, mbak ria....” Ghina menarik tangan Ria setelah keluar dari bilik ATM, kemudian masuk ke dalam pasar, dan berbelanja aneka sayur, ayam, daging, telur, ikan, minyak goreng, bahan kue........perasaan list belanjaannya kayak emak-emak ya 😅.......ya udah lanjut deh belanjanya.
🌹🌹
Jakarta
Mansion Edward
Dari semalam Edward uring-uringan setelah mendapat kabar jika semua penerbangan di bandara dan keberangkatan di stasiun kereta api, tidak ada nama penumpang Ghina Farahditya.
TOK....TOK....TOK
“Masuk.....” sahut Edward dari dalam kamar.
“Tuan, sebaiknya makan dulu, dari kemarin siang Tuan belum makan,” ujar Ferdi.
“Makan dulu Tuan, bagaimana mau cari non Ghina jika Tuan akhirnya jatuh sakit,” ucap Pak Jaka.
Pria itu menatap hidangan yang sudah di sajikan oleh kepala pelayannya.
Selera makan pria itu memang dari kemarin siang menghilang, memikirkan kepergian Ghina yang hingga kini belum tahu keberadaannya. Tanpa semangat pria itu mengambil semangkok bubur ayam, lalu mulai menyendok bubur itu.
Ferdi dan Pak Jaka masih setia menunggu Tuannya menghabiskan sarapan paginya.
“Ferdi, siapkan mobil.......antar saya ke rumah orang tua Ghina dan jangan lupa hari ini kamu pergi dengan Anis,” pinta Edward, setelah menyelesaikannya sarapannya.
“Baik Tuan,” jawab Ferdi.
Edward bergegas merapikan pakaiannya, kemudian keluar dari kamar.
“Kak Edward........” sapa Kiren ketika mereka berpas-pasan di ruang utama.
Edward menoleh ke arah Kiren dan menatap dingin, tanpa menjawab pria itu meninggalkan Kiren.
“Kak Edward.....” panggil Kiren sambil mengejar Edward yang sudah keluar dari pintu mansion, lalu meraih tangan Edward.
“Kak Edward, kenapa menghindari aku, apa salah aku?” tanya Kiren.
Edward menepis tangan Kiren, kemudian masuk ke dalam mobilnya, lalu menutup pintu mobilnya.
“Jalan....Pak!” perintah Edward pada sopirnya.
Kiren hanya bisa berdiri tepaku, melihat suaminya pergi meninggalkan begitu saja tanpa sapaan.
Ini tidak boleh terjadi, Kak Edward tidak boleh berubah padaku.
🌹🌹
Rumah Orang Tua Ghina
“Assalamualaikum......” sapa Edward dari luar pintu rumah.
“Walaikumsalam...,”sahut suara wanita dari dalam rumah.
Ceklek..
Pintu rumah terbuka......
“Kak Sarah..........,” sapa Edward.
Wajah mama Sarah terlihat tidak suka dengan tamu yang ada di depan rumahnya.
“Mau apa kamu datang kesini!” ketus Mama Sarah, langsung bersedekap.
“Saya ingin bicara dengan Bang Zaka dan Kak Sarah,” ucap Edward.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan dengan kami. Sebaiknya kamu pergi dari rumah ini, dan jangan pernah kembali ke sini!” seru Mama Sarah dengan suara meninggi, masih berdiri di depan pintu. Dan tidak mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam.
“Mam, siapa yang datang?” tanya Papa Zakaria yang baru muncul di ruang tamu.
“Bang Zaka.....,” sapa Edward.
“Ooh......kamu toh tamunya!!’ ujar sinis Papa Zakaria.
“Masih berani kamu ke sini, pergilah kamu dari sini!” seru Papa Zakaria.
“Bang Zaka izinkan saya bicara,” mohon Edward.
“Saya sudah tidak sudi bicara dengan kamu lagi. Jadi sebaiknya angkat kaki dari sini,” titah Pak Zakaria.
Mendapat penolakan dari kedua orang tua Ghina, tiba-tiba pria itu bertekuk lutut di hadapan kedua orang tua Ghina.
“Bang Zaka, Kak Sarah.......saya minta maaf sebesar-besarnya, saya mengakui kesalahan saya yang telah menyakiti Ghina. Saya minta maaf,” lirih Edward, dengan menundukkan kepalanya. Sedangkan tangannya mengusap matanya yang mulai basah.
.
.
Dari pagi udah up Bab baru tapi masih ditahan NT, ini malam coba up lagi.......kalau masih belum terbit juga......OMG bikin gemes 😔😔