
“Gak tahu mbak, kok tiba-tiba kok berasa sedih aja,” jawab Ghina, sambil mengelus dadanya, dan menenguk segelas air putih.
“Non Ghina lagi mikirin sesuatu gak?” selidik Ria.
“Enggak mikirin apa-apa, tapi rasanya gak enak mbak, tiba-tiba ada rasa nyess di dada,” jawab Ghina, polos mengutarakan yang di rasanya.
“Mungkin ada yang mikirin non Ghina, jadi nyentrum ke non Ghina,” jawab Ria.
“Ooh mungkin mama sama papa yang lagi mikirin Ghina ya,” duga Ghina, gadis itu mulai melanjutkan makan siangnya dengan rasa hati yang tidak nyaman pastinya.
“Ghina........”
Ghina langsung tersentak seketika, kemudian meletakkan sendok makannya ke atas piring, dan salah satu tangannya memegang tengkuknya.
Melirik ke kiri dan ke kanan, mencari suara pria yang memanggilnya. Padahal di hadapannya hanya ada Ria, tidak ada laki-laki.
Duh jangan-jangan nih rumah ada hantunya lagi, siang hari bolong kok ada yang panggil. Mana suara cowok lagi ......batin Ghina bikin merinding.
“Non.........non......non Ghina,” panggil Ria, sambil melambaikan tangannya ke wajah Ghina yang tiba-tiba bengong.
“Ee--eeh......iya mbak,” langsung tersadar dari bengongnya.
“Non.......udah selesai makannya, biar sekalian mau saya rapiin piringnya,” ujar Ria.
“Iya......mbak......rapiin aja,” sambil memberikan piring bekas makannya yang isinya belum habis. Tiba-tiba selera makannya hilang.
“Huft.........semoga cepat hilang rasa gak enaknya....,” gumam Ghina sambil meneguk segelas air putih.
🌹🌹
Jakarta
Hotel A.......
Waktu siang hari, Ferdi dan Anis sudah tiba di hotel milik Edward, setelah sebelumnya Ferdi menghubungi Edward, menanyakan keberadaan Tuannya.
TOK.........TOK......TOK
“Masuk......!’sahut Edward dari dalam ruangannya.
“Selamat siang Tuan,” sapa Ferdi, di balik punggungnya terlihat Anis.
“Ohh......sudah sampai kamu, duduk....,” pinta Edward.
Ferdi dan Anis duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerjanya.
“Saya mau melaporkan hasil penyelidikan di rumah sakit,” ucap Ferdi dengan menyerahkan dokumen.
Sesungguhnya untuk meminta copy an rekam medis pasien di rumah sakit termasuk agak sulit, tapi dengan keahlian negosiasi Ferdi serta kekuatan uang, menjadi mudah mendapatkannya.
Edward membaca dokumen yang Ferdi bawa, dengan seksama hingga berulang kali di bolak balik lembaran tersebut.
Anis udah mulai harap-harap cemas.
“Dan ini hasil lab kopi dan sampel dari obat yang Anis jual ke Kiren,” Ferdi menyerahkan amplop dari rumah sakit miliknya.
Tangan Edward segera meraih amplop dari tangan Ferdi, kemudian membacanya.
Isi kepala pria itu rasanya ingin pecah. Semua yang di gosipkan Anis dan yang di dengar oleh Edward sendiri, benar adanya.
“HA.....HA.....HA...ternyata selama ini saya telah buta!” Edward tertawa terbahak-bahak, menertawakan kebodohan dirinya sendiri. Buta akan cintanya, yang membuat dirinya masuk ke dalam jurang.
Sekarang hanya sebuah penyesalan yang bisa dirasakan, sering menepis rasa suka dengan gadis kecil, akhirnya mengalihkan perasaannya dengan wanita yang selalu menghampirinya setiap hari, hingga pria itu luluh akan perhatian wanita itu.
“HA......HA.......HA.....” Edward masih tertawa terbahak-bahak, Ferdi terlihat cemas karena reaksi dari Tuannya agak berbeda, biasanya jika ada yang membuat dirinya marah, pasti akan meledak emosinya dengan membanting segala benda, tapi kali ini belum terjadi.
“Kamu tahu Ferdi......istriku yang di jodohkan papaku........sudah pergi jauh......Ghina telah melupakanku, Orangtuanya bilang seperti itu!!...Ferdi......ha...ha....ha!” ucap Edward di sela-sela tertawanya.
“Dan sekarang......istri yang kupilih sendiri, seperti ini......ha....ha....ha.......lucukan Ferdi!!”
Wajah pria itu memang sedang tertawa, akan tetapi bukan tawa bahagia, tapi tawa yang menyesakkan hati pria itu sendiri.
Istri yang di jodohin, istri yang dipilihnya........maksudnya apa ya....trus Ghina itu siapa? Bukannya Kiren istrinya Pak Presdir.........pikir Anis.
“Ferdi, transfer bonus untuk Anis. Dan kamu.......Anis bisa tinggalkan tempat ini!” ucap Edward sambil melambaikan tangan ke Anis, agar segera keluar dari ruangannya.
“Baik Pak Presdir,” ucap Anis langsung beranjak dari duduknya. Ferdi langsung mengantar Anis keluar ruangan.
“Anis, saya harap kamu bisa menjaga rahasia apa yang kamu dengar tentang Pak Presdir, jika sampai menjadi gosip. Saya akan tahu jika itu dari mulut kamu. Dan sudah tahu konsekuensinya, kamu akan di pecat!” peringatan Ferdi saat mengantar Anis keluar ruangan.
Bulu halus Anis langsung merinding seketika, mendengar peringatan akan di pecat.
“B-baik Pak Ferdi, s-saya akan jaga m-mulut saya...,” jawab Anis agak tergagap.
“Bagus, pegang janji kamu sendiri....bonus yang dijanjikan oleh Pak Presdir akan segara saya transfer,” tegas Ferdi.
“Baik Pak Ferdi, terima kasih,” balas Anis, dan bergegas pergi.
Setelah mengantar Anis keluar ruangan, Ferdi kembali ke ruangan Presdir. Dan menemukan Tuannya sedang berdiri dekat jendela, dengan tatapan keluar jendela.
Sebenarnya di dalam tas kerja Ferdi masih ada satu dokumen lagi untuk Edward, yang sempat Ferdi terima tadi pagi dari Santi sekretaris di kantor Thalib Grup. Dan sepertinya dokumen itu sangat penting, hingga dibawanyalah untuk diserahkan segera kepada Edward.
“Tuan Besar....,” panggil Ferdi yang sudah mendekatkan dirinya.
Edward menoleh ke belakang, menghadap ke arah Ferdi.
“Masih ada dokumen untuk Tuan, ini tadi dikirim ke kantor, sepertinya dokumen ini penting,” ucap Ferdi dengan menyodorkan amplop coklat.
Wajah Edward sudah terlihat pucat di mata Ferdi, Edward meraih dokumen tersebut dari tangan Ferdi. Kemudian pria itu membuka amplop tersebut.
DEG
DEG
DEG
Kedua tangan pria itu mulai gemetar memegang isi amplop tersebut, dan tiba-tiba salah satu tangannya sudah menyandar ke dinding. Badannya terasa melayang, seperti keluar dari raganya. Sepertinya pria itu dihantam sesuatu yang sangat besar.
GUBRAK.......
Seketika tubuh gagah pria itu sudah terjatuh tak sadarkan diri ke lantai.....
“TUAN EDWARD....!” pekik Ferdi, langsung menghampiri tuannya...
“TUAN.....TUAN.....TUAN....!” panggil Ferdi sambil menepuk-nepuk pipi Edward, agar tersadar.
Ferdi berlari keluar ruangan sebentar untuk mencari bala bantuan, dan kembali masuk dengan beberapa karyawan.
“Surat pengadilan agama,” gumam Ferdi saat memungut surat yang sempat di baca Edward di lantai, dan segera menyimpan di tas kerjanya.
Edward langsung di bopong oleh beberapa orang menuju ke kamar yang sudah sempat diminta oleh pria itu.
Ferdi dengan cekatan segera menghubungi Dokter pribadi agar segera datang ke hotel untuk memeriksa kondisi Tuannya.
Sesampainya di kamar, Edward dibaringkan dengan hati-hati. Ferdi bergegas membuka jas yang dikenakan Edward, lalu sepatunya. Ferdi sempat menyentuh tangan Edward, yang terasa dingin seperti es.....wajah pria tampan itu juga sudah terlihat pucat pasi.
“Tolong kamu bawa minyak angin, siapkan minuman hangat, dan makanan........segera,” pinta Ferdi kepada salah satu karyawan.
“Baik Pak.”
Tanpa menunggu waktu lama, Dokter pribadi sudah datang dengan salah satu perawat dengan membawa beberapa alat medis.
.
.
next
Menikmati rasa sakitn