
Film sudah di mulai, akan tetapi pasangan suami istri malah sibuk saling memangut. Kecupan hangat nan basah dari sang pria, membuat sensasi yang baru-baru ini di rasa oleh sang istri kembali menyelusup. Sedangkan sang suami sudah berkali-kali menahan hasratnya gara-gara godaan istrinya.
“Om.........,” wanita itu melepaskan ciuman dari suaminya. “Kita mau ciuman terus atau mau nonton Om,” bisik Ghina di daun telinga Edward.
“Kamu yang duluan godaiin saya, gimana kalau kita ciuman aja sampai filmnya habis,” ajak Edward, sengaja menghembuskan napasnya di daun telinga Ghina.
“Iihss.......buat apa ke bioskop, kalau cuma buat ciuman aja. Kan bisa di rumah aja. Lagian sayang filmnya jadi gak di tonton, hubby. Lagian kan malu kalau sampai ketahuan,” wanita itu memperbaiki posisi duduknya.
“Ghina, coba lihat ke bangku belakang sama bangku depan kita,” pinta Edward. Ghina langsung melirik ke belakang dan ke depan. Kedua matanya langsung mendelik, melihat dengan di belakang dan depannya.
Edward sudah tertawa pelan, ”gimana.....sudah lihatkan?”
“Hubby...........,” rengek Ghina.
“Biasanya di bioskop banyak muda mudi yang pacaran suka ciuman, karena kita lagi pacaran jadi gak salahkan aku mencium istri sendiri. Pengen tahu rasanya berciuman di bioskop sama kekasih halalku,” ucap Edward, di rangkulnya pinggang Ghina, agar kembali mendekat.
“Tapi kita bisa lebih di rumah , Om Edward. Tidak sekedar berciuman........tapi---“
“Making love......istriku,” bisik Edward, kemudian mengecup kening istrinya.
“Mmmmm........,” gumam Ghina, tersipu malu-malu.
“Ya sudah sekarang kita nikmati filmnya, terus di habiskan minuman dan makanan yang sudah di beli,” pinta Edward.
“Oke suamiku,” jawab Ghina, wanita itu mulai mengemil nachos yang sudah di siram keju cair dan kentang goreng, sesekali wanita itu menyuapi suaminya.
Menonton film di bioskop, sambil di rangkul sama suami tampan.....rasanya bikin berdebar hati. Apalagi jika sering dapat kecupan hangat di tengkuk, bikin merinding disko. Oh.....sungguh indah ternyata kalau pacaran dengan kekasih halal. Gak ada rasa khawatir kalau pulang ke rumah di marahi sama emak dan bapak karena pulang ke malaman atau ada noda merah di sekitar leher. Pokoknya aman.
Selama satu jam lebih, makanan yang di pesan sudah habis, film yang di tonton pun sudah berakhir, lampu studio kembali terang tidak gelap seperti tadi. Edward merapikan dress istrinya dari sisa remahan makanan dengan kedua tangannya, dan melap lipstik istrinya yang sedikit belepotan akibat lumaatannya.
Pria tampan itu mengamit tangan istrinya, dan menuntun untuk jalan bersama-sama menurunin anak tangga satu persatu.
“Hubby, nanti aku ke toilet sebentar ya.”
“Iya, nanti aku tunggu di depan toilet ya, cantik.”
Edward mengantar istrinya ke toilet yang ada di dalam bioskop, bersandar di tembok sambil memegang tas istrinya.
Sambil menunggu Ghina yang masih di dalam toilet, dari kejauhan Ferdi dan Ria sudah keluar dari theater 2, dan menghampiri Tuannya yang sedang berdiri.
“Nyonya ke mana Tuan?” tanya Ria.
“Ada di dalam toilet,” jawab Edward.
“Kalau begitu saya susul nyonya ke dalam dulu.” Ria ikutan masuk ke dalam toilet.
“YA.....”
“Gimana Ferdi nonton berduaan sama Ria?” tanya Edward.
“Biasa saja Tuan,” jawab santai Ferdi.
“Ayolah Ferdi bukalah hatimu sekarang, carilah pasangan hidup. Lupakan kisah cinta pertamamu yang ada di kampung. Keburu umur kepala empat,” ujar Edward.
“Tapi Tuan, saya belum bisa melupakannya,” jawab Ferdi.
“Tidak bisa melupakan tandanya belum bisa move on, bukannya mantan kamu sudah menikah di kampung?”
“Iya, sudah nikah, kabarnya sudah punya anak dua.”
“Nah apalagi sudah punya anak, buat apa kamu masih mengharapkannya. Ria juga wanita yang baik, coba kamu buka hati buat Ria.........lagi pula kalian juga sudah mengenal lama. Jangan lihat Ria sebagai asisten rumah tangga, tapi sebagai seorang wanita,” ujar Edward, terselip untuk menjodohkan asisten pribadinya dengan Ria.
“Saya tidak memaksa, kalau kamu tidak tertarik dengan Ria gak pa-pa. Mungkin kamu suka dengan wanita yang lain, saya hanya ingin agar kamu segera memiliki istri,” Edward menepuk bahu pria yang termasuk ganteng.
Ferdi hanya menganggukkan kepalanya pelan.
“Hubby........,” Ghina langsung merangkul lengan suaminya.
“Sudah selesai urusan ke tolietnya?”
“Sudah hubby, sekarang kita ke restoran ayam goreng ya By,” pinta Ghina dengan suara menggemaskan.
“Siap Nyonya Edward, mau ke mana saja, aku siap mengantar,” jawab Edward.
“Makasih Tuan Edward,” jawab Ghina sambil tersenyum manis.
Ria dan Ferdi ikut tersenyum tipis, turut merasakan euforia kebahagiaan Tuan dan Nyonya. Sekilas Ferdi melirik Ria yang berada di sampingnya.
Lumayan manis juga.......batin Ferdi.
Tidak ada hal yang tidak mungkin terjadi jika tidak pernah mencoba untuk membuka diri. Sudah ada contohnya di depan mata Ferdi, Nyonya mudanya yang tersakiti namun membuka dirinya menerima kembali suaminya yang berusaha memperbaiki dirinya.
Sedangkan Ferdi yang terluka karena cinta pertamanya, ternyata masih menutup dirinya, agar tidak tersentuh lagi dengan makhluk yang berjenis wanita. Kadang manusia bisa menasehati orang lain, akan tetapi banyak nasihat yang di ucapkannya tidak bisa diterapkan ke dirinya sendiri.
Selama mengikuti langkah Tuan dan Nyonya, Ferdi sedikit melamun.
“Aaaww.....aduh,” ringis Ria, tiba-tiba tubuh nya tak sengaja beradu dengan Ferdi.
“EEhh... maaf yaa....gak sengaja,” jawab Ferdi agak gelagapan.
“Makanya pak Ferdi kalau jalan jangan kebanyakan bengong,” jawab Ria.
“Eehh iya Ria,” jawab Ferdi kembali, jadi salah tingkah.
Melihat Ferdi dan Ria saling bertubrukan, membuat Ghina dan Edward saling mengedipkan matanya.
Semoga kalian berdua berjodoh ya....batin Ghina.
“Ayo Pak Ferdi, mbak Ria.....cepetan jalannya. Saya udah kelaparan nih!’ Serua Ghina.
“Iya Nyonya.....,” jawab serempak Ria dan Ferdi, bergegas menyusul Tuan dan Nyonyanya yang sudah agak jauh langkahnya.
Sekarang mereka berempat sudah ada di lantai tiga tempat berada restoran ayam goreng pilihan Ghina. Edward dengan setianya ikut mengantre dengan istrinya, begitupun juga Ferdi dan Ria setiap berdiri antre di belakang nyonya dan tuannya.
Dengan cekatan Ghina memesan ayam goreng satu ember, beberapa nasi, kentang goreng, cream sop, burger, minuman dingin dan air mineral. Edward kebagian yang membayarnya. Sedangkan Ferdi dan Ria otomatis yang membawa nampan pesanannya.
“Selamat makan semuanya,” ucap Ghina, setelah berdoa. Dan menyiapkan makan buat suaminya.
“Makasih Nyonya,” jawab Ria yang turut makan. Kini mereka berempat duduk bersama menikmati makan di restoran ayam goreng. Bukan restoran mewah bagi Edward, akan tetapi bisa membuat hati istrinya senang.
“Makasih ya Om Edward buat acara pacaran, nanti kapan-kapan ajakin aku pacaran lagi ya,” ucap manis Ghina.
bersambung.....
Halo Kakak Readers yang cantik dan ganteng, jangan lupa tinggalin jejaknya ya, biar tambah semangat nulisnya.......tinggalin jejak itu gratis loh 😁.
Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹