Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Kisah Buket Bunga Tulip


Menjelang malam hari.......


Rumah Ghina.


“Non Ghina makan dulu ya, ini mbak beliin bubur ayam kesukaan Non Ghina. Mbak suapin ya?” tanya Ria.


Ria menaruh mangkok bubur ayamnya ke atas nakas, kemudian membantu Ghina untuk duduk bersandar di headboard. Kedua mata Ghina terlihat sayu dan sembab saat Ria melihatnya, entah karena akibat suhu panas atau habis menangis.


Ria mulai menyuapi bubur ayam dengan sendok makan, Ghina menerima suapan dari Ria. Satu mangkok bubur ayam akhirnya habis juga walau agak lama makannya.


“Ini Non, minumnya........” ujar Ria memberikan gelas yang berisi air hangat.


“Non, boleh mbak tanya  sesuatu....?” tanya Ria pelan-pelan.


“Tanya apa mbak?” jawab Ghina.


“Non sama Tuan habis bertengkar ya?” tanya Ghina.


“Enggak, kenapa memangnya?” tanya balik Ghina.


“Waktu sebelum pergi, wajah Tuan sedikit berbeda aja....kayak benang kusut. Maaf ya Non kalau bertanya masalah pribadi,” ucap Ria sedikit tidak enak hati.


“Gak pa-pa kok mbak. Mbak Ria kan sudah kenal saya sudah lama.”


Ria meraih tangan Ghina dan menggenggamnya,


“Non jangan suka di pendam sendiri kalau ada masalah, tidak selamanya kita bisa menghadapi masalah itu sendiri,” ujar Ria.


“Non, mbak mau cerita kisah empat tahun yang lalu,” ucap Ria.


“Kisah apa mbak?” Ucap Ghina penasaran.


“Dulu waktu non Ghina di rawat di rumah sakit, Tuan Edward suka sembunyi-sembunyi jenguk Non. Non masih ingat gak buket bunga tulip yang ada di meja waktu itu?” tanya Ria.


“Ingat karena bunga itu cantik sekali, dan mbak bilang tidak tahu siapa yang kirim,” jawab Ghina.


“Waktu malam hari, Non Ghina sudah tertidur karena habis minum obat, Tuan Edward menyelinap masuk menaruh buket bunga tulip di atas nakas di samping ranjang Non Ghina.”


“Jadi dari Om Edward bunga tulipnya,” Ghina terkejut. “Ah itu bisa-bisanya mbak Ria aja, gak mungkin Om Edward kasih saya bunga tulip saat itu.”


Ria merogoh kantong bajunya, dan mengeluarkan handphone, dengan cepat Ria menunjukkan penggalan video yang masih tersimpan di handphonenya.


“Ini buktinya Non, mbak gak bohong......bunga tulip itu memang dari Tuan Edward,” Ria menunjukkan video tersebut.


Ghina hanya bisa bengong melihatnya, antara percaya dan tidak percaya, akan tetapi ada buktinya. Terlihat pria itu menaruh buket bunga tulip, lalu membuka jas kerjanya, dan kemudian ikut berbaring di samping Ghina tertidur. Gambar itu yang Ghina lihat dari handphone Ria. Sayang adegan ciuman hot Edward ke Ghina tidak diperlihatkan oleh Ria.


“Kenapa mbak Ria, tidak kasih tahu dari dulu?” tanya Ghina.


“Sebenarnya video ini seharusnya sudah di hapus di suruh Tuan Thalib, tapi tetap mbak simpan, siapa tahu suatu hari mbak bisa kasih tahu ke Non. Maaf mbak baru kasih tahu sekarang. Hari ini mbak sengaja kasih tahu, karena ada rasa tidak enak dengan Non, yang seharusnya tahu tentang hal Tuan besar di balik sikap arogant nya ke Non Ghina waktu itu.”


“Non masih ingat waktu mbak bawa cake dan minuman macha latte di rumah sakit, itu yang beli in Tuan Edward, mbak hanya suruh berikan ke Non dengan alasan mbak yang beli. Mbak saat itu merasa kalau Tuan sudah ada rasa buat Non Ghina,” sambung cerita Ria.


Ghina saat ini hanya bisa mendengar cerita dari Ria, bukti perhatian Edward dibalik sifat arogantnya.


“Sebenarnya cinta Non Ghina saat itu tidak bertepuk sebelah tangan, mbak yakin saat itu Tuan Edward sudah jatuh cinta dengan Non Ghina, tapi terkalahkan dengan ego dan gengsinya,” ujar Ria sambil menepuk halus punggung tangan wanita itu.


Ghina hanya mengulum senyum mendengar Ria berucap Tuan Edward sudah jatuh cinta dengannya.


“Mbak harap Non jangan menutupi perasaan lagi seperti dulu, jangan tipu hati Non Ghina lagi. Bukalah hati Non Ghina, selamilah perasaan Tuan Edward. Berprasangka negatif boleh saja, tapi paling tidak coba memahaminya, jangan langsung mengambil keputusan. Tuan Edward sepertinya juga sedang merubah dirinya sendiri.”


Wanita itu hanya menyimak perkataan Ria, mencoba mencerna semuanya dan memang tidak mudah untuk menerima usulan orang lain.


“Maaf ya Non, mbak jadi panjang ngomongnya.”


“Iya mbak Ria gak pa-pa, terima kasih atas masukkannya.”


Ria beranjak bangun dari tepi ranjang menuju nakas untuk mengambil obat yang harus di minum oleh nona mudanya.


“Non ini obatnya, di minum dulu....setelah itu istirahat,” ujar Ria, sambil memberikan obat dan gelas isi air.


“Makasih mbak Ria,” Ghina langsung minum obatnya, dan  kembali istirahat.


🌹🌹


Hotel A.


Setelah sampai di hotel, Edward langsung menuju ke kamarnya, dan merapikan kopernya. Kemudian ke ruang kerjanya untuk mengambil berkas laporan hotelnya. Edward sudah dapat laporan dari Ria jika Ghina sudah makan malam dan minum obat, tapi suhu panas badannya belum turun juga.


Hati Edward berasa tidak tenang, setelah meninggalkan Ghina yang masih dalam kondisi sakit.


“Tuan, ini tadi ada yang antarkan buket bunga tulip dari Jakarta, katanya Tuan yang pesan,” lapor Ferdi yang baru saja masuk ke ruang kerja Edward.


“Iya, saya yang pesan. Ferdi malam ini antar saya ke rumah Ghina. Sementara saya akan tinggal di sana, kamu menginap di hotel saja,” titah Edward.


“Baik Tuan.”


“Bawakan koper dan tas kerja saya,” pinta  Edward sambil meraih buket bunga tulip dari tangan Ferdi.


Ferdi bergegas membawa koper dan tas kerja Tuannya mengikuti langkah tuan besarnya yang sudah jalan duluan.


Sekitar tiga puluh lima menit, mobil mewah sudah terparkir di depan rumah Ghina.


“Selamat malam Tuan,” sapa Ria yang membukakan pintu depan.


“Nyonya sudah tidur?” tanya Edward.


“Sudah satu jam yang lalu Tuan, barusan saya cek ke kamarnya. Suhu tubuh Nyonya masih tinggi tuan belum turun juga,” lapor Ria.


“Ferdi taruh koper saya di depan kamar istri saya,” pinta Edward yang melihat Ferdi berdiam diri.


“Baik Tuan,” Ferdi bergegas ke lantai dua dan menaruh koper tuannya di depan pintu. Lalu di susul Edward ke lantai dua.


“Kamu bisa kembali ke hotel, ingat handphone kamu harus tetap aktif,” pinta Edward.


“Baik Tuan, saya balik ke hotel,” pamit Ferdi.


“YA......”


 Edward pelan-pelan membuka pintu kamar Ghina, agar tidak menimbulkan suara, kemudian melangkahkan kakinya bagaikan langkah maling tanpa suara. Di letakkannya buket bunga tulip yang dia bawa di atas nakas. Kemudiab menghampiri wanita yang sudah tertidur lelap.


"Maafkan aku yang tadi meninggalkanmu, aku takut emosiku meledak. lebih baik aku menghindar sebentar," gumam Edward sendiri, kemudian melabuhkan kecupan di kening Ghina.