
TOK......TOK.....TOK
“Ya....” sahut Ria langsung membukakan pintu kamar.
“Non Ghina sudah di tunggu untuk makan siang di bawah,” ujar salah satu pelayan.
“Oh iya, makasih ya mbak. Saya akan ke bawah.”
Ghina kembali menutup gorden kamar yang sempat di bukanya.
“Ayuk mbak Ria, kita ke bawah,” ajak Ghina. Ria menurutinya.
Ruang makan Mansion Utama
Kedua orang tua Edward beserta kedua orang tua Ghina sudah berada di ruang makan, menunggu kedatangan Ghina.
“Opa, Oma, Mama, Papa......sudah menunggu dari tadi ya?” tanya Ghina, sambil menggeser salah satu kursi kosong untuk di dudukinya, samping mama Sarah.
“Kita juga baru ke sini, nak,” jawab Oma Ratna.
Para pelayan mansion, langsung menghidangkan makan siang untuk segera di santap.
Mereka semua yang berada di ruang makan mulai menyantap makan siang dengan tenang, Ghina pun seperti itu bagaikan tidak punya masalah, justru nafsu makannya bertambah setelah melihat berbagai hidangan yang terlihat menggiurkan.
“Ghina.....,” di sela-sela makan siang, sepertinya Opa Thalib ingin membahas sesuatu.
“YA....... Opa,” jawab Ghina dengan mulut yang mengembung karena terisi dengan makanan.
“Ada baiknya malam ini juga atau besok pagi, kamu berangkat ke Jogjakarta,” usul Opa Thalib.
Ghina buru-buru mengunyah dan menelan makanan yang berada dalam mulutnya.
GLEK
“Secepat itukah Opa...?”
“Ya......Opa rasa keberangkatan kamu harus dipercepat. Opa khawatir kamu berlama-lama di sini, Edward akan mengganggumu. Opa merasa tidak tenang.”
“Papa dan Mama setuju nak, keberangkatan kamu di percepat, dan urusan perceraian kamu dengan Edward biar papa dan opa yang mengurusi,” ucap Papa Zakaria.
“Tapi, Om Edward masih ada di luar sana Opa. Bagaimana kalau Om Edward tahu Ghina akan berangkat ke Jogja, dan Om Edward akan mengikuti Ghina. Sama saja akan mengusik Ghina.”
“Kita akan berangkat, saat Edward beserta anak buahnya tidak ada. Dan kamu jangan khawatir, Opa sudah mengatur semuanya. Kamu tinggal ikuti arahan Opa.”
Opa Thalib sudah memperhitungkan dari segala kemungkinan yang akan terjadi. Dan seminimal mungkin Opa Thalib akan menutup segala akses tentang Ghina baik tempat kuliah dan tempat tinggal barunya dari jangkauan Edward.
Sebenarnya akan memudahkan kerja Opa Thalib, jika Ghina mau kuliah di luar negeri. Tapi kali ini Opa belajar untuk tidak memaksakan kehendaknya.
“Baiklah Ghina akan ikuti arahan Opa saja.”
Dalam hatinya Ghina berharap kehidupannya akan datang tidak ada namanya Edward, biarlah menjadi bagian masa lalunya.
Di luar gerbang mansion utama, terlihat Ferdi sedang membujuk Edward untuk makan siang.
Tatapan Edward masih tidak lepas menatap jendela kamarnya, berharap Ghina berdiri di jendela kamarnya.
“Tuan, makan dulu...ini sudah saya siapkan,” ujar Ferdi pada Tuannya yang masih menatap ke bangunan mewah.
“Mmm.....,” gumam Edward.
“Menunggu seseorang juga butuh tenaga Tuan, makanlah walau sedikit. Paling tidak ada tenaga untuk menunggu Non Ghina,” Ferdi memberikan sekotak makanan pada Edward.
Dengan terpaksa Edward menerima kotak makanan dari Ferdi, nafsu makan pria itu sebenarnya sudah hilang untuk menyantap makanannya. Tapi benar kata Ferdi, menunggu seseorang butuh tenaga. Mau tidak mau pria itu menyantap makan siangnya.
Waktu semakin berjalan dari siang mulai menuju waktu petang, Edward masih setia duduk di pos mansion, berharap akan di bukakan gerbang untuk dirinya.
Ferdi setelah makan siang, terpaksa harus ke kantor, mewakilkan Edward untuk rapat dengan kliennya, yang sepertinya tidak mau beranjak dari depan gerbang mansion utama.
Di dalam mansion utama......
Ghina di bantu Ria merapikan bajunya ke dalam koper yang sudah di siapkan Oma Ratna. Tidak banyak yang dia bawa, hanya pakaian yang dulu dia bawa ketika di mansion Edward. Di tambah beberapa stel baju baru yang di belikan Oma Ratna.
“Mbak Ria ikut ke jogja juga kan?” tanya Ghina.
“Ikut Non, Tuan Thalib sudah menugaskan mbak untuk bantu-bantu Non Ghina selama di sana.”
“Mbak Ria, boleh tanya gak tapi jangan tersinggung ya, berarti selama ini mbak Ria mata-matanya Opa ya, saat bekerja di mansion Om Edward?” selidik Ghina. Duga Ghina tidak mungkin Opa Thalib tahu semua kejadian di mansion Edward tanpa ada orang yang memberitahukannya, pastinya salah satu orang yang bekerja di mansion Edward.
“Mmm.....secara tidak langsung, iya sih Non. Tapi itu demi kebaikan Non Ghina juga,” Ria mengulum senyum tipis.
“Mbak Ria, sudah berapa lama bekerja di mansion Om Edward?”
“Ada sekitar setahun bekerja di sana.”
“Berarti selama di sana, mbak Ria tahu tentang Om Edward dan Mbak Kiren dong.”
“Tidak terlalu tahu juga Non, saya hanya tahu kalau Kiren minta tinggal di sana karena sudah tidak nyaman tinggal di kost-kostan. Dan serta alasan sebagai calon istri. Hanya itu saja, yang mbak tahu.”
“Selama hubungan Om Edward sama mbak Kiren, mesra terus ya...?”
“Ya begitulah, bagaikan kekasih yang saling mencinta,” jawab Ria, dengan nada pelan.
Sepertinya Ghina salah bertanya, moodnya tiba-tiba sedikit tidak enak mendengarnya, walau hal itu wajar. Apalagi hubungan Edward dan Kiren sudah berpacaran lama.
“Non, sepertinya Tuan Edward dari tadi menelepon saya terus,” ucap Ria yang baru saja mengaktifkan ponselnya.
“Biarkan saja mbak, sudah tidak penting!”
Ria sengaja mengecek dari jendela kamar, dan masih terlihat Edward beserta ajudannya di luar gerbang.
“Non Ghina, tidak ada keinginan untuk bertemu dengan Tuan Edward untuk terakhir kalinya. Siapa tahu dengan bertemu dengan Non Ghina, Tuan Edward akan meninggalkan mansion ini. Dan Non Ghina aman untuk berangkat malam ini juga, tanpa hambatan dari Tuan Edward,” usul Ria.
Mendengar usulan dari Ria ada baiknya, tapi ada tidak baiknya, bagaimana kalau dia tiba-tiba diculik oleh Om Edward, hingga rencana dia sendiri gagal total nantinya.
“Bagaimana Non?”
“Saya pikir-pikir dulu mbak.”
Sebaiknya jangan menemuinya!
Derrt.........Derrt......
Tuan Edward calling......
“Non Ghina, Tuan Edward telepon kembali,” ucap Ria sambil menyodorkan handphonenya ke Ghina.
Ghina menoleh ke arah handphone Ria, hatinya mulai ragu-ragu. Jika dia menerima panggilan dari Edward, berarti kedua kalinya gadis itu memberi kesempatan untuk berbicara lagi.
Gadis itu putar otak, mencari jalan keluar agar Edward segera meninggalkan mansion secepat mungkin.
Handphone Ria kembali berdering Ghina dan Ria sama sama belum menerima panggilan tersebut.
“Halo......,” suara gadis itu akhirnya kembali menyapa.
“Ghina.......,” ternyata Edward sudah mengenali suara gadis itu.
“Ada apa lagi?” tanya Ghina pada pria yang hari ini mengejarnya, mulai dari rumah sakit, sampai sekarang masih menunggu di mansion papa pria itu.
.
.
next.......untuk terakhir