Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Minta restu Papa Zakaria


Pria itu menarik tengkuk wanita itu, bibirnya kembali berlabuh di bibir wanita yang baru saja mengakui pria itu suaminya. Ghina mulai merangkul leher Edward, dan mere-mas rambut pria itu, ketika mendapatkan sensasi yang sungguh menyesakkan hati wanita itu.


Lu-matan lembut dari bibir Edward, membuat wanita itu terbuai. Sesapan yang menggigit dari wanita itu pun membuat pria itu semakin melancarkan aksi lu-matannya. Setiap Edward mencium Ghina, pria itu selalu merasakan ciuman yang berbeda, mengingat dulu pria itu juga sering berciuman dengan Kiren.....bukan bermaksud membandingkan, ciuman dengan Ghina, rasa yang berawal dari hati yang mencintai bukan hanya sekedar nafsu yang terpendam. Membuat candu untuk pria itu dari dulu, walau pun dulu hanya bisa sembunyi-sembunyi untuk mencium Ghina, sekarang pria itu bisa menciumnya tanpa harus sembunyi lagi.


“Aakh.............,” de-sahan merdu terlepas juga dari bibir Ghina, membuat Edward kembali membelit lidahnya dan menghisap lidah wanita dengan lembutnya.


Napas Edward dan Ghina sudah mulai terengah-engah, dengan terpaksa Edward melepas pagutannya, agar mereka berdua bisa mengambil oksigen untuk mengisi kekosongan paru-parunya.


“Ghina, besok kita akad nikah lagi ya........aku takut khilaf sama kamu.....honey,” pinta Edward, sembari mengelus bibir Ghina yang sudah terlihat bengkak.


Ghina masih mengatur napasnya yang masih terengah-engah...”Om Edward.....harus minta izin dulu sama papa dan mama aku. Kedua orangtua ku sudah kecewa dengan Om,” ujar Ghina.


“Aku akan berusaha minta izin sama papa dan mama kamu. Tapi yang jelas kamu maukan akad nikah lagi sama aku?” tanya Edward.


“Iya........suamiku, aku mau menikah ulang sama Om,” jawab Ghina dengan senyum tipisnya.


“Makasih honey,” Edward mengecup pipi Ghina.


“Honey, bisakah tidak panggil aku Om lagi........rubahlah panggilannya.....aku suamimu bukan Om kamu,” pinta Edward.


“Mmmmm.........pelan-pelan ya Om merubahnya. Aku lebih suka panggilnya Om, serasa jadi sugar daddy......,” senyum Ghina terlihat menggoda, tangan wanita itu kembali merangkul leher Edward.


“Honey........jangan menggodaku. Kamu tahu aku selalu menahan untuk tidak menerkammu. Jujur aku tidak kuat sebenarnya kalau berada dekatmu,” jujur Edward, tapi tetap aja dirinya mendekati Ghina.


“Aku tidak menggoda Om kok, kalau Om gak kuat kenapa dekat-dekat lagi?” tanya Ghina heran, kemudian melepaskan  rangkulannya di leher Edward, namun kembali Edward mengangkat tangan Ghina agar tetap merangkul lehernya.


“Karena aku suka dan sudah lama aku menginginkan selalu dekat kamu......honey,” jawab Edward dengan menebar senyum hangatnya. Ghina membalasnya dengan senyum tipisnya.


“Honey, boleh lagi gak....?” pinta Edward malu-malu.


“Boleh apa....?” alis Ghina mulai naik sebelah.


Edward mulai memegang pinggang Ghina, dan memajukan wajahnya lebih dekat dengan wajah Ghina.


“Menciummu....,” ujar Edward, pria itu kembali menempelkan bibirnya ke bibir Ghina. Kembali membasuh hangat, menyapanya penuh kelembutan. Sesapan demi sesapan meluluh lantahkan jiwa dan hasrat mereka berdua, gigitan manis silih berganti di lakukannya, hisapan yang bagaikan rasa candy kembali dirasakannya. Pria itu memegang erat pinggang wanita itu, sedangkan jari wanita itu mulai kembali meremat rambut Edward, menahan segala rasa baru yang diberikan Edward.


“Hemmm.......Edward......Ghina....!!” Seru seseorang.


Edward dan Ghina melepaskan pagutan mereka berdua mendengar ada yang memanggil nama mereka berdua, dan kedua netra mereka seketika terbelalak melihat kehadiran empat orang di dalam ruang rawat inap.


Ke empat orang yang baru saja tiba, datang dan masuk tanpa mengetuk hanya bisa menggelengkan kepalanya, setelah melihat adegan mesra. Salahnya mereka, masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Mama Sarah dan Oma Ratna jadi malu sendiri melihat adegan mesra anaknya sendiri.


“Mama....Papa, Opa, Oma” sapa Ghina agak kikuk.


“Mama, papa, Bang Zaka......Kak Sarah,” sapa Edward terlihat salah tingkah.


“Apa kabarnya, Nak,” ujar Mama Sarah langsung menghampiri Ghina, di ikuti Oma Ratna dan mereka cipika cipiki.


Edward langsung menghampiri Papa Zakaria, dan mencium tangannya, membuat Papa Zakaria terkejut. Begitu juga Mama Sarah, Edward mencium tangan mama Sarah.


“Apa kabar Bang Zaka?” tanya Edward.


“Baik......” jawab singkat Papa Zakaria.


Opa Thalib dan Oma Ratna rasanya pengen ketawa lihat tingkah laku Edward yang lagi mendekati Papa Zakaria.


Opa Thalib setelah tadi siang dapat kabar kejadian perkelahian di hotel, hingga Ghina masuk rumah sakit. Opa Thalib langsung meminta Papa Zakaria dan Mama Sarah berangkat ke Yogyakarta dengan pesawat pribadinya.


Dari jauh jauh hari Opa Thalib dan papa Zakaria sudah ada pembicaraan tentang masalah rumah tangga antara Edward dan Ghina, papa Zakaria belajar dari pengalaman sebelumnya, sekarang menyerahkan masalah rumah tangga anaknya kepada Ghina dan Edward, jika memang ingin kembali rujuk, Papa Zakaria siap menikahkan anaknya kembali.


Suasana ruang rawat sedikit agak mencekam, Edward sudah membantu Ghina untuk bisa berbaring. Segala yang pria itu lakukan buat Ghina terlihat oleh ke empat orang tersebut yang berada di kamar, penuh perhatian dan kelembutan.


Papa Zakaria diam-diam mengamati Edward cara memperlakukan anaknya.


Sekarang mereka berlima sudah duduk bersama di sofa yang ada di ruang rawat. Sedang Ghina  berbaring di atas ranjang.


“Bang Zaka, Kak Sarah.....,” ucap Edward, berhenti sejenak.


“Bang Zaka, Kak Sarah.....mohon restunya, saya ingin menikahi Ghina kembali.....dan membangun kembali rumah tangga kami yang sempat berantakan. Mohon berikan saya restu Bang Zaka untuk meminang anak Bang Zaka dan Kak Sarah,” pinta Edward.


“Apakah Ghina menginginkan kembali rujuk denganmu, atau kamu memaksa Ghina agar kembali rujuk?” tanya Papa Zakaria.


“Saya tidak memaksanya, tapi memang memintanya untuk diberi kesempatan untuk memperbaikinya.”


Papa Zakaria beringsut dari duduk dan menghampiri Ghina. “Nak, papa tanya apakah kamu menerima Edward kembali menjadi suami kamu, setelah apa yang kamu lalui selama ini?” tanya Papa Zakaria.


“Om Edward mencintai Ghina, dan mulai berubah Pah. Ghina akan kembali menerima Om Edward jadi suami Ghina, selepas dari kejadian masa lalu. Belajar memaafkan, tapi tidak untuk kembali mengulangi kesalahan yang sama, dan berharap Om Edward berubah untuk menjadi lebih baik” tutur Ghina.


“Edward tidak memaksakan kehendaknya kan?”


“Tidak Pah, Om Edward tidak memaksa, itu pun baru saja kami bicarakan berdua sebelum kedatangan papa ke sini,” jawab Ghina.


“Tapi jika papa tidak merestui, Ghina terima Pah,” jawab pelan Ghina.


Kedua netra Edward mulai berkaca-kaca mendengarnya, jika Papa Zakaria tidak merestuinya maka pupuslah sudah mimpi Edward untuk memperistri Ghina kembali. Yang ada perceraian resmi di depan mata.


 Edward beranjak dari duduknya dan melangkah menuju ranjang Ghina, di mana Papa Zakaria berada.


Pria tampan dan gagah itu mulai berlutut di hadapan Papa Zakaria, “Bang Zaka, saya minta maaf atas masa lalu yang pernah menyakiti anak abang. Izinkan saya saat ini dan selamanya membahagiakan anak abang,Ghina. Mohon izinkan saya meminang anak abang, Ghina Farahditya, kembali menjadi istri saya. Saya sungguh mencintai anak abang, saya tidak sanggup lagi jika harus berpisah dengan anak abang,” ucap lirih Edward.


Mama Sarah, Oma Ratna dan Opa Thalib turut bangkit dari duduknya, dan berdiri dekat ranjang Ghina.


 


bersambung