
Mansion Utama
Edward dengan gagahnya, membawa buket bunga dan kotak cake, melangkah masuk ke dalam mansion utama. Pak Irwan dan Ferdi mengikuti langkah kaki Tuannya.
“Pak Irwan, papa sama mama ada?” tanya Edward.
“Sedang tidak ada di mansion, Tuan Muda,” jawab Pak Irwan.
“Mmmm.....,” gumam Edward, pantas dia bisa masuk ke dalam mansion utama, ternyata papa dan mamanya tidak ada di mansion.
“Pak Irwan, saya ingin bertemu dengan istri saya Ghina. Sekarang istri saya ada di mana?” tanya Edward.
“Maksud Tuan Muda, non Ghina?” tanya ulang Pak Irwan.
“Iya di mana istri saya sekarang, apa di kamar saya?” tanya Edward.
Pak Irwan terdiam, belum menjawab.
“Kalau begitu saya langsung ke kamar saja,” ucap Edward tanpa menunggu jawaban dari Pak Irwan, dengan langkah terburu-buru menuju lift untuk ke lantai tiga, tempat kamarnya berada. Pria itu sangat yakin jika Ghina pasti berada di kamarnya, tempat yang ditempati saat tinggal di mansion utama. Karena Ghina adalah menantu di mansion utama ini, pasti akan tidur di kamar suaminya Edward.
“Pak Ferdi, temani saya ke kamar tuan muda. Kita harus siap-siap!” seru Pak Irwan, setelah Edward meninggalkan mereka berdua.
“Maksud Pak Irwan?” jawab heran Ferdi.
“Ayo cepetan,” ajak Pak Irwan, belum bisa menjelaskannya, mereka berdua langsung menyusul Tuannya ke lantai tiga.
Ceklek...
Edward membuka pintu kamarnya pelan-pelan, pria itu ingin memberikan kejutan kepada Ghina. Masuk dengan langkah pelan-pelan.
Hening........
Edward melihat kamarnya sepi, ranjang terlihat rapi.
“Ghina........” panggil Edward dengan suara lembut.
Edward meletakkan buket bunganya dan kotak cakenya di atas meja.
“Ghina.......” panggil Edward kembali, pria itu mulai mencari ke semua sudut ruang kamarnya. Masuk ke kamar mandi.......kosong, masuk ke ruang walk in çloset.......kosong, keluar balkon.....kosong.
Tidak satu pun orang yang berada di kamarnya.
Pak Irwan dan Ferdi, sudah ada di lantai tiga, dan masuk ke dalam kamar Tuannya.
“Pak Irwan, istri saya tidak ada dikamar? Apa dia ada di dapur lagi masak?” tanya Edward yang melihat Pak Irwan sudah berada di kamarnya.
Pak Irwan mengambil napas panjang, lalu menghembuskan napasnya pelan-pelan “Tuan muda, Non Ghina sejak dua hari yang lalu dia sudah tidak tinggal di sini, Non Ghina sudah pergi saat terakhir Tuan muda bertemu dengannya, malam itu.”
DEG
“Maksud Pak Irwan apa!” Edward langsung meraih kerah kemeja Pak Irwan.
“Katakan itu bohong, Pak Irwan!” Tangan Edward seketika ingin melayang ke wajah Pak Irwan.
“Tuan, tahan emosinya,” pinta Ferdi, sambil menahan tangan Edward yang akan melayang ke arah Pak Irwan.
“Mungkin yang dikatakan Pak Irwan benar, jika non Ghina sudah pergi,” sambung Ferdi.
“Bohong, gak mungkin Ghina pergi. Pasti dia sedang bersembunyi di sini, tidak ingin bertemu dengan saya!” balas Edward, pria itu bergegas keluar kamarnya.
Dengan berlari kecil pria itu menelusuri semua ruangan yang berada di mansion utama, wajahnya mulai terlihat panik.
“Ghina, keluarlah......jangan bercanda ini tidak lucu,” teriak Edward saat langkahnya masuk ke semua ruangan.
“Ayolah Ghina ........aku tidak akan menyiksamu lagi, aku akan berubah. Keluarlah.......jangan sembunyi.....!!” pekik Edward.
Pak Irwan dan Ferdi ikut menyusul Edward.
“Gak......ini gak mungkin!!” Edward menjambak rambutnya, pria itu masih belum menemukan gadis yang di carinya.
“GHINA........KAMU DI MANA!” teriak Edward saat di lantai bawah.
Semua pelayan yang mendengar teriakan Tuan mudanya yang begitu menggema, mulai harap-harap cemas.
“GHINA.......KELUAR DARI PERSEMBUNYIANMU......!” teriak Edward ke sekian kalinya.
Edward kembali berlari mencari Ghina, setiap sudut mansion tak luput dari matanya.
Pak Irwan sengaja menghampiri Edward “Tuan muda, Non Ghina memang tidak ada di mansion, Nona muda sudah pergi!” ucap Pak Irawan.
“TUTUP MULUT KAMU, PAK IRWAN.........ISTRI SAYA TIDAK MUNGKIN PERGI DARI SINI!” teriak Edward tidak terima.
“Tuan, kenyataannya memang Non Ghina sudah pergi,” sambung Ferdi.
"KAMU BOHONG, FERDI," teriak Edward, sambil mencekal kerah kemeja Ferdi, namun bisa ditahan oleh tangan Ferdi dari amukan Edward.
“AAAKKHHH...!!” jerit histeris Edward.
PRANG....!!
PRANG....!!
Vas bunga yang berada di ruang utama sudah mendarat di lantai dekat Ferdi dan Pak Irwan, membuat mereka berdua langsung terjingkat.
“GHINA........!!” jerit histeris Edward sudah tak terbendung.
PRANG......!!
Semakin menjadi-jadi emosi Edward dengan teeiakan histerisnya, melampiaskan ke semua benda yang ada di ruang keluarga.
Pak Irwan dan Ferdi, sudah paham akan emosi Tuan Mudanya. Hanya bisa menyingkir sejenak, dari pada terkena lemparan barang.
Puas meluapkan emosi dan amarahnya, Edward melorot, terduduk di lantai, dengan kedua kakinya tertekuk.
“Tidak mungkin dia pergi.......!” ucap lirihnya, pria itu meraup wajahnya dengan kasar.
Inikah maksud kamu, membujuk aku pulang malam itu. Agar kamu bisa pergi dariku.
Benarkah sudah tidak ada kesempatan kedua untukku!
Tidak memberikan aku kesempatan untuk memperbaiki diriku.......Ghina.
Begitu kejamkah aku terhadapmu, hingga kamu benar-benar pergi dan tidak mau menunggu aku menjemputmu.
Jawablah Ghina..........
Buliran bening, satu persatu jatuh. Membasahi pipi pria itu.
Dirasa Tuannya sudah mulai tenang, Ferdi mendekatinya. “Tuan, minum dulu,” ucap Ferdi sambil memberikan botol air mineral.
Edward menerimanya dan langsung meneguknya sampai tandas.
Pak Irwan dan beberapa pelayan mulai membereskan pecahan yang berserakan di lantai.
“Tuan, sebaiknya duduk di sofa,” pinta Ferdi sambil membantu memapah Edward, agar pindah ke sofa.
Tak sengaja mata Edward terpaku dengan figura foto prawedding dirinya dengan Ghina. Tatapan netra Edward kosong, hampa, jiwanya serasa melayang lepas dari raganya.
Pria yang memiliki kekuasaan dan perusahaan, seperti tidak ada artinya lagi dengan harta yang banyak dan kekuasaan yang di milikinya. Hati yang dimilikinya telah pergi di meninggalkannya. Pantas pria itu sempat merasakan gelisah yang tak menentu. Itukah tanda alam memberitahui dirinya, namun pria itu tidak peka juga.
“Hiks..........hiks,” tidak bisa di pungkiri pria itu akhirnya berurai air mata, rasa sesak di dadanya sudah membuncah tak tertahankan. Edward bukan tipe pria cengeng, akan tetapi sungguh manusiawi jika seorang pria merasakan kesedihannya, ketika dia mulai menyadari perasaannya tapi sudah ditinggalkan, dan semuanya berawal dari kesalahan pria itu.
“Om Edward suatu hari saya akan pergi!”
Perkataan Ghina kembali terngiang di kepala Edward.
“Hiks.........kamu benar-benar pergi sekarang!” Edward terisak, meratapi kenyataan yang dihadapinya sekarang.
Pak Irwan dan Ferdi yang masih menemani Edward di ruang utama, matanya itu berkaca-kaca. Baru kali ini mereka melihat tuannya yang arogan, tiba-tiba berurai air mata karena seorang istri. Istri yang tak dianggapnya.
Satu jam, dua jam berlalu, Edward masih duduk termenung dan berdiam diri.
“Tuan muda, waktunya makan siang. Makan siangnya sudah siap,” ucap Pak Jaka.
Edward mendongakkan wajahnya “saya tidak lapar,” jawab pelannya seperti tidak ada tenaga, masih dengan tatapan kosongnya.
.
.
next